
Nasihat kakak ipar seakan menjadi suntikan semangat untuk Rahma, ini membuatnya semakin kuat untuk menjalani hidup. Kelemahan sedikit demi sedikit semakin sirna, namun dia belum seutuhnya bisa kuat, kadang kala ingatanlah yang membuatnya kembali rapuh tetapi dia tetap berusaha menjalani hidupnya dengan lebih baik di saat rapuh sekalipun.
Keberadaan orang-orang terkasih yang selalu ada untuknya membuatnya merasa lebih bersemangat dalam melanjutkan hidupnya. Tidak lupa keberadaan janin dalam rahimnya pun menjadi motivasi dirinya untuk segera bangkit dari keterpurukan.
"Terima kasih ya Allah, Engkau hadirkan orang-orang baik di sekitarku yang selalu ada di saat-saat pelik dalam hidupku" munajat Rahma di penghujung sepertiga malam terakhir,
"Sekarang, izinkan aku untuk terbang bebas , terbang untuk menghilangkan sisa-sisa kenangan yang terus menerus menghantuiku. Saatnya aku bangkit dari keterpurukan ini, menghadapi semua badai yang menghadang, berusaha menerobos rintangan yang akan menghalangi. Biarkan aku menata kembali jiwa yang sudah hancur ini, lagi pula sehancur apapun jiwaku tidak akan ada yang lebih peduli selain diriku sendiri. Dan sekarang aku memutuskan untuk melanjutkan jalanku sendiri, bimbing hamba Ya Rabb" pungkas Rahma di akhir rintihannya.
☘️☘️☘️
Hari-hari Rahma semakin berwarna, saat ini dia sangat menikmati aktivitas barunya sebagai mentor di lembaga bimbingan belajar yang dikelola sepasang suami istri yang selalu terlihat harmonis dan kompak.
Selain mengajar Rahma masih juga masih tetap menjadi mentor online karena memang lembaga itu melayani bimbingan belajar secara online maupun offline.
Aktivitas Rahma yang lainnya adalah membantu sang kakak ipar yang mempunyai hobi memasak dan membuat aneka kue merintis usahanya. Atas izin dan dukungan suaminya dia membuka usaha toko kue di lahan kosong samping rumahnya yang kebetulan sangat strategis karena memang mereka tinggal di komplek perumahan yang cukup ramai, dan posisi rumah Budi yang berada tepat di jalan utama membuat toko kue istrinya banyak pengunjungnya.
Tanpa terasa waktu sudah akan menjelang Ramadhan, pesanan kue semakin banyak diterima seiring banyaknya pembeli yang bahkan menjadi pelanggan tetap di toko itu. Bukan hanya resep kakak ipar yang sangat laris dan menjadi ciri khas di toko kue itu tetapi resep Rahma yang juga banyak belajar dari kakak ipar dan iseng-iseng membuat resep baru menjadi trending di toko kue yang diberi nama sesuai dengan nama keponakan Rahma yaitu Faeyza Cake dan Faiz Bread.
Selain aneka kue, setelah beberapa bulan usaha mereka berjalan lancar produksi pun melebarkan pada produksi roti dan diberi label nama yang berbeda dengan label nama kue.
Kehamilan Rahma yang sudah akan menginjak sembilan bulan untunglah tidak terlalu banyak keluhan. Setiap bulan dengan diantar kakak iparnya Rahma rutin memeriksakan kandungannya. Secara umum setiap pemeriksaan dokter menyatakan jika keadaan bayinya sehat.
Kakak iparnya selalu mengingatkan agar Rahma mengurangi aktivitasnya di saat kehamilannya susah semakin membesar, dia khawatir jika Rahma terlalu lelah dan sakit. Tapi dengan mantap Rahma meyakinkan kakak ipar dan kakaknya bahwa dirinya baik-baik saja dan senang menjalani kesibukannya.
Tiga hari jadwal Rahma menjadi mentor offline di lembaga bimbingan belajar, dan hari lainnya lebih banyak Rahma habiskan di toko kue. Meskipun kini ada beberapa pekerja yang sengaja dipekerjakan di toko karena omset semakin meningkat tetapi Kakak ipar dan Rahma tetap terlibat langsung baik dalam proses produksi maupun pengelolaan lainnya.
Malam ini adalah malam H-2 menjelang Ramadhan, Rahma dan Yusuf mendapat pesan dari kakak iparnya agar bersiap selepas Ashar untuk menghadiri undangan salah satu kolega kakaknya. Toko pun ditutup lebih awal, hari ini Rahma tidak ada jadwal offline, pembelajaran online pun sudah dilakukannya pagi hari. Sambil menunggu kakaknya yang akan menjemput mereka Rahma mulai berselancar di akun media sosial yang sudah lama tidak diaktifkannya.
Deg....jantung Rahma seakan berhenti berdetak lebih cepat ketika membuka media sosialnya, di halaman beranda tampil akun yayasan tempat dirinya dulu mengajar sewaktu di Garut. Di sana diberitakan jika beberapa bulan yang lalu di yayasan itu sudah dilaksanakan acara besar yaitu peresmian gedung baru dan dihadiri oleh ketua yayasan dan diresmikan langsung oleh Bupati Garut.
__ADS_1
Ada rasa yang tak biasa dan sulit untuk terlisankan tatkala melihat foto seseorang yang tengah berpidato dengan gagahnya di acara itu. Hati Rahma berdenyut saat mengingat jika dulu orang itu pernah menyatakan cinta kepadanya,
"Pratama Ardhan" gumamnya pelan membaca nama yang tercantum di foto itu tanpa sadar.
"Ayo ateu kita let's go..." Faiz yang sudah menduduki bangku kelas lima sekolah dasar mengajak Rahma untuk pergi karena kedua orang tua dan pamannya sudah menunggu di mobil. Sontak ajakan keponakannya itu membuyarkan lamunan Rahma,
"Ayo" sahut Rahma, berdiri pelan dari duduknya yang sudah mulai terlihat kesulitan saat nerdiri karena perutnya yang semakin membesar.
"Ateu, sini Eza bantu" keponakan keduanya Faeyza yang dipanggil Eza sigap membantunya, dia juga sudah memasuki sekolah dasar kelas 2 itu, Datang menghampiri Rajma dan membantu Rahma dengan menuntun lengannya menuju mobil yang akan dikemudikan oleh Yusuf.
Budi duduk di samping kemudi, sementara Rahma dan kakak iparnya duduk di kursi tengah dan di belakang dua keponakan Rahma sudah oun sudah siap. Mobil yang mereka kendarai oun meluncur menuju tempat yang sudah Budi beritahu pada Yusuf kemana tujuan mereka.
"A, kita ke undangan siapa?" tanya Rahma di sela-sela obrolan mereka tentang perkembangan toko kue dan roti kakak iparnya,
"Kita memenuhi undangan Pak Hakim, beliau meresmikan pembangunan sebuah mesjid di TPA di Jakarta dan mengundang kita untuk datang karena tahu sekarang kita tinggal di Jakarta" jawab Budi menjelaskan tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada ponselnya.
"Iya Oak Hakim, teman Bapak yang waktu itu datang ke rumah" jelas Budi lagi,
"Ouh, Aa masih suka berkomunikasi dengan Pak Hakim?" Rahma kembali bertanya pada kakaknya, sementara kakak ipar dan Yusuf yang juga turut penasaran hanya diam mendengarkan.
"Iya, beliau sering menghubungi Aa, bahkan sering juga menanyakan kabar kamu. Beliau juga yang membantu penempatan tugas Aa di sini"
"Ouh.....bukankah beliau orang Bandung A?" Yusuf menimpali obrolan kakak-kakaknya itu, yang dia ketahui dulu Pak Hakim bilang jika dirinya tinggal di Bandung.
"Dulu iya, tapi sekarang beliau mulai menetap di Jakarta, katanya perusahaan dan yayasannya yang ada di Bandung sudah sepenuhnya diserahkan pada anaknya. Pak Hakim hanya mengurus perusahaannya yang di Jakarta, dan anaknya pun membangunkan mesjid dan Taman Pendidikan Al-Qur'an di Jakarta agar Pak Hakim tidak merasa kehilangan rutinitasnya waktu di Bandung yaitu memakmurkan Masjid" Budi menjelaskan panjang lebar informasi tentang Pak Hakim sahabat dari almarhum ayah mereka, Rahma tidak menyangka jika kakaknya masih menjalin silaturahim dan komunikasi yang baik dengan Pak Hakim.
Kurang dari satu jam mobil yang mereka kendarai pun sampai di halaman parkir sebuah mesjid yang sangat megah dengan arsitektur masjid kontemporer.
Arsitektur masjid kontemporer sering mewakili perpaduan gaya yang luar biasa, menggambar dari tradisi arsitektur yang beragam untuk menciptakan sesuatu yang dikenal sebagai "Arsitektur Islami," yang memenuhi semua persyaratan arsitektur masjid komunal dan bergaya kontemporer.
__ADS_1
Rahma tertegun melihat keindahan arsitektur masjid yang di bangun di atas lahan seluas satu hektar itu dan berada di pinggiran ibu kota.
"Masya Allah indah sekali" gumam Rahma pelan, namun masih terdengar oleh kakaknya yamg tepat berada di depannya,
"Keren ya Teh" Yusuf pun tak ketinggalan menyahuti, dia yang sudah lebih dulu keluar dari mobil mendengar gumaman Rahma,
"Iya Dek, asli ini mah betah pisan" kata Rahma dengan logat sundanya, kakak iparnya hanya tertawa kecil mendengar Rahma karena setelah sekian lama dia menikah, baru saat tinggal dengan kedua adik iparnya dia mulai mengerti sedikit-sedikit bahasa Sunda.
Acara baru saja dimulai, Rahma dengan perut buncitnya berjalan mengikuti kakaknya yang berjalan di depan bersama kdua keponakannya dan Yusuf, sementara dirinya didampingi kakak iparnya berjalan mengikuti.
Mereka pun mengikuti acara yang tengah berlangsung, Budi belum bisa menemui Pak Hakim yang nampak duduk di depan bersama istrinya karena acara sudah dimulai beberapa saat yang lalu.
Tepat pukul lima sore acara seremonial peresmian masjid dan taman pendidikan Al-Qur'an yang diberi nama Baiturrahmah itu selesai. Tibalah saatnya momen ramah tamah, semua tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan, selepas ini masjid yang baru saja diresmikan itu akan digunakan untuk shalat berjama'ah seluruh tamu undangan yang hadir termasuk masyarakat sekitar yamg juga turut hadir.
Rahma berjalan ke arah stand minuman karena merasa haus, tidak disangka dia bertemu dengan Adrian. Muridnya sewaktu di Garut yang mengkalim dirinya sebagai pengagum Rahma waktu sekolah.
"Bu Rahma" sapanya langsung mengenali sosok guru idolanya, Rahma menoleh dia tidak begitu mengenali suara yang memanggil namanya karena memang sudah lama sekali mereka tidak bertemu semenjak perpisahan sekolah.
"Assalamu'alaikum, Bu Rahma? ini ibu kan?" Adrian tampak senang karena bertemu dengan guru idolanya semasa SMA itu,
"Wa'alaikumsalam, ini...." Rahma tampak mengerutkan kening, dia mengingat-ingat wajah pemuda yangs edang berdiri di hadapannya dengan tersenyum lebar.
"Adrian ya?" tanya Rahma yakin, awalnya sempat ragu karena pemuda di hadapannya ini tampak gagah dan berwibawa apalagi dengan pakaian muslim dan peci yang digunakannya tampak pangling, namun setelah memandangi lekat wajah itu Rahma yakin jika pemuda itu adalah Adrian.
"Iya Bu, aku Adrian. Bu Rahma apa kabar?" lanjutnya, mereka pun saling melepas rindu antara guru dan murid, tidak lupa Adrian pun menanyakan usia kandungan Rahma, Adrian menjelaskan jika dirinya sekarang berkuliah di Mesir sesuai keinginan papanya, dan sekarang sedang libur Ramadhan dan selama Ramadhan ini dia akan turut mengelola Taman Pendidikan Al-Qur'an yang baru saja diresmikan karena memang ayahnya dengan Pak Hakim adalah teman dekat.
Mereka tampak akrab sebagai guru dan murid, Adrian sangat senang bisa kembali bertemu dengan guru idolanya. begitupun Rahma dia bangga melihat perubahan Adrian yang sangat signifikan menurutnya. Sampai seseorang kembali memanggil nama Rahma, kali ini Rahma cukup mengenali suara itu.
"Naura...."
__ADS_1