Belenggu Akad

Belenggu Akad
Do'a Athaya


__ADS_3

Satu minggu berlalu dari hadi ketika Rahma dan Tama menemui Anggara di rumah sakit tempatnya dirawat. Dari informasi yang mereka dapat dari Friska keadaan Anggara semakin memburuk, saat ini dia semakin sulit dikendalikan. Keadaan tubuhnya semakin lemah karena dia menolak makanan dan obat yang diberikan perawat untuknya.


"Keadaannya kritis" ucap Friska di ujung telepon, Tama baru saja menerima panggilan dari Friska. Selama ini komunikasi mereka memang terjadi antara Tama dan Friska. Beberapa kali Friska mencoba meminta nomor ponsel Rahma, tapi Rahma hanya menjawab jika nomor ponsel suaminya saja sudah cukup.


"Apa?" pekik Tama membuat Rahma yang sedang menyiapkan sarapan pagi mereka menghentikan aktivitasnya.


"Mas..." gumam Rahma penasaran, dia bertanya lewat sorot matanya.


"Baik, aku akan ke sana dengan Rahma" pungkas Tama selanjutnya diapun mengucapkan salam mengakhiri percakapannya di telepon.


"Kenapa Mas?" Rahma akhirnya bersuara, dia penasaran apa yang membuat suaminya terlihat kaget.


"Tadi Friska, dia mengabari kalau Anggara kritis" jawab Tama dengan sorot mata yang juga khawatir. Tama menjelaskan keadaan Anggara sesuai dengan yang dia terima dari Friska.


"Innalillahi...." Rahma pun tersentak mendengar kabar mantan suaminya, dalam hati dia berdo'a semoga Allah memberikan kesembuhan untuk mantan suaminya itu.


"Aku bilang kita akan mengunjunginya, kamu siap?" Tama menelisik, perubahan wajah sang istri terlihat jelas olehnya setelah dia menyampaikan berita tentang Anggara.


"Tapi Mas...."


"Aku mengizinkan sayang dan aku akan menemanimu" Tama seolah faham kekhawatiran istrinya, semenjak menikah dia semakin tahu seperti apa pribadi istrinya itu. Semua hal ada dalam diri Rahma sungguh menjadi sumber kebahagiaan untuknya. Dia sangat bersyukur menjadi pemilik hati dan raga wanita itu.


"Terima kasih Mas, Athaya juga mau aku ajak, boleh?"


Ini salah satu hal yang disukai Tama, Rahma selalu melibatkan dirinya dalam segala hal termasuk tentang Athaya. Sekecil apapun keputusan yang akan diambilnya tidak langsung dieksekusi tanpa terlebih dahulu meminta persetujuannya.


"Tentu sayang, kita akan ajak Athaya" jawab Tama sembari merangkul bahu sang istri dan tidak lupa mendaratkan kecupan di kening sang istri.


"Mas ih...aku belum mandi" Rahma sedikit memberontak melepaskan tubuhnya dari rangkulan sang suami. Selepas subuh dia langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Oya, kalau begitu kebetulan" Tama malah semakin mengeratkan rangkulannya, dia bahkan menaik turunkan alisnya menggoda Rahma.


"Kebetulan apa? Awas dulu ih aku mau menyelesaikan ini" Rahma mengangkat kedua tangannya yang memegang spatula dan piring. Sang suami saat ini memang masih memakai pakaian rumahan, jam dinding masih menunjukan pukul enam kurang artinya masih leluasa waktu yang mereka miliki sebelum melaksanakan aktivitas.


"Kebetulan aku juga belum mandi, jadi sebelum mandi kita...."


"Eumhh...." Tama tak melanjutkan ucapannya dia memilih melahap bibir yang mengerucut karena berhasil dia goda.

__ADS_1


Rahma pasrah, dia tak bisa menolak. Bahkan saat berada di dapur pun suaminya itu melakukan apa yang dia inginkan. Athaya yang berada di rumah sang mertua membuat Tama benar-benar bebas mengekspresikan apa yang diinginkannya dimana saja.


Kedua benda di tangan Rahma sudah dialihkan oleh Tama tanpa melepaskan ciumannya, dia menggiring sang istri ke arah kamar mereka dan kegiatan olah raga pagi pun berlangsung cukup lama.


☘️☘️☘️


Setelah diberi pengertian oleh kedua orang tuanya Athaya akhirnya bersedia untuk ikut menjenguk Anggara. Semenjak menikah anak itu memang sudah tidak lagi menanyakan tentang ayah kandungnya. Jika sebelum Rahma menikah putranya itu selalu bertanya kenapa ayahnya tidak pernah menemui mereka tapi setelah Rahma menikah kehadiran Tama seolah menjadi obat rindu bagi Athaya akan sosok ayah.


Cukup sulit bagi Rahma untuk memberi pengertian pada putranya itu agar mau ikut menjenguk Anggara, dia hampir kehabisan akal untuk memberi pengertian pada putranya itu, namun setelah Tama turun tangan, tanpa menunggu lama sang putra langsung setuju untuk ikut menjenguk Anggara yang juga orang tuanya.


"Papi janji ya!" Athaya kembali memastikan akan kesepakatannya dengan sang papi sebagai konsekuensi dari bersedianya dia mengikuti ajakan bundanya menjenguk Anggara.


"Sipp" Tama mengajaknya untuk beradu tos dan disambut dengan kepalan tangan penuh semangat Athaya, tidak lupa senyum dengan memperlihatkan deretan gigi putih terawatnya pun dia lakukan, membuat gemas siapa saja yang melihatnya. Tubuh yang cukup tinggi di usianya yang baru menginjak enam tahun sepertinya memang gen dari sang ayah, sementara wajah imut dengan senyum manis persia seperti sang ibu. Sungguh perpaduan yang sempurna.


"Mas, bicara apa sama Athaya sampai dia mau?" Rahma setengah berbisik bertanya pada sang suami karena takut didengar oleh sang putra yang duduk di jok belakang. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit tempat Anggara dirawat. Mereka menjemput sang putra di kediaman orang tua Tama.


"Ada dech..." goda Tama dengan senyum jahilnya membuat Rahma mencebikkan bibirnya karena kesal.


"Jangan mancing sayang" goda Tama saat melirik sekilas sang istri dengan wajah cemberutnya.


"Mancing apaan? Mas yang mancing keributan" ketus Rahma yang sekarang semakin tidak sungkan mengekspresikan dirinya, bahagia, sedih, kesal semuanya tak sungkan Rahma tunjukan langsung di hadapan sang suami.


"Papi ada apa?" tanya Athaya penasaran, dia yang sedang belajar melalui iPad pun terusik.


"Bunda mau bobo katanya?" jawab Tama santai dengan wajah tanpa dosa, sementara Rahma seketika membulatkan matanya menatap sang suami dengan tatapan tajam, bisa-bisanya suaminya itu memberi jawaban vulgar pada sang putra, pikir Rahma.


"Hah...Bunda ngantuk?" Athaya berdiri dari duduknya, menyondongkan kepalanya ke depan tepat wajahnya bersisian dengan sang bunda dia menempelkan punggung tangannya di kening bundanya.


"Bunda sakit? Kenapa jam segini bunda sudah pingin bobo lagi? Semalam kurang bobo ya? Kenapa Bunda?" beruntun, pertanyaan yang disampaikan Athaya mampu membuat membuat kedua orang dewasa itu terdiam.


Perhatian dan kekhawatiran terdengar jelas dari setiap kalimat yang dilontarkan laki-laki kecil itu.


"Papi, bisa berhenti sebentar?" Athaya mengintruksi sekaligus mengembalikan kesadaran kedua orang tuanya yang terhipnotis oleh pertanyaan beruntun Athaya.


"I..iya..iya sayang, sebentar" Tama melihat situasi jalanan yang cukup lenggang membuatnya segera menepikan mobilnya.


"Bunda sakit?" kembali fokus Athaya pada sang Bunda, kini kedua tangannya menangkup wajah sang bunda yang sudah memiringkan badannya ke arah Athaya.

__ADS_1


"Hummmm...sayangnya Bunda" Rahma langsung melepas sabuk pengaman, dia merengkuh tubuh kecil yang sedang mengkhawatirkannya itu ke dalam pelukannya.


"Bunda tidak apa-apa sayang, papi hanya bercanda" Rahma mengurai pelukannya, dia mengecup penuh kasih kening sang putra yang memeluknya erat.


Rasa hangat seketika menjalar memenuhi dada Tama melihat kemesraan istri dan putranya itu. Dalam hati ucapan syukur terus dirapalkan, betapa bahagianya dia memiliki dua orang beda generasi yang ada di hadapannya sekarang.


"Bunda jangan kurang tidur, bunda harus istirahat yang cukup biar enggak sakit" ucap Athaya lagi yang masih terlihat masih sangat mengkhawatirkan keadaan bundanya.


"Iya sayang, bunda istirahat yang cukup kok. Bunda enggak sakit, papi tadi hanya bercanda" ulang Rahma kembali menjelaskan berharap sang putra kembali tenang.


"Beneran? Kalau bunda sakit kita batalin aja menjenguk ayahnya" kekhawatiran masih kentara di wajah bocah laki-laki itu, dia kembali menangkup kedua pipi sang bunda.


"Beneran, bunda gak sakit, bunda sehat, iya kan Pi?" Rahma meminta dukungan pada sang suami, karena seperti sebelumnya Athaya akan yakin jika sang papi sudah bersuara.


"Sini sayang..." Tama merentangkan kedua tangannya, dia pun sudah sejak tadi melepas sabuk pengaman dan merubah posisi duduknya.


Tama memeluk erat putra tersayangnya, dia pun mengecup puncak kepala sang putra penuh kelembutan.


"Terima kasih sudah sangat mengkhawatirkan bunda sayang, Papi bangga padamu. Tapi mulai sekarang kamu jangan khawatir, papi akan menjaga bunda dan memastikan bunda baik-baik saja" ucap Tama menenangkan, terbukti senyum manis kembali terukir di wajah tampan sang putra.


"Terima kasih papi, aku percaya papi akan menjaga bunda dengan baik" Athaya berkata seolah dirinya sudah dewasa membuat Tama dan Rahma semakin gemas dan ketiganya pun berpelukan dengan tawa bahagia bersama.


Jarak rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari tempat mobil mereka berhenti membuat mereka tidak terlalu lama berkendara setelah drama keluarga bahagia tercipta.


Sepuluh menit kemudian mobil yang dikemudikan Tama sudah sampai di tempat parkir rumah sakit tempat Anggara dirawat.


Ketiga orang yang sudah dinantikan kehadirannya itu berjalan saling bergandengan tangan menuju ruang rawat tempat Anggara yang sudah diinformasikan Friska lewat pesan yang dikirimnya tadi pagi.


"Bunda, apa ayah akan mengingatku?" tanya Athaya tiba-tiba membuat ketiganya menghentikan langkah,


Rahma menatap Tama seolah meminta bantuan untuk dapat memberikan jawaban yang tepat.


"Tentu Nak, ayah pasti akan mengingatmu. Kalaupun saat ini aya lupa itu karena beliau sedang sakit parah. Makanya sebagai anak yang sholeh sudah menjadi tugas Thaya untuk mendo'akan ayah ya" panjang lebar Rahma memberi penjelasan yang juga diangguki oleh Tama.


"Seperti apapun keadaan ayah, Thaya harus tetap menyayangi dan menghormatinya. Jangan berhenti mendo'akannya karena Allah pasti mendengar setiap do'a hambaNya" imbuh Tama menimpali membuat Athaya semakin terlihat tenang.


"Thaya sayang ayah, Thaya mau ayah sembuh, walaupun selama ini ayah jarang menemui Thaya tapi Thaya percaya sama bunda dan papi kalau ayah juga menyayangi Thaya" lagi-lagi anak kecil itu membuat dua orang dewasa yang kini berjongkok mensejajarkan tinggi mereka kembali speechless mendengar penuturannya

__ADS_1


"Tentu sayang, apapun keadaannya bakti kepada orang tua tetap harus dilakukan" nasihat Tama pada putra sambungnya,


"Baik papi, Thaya juga sayang papi, sayang bunda juga" lagi-lagi keharuan menyelimuti, ketiganya kembali berpelukan dan melanjutkan langkah dengan saling bergandengan erat.


__ADS_2