Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kehidupan Baru


__ADS_3

Tiga alat tes kehamilan dengan berbeda merk, daei harga termurah, sedang dan mahal berjejer di atas meja rias di kamar Rahma. Dia masih menatap tidak percaya. Subuh di hari Jumat yang berkah Rahma memutuskan untuk memakai alat yang sudah dibelinya sejak beberapa hari yang lalu itu.


"Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih atas kepercayaanMu" isak tangis haru Rahma terdengar pilu. Akhirnya sesuatu yang sudah lama dinantikan itu Allah percayakan padanya.


Di rahim Rahma kini tengah tumbuh kehidupan baru. Kehidupan yang akan membawa Rahma pada dunia baru, dimana dirinya akan menjadi wanita dengan gelar ibu. Sungguh anugrah Tuhan yang begitu indah dalam hidupnya.


Kebahagiaannya kian bertambah saat setelah sarapan menjelang kepergiannya ke sekolah, bunyi notifikasi pesan masuk di ponselnya menandakan itu adalah pesan dari suaminya.


Antusiasme Rahma untuk membuka pesan itu berbanding lurus dengan isi pesan yang mengabarkan jika sang suami akan pulang ke Garut langsung setelah bertugas di luar kota beberapa hari ini.


Sudah tiga minggu Anggara tidak pulang. Sejak percakapan terakhir mereka tentang Anggara yang menginginkan untuk segera memiliki anak intensitas komunikasi mereka semakin menurun. Anggara bahkan sudah jarang pulang dengan alasan harua dinas luar.


Perubahan sikap Anggara jelas menjadi sesuatu yang membebani pikirannya. Bagi Rahma keadaan yang menimpanya saat ini tentu saja ada sebab akibatnya. Dan dia berpikir jika perubahan sikap Anggara terhadapnya itu karena dirinya tidak bisa memberi apa yang diharapkan suaminya yakni segera mengandung.


Maka betapa bahagianya Rahma ketika penantian dan do'anya selama ini Allah kabulkan. Ucapan syukur tidak berhenti dilafalkan melalui lisan dan hatinya. Betapa Maha baiknya Allah, disaat dirinya hampir kembali akan menyerah, ternyata Allah hadirkan anugrah tiada tara.


"Alhamdulillah, hati-hati di jalan ya Mas. Aku menunggumu, Fii Amanillah" ketik Rahma di ruang chat dirinya dengan sang suami.


Rahma pun memutuskan untuk berangkat ke sekolah, dengan hati yang bahagia terlihat dari wajah yang ceria dengan mata berbinar dan senyum yang selalu merekah di bibirnya. Rahma melajukan motor matic kesayangannya pelan dan hati-hati menuju tempatnya mengabdi dan berbagi ilmu. Di rahimnya ada calon kehidupan baru yang harus dijaganya. Hatinya berbunga-bunga, tidak sabar menanti senja. Kepulangan sang suami menjadi hal yang dinantinya, ingin segera memberi kabar bahagia tentang kehamilannya.

__ADS_1


Sementara di belahan kota lain tepatnya di sebuah restoran mewah seorang gadis tampak sedang menunggu kehadiran seseorang. Dia beberapa kali melirik jam tangan mewah yang melilit di tangan kirinya. Rambut panjang hitam terurai indah melewati bahunya, dia memainkan ponsel yang sejak tadi digenggamnya. Berharap ada kabar dari orang yang sudah hampir satu jam dia tunggu.


"Mas, aku di sini" akhirnya penantian gadis itu tidak sia-sia, seseorang yang cukup lama dinantikan kini tengah berjalan ke arahnya.


"Mas, lama banget. Aku sudah lama nunggu lo..." gadis itu merajuk dengan suara manjanya.


"Kamu lupa sekarang hari apa?" jawab laki-laki yang duduk di hadapannya itu ketus, tampak gadis itu pun berpikir tentang pertanyaan yang didengarnya.


"Hah, sorry Mas aku gak inget kalau Mas Tama harus Jumatan dulu" pekiknya dengan wajah manis dibuat semanja mungkin, sementara Tama hanya hanya memutar bola matanya malas.


"Aku sudah pesankan makanan kesukaan Mas Tama, kata mama Mas Tama paling suka dengan soto daging"


Tasya, gadis yang menunggu lama Tama itu pun bercerita tanpa canggung tentang apa saja informasi mengenai Tama yang didapatkan dari calon mertuanya itu. Ya, sejak secara langsung Mama Tama menanyakan perihal kesediaan dirinya untuk mencoba dekat dengan Tama, sejak saat itu dia mendaulat dirinya menjadi calon istri Tama. Padahal Tama tidak tahu menahu tentang rencana sang Ibu.


Tasya Diara adalah anak salah satu sahabat Papanya Tama, sejak Tama SD mereka sudah saling mengenal karena tinggal bertetangga. Tasya saat itu masih bersekolah di taman kanak-kanak, karena Mami Tasya sering berkunjung ke rumah keluarga Tama jadilah mereka pun akrab dan menjadi teman bermain.


Memasuki sekolah dasar ayah Tasya harus berpindah tugas ke kota lain, alhasil mereka pun berpisah. Dan kini Semesta seolah mendukung, di saat kedua orang tua Tama mengharapkan putra tunggal mereka untuk segera berkeluarga, keluarga Tasya kembali dan menetap di Jakarta.


Tasya telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik dan pintar. Karakternya yang ceria dan mudah berbaur membuat Mama Tama merasa cocok dengan gadis itu, dan dia oun berniat untuk membuat Tasya dan Tama dekat, siapa tahu berjodoh.

__ADS_1


Namun ternyata Tasya dan keluarganya menyambut dengan antusias niatan dari Mamanya Tama. Sejak saat itu Tasya bahkan mendaulat Tama sebagai calon suaminya. Dia bahkan tak sungkan untuk mendekati Tama, padahal mereka sudah lama berpisah. Berbeda dengan Tama yang selalu berusaha menjaga jarak aman dengan gadis itu.


Belum sempat Tasya mendapat respon dari Tama, seorang pelayan datang dengan membawa menu sesuai dengan yang dipesan.


"Selamat menikmati, Mbak, Mas" ucap pelayan itu setelah menata semua menu di atas meja.


"Terima kasih" jawab Tasya dengan senyum cerianya, berbeda dengan Tama yang sama sekali tidak merespon dan langsung bersiap untuk mengeksekusi makanan yang terhidang di hadapannya tanpa bicara.


"Enak kan Mas?" Tasya kembali memulai obrolan, setelah beberapa menit dia hanya memperhatikan Tama yang fokus pada makanannya.


"Heumm" jawab Tama singkat dan tanpa menoleh.


"Eummh...."Tasya sepertinya kehabisan kata untuk menjalin komunikasi dengan Tama, sejak wacana perjodohan mereka Tama semakin kentara menjaga jarak dengannya.


"Mas, mama kamu bilang kita tunangan aja dulu padahal sebenarnya sih aku sama kedua orang tuaku pinginnya kita langsung menikah" Tasya akhirnya menemukan topik pembicaraan, Tama yang mendengar hal itu sontak menghentikan kegiatan makannya, entah apa yang dipikirkannya.


Tama menarik nafasnya dalam, seolah mengeluarkan sesuatu yang menyesakkan dadanya. Sampai saat ini, dia belum memberikan jawaban pasti kesediaannya untuk dijodohkan pada sang mama. Namun mendengar apa yang dikatakan gadis di hadapannya ini membuatnya bisa mengambil kesimpulan, jika dirinya memang tidak bisa menolak.


"Kamu yakin akan menikah denganku?" tuba-tiba kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Tama, dia menatap lekat Tasya menunggu jawaban apa yang akan diberikan gadis itu.

__ADS_1


"Tentu saja Mas, tidak sulit untuk aku jatuh cinta padamu. Lagian sejak kecil kita sudah bersama, jika dulu kita bersama sebagai teman bermain, nah sekarang kita bersama sebagai pasangan" jawab gadis itu mantap, tidak ada keraguan di matanya saat menjawab pertanyaan Tama.


Tak ada kata-kata yang bisa Tama ucapkan untuk merespon jawaban gadis itu, dia kembali menarik nafas dalam dan kembali melanjutkan makannya. Dia tidak bisa membayangkan kehidupan baru seperti apa yang akan dijalaninya jika menikah dengan wanita yang tidak ada rasa cinta yang tumbuh dihatinya untuk wanita itu.


__ADS_2