Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kebersamaan dengan Camer


__ADS_3

Perjalanan calon keluarga kecil itu sampai di parkiran sekolah Athaya. Dengan riang anak itu keluar dari mobil lebih dulu sebelum dua orang dewasa yang ada di jok depan membuka seatbellnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku" Tama mengingatkan Rahma yang mengalihkan pembicaraan saat ditanya apakan selama ini dia juga menunggunya atau tidak.


Rahma hanya tersenyum setelah melepas seatbellnya, dia pun bersiap keluar untuk mengantar Athaya ke kelasnya. Dia kembali mengabaikan pertanyaan Tama.


"Mas, aku antar Athaya dulu ya" pamit Rahma, tanpa sadar sudah mengubah panggilannya.


"Apa? Apa? aku tidak dengar" rona bahagia semakin terlihat jelas di wajah Tama, dia merasa tersentak sekaligus bahagia mendengar panggilan yang disematkan Rahma untuknya.


"Aku antar Athaya dulu" ulang Rahma masih belum ngeuh dengan maksud Tama,


"Bukan itu" sela Tama,


"Maksudnya?" Rahma mengernyit,


"Yang tadi" Tama masih penuh teka-teki,


"Yang tadi apanya?" tanya Rahma belum faham,


"Tadi gimana bilang pamitnya?" jelas Tama dengan senyum terkulum,


"Mas, aku antar Athaya dulu ya" ulang Rahma dengan intonasi lebih lambat, tangannya yang sudah meraih handle pintu sontak terlepas, baru mengerti bagian mana yang ingin kembali Tama dengar.


"Nah gitu kan manis" ujar Tama seketika membuat Rahma merona karena baru sadar dengan panggilannya.


"Aku keluar..." Rahma berusaha menghindar, sementara Tama masih berdiam diri dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Dia pun segera keluar dari mobil dan menghampiri Athaya.


"Ayo Boy!" seru Tama yang sudah berdiri di belakang Rahma yang sedang berjongkok merapikan pakaian Athaya.


"Mas, aku aja yang antar" pinta Rahma yang merasa tidak enak jika harus terlihat mengantar berdua dengan Tama.


Bukan apa-apa, sampai saat ini hubungan mereka baru calon, Rahma tidak mau membuat spekulasi negatif orang-orang. Apalagi Tama adalah donatur utama dari yayasan yang menaungi sekolahnya Athaya.


"Kita pergi bersama" ucap Tama tak mau dibantah, Rahma hanya menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.


"Enggak apa-apa, mereka semua sudah tahu jika kita akan segera menikah" jelas Tama menenangkan, dia mengerti dengan kekhawatiran calon istrinya itu. Rahma pun tampak terkejut dibuatnya.


"Benarkah? kenapa?" tanya Rahma, mereka berjalan mengapit Athaya yang memegangi tangan keduanya.


"Papa sudah membuat pengumuman" jawab Tama santai,


Beberapa karyawan maupun staf pengajar yang berpapasan dengan mereka menyapa dengan ramah dan hanya dibalas Tama dengan anggukan kepala.


"Selamat datang, ahlan wa sahlan, welcome!" seorang guru yang bertugas menyambut para peserta didik di gerbang sekolah menyapa dengan ramahnya,


"Assalamu'alaikum, Ustadzah" Athaya mengucapkan salam lalu meraih tangan Ustadzahnya untuk dicium.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, anak sholeh. Athaya hari ini diantar Bunda dan...." jawaban sang Ustadzah sambil mengusap kepala Athaya penuh sayang menggantung. Dia menatap Tama yang menurutnya tidak asing.


"Thaya diantar bunda dan papa..." lanjut Athaya dengan sumringah, membuat Ustadzah juga tersenyum walau canggung. Sampai saat ini dia hanya mengetahui jika Rahma adalah seorang singleparent.


"Kalau begitu segeralah masuk ke kelas, Ustadzah Fatin sudah menunggu" ujar ustadzah yang bertugas menyambut itu.


Athaya pun berpamitan pada bunda dan calon papanya, pemandangan indah yang menentramkan jiwa. Do'a, kecupan dan senyum bahagia keduanya mengantarkan Athaya yang akan menuntut ilmu hari ini.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata yang mulai berkaca-kaca tengah menatap dari dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


☘️☘️☘️


Sesuai janjinya, hari ini Rahma akan bertemu dengan calon mertuanya untuk berbelanja hantaran. Bu Hakim keukeuh meminta Rahma menemaninya dengan alasan agar barang-barang yang dibeli sesuai dengan selera Rahma, padahal Rahma sudah menolak dengan halus. Dia mengatakan akan menerima apapun pemberian calon suaminya nanti.


"Mas, hari ini aku janjian dengan ibu di mall XX. Mas antar sampai depan saja, biar bisa langsung ke kantor" Rahma memulai percakapan dalam perjalanan menuju mall yang dijanjikan oleh calon ibu mertuanya untuk mereka bertemu.


"Aku akan menemani" jawab Tama tanpa mengalihkan tatapannya yang tetap lurus ke depan,


"Lho...mas tidak bekerja?" tanya Rahma sekilas menoleh ke samping dan segera kembali meluruskan pandangannya. Berada berdua dalam mobil dengan status calon suami istri membuat jantung Rahma berdetak lebih cepat.


"Kenapa? kamu takut aku dipecat?" goda Tama dengan senyum terkulum.


"Eh ... bukan begitu" Rahma kaget, takut jika pertanyaannya menyinggung Tama.


"Tidak apa-apa sayang, aku sudah mengaturnya. Hari ini aku akan membersamai kalian berdua berbelanja sepuasnya" jawaban Tama cukup panjang, dia tidak menyadari jika Rahma langsung memaku mendengarnya.


satu detik....dua detik...tiga detik...empat detik...lima detik...


"Kenapa? kamu tidak suka aku menemani kalian?" tanya Tama dengan wajah berubah sendu. Dia ingin memastikan, karena Rahma yang tiba-tiba diam.


"Hah, gimana?" gagal fokus, itulah yang dialami Rahma saat ini.


"Kamu enggak suka aku temani?" ulang Tama dengan wajah masih tetap sendu bahkan kali ini bicaranya lebih pelan.


"Tidak, bukan begitu maksudku" Rahma terlihat salah tingkah, pikirannya bercabang antara menstabilkan hatinya yang berdebar tak biasa karena panggilan sayang Tama untuknya dengan rasa tak enak karena telah membuat Tama tersinggung.


"Kalau mas tidak repot, aku senang ditemani" jelas Rahma akhirnya dengan wajah tersipu malu atas jawabannya sendiri. Dia memalingkan wajahnya ke arah samping demi menyembunyikan wajah yang memerah.


Tama tersenyum lebar, dia seperti baru saja mendapat hadiah. Hatinya berbunga, bahagia itulah yang dirasakannya saat ini.


Kurang dari empat puluh menit mereka sudah sampai di tempat yang dituju, dengan segera Tama keluar lebih dulu. Memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Rahma.


"Terima kasih Mas" ucap Rahma pelan, jujur dia sebenarnya belum terbiasa dengan panggilan barunya itu. Butuh fokus untuk terbiasa memanggil Tama dengan panggilan itu.


"Kalian sudah datang?" seorang wanita paru baya namun dengan penampilan yang masih terlihat muda menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyum ramah.


Tama dan Rahma sudah tiba di butik yang dijanjikan Bu Hakim sebagai tempat mereka bertemu. Deretan gaun muslimah terlihat di sana. Butik ini merupakan butik khusus yang menjual brand pakaian muslimah, tanpa Rahma ketahui butik tempat mereka berada adalah salah satu butik yang dimiliki Bu Hakim yang ada di Jakarta.

__ADS_1


"Ibu, mohon maaf sudah menunggu lama" Rahma mencium tangan Bu Hakim penuh takzim setelah menerima jawaban salam dari calon mertuanya itu. Mereka pun bercipika cipiki dengan penuh kehangatan.


"Kok masih panggil ibu sih, mama, mulai sekarang jangan panggil ibu lagi. Kamu panggil mama" Bu Hakim mengabaikan permintaan maaf Rahma, dia malah menegur calon menantunya itu karena masih memanggilnya dengan sebutan Ibu.


"Oh maaf, baiklah mama. Maaf, jika mama sudah terlalu lama menunggu" Rahma pun mengulangi pernyataannya. Sekilas dia melirik ke arah Tama, ingin mengetahui respon calon suaminya itu mendengar dirinya memanggil Bu Hakim dengan sebutan Mama.


"Nah gitu dong, kan manis" Tama yang faham dengan lirikan dari Rahma pun melayangkan pujiannya tanda setuju dan turut senang mendengar Rahma memanggil mamanya dengan sebutan mama.


"Tidak apa-apa, mama juga belum lama datang" Bu Hakim menuntun Rahma ke deretan baju yang sudah disiapkan pelayan untuk dipilih Rahma.


Mereka pun asik memilih baju, kerudung dan semua hal yang berhubungan dengan perlengkapan pakaian perempuan. Tidak banyak yang dipilih Rahma. Dia hanya memilih tiga potong baju dan juga lengkap dengan jilbab yang dirasa cocok dengan warna baju pilihannya itu.


Tama tersenyum puas saat melihat beberapa baju yang dicoba Rahma. Dia memberi dua jempol untuk mamanya yang sudah bisa mengajak Rahma untuk berbelanja sebab dia dari sana dia semakin mengetahui seperti apa selera wanita bidasari hatinya itu.


Sesi pertama kebersamaan dengan calon mertua sudah selesai. Tidak terasa setelah beberapa toko mereka kunjungi, terdengarlah kumandang adzan Dhuhur. Rahma melirik Tama yang sedang duduk di kursi pengunjung. Menunggu sang ibu yang sedang memilih tas. Walaupun tanpa kata, Tama faham arti lirikan dari calon istrinya itu.


"Ma, setelah ini kita shalat dulu ya?" Tama menghampiri mamanya yang sedang asik memberikan menunjukkan beberapa barang yang akan dibelinya kepada seorang pramuniaga.


"Baik nak, mama sudah selesai kok" jawab Bu Hakim setelah menyerahkan sebuah kartu tanpa batas untuk membayar barang-barang yang dibelinya.


Rahma tersenyum melihat tindakan calon suaminya yang mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Sejujurnya Rahma masih merasa canggung dengan calon mertuanya itu.


Setelah melaksanakan shalat dzuhur di mushala yang masih berada di area mall XX, kebersamaan mereka pun dilanjut ke sesi kedua. Kali ini mereka tengah duduk di sebuah restoran untuk makan siang.


"Papa akan datang, kebetulan dia sedang ada pertemuan di dekat sini" ujar Bu Hakim memberi tahu setelah menerima telepon masuk dari suaminya tersebut dan dijawab anggukan oleh Rahma dan Tama kompak.


"Gimana Ma, sudah cukup belanjaannya? atau masih ada yang harus di beli?" sambil menunggu pramusaji menghidangkan makanan yang mereka pesan, obrolan di antara mereka pun mengalir membahas seputar persiapan pernikahan.


"Baju, sepatu, tas, eumh..." Bu Hakim tampak mengabsen semua barang yang sudah dibelinya tadi, dia sedang mengingat barang apa yang akan dibeli selanjutnya untuk Rahma.


"Sudah cukup sepertinya Ma" mau tidak mau Rahma ikut bicara, sejak tadi dia merasa sudah terlalu banyak membeli barang-barang keperluan seserahan.


"Belum, kita belum beli alat kecantikan, perhiasan dan...." ucapan Ibu Hakim terhenti karena sentuhan tangan Rahma di punggung tangannya, mereka duduk bersisian.


"Mama, ini sudah sangat cukup. Untuk alat kecantikan sepertinya tidak usah, dan untuk perhiasan Mas Tama tadi sudah bilang dia sudah menyiapkan cincin pernikahan kami" Rahma memberi penjelasan dengan lembut dan sopan, dia ingin menolak karena dirasa semua yang tadi dibelinya sudah sangat cukup namun dia pun tidak ingin membuat Bu Hakim merasa tersinggung.


"Baiklah sayang..." Bu Hakim yang akan menyanggah ucapan Rahma mengurungkannya setelah menatap tatapan penuh kode dari putranya, dia pun menyerah dan menerima keputusan calon menantunya.


"Terima kasih mama..." ucap Rahma dengan senyum lebar karena permintaannya disetujui sang calon mertua.


Makanan pesanan mereka pun datang bersamaan dengan Pak Hakim yang juga tiba di sana. Mereka menikmati makan siang yang sesekali terjeda dengan obrolan ringan.


"Saya permisi ke toilet dulu" Rahma pamit setelah menghabiskan makan siangnya, saat ini mereka sedang menikmati dessert yang disajikan pramusaji sesuai pesanan mereka.


"Aku antar?" tanya Tama yang bersiap untuk berdiri,


"Tidak perlu Mas" jawab Rahma ramah, dia pun melenggang ke arah toilet diantar tatapan Tama hingga tak terlihat.

__ADS_1


☘️☘️☘️


"Sepertinya kalian sudah semakin dekat?" suara yang tidak asing sampai ke telinga Rahma saat berjalan di lorong yang merupakan persimpangan antata toilet wanita dan pria.


__ADS_2