Belenggu Akad

Belenggu Akad
Panik


__ADS_3

Kabar kepergian Rahma dari toko dengan cara yang tak biasa membuat semua keluarga turut khawatir. Apalagi Rahma sama sekali tidak bisa dihubungi, dia meninggalkan ponselnya di toko dan kini sudah berada di tangan Tama.


Apartement menjadi harapan akhir Tama untuk mencari keberadaan istri dan putranya. Dia berharap kedua orang berharga itu berada di sana dan menyambut kedatangannya seperti biasa.


Beberapa pesan masuk ke ponsel Rahma membuat Tama kembali menghentikan mobilnya, dia mencari jalan yang cukup luas untuk memarkirkan mobilnya.


Satu persatu Tama membuka pesan masuk di ponsel Rahma, semenjak menikah seminggu yang lalu dia tahu jika istrinya itu tidak membatasi ponsel dengan menggunakan password apapun.


Dari semua pesan masuk tak ada satupun pesan yang mencurigakan atau pun memberi petunjuk keberadaan Rahma, setiap pesan yang masuk hanya orderan dan beberapa ajakan kerja sama untuk toko Rahma. Tama pun kembali melajukan mobilnya menuju apartement. Dalam hati tak henti-hentinya dia merafalkan do'a agat istri dan putranya baik-baik saja.


Perjalanan Tama kembali terhenti saat melihat kerumunan yang menghalangi jalan yang dilaluinya, dia mengira sepertinya ada kecelakaan. Dan benar saja seorang wanita tengah duduk selonjoran di pinggir jalan, beberapa orang tampak menenangkannya dan memberinya minum. Wajahnya terlihat pucat sepertinya dia syok setelah mengalami kecelakaan.


Tama yang harus menunggu beberapa saat hingga kerumunan orang mulai membubarkan diri satu per satu, dia kembali memilih membuka ponselnya berharap ada kabar tentang istri dan putranya dari orang-orang yang dia mintai bantuan untuk mencari keberadaan istrinya.


Tok...tok...tok...


Tama mendongak, menatap jendela mobil yang diketuk seseorang dari luar.


Dia pun menurunkan kaca mobilnya.


"Maaf mas, bisa minta bantuan gak?" tanya seseorang dari luar, mau tidak mau tama pun menganggukan kepalanya.


"Kenapa Pak?" tanya Tama,


"Mbaknya terluka akibat jatuh dari motornya, bisa tolong bawa dia ke klinik terdekat gak? kaki dan tangannya lecet-lecet, kasihan harus segera diobati takutnya infeksi." jelas orang itu menjelaskan kondisi wanita yang baru saja terjatuh dari motor.


Sejenak Tama bergeming, dia bingung antara harus membantu orang itu atau melanjutkan perjalanannya ke apartement. Di saat seperti ini kenapa harus dirinya yang dimintai tolong, Tama pun bingung sendiri.


"Mas, mas, bagaimana?" melihat Tama yang hanya bengong, orang yang meminta tolong itu kembali memanggilnya.


Tama pun akhirnya menganggukan kepalanya, dia pikir hanya sebentar mengantar orang itu ke klinik lagian klinik yang akan dituju juga satu arah dengan apartemennya.


"Terima kasih sudah menolong saya Mas, maaf saya merepotkan" ujar seorang wanita yang kini sudah duduk di jok belakang dengan beberapa luka di tangan dan kakinya, celana jeans yang digunakannya tampak sobek di bagian lutut sementara karena dia memakai kaos lengan pendek beberapa luka pun terlihat di kedua sikutnya dan beberapa bagian lengan yang lainnya.


"Sama-sama Mbak" sekilas Tama melirik wanita itu dari spion yang tergantung di atas kepalanya.


Sejenak Tama tampak berpikir, merasa familiar dengan wanita itu.

__ADS_1


"Kamu Tama kan?" ternyata wanita itu juga mengenalinya, dia bahkan lebih dulu menyapa dirinya.


"Kamu?" Tama sedikit mengurangi kecepatan mobilnya, dia yang merasa tidak asing dengan wajah wanita itu pun tampak mengerutkan kening mengingat-ingat wanita itu.


"Aku Friska, aku putrinya Papa Tomi, kedua orang tua kita bersahabat" ujar wanita yang tak lain adalah Friska,


"Kamu tantenya Adrian kan?" tanya Tama yang mulai mengingatnya,


"Iya, aku tantenya Adrian" jawab Friska tampak berbinar bertemu dengan orang yang mengenalnya.


"Kamu...." Friska tampak ragu melanjutkan bicaranya, hingga lebih dulu Tama memotong pembicaraannya.


"Kamu istrinya Anggara kan? istri dari mantan suami istriku? Rahma!" tegas Tama yang seketika wajahnya berubah saat dia sekarang ingat jika wanita itu yang pernah menjadi madu istrinya di pernikahan sebelumnya.


"Kamu sudah menikah dengan dia kan?" tanya Friska yang kemudian wajahnya berubah sendu.


"Iya, kamu tahu?"


"Tentu saja, Rahma mengirimkan undangannya ke rumah tapi maaf aku tidak bisa datang waktu itu." jelas Friska yang semakin menundukkan kepalanya, tak kuasa beradu tatap dengan Tama walau hanya melalui spion.


"Bukankah kamu di Bandung, kenapa sekarang ada di sini?" Tama memulai introgasinya, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan toh Friska juga terlihat baik-baik saja walau dengan beberapa luka di tangan dan kakinya.


"Iya, aku memang tinggal di Bandung"


"Jadi kamu sengaja datang ke Jakarta?" susul Tama dengan pertanyaan barunya padahal Friska pun terlihat belum menuntaskan jawaban pertanyaan pertama Tama.


"Aku ada keperluan di Jakarta, aku..."


"Kami menemui istriku" Tama kembali memotong, dia menatap Friska dengan tatapan mengintimidasi.


"Hah?" Friska melongo, bingung dengan pertanyaan Tama.


"Kami menemui istriku Rahma di tokonya kan?" ulang Tama semakin mengintimidasi.


"Tidak, aku tidak menemui Rahma. Aku belum berani menemuinya, aku..."


"Jadi bukan kamu yang menemui istriku?" tanya Tama lagi dan dijawab Friska dengan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Hufft" Tama.mengeluarkan nafasnya kasar,.dia pun bersiap untuk kembali melajukan mobilnya,


"Ada apa memangnya?" melihat Tama yang terlihat khawatir menarik Friska untuk bertanya,


"Istriku menghilang, dia membawa Athaya daei sekolah sebelum waktunya tiba. Aku bingung harus mencarinya kemana. Kata karyawan Rahma sebelumnya ada seorang wanita yang datang ke toko dan mengancam akan ke pengadilan untuk meminta hak.asuh Athaya agar jatuh ke tangan Anggara" panjang lebar Tama berbicara, dia pikir tidak ada salahnya Friska tahu tentang masalah yang sedang dihadapinya.


"Itu pasti mama" gumam Friska setelah mendengar penuturan Rahma, pelan namun masih terdengar jelas di telinga Tama.


"Mama?" tanya Tama memastikan,


"Iya, mama mertuaku. Sebelumnya aku pernah mendengar mama bicara akan meminta Athaya untuk tinggal bersamanya." jelas Friska, dari penjelasannya Tama mulai mengambil kesimpulan.


Tapi yang jadi masalah saat ini adalah keberadaan istri dan anaknya, dia khawatir karena belum mengetahui keberadaan mereka berdua.


"Oke, sekarang aku akan mengantarmu ke klinik di depan, setelahnya maaf jika aku tidak bisa membantu" Tama kembali melajukan mobilnya menuju klinik terdekat.


"Tidak apa-apa, aku akan menelepon kakakku setelah ini Terima kasih sudah mau menolongku" ucap Friska tulus, dia pun bersiap untuk keluar dari mobil Tama,


"Sekali lagi terima kasih ya, maaf sudah merepotkan. Semoga kamu bisa segera bertemu dengan Rahma"


"Sama-sama, semoga lekas sembuh" balas Tama tanpa berniat keluar dari mobil untuk membantu Friska berjalan ke klinik.


"Oya, aku hanya mau ngasih tahu" Friska menghentikan gerakannya yang akan keluar dari mobil, padahal pintu mobil sudah terbuka,


"Mama mertuaku memang ingin Athaya tinggal bersamanya, dia bahkan bilang akan melakukan apapun untuk membuat Athaya bisa tinggal bersama mereka. Mereka berharap dengan kehadiran Athaya Mas Anggara berubah dan kembali seperti dulu" jelas Friska membuat Tama mengernyit, tidak faham dengan maksud kalimat terakhir yang diucapkan Friska.


"Berubah?" tanya Tama penasaran, namun Friska keburu keluar dan menutup pintu mobil Tama setelah mengucapkan terima kasih.


Deringan ponsel Tama membuat pria itu urung untuk menyusul Friska yang sudah berjalan menjauh dari mobilnya. Nama Fajar tertera di layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum"


"...."


"Oke, aku segera ke sana" Tama segera memutar balik arah mobilnya, jalanan yang cukup lenggang membuat Tama menjalankan mobilnya dengan kecepatan uang cukup tinggi.


"Sayang, tunggu aku..." gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2