
Kebersamaan Tama dan Tasya masih berlanjut. Saat dirinya hendak kembali ke kantor sang mama tiba-tiba menelepon. Memintanya untuk datang ke salah satu butik langganan mamanya dan harus membawa Tasya. Tama pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk kembali ke kantor.
"Mas serius mama minta kita berdua ke sana?" tanya Tasya antusias, dia tidak menyangka hari ini akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Tama.
"Iya" jawab Tama singkat.
Mereka pun beranjak dari tempat duduk masing-masing setelah seorang pelayan mengembalikan kartu milik Tama yang digunakan untuk pembayaran makan siang mereka.
"Assalamu'alaikum, Ma..." kurang lebih dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di butik yang dimaksud mama Tama, dengan takdzim Tama mencium tangan sang mama diiringi ucapan salam yang dibalas dengan usapan penuh kasih sayang di kepalanya.
"Wa'alaikumsalam, mama senang akhirnya kalian bisa datang berdua" Mama pun beralih menerima uluran tangan Tasya yang mengikuti apa yang dilakukan Tama.
"Terima kasih Tante sudah mengundangku datang ke sini" Tasya tak kalah ramah, dia memang anak yang ceria dan mudah bergaul. Mungkin itulah sebabnya orang tua Tama terutama mamanya merasa nyaman dan cocok dengan gadis yang terpaut beda usia tiga tahun dengan Tama.
"Awalnya tante sendiri, kebetulan tadi bertemu Mamimu, jadinya kita sepakat untuk mengajak kalian juga ke sini. Itu dia Mamimu" Mama Tama menunjuk dengan dagunya ke arah belakang Tasya, dan benar saja seorang wanita yang tidak lain adalah Maminya Tasya sedang berjalan ke arah mereka dengan senyum yang lebar.
"Mami..." pekik Tasya, dia pun segera memburu sang Mami dan memeluknya manja.
__ADS_1
Mereka bertiga larut dalam dunia yang katanya digemari hampir setiap wanita yaitu berbelanja. Memilih dan memilah setiap model baju keluaran terbaru dengan aneka warna dan bahan, tentunya dengan kualitas yang tidak akan diragukan terlihat dari nominal harga yang tertera disetiap pajangan gaun-gaun itu.
Tama hanya menunggu, dia dengan sabar duduk sambil memainkan ponselnya. Sekretarisnya sudah dikabari jika dia akan terlambat kembali ke kantor karena ada urusan keluarga.
Setelah mengecek beberapa email yang masuk, Tama pun beralih membuka galeri foto dengan album khusus yang dipenuhi oleh foto-foto canded seseorang. Tama mengusap layar pipihnya, satu persatu foto itu kembali dinikmatinya. Ada perasaan aneh yang kembali hingga di hatinya, entah itu kerinduan atau hanya sekedar penyesalan yang belum berakhir.
"Sepertinya kamu semakin bahagia sekarang" gumamnya pelan, matanya terus menatap foto-foto yang diambilnya dari beberapa momen saat dirinya berkunjung ke yayasan.
Tidak terasa sudah hampir satu tahun dirinya tidak menginjakkan kaki di yayasan itu. Padahal sang ayah mewanti-wanti agar dirinya sendiri yang terjun mengurus yayasan yang dibangun sang ayah sebagai dedikasinya terhadap tanah kelahirannya.
"Huhhh..." Tama membuang nafasnya kasar, ingatannya benar-benar sedang diuji. Setiap kali dirinya teringat akan sosok itu, saat itu pula perasaannya menjadi tidak menentu.
"Mas, yang ini bagus enggak?" suara Tasya yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya dengan menenteng sebuah baju yang ditempelkan ditubuhnya itu mengagetkan Tama.
"Hahh...apa" Tama pun tersentak dari lamunannya, kesadarannya sudah kembali. Dia segera mematikan layar ponselnya.
"Baju ini bagus gak buat aku?" Tasya mengulangi pertanyaannya, dia masih menunggu jawaban Tama dengan senyum merekah di bibirnya.
__ADS_1
"Bagus" jawab Tama singkat, diapun beralih menatap sang Mama yang berjalan menuju ke arahnya berdiri.
"Kamu tidak memilih baju, Nak?" Mama Tama mengusap lengan putranya lembut.
"Enggak Mah, baju-baju aku masih banyak yang belum dipakai. Mama sudah selesai? Tante!" pertanyaan Tama untuk sang Mama beriringan dengan kehadiran Maminya Tasya, Tama pun menyapa dengan memanggilnya tante dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Kamu gak pilih baju, Tam?" Mami Tasya tak kalah perhatian terhadap laki-laki yang diharapkan akan menjadi menantunya itu.
" Tidak Tante, terima kasih" jawab Yama sopan.
Mereka pun melanjutkan perbincangan perihal pakaian yang sudah mereka pilih, lagi-lagi Tama masih harus menunggu. Untunglah Tama memang sudah terbiasa mengantar mamanya berbelanja l, jadi dia sudah tidak masalah jika masih harus menunggu.
Melihat keakraban Mamanya dengan Tasya hati Tama pun terusik, mungkin inilah saatnya dirinya untuk mencoba membuka hati. Toh Tasya juga gadis yang baik dan dari keluarga baik-baik. Bertetangga cukup lama membuat Tama sedikit banyak mengetahui tentang bagaimana keadaan keluarga Tasya.
"Mungkin inikah waktunya?" Tama membatin.
☘️☘️☘️
__ADS_1