
Waktu terus berlalu tanpa ada yang mampu menghentikannya barang sedetik pun. Semua hal berjalan sesuai posisi dan porsinya masing-masing. Allah sudah mengaturnya dengan begitu seimbang. Bahkan tatkala pergantian malam dan siang, semesta sudah mengaturnya dengan begitu indah.
Kala pagi menyapa, matahari terbit begitu indah. Keindahan yang mengawali hari baru dengan aktivitas dan harapan baru. Dan di penghujungnya, titik senja pun menjadi pertanda terbenamnya matahari yang terlihat begitu indah.
Tanpa disadari hari kita selalu diawali dengan keindahan dan diakhiri pula dengan hal yang indah walau dalam menjalaninya tak jarang kita lalui dengan panas yang terik atau hujan nan lebat.
Beberapa bulan berlalu setelah obrolan pribadi antata Tama, Rahma dan Anggara di kediaman Anggara waktu itu. Sejak saat itu hubungan mereka semakin hangat. Kekeluargaan di antara mereka semakin melekat erat.
Setiap akhir pekan sudah menjadi jadwal Athaya untuk menginap di rumah Anggara. Jumat sore setelah selesai dengan semua kegiatannya di sekolah Athaya akan diantar oleh Tama dan Rahma ke kediaman Anggara untuk menginap di sana. Sabtu sorenya Athaya pun diantar oleh Anggara untuk menghabiskan waktu libur dengan Bunda dan ayah sambungnya.
Tak jarang pasangan suami istri itu pun menghabiskan senja dengan Anggara sambil menikmati secangkir teh saat menunggu magrib tiba dan melaksanakan shalat berjamaah, setelahnya mereka berdua pamit dan menghabiskan waktu berdua. Sungguh indahnya kebersamaan.
Seperti akhir pekan ini, selepas mengantar Athaya, Tama dan Rahma tidak langsung pulang. Mereka berdua menghabiskan malam dengan berkencan. Pacaran setelah menikah selalu mereka lakukan ketika berkesempatan berdua, makan malam di luar, nonton atau sekedar belanja.
Tama membenarkan posisi Rahma yang saat ini tengah terlelap di dadanya. Mereka baru saja melalui olah raga pagi dengan ibadah yang penuh dengan kenikmatan surga dunia. Mereka ulang adegan semalam yang tidak pernah terasa cukup oleh Tama. Padahal semalam pulang cukup larut karena mereka menonton dua film sekaligus di bioskop.
Sesampai di apartement tentu saja Tama tidak akan membiarkan istrinya langsung tidur. Dengan segala usahanya malam panjang kembali mereka lalui dengan saling berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama dan semua itu direka ulang ba'da subuh.
"Sayang, bangun" Tama berusaha menggoda sang istri dengan menciumi wajah yang tampak kelelahan itu. Matahari sudah cukup tinggi, jam dinding sudah menunjukan pukul tujuh lebih.
"Masih ngantuk..." dengan suara manja dan mata yang masih terpejam Rahma menjawab. Dia semakin menyusupkan wajahnya di dada bidang sang suami yang masih tanpa sehelai baju pun itu.
"Sayang kamu jangan menggodaku. Mau mengulangnya lagi?" goda Tama sambil terkekeh karena Rahma langsung membuka mata dan berusaha menjauh saat mendengar perkataannya, namun tentu saja semakin didekap erat oleh Tama.
"Iih....Mas, aku mau bangun" protes Rahma karena tubuhnya semakin didekap, bahkan sesuatu dari diri suaminya kembali terasa bereaksi.
"Sekali lagi ya..." pinta Tama tepat di telinga Rahma, membuat tubuhnya seketika meremang.
"Mas gak lelah gitu?" tanya Rahma yang akhirnya menghentikan aksi melepaskan dirinya karena tenaganya kalah jauh.
"Mana bisa aku bilang lelah kalau urusan beginian" ucap Tama dengan kembali melancarkan aksinya.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Jika Rahma dan Tama sedang masa-masanya meneguk manisnya cinta dalam ikatan halal, berbeda dengan seseorang yang tengah berdiri di depan gerbang yang menjulang tinggi.
Sabtu pagi aktivitas di yayasan memang tidak seramai biasanya, gerbang utama bahkan masih tertutup rapat padahal waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi. Menurut petugas keamanan yang berjaga, hari Sabtu jam kantor memang buka pukul sembilan, pun demikian dengan gerbang utama akan mulai dibuka tepat pukul sembilan. Karena untuk hari Sabtu hanya kantor yayasan yang beroperasi, sementara sekolah semuanya tutup karena pembelajaran memang hanya berlangsung sampai hari Jumat.
"Mas mau bertemu siapa?" karena sudah cukup lama laki-laki itu berdiri di depan gerbang, akhirnya petugas keamanan yang berjaga pun datang menghampiri dan menanyakan keperluannya.
"Ustadzah Liani, saya mau bertemu Ustadzah Liani" jawab laki-laki yang tidak lain adalah Ahsan dengan mantap.
"Oh Ustadzah Liani" ulang petugas itu sambil terlihat seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu.
"Kalau hari Sabtu biasanya Ustadzah Liani jadi pembicara di kajian khusus akhwat di Masjid An-Nur Mas, beliau berangkat tadi sebelum subuh" jelas petugas itu yang membuat Ahsan memutar otak bagaimana cara untuk menemui Liani tanpa penolakan karena bisa jadi gadis itu akan menolak bertemu dengannya.
Akhirnya, the power of connection. Setelah menghubungi Tama dan menyampaikan tujuannya datang ke yayasan milik sahabatnya itu, Ahsan dapat dengan leluasa memasuki kantor yayasan. Dia bahkan dengan mudahnya mendapat akses untuk memasuki ruangan yang selama ini terbatas hanya untuk elit pimpinan.
Ahsan menenangkan dirinya di ruangan khusus jika Tama berkunjung ke yayasan. Dari balkon ruangan itu bahkan hampir terlihat keseluruhan aktifitas yayasan, mulai dari para siswa yang mukim, guru maupun karyawan lainnya.
Gedung tempat ruangan Tama berada memang dibangun dengan posisi yang dapat memantau setiap bagian bangunan yayasan. Salah satunya perpustakaan, selain mesjid perpustakaan juga menjadi icon dari yayasan milik Tama yang diam-diam sudah beralih nama itu.
Semesta rupanya mendukung niat Ahsan, sepulangnya dari kajian Liani terlihat memasuki kantornya dan tidak lama kemudian berjalan menuju perpustakaan. Ahsan yang stand bye sejak kedatangan gadis itu kembali ke yayasan, pandangannya fokus memerhatikan setiap gerak gerik Liani seolah tak ingin kehilangan momen dan takut kehilangan jejaknya.
Dalam hati Ahsan bersorak saat Liani memasuki perpustakaan, dengan mantap dia melangkah menuju ruang yang dimasuki Liani.
Assalamu'alaikum" setelah cukup lama memantau pergerakan Liani dengan bermodal nekad Ahsan akhirnya memberanikan diri untuk menemui Liani.
"Wa'alaikumsalam" Liani mendongak saat mendengar seseorang mengucapkan salam di dekatnya, dia buru-buru menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Deg ... Deg ... Deg ...
Tatapan matanya langsung terkunci, pada sosok yang saat ini berdiri di hadapannya. Tersenyum manis ke arahnya, dengan senyuman yang masih sama dan masih menggetarkan jiwanya.
__ADS_1
"Kak...Kak..." ucap Liani terbata, lidahnya seakan kelu tak mampu mengucapkan nama yang sejak tadi disapa dalam monolog hatinya.
"Apa kabar?" tanpa diminta Ahsan menarik kursi kosong yang ada di sana, dia duduk tepat di hadapan Liani dan saat ini mereka duduk saling berhadapan dengan tatapan yang masih saling beradu.
"Sudah lama ya kita tidak bertemu" suara Ahsan akhirnya mengembalikan fokus Liani, dia seketika mengalihkan pandangannya yang tanpa sadar sejak tadi hanya menatap laki-laki di hadapannya itu, masih tidak percaya jika dia kini ada berada tepat di depan matanya.
"Sudah hampir tiga tahun, sepertinya sudah cukup untuk kita tidak saling bertemu. Bagaimana, apa kamu sudah menemukan apa yang kamu cari?" Ahsan terus bertanya walaupun dia sadar pertanyaan pertamanya saja belum mendapat jawaban. Dia terus bicara tanpa memedulikan apa yang Liani rasakan saat ini. Ahsan tahu, gadis di hadapannya ini masih syok dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
Berbekal fakta jika Liani masih dalam tahap ta'aruf, akhirnya Ahsan memberanikan diri dan memutuskan untuk menemuinya.
"Ya Allah apa ini? kenapa Kak Ahsan ada di sini? bagaimana jika istrinya tahu? bagaimana jika Kang Fajar juga tahu?"
"Ya Allah, tolong yakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja, genggam tanganku untuk melewati semuanya, termasuk menerima sesuatu yang tidak aku inginkan."
"Yang Maha membolak balikan hati, mungkin air mataku sering menetes, tapi sungguh aku tidak pernah menyesali takdir, mungkin keluhku sering kali terdengar tapi sungguh aku tidak pernah mengutuk apa yang ada. Aku tahu semua yang terjadi atas kendali-Mu, maka tolong peluk aku jika sesuatu terjadi tidak seperti yang aku inginkan."
Liani bermunajat dalam hatinya, belum ada sepatah kata pun yang mampu terucap oleh lisannya. Dia benar-benar masih syok dengan kehadiran orang yang selama ini hanya ada di hati dan pikirannya.
"Aku....."
"Assalamu'alaikum" belum sempat Liani menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ahsan padanya, ucapan salam seseorang yang tidak asing di telinga Liani pun menyapa.
"Wa'alaikumsalam" Ahsan dan Liani kompak menjawab, mereka pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Kang Ahsan kapan datang? Maaf saya tidak tahu jika kami akan kedatangan tamu istimewa." Fajar datang dengan wajah sumringah, heran sekaligus senang karena kedatangan tamu istimewa yang merupakan kolega atasannya.
Tidak ingin terlihat canggung Ahsan pun segera mengalihkan fokusnya ke arah Fajar yang baru datang, dia menerima uluran tangan Fajar untuk bersalaman. Obrolan pun akhirnya terjadi antara keduanya, tentu dengan Liani yang berada di antara mereka.
Derrt....derrt....derrt....
Ponsel Ahsan bergetar, setelah melihat nama Tama terpampang yang menghubunginya Ahsan pun meminta izin untuk terlebih dahulu menerima panggilan.
__ADS_1
Tak lama, dia pun pamit untuk menemui Tama yang saat ini sudah berada di ruangannya.
"Jika mati satu tumbuh seribu, lantas mengapa seribu yang datang tidak dapat menggantikan satu yang hilang." batin Liani, dia menatap kepergian Ahsan dengan hati yang terasa hampa.