
"Assalamu'alaikum Bunda.....sudah tidurkah? boleh video call sama Athaya?"
Seperti malam-malam sebelumnya, pesan itu kini selalu menjadi pembuka percakapan menghiasi room chat Rahma dan Ketua Yayasan. Nama kontak yang belum Rahma ganti semenjak di ponselnya tersimpan nomor kontak itu, tidak berubah.
"Wa'alaikumsalam. belum, tapi Athaya nya lagi bersama sepupunya. Adik sepupunya dari Yogya datang"
"Wah rame dong, jadi ingin gabung"
"😊"
Tiga hari berlalu semenjak Tama terang-terangan mengungkapkan cintanya. Sejak saat itu mereka belum pernah bertemu kembali. Malam itu Tama sekalian pamit karena pagi-pagi sekali harus pergi ke Malaysia untuk mengurusi bisnisnya yang di sana.
Hatinya lega setelah mengungkapkan isi hatinya pada Rahma, walaupun dia meminta waktu untuk menjawab namun Tama yakin ini adalah kesempatan untuk memaksimalkan ikhtiyarnya.
Waktu yang diminta Rahma untuk memberikan jawaban pada Tama digunakan laki-laki itu untuk semakin mengikat Rahma. Hampir setiap pagi dan malam Rahma mendapat pesan-pesan penuh perhatian dari Tama, walau pun hanya dibalas singkat dan bahkan lebih sering dibalas dengan emoticon tapi itu tak menyurutkan Tama menghentikan aksinya. Pepet terus sampai halal, itu jargonnya.
Seperti malam ini, dengan modusnya Tama mengirimi Rahma pesan menanyakan perihal Athaya. Tiga malam ini dia selalu menyempatkan untuk bervideo call dengan bocah lima tahun yang sudah mencuri hatinya itu.
Tama sangat terkagum-kagum tatkala bocah itu unjuk kemampuan berpidato hasil latihannya dengan sang bunda untuk mengikuti perlombaan da'i cilik yang akan diadakan di sekolahnya dalam rangka memperingati hari besar Islam.
Alhasil Tama semakin punya alasan menghubungi bocah itu untuk menanyakan kabar persiapan lombanya dan berdalih ingin menjadi supporter dan sponsor utamanya.
"Boleh aku video call sekarang?"
Pesan masuk dari Tama kembali diterima Rahma yang saat ini sedang berada di depan cermin mengaplikasikan skincare khusus malamnya.
"Tapi Athaya nya belum ada di kamar" jawab Rahma melalui pesannya.
"Kalau begitu boleh kan vc sama bundanya Athaya saja?"
Pesan balasan langsung bercentang biru karena Rahma yang belum sempat menutup layar aplikasi pesannya, dia pun langsung membacanya dan hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kemodusan mantan atasannya itu.
"Maaf tidak bisa" Rahma membuang aisa kapas yang digunakannya tadi untuk membersihkan wajah.
"Kenapa Bunda?" sapaan yang selalu berhasil membuat Rahma berdesir.
"Bundanya sedang tidak pakai kerudung"
"Ouh...kalau begitu pakai kerudung dulu ya 😉" emot yang kembali membuat jantung Rahma berdetak kencang.
"Enggak bisa, ini sudah malam. Waktunya tidur dan istirahat". balas Rahma tegas.
Rahma benar-benar belum mempersiapkan diri untuk bertatap muka dengan Tama secara virtual.
"😔"
__ADS_1
Hanya emot kecewa yang dikirim Tama sebagai balasan dan dibalas Rahma hanya dengan senyuman yang tentu tidak terlihat oleh Tama.
Rahma beranjak dari tempatnya duduk, menuju pintu yang terdengar diketuk dari luar. Dia pun membuka setelah yang mengetuk pintu kamarnya bersuara. Yusuf datang menggendong Athaya yang sudah tertidur pulas beberapa menit yang lalu setelah capek bermain dengan sepupu-sepupunya.
Tok....tok...tok....
Tidak berselang lama pintu kamar Rahma kembali ada yang mengetuk, dia pun urung mengambil ponsel yang sudah berlayar hitam di atas meja riasnya.
"Teh, ini aku Maya. Sudah tidur belum? Boleh masuk gak?" meskipun mereka kakak beradik tetapi sopan santun dan etika senantiasa terjaga, salah satunya mengetuk pintu saat hendak masuk.
"Masuk May" Rahma membuka pintu dan memberi ruang untuk Maya memasuki kamarnya.
"Teteh, lagi ngapain? udah mau tidur ya?" Maya membuka obrolan, dia duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur yang biasa digunakan Rahma dan Athaya.
"Teteh, aku mau bicara serius nih. Boleh gak?" Maya meminta izin terlebih dahulu, dia tidak ingin membuat kakaknya tidak nyaman dengan apa yang akan dikatakannya.
"Eumh...kenapa? pake minta izin segala" Rahma menautkan kedua alis, bibirnya mencebik, merasa aneh dengan sikap adiknya yang tidak biasanya.
"Aku serius teteh...." rajuk Maya yang merasa mendapat ejekan dari Rahma,
" Haha....iya..iya, bicara aja" Rahma tergelak, adiknya masih tetap sama walau pun kini sudah menjadi ibu dari dua putri yang selalu membuatnya gemas.
"Yusuf bilang ada seseorang yang lagi deketin teteh, bahkan katanya sudah siap ke pelaminan. A Budi juga bilang kalau sahabatnya bapak datang lagi menemui a budi di kantor dan bilang izin mau mengenalkan putranya sama teteh" Maya berkata sesuai dengan informasi yang diterimanya dari Yusuf dan A Budi saat obrolan santai mereka di ruang keluarga.
Rahma yang baru pulang selepas Isya dari tempat bimbel membuatnya tidak bisa bergabung dengan obrolan keluarga malam ini karena belum mandi dan shalat Isya.
"Suamimu gak nyariin?" sejenak Rahma mengalihkan pembicaraan, dia melirik pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Aku udah izin mau ngobrol sama teteh" jawab Maya, dia pun kembali ke arah pintu untuk menutup rapat pintu kamar, mengerti arti lirikan sang kakak.
Rahma kembali membuka jilbab instannya dan duduk di sofa yang tadi diduduki Maya.
"Teteh masih pikir-pikir May" jawab Rahma mulai mengikuti arah obrolan sang adik.
"Apa lagi yang dipikirkan Teh?" Maya maju sedikit semakin mendekatkan dirinya duduk menyamping berhadapan dengan sang kakak.
"Banyak, banyak hal yang teteh pikirkan, banyak hal yang harus jadi pertimbangan" jawab Rahma santai namun terdengar tegas.
"Aku rasa sekarang sudah waktunya teteh move on" tukas Maya,
"Maksud kamu?"
"Ya, move on..." jawab Maya dengan memicingkan matanya,
"Move on dari apa? Hey teteh sudah lama move dari Mas Anggara ya" Rahma melempar bantal sofa yang ada di pangkuannya, seolah mengerti arti tatapan sang adik tengah mengejeknya. Tidak terima jika dia dibilang masih belum move on dari mantan suaminya.
__ADS_1
"Hahaha....." tawa Maya pun pecah. Candaan adik kakak yang sudah lama tidak berjumpa pun masih berlanjut dengan berbagai topik hingga tak terasa waktu telah berlalu hampir satu jam lamanya.
"Teteh...." Maya menghela nafas menjeda ucapannya,
"Aku ingin teteh segera punya pasangan" ucap Maya akhirnya, dia akhirnya sampai pada tujuan utamanya mengobrol dengan Rahma.
Rahma mendongak, seketika menghentikan sisa tawanya,
"Aku akan dukung teh, A Budi juga, kakak ipar, Yusuf, kami semua ingin melihat teteh bersama orang yang tepat, yang mencintai teteh dan Athaya. Walau bagaimanapun Athaya membutuhkan sosok ayah dalam pertumbuhannya. Karena ada peran ayah yang harus Athaya pelajari yang tidak bisa digantikan oleh A Budi maupun Yusuf."
Maya berbicara panjang lebar dengan serius kali ini. Inilah isi hati yang sudah sejak lama ingin Maya ungkapkan untuk kakak tercintanya. Maya tahu jika selama ini Rahma sudah banyak berkorban untuk kebahagiaannya. Tinggal jauh dari saudara perempuan satu-satunya membuat dia sedikit banyak kepikiran perihal kakaknya itu.
Rahma pun menghentikan sisa tawanya mendengar Maya beralih berbicara serius. Banyak hal lucu yang dibahasnya bersama sang adik membuat dia bisa tertawa lepas.
"Kamu benar, bohong kalau ada yang bilang menjalani peran dobel itu gampang. Menghafal skenario dobel di drama saja susah apalagi di kehidupan nyata yang tidak kita pegang skenarionya" Rahma tersenyum dengan analoginya,
"Makanya teteh harus segera membuka hati. Aku yakin Athaya akan baik-baik saja. Tinggal bagaimana teteh bisa menemukan orang yang tepat dan kali ini izinkan kami untuk membantu. Besok temannya almarhum Bapak akan datang. Teteh lusa ngajar gak?"
"Ngajar, kata siapa lusa teman bapak bakalan datang? Aa?" tanya Rahma kaget,
"Heumm" angguk Maya,
"Tadi Pak Hakim menelepon memberi tahu Aa bahwa beliau akan datang lusa dan aku mengupingnya, hhe...." Maya terkekeh di akhir ucapannya dan sontak mendapat pelototan Rahma karena kebiasaan adiknya itu tidak berubah dari dulu sering menjadi sumber info karena sering menguping kakak maupun dirinya jika mendapat telepon.
"Terima kasih sudah jadi penasehat yang baik ya May, teteh bahagia mempunyai support system yang tangguh. Kalian adalah segalanya buat teteh" Maya berhambur memeluk sang kakak,
"Teteh juga segalanya buat aku..." suara maya terdengar menahan tangis.
"Iya.....singkatnya begini, jika sesuatu itu baik untuk teteh dan Athaya Allah pasti akan mendekatkannya. Tetapi jika itu tidak baik untuk teteh dan Athaya Allah pasti akan menjauhkannya, do'ain teteh dan Athaya ya" pungkas Rahma, mengurai pelukannya dan mengusap pipi sang adik yang tampak basah.
"Pasti teh, pasti" ucap Maya dengan suara serak.
Obrolan dua saudara perempuan itu pun berakhir, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit. Rahma memasuki kamar mandi, hendak berwudhu dan sebelum tidur. Sementara Maya kembali ke kamar tempat suami dan anak-anaknya berada.
Ponsel Rahma tampak menyala, menandakan jika ada notifikasi pesan masuk di aplikasinya. Rahma pun meraih ponselnya dan membawanya ke atas tempat tidur.
Perlahan dia terbaring di samping sang putra yang sudah nampak tertidur pulas. Namun seketika dia kembali terbangun ketika mendapati begitu banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari nomor yang sama.
"Boleh gabung gak?"
"Naura...."
"Rahma...."
"Naura Rahmania.."
__ADS_1
Sebagian pesan yang Rahma terima dari kontak yang sama. Rupanya tadi dia belum menuntaskan berbalas pesan dengan sang empunya kontak. Rahma pun membulatkan matanya saat membaca pesan terakhir yang dikirim dari sang Ketua Yayasan.
"Satu pesanku, tetap jaga hatimu disaat kita sedang tidak berkomunikasi." ❤️