
Allah tidak akan memberimu seorang pendamping hidup tanpa alasan. Entah karena kamu diperlukan untuk mengubah hidupnya, atau dia yang dikirim untuk mengubah hidupmu.
Rahma menghirup udara pagi yang masih terasa sejuk. Saat ini dia masih berada di rumah sakit. Ruang rawat ibunya kebetulan menghadap taman rumah sakit yang cukup rindang dengan pepohonan dan aneka tanaman hias. Dia duduk di kursi yang ada di teras ruangan itu dengan memangku laptop yang selalu menjadi teman setianya.
Rahma menutup laptop yang sudah dimatikannya terlebih dahulu, sudah cukup lama dia berada di luar saat sekarang membangunkan sang ibu yang setelah subuh tadi kembali beristirahat selepas meminum obat.
"Assalamu'alaikum, Naura...." di saat bersamaan dengan Rahma yang hendak membuka pintu ruang rawat ibunya, seseorang datang dengan mengucapkan salam. Dia adalah Lisna sahabatnya yang baru mengetahui jika ibunya Rahma dirawat di rumah sakit.
"Wa'alaikumussalam warohmatulloh" jawab Rahma menghentikan gerakan tangannya yang akan memutar handle pintu, dia membalikan badan dan melihat siapa yang datang,
"Lisna...." ucapnya dengan senang karena akhirnya sahabatnya datang, pada saat kepergian bapak sahabatnya itu berkali-kali mengiriminya pesan. Meminta maaf karena tidak bisa menemaninya, saat itu Lisna sedang ditugaskan untuk mengikuti pelatihan di luar kota oleh pihak sekolah tempatnya mengajar.
"Maafkan aku, Naw....Maaf" Lisna berhambur ke pelukan Rahma dengan air mata yang tak tertahankan, dia turut merasakan duka yang dirasakan sahabatnya itu. Lisna tahu semua yang dihadapi Rahma pasti sangatlah tidak mudah.
Kepergian Bapak, laki-laki yang paling dekat dengan Rahma selain saudara-saudaranya di susul dengan sakitnya ibu pasti membuat Rahma sangat sedih. Belum lagi masalah rumah tangga yang dihadapinya, menunjukkan atau tidak yang pasti Rahma sangat terluka
"Bagaimana kabar ibu?" Lisna mengurai pelukannya dengan air mata yang masih sesekali lolos dari sudut matanya,
"Alhamdulillah sekarang ibu sudah lebih baik. Insya Allah siang ini sudah boleh pulang setelah diperiksa oleh dokter" Rahma tersenyum melihat sahabatnya yang masih mengusap air mata yang terus membasahi pipinya.
"Aku mau ketemu ibu" ucap Lisna dengan suara yang masih parau karena menangis,
"Iya, ayo kita masuk"
Mereka berdua pun memasuki ruang rawat ibu, Rahma tersenyum melihat ibu masih tidur dengan lelapnya. Bahkan terlihat bibirnya seolah tersenyum dengan cantiknya.
"Ibu masih tidur, Naw...." ucap Lisna pelan, dia tidak mau sampai suaranya mengganggu istirahat ibu.
"Iya, tadi habis subuh ada obat yang harus ibu minum. Sepertinya membuat ibu mengantuk, jadi tidak lama setelah minum obat ibu tertidur lagi" jelas Rahma sambil membetulkan selimut yang menutupi tubuh ibunya,
"Maaf ya aku enggak ada di samping kamu saat Bapak pergi" Lisna kembali mengulang permintaan maafnya, sungguh dia merasa sangat bersalah tidak bisa membersamai sahabatnya saat ada dalam kedukaan.
"Sudahlah, jangan seperti itu. Alhamdulillah aku baik-baik saja. Do'akan ibu ya Lis, semoga cepat sembuh" ucap Rahma, memberi ketenangan pada sahabatnya itu.
"Tentu..." jawab Lisna singkat, tangannya kembali mengusap ujung matanya. Dia melirik ke arah tempat tidur pasien karena melihat ada pergerakan di sana.
"Teh..." benar saja, rupanya ibu sudah bangun. Dia memanggil Rahma.
"Bu, ibu sudah bangun? bagaimana keadaan ibu? merasa lebih baikkah?" tanya Rahma dengan wajah khawatir, dia berjalan mendekati ibu untuk memastikan keadaannya.
"Alhamdulillah ibu sudah lebih baik" jawab ibu dengan suara sendu, beliau tampak ingin mengubah posisinya menjadi duduk
"Ada Lisna, dia datang menjenguk ibu" Rahma membantu ibu untuk duduk nyaman, dia memberi tahu ibunya perihal kedatangan Lisna yang saat ini juga mendekati ibu dan menyalaminya.
"Assalamu'alaikum Bu" ucap Lisna takdzim, dan disambut dengan senyum hangat ibu yang meneduhkan.
Tok...tok...tok...suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka, beberapa perawat yang diikuti seorang dokter memasuki ruang rawat ibu.
__ADS_1
Pemerikasaan ibu pun berlangsung tidak terlalu lama. Dokter memberi kabar pada Rahma jika kesehatan ibu semakin membaik dan diperbolehkan untuk pulang hari ini namun dengan catatan masih harus kontrol tiga hari ke dapan. Rahma pun senang, akhirnya keinginan ibunya bisa kembali ke rumah.
"Bu, hari ini ibu sudah boleh pulang. Teteh akan menelepon Yusuf supaya langsung ke rumah saja setelah kuliahnya selesai. Insya Allah kita pulang sekarang. Ada Lisna yang akan bantu kita. Iya kan bestie?" ucap Rahma dengan mengerlingkan sebelah matanya ke arah sahabatnya,
"Tentu bestie, dengan senang hati. Aku juga kangen rumah ibu" ucap Lisna meladeni keisengan Rahma.
"Teh, sebelum pulang ibu mau shalat dhuha dulu" Ibu membenarkan jilbab yang dipakainya, sampai saat ini ibu masih bertayamum jika hendak shalat karena kondisinya yang belum memungkinkan dirinya berwudhu.
"Iya Bu, kalau begitu aku siapkan dulu mukenanya ya!" Rahma pun menyiapkan alat shalat ibu dan membimbingnya untuk melakukan tayamum.
Semua administrasi sudah selesai diurus. Hari ini ibu sudah boleh pulang, selama Rahma mengurus administrasi ibu ditemani oleh Lisna. Tidak lupa Rahma juga mengabari kakak dan adik-adiknya melalui WA grup keluarga yang dibuat Yusuf beberapa hari yang lalu.
"Alhamdulillah, ibu sudah bisa pulang. Aku sedang mengurus administrasi kepulangan ibu. Dek @Yusuf...kalau sudah selesai kuliahnya kamu langsung pulang ke rumah aja ya" (Rahma)
"Alhamdulilah teh, aku seneng banget. Insya Allah sore ini aku dan Mas Rafa akan ke Garut" (Maya)
"Bisa gitu dek? jangan memaksakan, kamu gak boleh kecapan, ingat kandungan kamu" (Rahma)
"Insya Allah enggak Teh, Mas Rafa udah ngondisiin semua pekerjaannya di sini jadi tinggal mantau aja dari jauh, Insya Alllah kita bisa agak lamaan di Garutnya" (Maya)
"Alhamdulillah kalau begitu, yaudah..hati-hati di jalan ya Dek, Fii Amanillah" (Rahma)
"Alhamdulillah, gimana semuanya aman kan Dek? kalau ada kekurangan segera hubungi Aa" (Budi)
"Alhamdulillah aman A, semua udah selesai. Aku lagi nunggu obat ibu aja" (Rahma)
"Iya, hati-hati di jalan Dek, jangan ngebut" (Rahma)
"OK" (Yusuf)
Obrolan di room chat grup keluarga pun berakhir seiring Rahma yang mendengar nama ibunya dipanggil.
"Assalamu'alaikum" setelah menerima obat ini yang akan dibawa pulang Rahma pun segera kembali ke ruangan ibunya, tampak Lisna sedang duduk sambil memainkan ponselnya,
"Wa'alaikumsalam, sudah selesai?" tanya Lisna dengan suara pelan. Dia menunjuk ke arah tempat tidur ibu yang tampak kembali tertidur dengan masih memakai mukena.
"Ibu tidur lagi?" tanya Rahma tak kalah pelannya dan diangguki oleh Lisna.
"Tadi habis shalat dhuha, kita ngobrol sebentar. Setelah itu ibu bilang ibu ngantuk" jelas Lisna.
Suasana hening sejenak, Rahma memasukan obat ibu ke dalam tasnya dan mengecek perlengkapan takutnya ada yang tertinggal di rumah sakit.
"Naw, tadi ibu cerita kalau dia sudah tahu semua tentang kamu" Lisna berbicara dengan suara pelan karena takut membangunkan ibu,
"Mulai sekarang aku harap kamu lebih terbuka. Jangan pura-pura bahagia terus" ledek Lisna yang ditanggapi dengan tersenyum oleh Rahma.
" Lis, aku itu bukan berpura-pura bahagia, tapi lebih pakar menyembunyikan kesedihan, bukankah itu lebih baik? daripada mengumbar yang kemudian menjadi hasrat buat orang lain untuk membicarakan atau tertawa di atas penderitaan kita" ujar Rahma di akhiri dengan kekehan,
__ADS_1
"Aku senang kalau kamu akhirnya kamu mau bersikap tegas, ibu bilang beliau akan mendukung apapun keputusan kamu termasuk jika kamu memilih mundur dari pernikahanmu. Aku tahu ibu juga pasti sangat terluka, orang tua mana yang rido jika anak perempuannya diperlakukan seperti itu oleh suaminya" Lisna menghela nafas menjeda ucapannya,
"Aku bener-bener hak habis pikir, sampai sekarang si Anggara gak datang. Kamu beneran kan udah ngabarin dia?" Lisna sangat geram mendengar jika suami sahabatnya itu tidak datang saat kematian mertuanya, bahkan sampai ibu mertuanya dirawat di rumah sakit pun dia tak kunjung datang,
"Sudahlah, gak usah dibahas. Mungkin dia punya urusan yang lebih penting" sela Rahma,
"Ckkk...."Lisna berdecak,
"Dari dulu kamu itu terlalu baik Naw jadi orang. Kali-kali utamakan kepentingan pribadi kenapa sih...." Lisna semakin kesal mendengar jawaban Rahma,
"Masya Allah ya, Allah memang tidak pernah salah memberikan ujian. Kamu memang keren, makanya Allah berikan ujian seberat ini sama kamu karena kamu memang bisa melewatinya dengan baik" Lisna berdiri dan mendekati Rahma untuk memeluk sahabatnya itu,
"Apaan sih kamu" Rahma menepis pelukan Lisna, tapi sahabatnya itu tetap melakukannya hingga akhirnya Rahma membiarkan sahabatnya itu melakukan apa yang dia inginkan.
"Banyak hikmah yang terkandung dalam setiap kejadian yang menimpa kita, tinggal kita berupaya dengan cerdas untuk menemukan hikmah-hikmah itu. Setidaknya dari masalah aku kamu bisa belajar jika menikah itu bukan ajang perlombaan apalagi percobaan. Menikah itu butuh kesiapan dan keyakinan, siap bahagia, siap menangis dan siap kecewa. Yakin bahwa kita benar-benar siap menerima semuanya, kerena menikah itu bukan untuk dicoba tapi untuk dibina hingga tutup usia oleh keduanya tentunya" Rahma mengusap punggung sahabatnya yang masih belum mau melepaskan pelukannya,
Sementara Lisna terus mengusap air mata di pipinya di belakang punggung Rahma. Perasaan bersalah masih menyelimuti hatinya karena dulu dia yang mengenalkan sahabatnya itu dengan Anggara.
"Udah ah" Lisna pun akhirnya mengurai pelukannya setelah Rahma mengingatkannya.
"Udah siang, sebaiknya aku bangunkan ibu. Tolong kamu pesenin mobil online ya" pinta Rahma pada sahabatnya dan dijawab anggukan oleh Lisna setelah mengurai pelukannya.
Rahma beranjak dari tempat mereka duduk, dia berjalan ke arah tempat tidur pasien untuk membangunkan ibunya.
"Bu.... bangun dulu yuk, nanti dilanjutkan di mobil tidurnya. Sekarang kita pulang" bisik Rahma mendekati telinga ibunya,
"Bu...."Rahma kembali memanggil sang ibu,
"Bu...." Rahma mulai khawatir, susah beberapa kali sang ibu dipanggil tak as respon. Biasanya ibu paling peka dengan suara-suara meskipun sedang tertidur pulas.
"Bu...." Rahma mulai panik, dia membuka selimut yang menutupi tubuh ibu hampir sampai lehernya,
"Bu..."Rahma semakin panik saat menggenggam tangan ibu terasa dingin, apalagi posis kedua tangan ibu terlipat sempurna di antara dada dan pusarnya,
"Bu, bangun Bu ...." Rahma akhirnya mengguncang tubuh ibu sambil terus memanggilnya.
Lisna yang sedang merapikan barang-barang untuk dibawa pulang, ikut panik mendengar Rahma memanggil ibu dengan suara keras.
"Kenapa Naw?" tanya Lisna tak kalah paniknya,
"Lisna, tolong panggilkan dokter" titah Rahma, Lisna pun bergerak cepat segera keluar berlari menuju ruang dokter,
Keduanya mundur, memberikan ruang pada dokter untuk memeriksa keadaan ibu dengan air mata yang sudah tidak tertahankan. Berbagai pikiran negatif timbul di benak keduanya melihat kondisi ibu yang tiba-tiba drop Padahal beberapa menit sebelumnya ibu begitu lancar berbicara dengan wajah yang berseri-seri.
"Maaf Bu Rahma....ibu anda sudah tiada" ucap dokter, mengakhiri pemeriksaannya.
Duaar.........
__ADS_1