
Rahma menggelar karpet di lantai kamarnya, cukup berjarak dari tempat tidur yang biasa dia tempati. Sebuah bantal dan selimut pun sudah berada di atas karpet itu.
Rahma keluar dari kamarnya, membawa handuk, baju tidur dan sabun pencuci wajah yang dia bawa dari rumahnya. Anggara masih duduk di atas tempat tidur, bersandar di kepala ranjang dengan tangan menggenggam ponsel namun matanya tertuju pada karpet yang tergelar di lantai.
Ceklek, suara pintu pun mengalihkan pandangan Anggara kembali pada layar ponselnya. Dia tidak mau terlihat peduli pada apa yang dilakukan Rahma.
Sudah memakai baju tidur dengan kerudung instan yang tidak terlalu lebar, Rahma memasuki kamarnya. Menyimpan handuk dan melangkah menuju karpet yang akan ditempatinya untuk tidur malam ini.
Rahma juga meraih ponselnya, memutar murotal Al-Qur'an dengan suara yang tidak terlalu keras karena takut mengganggu Anggara. Rahma pun menutupi tubuhnya dengan selimut dan mulai memejamkan matanya.
Semua yang dilakukan Rahma tidak lepas dari pantauan Anggara. Tatapannya tidak beralih sedetik pun dari Rahma, semua yang dilakukan Rahma membuat Anggara tertarik. Dia bahkan dibuat geleng-geleng kepala karena setelah memasuki kamar Rahma tidak melihat ke arahnya sama sekali.
"Kamu sudah mau tidur?" Anggara akhirnya bersuara, gemas sendiri dengan sikap Rahma. Bisa-bisa wanita yang kini telah menjadi istrinya itu tidak sedikit pun melirik ke arahnya.
"Baru mau tidur" jawab Rahma tanpa membuka matanya,
"Ini baru jam sembilan" timpal Anggara masih mencoba memperpanjang obrolan.
"Iya" jawab Rahma singkat
"Bisa kita bicara?" suara Anggara terdengar begitu dekat membuat Rahma refleks membuka matanya, dan benar saja wajah Anggara kini tepat berada di atasnya.
"Ada apa?" Rahma memalingkan wajahnya yang kini begitu dekat dengan Anggara. Dia pun memiringkan tubuhnya mencoba untuk bangun, merasa tidak nyaman dengan keberadaan Anggara di atasnya.
"Aku mau minta maaf" ucap Anggara yang tak juga melepas pandangannya dari wajah Rahma, ada sesuatu yang berdesir di harinya saat menatap wajah Rahma dari dekat.
"Cantik" gumamnya dalam hati,
"Maaf untuk apa?" tanya Rahma dengan tenang, dia mampu menguasai hatinya yang sebenarnya berdebar begitu kencang sejak beradu tatap dengan Anggara dengan jarak yang begitu dekat
"Aku tidak tahu kalau Friska akan datang" jelasnya. Anggara menundukkan kepala saat mengatakannya.
"Sudah aku maafkan, tapi bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" Rahma memberanikan diri menatap Anggara, menyembunyikan semua perasaan gugupnya. Bersikap tegar, seolah tidak terpengaruh dengan apapun yang dilakukan dan dibicarakan Anggara.
"Apa?" Anggara mendongak, menatap Rahma dengan lembut. Bahkan Rahma pun merasakan jika tatapan laki-laki yang secara hukum dan Agama itu sah sebagai suaminya terasa berbeda dari sebelumnya.
"Aku tahu di antara kita hanya terikat oleh pernikahan yang tertulis di atas kertas dan aku pun menerima keadaan Mas yang mempunyai kekasih. Apapun yang akan mas lakukan aku tidak akan mencampuri, sejak awal kita sudah sepakat dengan kehidupan yang akan kita jalankan. Tapi, bisakah Mas tidak membiarkannya datang ke rumah yang aku tinggali? dan tolong, jangan biarkan aku untuk kedua kalinya dan seterusnya melihat apa yang tidak ingin aku lihat" Rahma berbicara dengan lancar, dengan wajah serius dan penuh kharisma. Dia tidak menunjukkan sedikitpun sisi lemahnya di hadapan Anggara,
__ADS_1
"Aku..." ucapan Anggara terbata, karena dering telepon yang berasal dari ponselnya.
"Telpon Mas, angkatlah sepertinya penting" Rahma mengingatkan, dia yakin pasti kekasih suaminya yang menelepon.
"Hallo" Anggara akhirnya beranjak, dia mengambil ponsel dan mengangkat panggilan dari kekasihnya.
"Aku masih di Garut, besok aku kembali"
"Tidak bisa, ini sudah malam aku sedang di rumah mertuaku"
"Besok pagi aku akan menemuimu"
"Iya janji"
"Iya, malam"
"Love you too"
Percakapan Anggara dan kekasihnya yang terdengar jelas oleh Rahma, dia menghela nafas dalam saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Anggara.
"Padahal dia suamiku" gumam Rahma dalam hatinya,
"Rahma, Rahma...." Angga menghentikan panggilannya saat Rahma tak kunjung menjawab panggilannya. Dia menatap tubuh yang terbaring di lantai itu, ingin sekali kembali mendekatinya. Tapi pesan masuk dari kekasihnya kembali membuat dirinya mengurungkan keinginan hatinya.
'Ingat, jaga jarak ya sayang. Aku di sini menunggumu, besok pagi siap memberimu servis terbaik'
"Huuh..." Anggara menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar entah apa yang yang ada di pikirannya saat ini. Matanya kembali menatap punggung Rahma yang masih tertidur dengan posisi yang sama membelakanginya. Seluruh tubuhnya bahkan ditutupi selimut, hijab pun tidak lepas dari kepalanya.
Semenjak menikah Anggara bahkan belum pernah melihat Rahma membuka hijabnya. Terkadang ingin dia meminta agar Rahma membuka hijab di hadapannya tetapi kembali hatinya mengelak dengan pesona guru cantik itu.
Suara dering telepon yang berulang-ulang berhasil mengusik tidur Rahma. Awalnya dia enggan terbangun, namun bunyi handphone Anggara sudah terlalu lama berdering. Akhirnya Rahma pun bangun dan melihat sang empunya handphone masih bergelut dengan selimut.
Rahma pun bangun, melirik jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul empat dan sebentar lagi subuh.
"Mas, Mas Anggara" Rahma mencoba memanggil-manggil suaminya berharap bisa bangun mendengar panggilannya.
Handphone milik suaminya pun kembali berdering kembali membuat Rahma pun melirik handphone yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidur, dengan jelas terlihat oleh Rahma foto seorang gadis cantik berambut hitam panjang terurai indah dengan nama kontak sayang dan emot hati.
__ADS_1
Rahma pun memberanikan diri menyentuh bahu Anggara, menggoyangkan tubuhnya agar terbangun.
"Mas, pacarmu menelepon" Rahma sedikit keras saat mengatakannya, membuat Anggara sontak membuka matanya.
"Kamu?" Anggara memicingkan matanya menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke netranya.
"Iya, aku bangunkan dari tadi susah banget. Hp mu bunyi terus" jawab Rahma, dia pun membalikkan tubuhnya untuk membereskan tempat tidurnya, namun tiba-tiba Anggara mencekal lengannya sontak Rahma pun berhenti dan menatap tangan yang dipegang suaminya itu.
"Ada apa, Mas?" tanya Rahma datar,
"Aku...." Anggara terbata, sementara Rahma masih menatap suaminya itu menunggu kelanjutan ucapannya,
"Bisakah kamu duduk sebentar di sini?" tanyanya dengan tatapan penuh harap,
"Lepaskan dulu" Rahma mencoba melepas tangan yang dicekal Anggara,
"Baiklah" Anggara pun melepaskan cekalannya sementara Rahma duduk di pinggir tempat tidurnya,
"Ada apa?" Rahma menatap Anggara yang sejak tadi pun menatapnya,
"Friska ingin aku segera menikahinya" Rahma menahan nafasnya sejenak mendengar apa yang dikatakan Anggara,
"Bukankah memang itu yang akan mas lakukan? aku pikir kalian sudah menikah saat berani melakukan kontak fisik seperti yang pernah aku lihat" Rahma memalingkan wajahnya, bayangan Anggara dan kekasihnya yang sedang bercumbu pun kembali menghinggapi.
"Memang benar, tapi awalnya kami hanya akan menikah siri. Keluarganya juga sudah setuju. Tapi beberapa hari ke belakang keluarganya memintaku untuk menikahinya secara resmi" jelas Anggara,
"Lalu?" Rahma masih belum memahami apa maksud pembicaraan Anggara,
"Kita harus bercerai?" lanjutnya,
"Aku tidak akan menceraikanmu, aku tidak mau membuat Mami dan Papi kecewa. Bukankan kamu juga ingin tidak ingin membuat Bapak dan Ibu kecewa dan khawatir?" Anggara berbicara dengan tegas. Rahma menarik nafasnya dalam, mengusir sesak yang sejak beberapa saat yang lalu menyergap dadanya.
"Kalau memang aku menjadi penghalang pernikahan kalian, mari kita berpisah tanpa harus keluarga tahu" tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulut Rahma, komitmen untuk bertahan dalam pernikahan pun dia lupakan. Rahma menundukkan kepalanya saat mengatakan itu.
"Tidak, aku tidak akan menceraikanmu" kalimat mengejutkan pun keluar dari mulut Anggara membuat Rahma mendongakkan kepalanya, sejenak tatapan mereka saling bertemu.
Rahma tak melepas tatapannya, mencari maksud dari perkataan suaminya itu melalu sorot mata Anggara. Begitupun Anggara, yang menatap Rahma sambil merasakan sesuatu di hatinya yang tiba-tiba menghangat dan merasa nyaman saat berdekatan bersama Rahma. Ada perasaan tidak rela di hatinya jika harus kehilangan Rahma. Selama sebulan berpisah dari Rahma sejak pernikahannya, sejujurnya bayangan
__ADS_1
"Lalu apa maumu, Mas?" ucapan Rahma pun memutuskan pandangan mereka,
"Kamu hanya perlu menandatangani surat izin untuk aku menikah lagi dan hadir di pernikahanku nanti"