
Dua cangkir kopi dengan asap yang masih mengepul sudah terhidang di atas meja di sebuah kafe. Dua laki-laki pun sudah duduk berhadapan dan masih asik dengan ponselnya masing-masing.
Tama baru saja kembali setelah menjemput Athaya bersama Rahma dan kembali mengantar mereka berdua ke toko. Sebelumnya dia sudah mengirim pesan supaya Arga menunggunya di cafe tempat biasa mereka bertemu.
Laki-laki yang sedang duduk bersama Rahma di toko tidak lain adalah sahabatnya. Berbagai pikiran pun muncul di benak Tama, dia merangkai kepingan puzzle obrolannya dengan para sahabatnya beberapa minggu yang lalu.
Pertemuan terakhir dengan sahabatnya itu adalah saat mereka meeting di Bandung untuk menggagas usaha baru yang akan menjadi usaha bersama yaitu membangun supermarket di beberapa kota, dan Arga adalah salah satunya.
Dari keempat sahabatnya dan berlima dengan dirinya baru satu orang yang sudah menikah yaitu Akhtar, yang lain termasuk juga Tama masih berada pada fase perjuangan meraih cintanya masing-masing. Dulu mereka sering bersama saat SMA, walaupun berbeda sekolah tetapi komunitas yang sama membuat mereka berada dalam satu circle dan merasa satu frekuensi hingga persahabatan mereka pun berlanjut dengan saling memberi vibes positif.
Namun, berbagai kesibukan karena urusan pendidikan dan pekerjaan yang berbeda membuat kebersamaan mereka harus berakhir dan hanya saling berkomunikasi melalui grup whatsapp. Dan kini mereka dipertemukan kembali karena urusan pekerjaan. Kelima sahabat itu sepakat kembali menjalin silaturahmi yang akan diikat dengan membuat usaha bersama.
Pertemuan yang langka itu tidak mereka sia-siakan, setelah urusan pekerjaan selesai dan menghasilkan kesepakatan kerja sama yang akan saling menguntungkan mereka pun beralih topik.
Akhtar dengan bangganya memamerkan foto-foto bulan madu keduanya bersama sang istri di pulau Dewata. Setelah anak pertama mereka si kembar berusia tujuh tahun, keduanya sepakat untuk mengikuti program kehamilan keduanya. Riwayat hamil kembar dan bagaimana proses Shanum melahirkan si kembar membuat Akhtar trauma dan hampir saja tidak mau punya anak lagi, dia tidak ingin membuat istrinya kembali merasakan sakit sendirian sementara dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi untunglah Shanum berhasil meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja selama menyandarkan semua harapan hanya pada Allah, jadilah bulan madu kedua sebagai awal rencana mereka.
"Ini maksudnya apa? manasin?" Tama berseloroh yang membuat Akhtar terkekeh dengan respon sahabatnya itu. Dia tahu jika dulu Tama sempat menaruh hati pada istrinya, namun yakin saat ini semuanya sudah clear, Akhtar tahu jika Tama sudah melabuhkan hatinya pada wanita lain dan saat ini tengah meraih hatinya.
"Gue turut bahagia dengan kebahagiaan lo, semoga semakin sakinah, mawaddah warahmah dan sehidup sesurga" ucap Tama tulus, dan diamini oleh semua sahabatnya.
__ADS_1
Berbeda dengan Akhtar yang pamer kebahagiaan, Ahsan justru bercerita masih menunggu keajaiban akan kembalinya sang pujaan hati yang pernah dia sia-siakan. Begitupun dengan Ghifar, dia masih usaha meluluhkan dan menjadi orang yang selalu ada untuk wanita pujaannya yang sudah sempat menjadi tunangan orang lain.
Berbeda dengan kedua sahabatnya, Tama memerhatikan Arga yang tampak diam dan senyum-senyum sendiri. Dia sedang melamun, entah membayangkan apa.
"Hey lo, kenapa senyum-senyum sendiri?" Tama membuyarkan lamunan Arga,
"Gimana lo udah ada perkembangan?" Ahsan menyahut, dia tahu jika Arga sedang melakukan pendekatan pada seseorang atas rekomendasi salah satu temannya.
"Do'akan saja semoga semuanya lancar" jawab Arga masih penuh misteri membuat semua sahabatnya menautkan kedua alis mereka namun tak urung berucap amin bersamaan menanggapi ucapan Arga.
Dan di sinilah sekarang mereka berada, Tama dan Arga sudah duduk berhadapan.
"Sorry...sepertinya gue salah mendekati cewek" Arga memulai percakapan mereka, keduanya sudah menyimpan ponselnya masing-masing dan saling beradu tatap seolah menyelami pikiran masing-masing.
"Darimana lo tahu tentang dia?" tanya Tama dengan wajah datarnya,
"Seorang teman lama yang ternyata adalah kakak iparnya. Kami bertemu dan tidak sengaja mengobrol lama di tokonya, saat itu gue sedang membeli kue"
"Terus...?" Tama semakin penasaran,
__ADS_1
"Gue semakin sering ke sana, bokapnya boss gue ketagihan dengan bolu pisang yang pernah gue bawa. Gue berpikir untuk menjalin kerja sama untuk pengadaan dessert di hotel dan resto. Kuenya enak-enak dan boss gue setuju, gue pun mengajukan kerja sama namun dia mengarahkan agar gue bertemu dahulu dengan adik iparnya. Dia pun cerita banyak tentang adik iparnya. Dia seorang single parent dan banyak lagi", Arga menjeda perkataannya sejenak,
Teman gue ngomong kalau berminat ta'aruf dia berharap gue bisa membuka kembali hatinya. Dan kedatangan gue ke tokonya selain untuk menawarkan kerja sama gue juga mau tahu lebih jauh tentang adik ipar teman gue itu. Mendengar dari cerita kakak iparnya gue simpulkan kalau dia adalah wanita yang kuat" Arga menjelaskan kronologis pertemuannya dengan Rahma, hari ini adalah hari pertama melancarkan misinya, namun ternyata semuanya sudah layu sebelum berkembang. Wanita yang hendak didekatinya ternyata adalah bidadari hati sahabatnya.
"Sorry bro, kali ini gue gak bisa dukung lo dan perlu lo tahu gue enggak bakalan biarin misi lo terus berlanjut" Tama berkata tegas dan pasti, kali ini dia tidak akan main-main untuk memastikan Rahma menjadi miliknya,
"Hhahaha......." tawa Arga seketika menggelegar mendengar penuturan Tama, dia menggeleng-gelengkan kepala melihat keseriusan sahabatnya itu.
"Tenang bro, tidak perlu lo hentikan juga gue bakalan berhenti sendiri. Gue tahu betul seperti apa perjuangan lo untuk menggapainya dan gue akan dukung. Jangan khawatir gue baik-baik saja, walau pun gue sedih juga sih. Cintaku harus layu sebelum berkembang" ujar Arga dengan berpura-pura berwajah sedih, membuat Tama gemas dan refleks meninju lengan Arga yang akhirnya kembali pecah tawanya.
Tenang, itu keadaan hati Tama sekarang. Dia sudah berhasil menyingkirkan satu kerikil yang akan menghalangi jalannya untuk meraih hati dan menghalalkan Rahma.
"Terus, bagaimana dengan kerja samanya?" Tama kembali bertanya, dia khawatir ini akan berefek pada rencana kerja sama toko kue Rahma dengan hotel dan restoran yang dikelola Arga. Dia takut Rahma kecewa karena walau bagaimanapun kerja sama itu akan menguntungkan kedua belah pihak.
"Tenang bro, gue profesional. Kerja sama akan terus berjalan. Gue enggak akan mencampur adukan urusan pekerjaan dan masalah pribadi. Lagian kami sudah sepakat, pertemuan selanjutnya akan dilakukan penandatangan surat perjanjian kerja samanya" jelas Arga sambil menyesap kopi yang wanginya terasa mengunggah selera.
"Oke, good job. You are my best friend" puji Tama, dia pun melakukan hal yang sama dengan Arga menyeruput kopinya.
"Kalau kerja samanya berlanjut kan gue masih tetep bisa ketemu dia, ya...itung-itung obat kangen lah..." canda Arga menggoda Tama yang sontak membuat Tama menghentikan aktifitasnya yang sedang menikmati kopi.
__ADS_1
"Sialan lo!" umpat Tama kesal dia kembali meninju lengan Arga, kali ini lebih keras dan membuat Arga mengaduh.