Belenggu Akad

Belenggu Akad
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Hanya dalam waktu dua puluh menit Tama susah sampai tepat di halaman rumahnya. Dia memarkirkan mobilnya tergesa-gesa dan segera keluar setengah berlari menuju pintu ruang utama rumah itu.


"Assalamu'alaikum" ucap Tama sambil membuka pintu dengan keras, membuat beberapa orang yang ada di dalam kaget dan seketika menengok ke arahnya yang datang dengan nafas memburu.


"Wa'alaikumsalam" setelah sempat terjadi keheningan beberapa detik karena kaget, sebelum semua akhirnya kompak menjawab.


"Papi..." suara Athaya yang dengan lantang menyambut kedatangan Tama seketika membuat semua orang yang sempat terdiam mampu mengembalikan kesadaran mereka.


"Athaya sayang, anak papi" Tama tak kalah hangat menyambut Athaya yang berlari ke arahnya. Dia membentangkan kedua tangannya siap menyambut kedatangan sang putra sambung dan membawanya kedalam pelukan.


Melihat Tama yang begitu erat memeluk Athaya membuat semua orang tersenyum, Rahma bahkan sampai mendongakkan kepalanya menahan sesuatu agar tidak terjatuh dari matanya.


Beberapa jam yang lalu hatinya begitu gelisah memikirkan apa yang baru saja terjadi. Kedatangan sang mantan mertua sejujurnya membuat dirinya tak bisa berpikir jernih. Untunglah di perjalanan saat menjemput Athaya dari sekolah dia bertemu dengan Pak Hakim, ayah mertuanya yang juga baru berkunjung ke yayasan. Menatap penuh curiga melihat Rahma yang bersikap tak biasa. Pak Hakim pun berhasil membujuk Rahma agar ikut bersamanya.


Tidak hanya itu, kehadiran orang-orang baik lainnya di saat dirinya sedang tidak baik-baik saja kembali memberikan ketenangan dalam hati Rahma. Di saat bersamaan dia pun bertemu Shanum dan Akhtar yang juga akan mengunjungi Pak Hakim.


Rahma menyadari hadirnya pertolongan Allah melalui mereka yang peduli padanya. Setelah menceritakan perihal alasan mengapa dia menjemput Athaya di saat belum waktunya pulang, Rahma menjadi lebih tenang.


Pak Hakim dengan seksama mendengar curahan hati sang menantu, dia berperan sebagai seorang ayah yang sedang mendengarkan putrinya bercerita. Dengan bijak dan penuh kelembutan Pak Hakim pun memberikan arahan dan nasihat untuk menantunya itu.


Rahma yang awalnya begitu kalut, bingung apa yang harus dilakukan, yang terngiang di kepalanya hanya ancaman pengambilan hak asuh dirinya atas Athaya, bahkan dia pun seakan lupa dengan keberadaan Tama yang sudah berstatus sebagai suaminya, orang yang juga akan berada di barisan terdepan untuk membela dia dan putranya dari berbagai ancaman, kini menjadi lebih tenang setelah mendapat pencerahan dari sang ayah mertua.


Setelah kepergian sang mantan ibu mertua, Rahma hanya fokus pada Athaya. Dia setengah berlari saat keluar dari toko, menaiki mobil yang sudah dipesannya secara online dengan terburu-buru karena ingin segera sampai ke sekolah sang putra dan membawanya pergi sejauh mungkin.


Sepanjang perjalanan Istighfar pun terus dilafalkan dalam hati dan lisannya tanpa suara, dia menyugesti diri selama melibatkan Allah semua akan baik-baik saja.


"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Tama setelah melepaskan pelukannya dan dijawab anggukan kepala oleh Athaya dengan senyum yang menunjukkan deretan gigi putihnya yang terawat.


Tama menatap dalam pada mata yang begitu jernih dengan binar bahagia yang terpancar jelas.


"Papi sudah pulang kerjanya? Sama seperti Thaya pulang cepat?" Athaya langsung menodong Tama dengan pertanyaan dia heran melihat sang papi yang kini sudah bersamanya padahal tadi pagi saat mereka berpamitan papinya itu mengatakan akan pulang sore.

__ADS_1


"Iya Nak, papi kangen kamu dan Bunda" Tama mengecup kening sang putra sambung yang kini bergelayut di lehernya, dia pun menggendongnya dan duduk di samping sang istri setelah menyalami semua orang yang ada di sana.


Tidak hanya Rahma dan kedua orang tuanya yang ada di ruang tengah kediaman Pak Hakim, tapi di sana juga ada Akhtar dan Shanum serta Ahsan yang sengaja berkunjung tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


"Sayang" Tama menerima uluran tangan Rahma yang mengecup punggung tangannya dia pun membalas perlakuan sang istri dengan mengecup kening Rahma dan merangkul bahunya agar semakin mendekat.


"Maaf Mas" bisik Rahma saat suaminya itu mengecup keningnya.


"Tidak apa-apa sayang, tenanglah" jawab Tama tak kalah berbisik,


Selama perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya dia sudah menerima informasi melalui sambungan telepon dari sang ayah, jika istrinya sekarang sudah lebih baik setelah sebelumnya terlihat begitu kalut dan gelisah.


Pak Hakim pun sudah menceritakan semuanya pada Tama, mulai kedatangan mantan mertua Rahma dengan semua ancamannya sampai Rahma yang menjemput Athaya dan ingin membawanya pergi jauh entah kemana karena ketakutannya hingga akhirnya bertemu dengan Pak Hakim.


Tama menatap dalam wajah sang istri yang kini ada di hadapannya. Dari tatapan sendu Rahma, terlihat jelas oleh Tama masih ada trauma masa lalu yang kembali terpantik karena masalah yang baru saja dialami istrinya itu.


"Maafkan Mas, sayang" Tama mengusap lembut pipi Rahma tanpa memedulikan keberadaan sahabat-sahabatnya yang sedang mengobrol dengan sang ayah, sementara Athaya di bawa oleh Bu Hakim ke area belakang untuk bermain dengan putra Shanum.


Rahma hanya membalas ucapan maaf suaminya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia sudah lebih tenang karena kehadiran Tama di sisinya.


"Aku mengkhawatirkanmu, saat menelepon kamu yang mengangkat adalah karyawan toko. Mereka bilang kamu pergi buru-buru dan meninggalkan ponsel" jelas Tama masih dengan tatapan yang tak beralih dari wajah sendu yang istri yang tetap menyembunyikan luka masa lalunya dengan senyuman.


"Maafkan aku mas"


"Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja" Tama memotong pembicaraan Rahma, dia tidak ingin Rahma merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya.


☘️☘️☘️


Hari pun berlalu, setelah kedatangan mantan ibu mertua Rahma secara tiba-tiba ke toko membuat Tama semakin waspada. Dia tidak membiarkan istrinya beraktifitas sendirian di luar rumah, pergi dan pulang dari toko diantar jemput langsung oleh Tama. Selain itu, Tama pun menaruh penjaga khusus di toko untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diharapkan terjadi.


Tidak hanya Rahma yang mendapat pengawasan ekstra, demikianpun dengan Athaya, semenjak kejadian itu Tama pun meminta sang mama untuk mencarikan pengasuh yang bisa dipercaya. Seorang wanita yang sudah terlatih di bidangnya itu kini menemani Athaya selama putranya itu bersekolah.

__ADS_1


"Alhamdulillah Mas, aku baik-baik saja. Keadaan di toko juga seperti biasa aman terkendali, Alhamdulillah sekarang semakin ramai" Rahma berbicara melalui telepon, setelah menjawab salam yang diucapkan sang suami,


"Alhamdulillah, rezeki istri sholehah sayang" balas Tama dari sebrang telepon sana.


Obrolan mereka pun berlanjut, istirahat makan siang selepas shalat menjadi momen berkomunikasi mereka setiap hari. Keduanya menikmati makan siang di waktu yang sama namun tempat yang berbeda.


Tok...tok...tok...


Di saat bersamaan dengan berakhirnya video call Rahma dengan suaminya, seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Maaf Mbak, ada tamu yang memaksa minta bertemu dengan Mbak" salah satu karyawan Rahma membuka pintu dan menyampaikan informasi yang diketahuinya dari satpam toko,


"Siapa?" Rahma mengernyit, setelah kejadian beberapa hari yang lalu dia untuk pertama kalinya lagi menerima tamu yang memaksa ingin bertemu.


Beberapa hari ini Rahma memang membatasi diri untuk bertemu dengan tamu, bahkan beberapa pelanggan yang ingin bertemu pun harus merasa cukup hanya bertemu dengan manajer tokonya saja.


"Namanya Friska, Mbak" jawab karyawan itu,


Deg....


Nama yang tidak asing bagi Rahma, dia merasa sudah tidak punya urusan apa-apa dengan wanita itu. Namun, kedatangannya saat ini cukup membuat Rahma penasaran.


"Persilahkan dua masik" Rahma pun akhirnya mempersiapkan diri untuk menerima kehadiran Friska, dia memutuskan setelah sebelumnya kembali menghubungi sang suami untuk memberi tahu kedatangan mantan madunya itu sekaligus minta izin untuk menerimanya.


"Terima kasih sudah bersedia menemuiku. Setelah kejadian mama yang datang tiba-tiba untuk meminta hak asuh Athaya aku pikir sangat sulit untukku bisa menemuimu" jelas Friska tanpa basa-basi, rupanya dia mengetahui perihal kedatangan ibu mertuanya itu menemui Rahma.


"Kamu mengetahuinya?" Rahma memastikan,


"Tentu saja, mama yang cerita. Dan kamu tahu? Setelah itu mama tidak diperbolehkan lagi keluar rumah oleh papa, dia tidak ingin mamam membuat ulah lagi" jelas Friska membuat Rahma kembali terkejut, ada apa dengan keluarga mantan suaminya itu.


Brukkk.....

__ADS_1


Tanpa diduga, saat Rahma masih menerka-nerka dengan kondisi keluarga mantan suaminya itu, tiba-tiba Friska bersimpuh di hadapannya.


"Friska, kamu ngapain?" Rahma seketika berdiri namun pergerakannya terkunci karena Friska yang tiba-tiba memegangi kakinya.


__ADS_2