Belenggu Akad

Belenggu Akad
POV Anggara


__ADS_3

Tiga bulan sudah terhitung sejak terakhir kali aku membersamainya mendampingi mempelai pengantin di pelaminan pada pernikahan adik perempuannya.


Banyak hal baru yang aku lihat darinya. Dia begitu dibanggakan dan diandalkan oleh keluarganya, selalu bisa menjadi pemberi solusi bijak dalam setiap permasalahan. Aku melihat dia begitu disayangi oleh kakak laki-laki dan iparnya dan begitu dihormati oleh kedua adiknya.


Aku pun baru melihat bagaimana dia menjadi primadona di kalangan teman-temannya. Banyak di antara undangan pada pernikahan adiknya itu merupakan teman Rahma dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa istriku begitu dikagumi oleh mereka. Banyak hal baik yang aku dengar dari pembicaraan keluarga maupun teman-temannya tentang istriku yang baru aku tahu, selama ini semua itu luput dari penglihatanku.


Namun ada hal yang membuatku begitu sangat merasa kesal dan marah yaitu ketika melihat seorang pria yang mungkin usianya tidak jauh dariku menatap Rahma dengan tatapan penuh damba. Aku tahu makna tatapan laki-laki itu terhadap istriku. Tatapan yang mengisyaratkan betapa seorang pria mengagumi, mencintai dan mendamba. Saat kami berhadapan pun tatapannya seolah tak lepas dari Rahma dan dia ternyata atasan istriku di sekolah tempatnya mengajar.


Naura Rahmania, perempuan yang beberapa bulan yang lalu aku halalkan melalui sebuah akad pernikahan, ikatan suci yang sah di mata agama dan juga negara. Ada perasaan tidak rela menyelinap dalam hatiku saat tamu laki-laki itu menatap istriku dengan tatapan berbeda.


Istriku.....? entah sejak kapan ada namanya di hatiku.


Sehari setelah membersamainya aku harus pergi dinas luar selama dua minggu. Selama bertugas ingatanku tidak bisa berhenti dari memikirkannya. Entahlah, tiba-tiba saja ada perasaan takut di hatiku saat aku jauh darinya. Aku sungguh takut istriku berpaling dan menyerah dengan pernikahan kami.


Aku bahkan melupakan Friska, wanita yang bertahun-tahun menjadi kekasihku dan kami berjanji untuk selalu bersama walau pun terhalang restu kedua orang tuaku.


Aku sadar sejak awal aku sudah banyak menyakiti hati Rahma. Niatku menikahinya pun awalnya hanya untuk menutupi hubunganku dengan kekasihku.


Kami bertemu atas prakarsa seorang teman. Lisna adalah temanku dan juga teman mengajar Rahma. Mendengar cerita Lisna tentang Rahma yang dituntut untuk segera menikah oleh kedua orang tuanya dalam tempo secepat-cepatnya karena adik perempuannya sudah ada yang melamar dan ibunya tidak mengizinkan jika Rahma harus dilangkahi membuat aku tertarik untuk berkenalan dengannya.


Gadis yang mengatakan siap menikah ketika ditanya tentang arti sebuah hubungan lebih jauh di pertemuan kami yang pertama itu membuat aku pun menyusun rencana terselubung dibalik ajakan nikahku padanya.


Ada perasaan ragu saat aku melihat kesungguhan di mata Rahma. Tapi aku yakin rencana yang aku susun itu tidak hanya menguntungkanku saja, dia juga akan sangat terbantu. Ada kesamaan di antara kami. Kami sama-sama dituntut untuk segera menikah dan pernikahan kami semata-mata hanya untuk membahagiakan keluarga.


Sudah sejak lama kedua orang tuaku meminta aku agar segera menikah dan tentu aku menyambut baik keinginan mereka karena aku pun sudah siap. Sebelum bertemu Rahma aku pernah membawa Friska ke rumah dan memperkenalkannya pada kedua orang tuaku sebagai kekasih.

__ADS_1


Aku bahkan bilang pada mereka jika kami sudah lama menjalin hubungan dan aku sangat mencintainya. Setelah memperkenalkan Friska aku berencana akan meminta mama dan papa untuk segera melamarnya. Tapi ternyata harapanku tidak sesuai dengan kenyataan yang aku hadapi.


Kedua orang tuaku yang menyambut baik kedatangan Friska nyatanya mereka tidak menyetujui jika aku menikah dengannya, bahkan memintaku untuk memutuskan hubungan dengannya .


Entah apa alasan mereka tidak menyetujui hubunganku dengan Friska yang sudah terjalin kurang lebih hampir tiga tahun itu, ibu menjadi orang yang paling murka saat aku keukeuh dengan pilihanku.


Hingga pertemuan dengan Rahma membuatku memiliki ide untuk membawanya ke rumah dan memperkenalkannya pada kedua orang tuaku. Dayung bersambut, entah pesona apa yang dimiliki gadis itu hingga kedua orang tuaku begitu terkesan di pertemuan pertama mereka.


Jika dilihat dari segi rupa, sekilas dia terlihat biasa saja, apalagi jilbab yang digunakannya pun sangat sederhana, pekerjaannya hanya seorang guru di sebuah sekolah swasta. Tapi entah kenapa kedua orang tuaku langsung setuju jika aku menikah dengan Rahma.


Dari sanalah semuanya dimulai, aku dan Friska pun menyusun rencana. Agar pernikahan aku dan Rahma berjalan dengan baik dan kami berjanji untuk tetap bersama dan menjadikan pernikahan ini sebagai tembok perlindungan hubungan kami.


Semua rencana berjalan lancar, tidak ada kecurigaan dari Rahma maupun keluargaku. Setelah kami resmi menikah aku pun mengungkapkan semua misiku pada Rahma. Terlihat dia terkejut saat mendengar semua penjelasanku, namun tidak berselang lama dia pun tampak menerima dan bersedia menjalani pernikahan kami demi menjaga nama baik keluarga masing-masing.


Cukup lama aku mengabaikannya, setelah menikah aku semakin leluasa bersama Friska karena kedua orang tuaku tidak lagi memantau apa yang aku lakukan. Rahma pun berperan dengan baik sebagai istri, dia bersikap sebagai istri yang baik dalam sebuah keluarga yang harmonis di hadapan keluargaku maupun keluarganya, begitupun dengan diriku berusaha mengimbanginya.


Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui semua tentangnya, orang suruhanku pun memberikan semua informasi lengkap tentang Rahma, dan semua yang aku lihat dari data-data yang dikirimkannya sungguh membuat aku terpesona, secara tidak sadar aku memujinya.


Pantas saja keluarganya begitu menyayangi dan membanggakannya, pantas saja teman-teman begitu menghormati dan menghargainya karena pribadinya sungguh idaman setiap orang. Cerdas, sederhana, rendah hati, penyayang dan peduli sesama.


Mengajar adalah aktivitas utamanya, di sekolah dia adalah guru berprestasi dan menjadi guru favorit murid-muridnya. Menulis menjadi aktivitas tambahannya, dia pun menjadi salah satu orang tua asuh dari anak-anak panti yang kurang beruntung. Dari gajinya Rahma menyisihkan sebagian rezekinya untuk mereka. Tidak banyak yang tahu tentang prestasi Rahma, dia bersembunyi dibalik nama penanya yang sudah menjadi superstar di kalangan para pembaca setia setiap karyanya.


Naura Rahmania, sungguh semua tentang dirinya seindah nama yang telah diwariskan orang tuanya, dia hadir menjadi cahaya yang penuh kasih untuk semua orang. Kemana saja aku selama ini?, aku sudah mengabaikan permata indah yang ada di hadapanku begitu saja.


Setelah pulang dari bertugas aku bermaksud untuk menemuinya, aku ingin mengenalnya lebih dekat. Aku pun sudah bertekad untuk memberikan nafkah lahir setiap bulannya pada Rahma, semenjak menikah hanya rumah yang dia tinggalinya yang aku berikan.

__ADS_1


Niatku untuk pulang ke Garut ternyata pupus saat Friska mengabari jika dirinya sakit. Aku pun menjaganya selama berhari-hari di rumah sakit karena dia harus dirawat inap. Aku menunggu Friska membaik untuk menemui Rahma namun Friska selalu berhasil membuatku mengurungkan niat untuk pulang dengan berbagai macam alasan yang aku bahkan tidak bisa menolaknya.


Hingga saat weekend Friska meminta agar aku mau menemaninya jalan-jalan ke salah satu tempat wisata di kawasan Lembang karena akan bertemu dengan keponakannya. Aku menuruti keinginannya dan tidak kusangka di sana aku bertemu Rahma, Naura Rahmania wanita yang beberapa bulan ini mengisi benakku.


Hal yang membuat aku geram, ternyata keponakan Friska adalah murid Rahma yang dengan terang-terangan memuji dan mengatakan jika dirinya sangat menyukai Rahma, Rahma istriku. Ingin sekali rasanya aku melayangkan tinju ke wajahnya saat anak itu memuji Rahma, tapi itu tidak mungkin.


Saat kami beradu tatap aku melihat dengan jelas raut kesedihan dan kekecewaan di matanya, dia berpura-pura tidak mengenaliku di hadapan muridnya. Sementara Friska memonopoliku saat itu. Tidak ada yang bisa aku lakukan, ingin sekali aku mendekati dan memeluknya saat matanya menatap lemah kepadaku. Sungguh hatiku sesak melihat kesedihan dan kekecewaan di wajahnya.


Dia pun memutuskan untuk pergi setelah berbasa basi dengan Friska. Sepulangnya dari tempat wisata itu, aku berpikir banyak hal, memikirkan apa yang harus aku lakukan, sungguh hatiku tidak tenang mengingat bagaimana keadaan Rahma saat itu. Aku pun memutuskan untuk pulang dan meminta maaf padanya.


Tekadku bulat, aku ingin lebih dekat dan bahkan mempertahankannya. Sikap Friska yang akhir-akhir ini sering membuatku kewalahan membuat aku mau tidak mau membandingkan dua wanita itu. Dan hati kecilku selalu berkata jika Rahma jauh lebih baik dalam segala hal tapi pikiranku selalu menepis, walau bagaimana pun Friska adalah kekasihku wanita yang aku cintai selama bertahun-tahun.


Namun dorongan hati untuk memperbaiki hubunganku dengan Rahma sangat kuat, aku pun memutuskan untuk pulang malam itu juga. Aku mengambil cuti mendadak selama satu minggu dari tempatku bertugas dan anak buahku mengurusnya dengan cepat. Aku mengatakan pada Friska bahwa aku harus kembali dinas luar selama seminggu.


Aku terpaksa berbohong pada kekasihku, karena jika aku jujur aku yakin dia akan menghalangiku untuk menemui Rahma.


Hampir tengah malam aku tiba di rumah sederhana yang aku beli untuk Rahma, dia tidak membuka pintu saat aku mengetuknya berkali-kali hingga aku pun meneleponnya.


Dengan tulus aku meminta maaf pada Rahma atas perlakuanku selama ini. Aku berjanji untuk memperbaiki semuanya, aku ingin lebih dekat dengannya.


Aku senang ternyata Rahma menjawab jika dia memaafkanku. Namun alangkah terkejutnya diriku saat mendengar kelanjutan ucapannya,


"Aku juga minta maaf, karena sepertinya aku akan memilih menyerah dengan pernikahan kita"


Deg....beberapa detik jantungku rasanya berhenti berdetak, aku tidak menyangka jika Rahma akan menyerah secepat ini dan aku sungguh tidak rela.

__ADS_1


"Tidak....! Aku tidak akan melepaskanmu, Naura Rahmania"


__ADS_2