
Suara ketukan pintu membuat Tama tersadar dari lamunannya. Dia pun menarik nafas dalam untuk menormalkan suasana hati dan raut wajahnya yang larut dalam kerinduan.
"Masuk!" titahnya tanpa beranjak, Tama menegakkan tubuh dan menopang dagu menunggu kedatangan orang yang mengetuk pintu.
"Maaf Mas, saya diminta Ibu dan Bapak untuk memanggil Mas. Mas ditunggu di rumah oleh Ibu dan Bapak" rumah yang dimaksud adalah rumah yang sengaja dibangun Tama di lingkungan yayasan untuk dia dan kedua orang tuanya tinggal jika sesekali mengunjungi yayasan.
"Ouh, iya terima kasih" ucap Tama singkat,
"Oya, nama kamu siapa?" tanya Tama yang sudah melangkah sejajar dengan pemuda yang memanggilnya tadi.
"Saya Fajar Mas, saya karyawan yang bertanggungjawab di kantor yayasan Mas.
Tama memiringkan kepalanya, melihat sosok pemuda yang bernama Fajar yang mengaku sebagai orang yang bertanggung jawab di kantor yayasan.
"Kamu yang lulusan Madinah itu?" tanya Tama memastikan.
Sebelumnya dia sudah menerima laporan jika yang bertanggungjawab sebagai pengelola harian di kantor yayasannya yang ada di Jakarta adalah seorang pemuda lulusan Madinah. Salah satu penerima manfaat dari program beasiswa yang diberikan perusahaan Tama.
"Iya Mas" Fajar mengangguk dengan senyum bahagia karena ternyata dirinya dikenali oleh orang yang selama ini berada di balik kesuksesannya menuntut ilmu.
__ADS_1
"Terima kasih Mas" Tama menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Fajar yang juga turut menghentikan langkah.
"Untuk apa?" tanya Tama santai,
"Untuk semua kebaikan Mas Tama dan keluarga. Saya bisa sampai seperti ini karena kebaikan itu, Jazakumullah" ucap Fajar tulus, sejak lama dia ingin berterima kasih langsung pada Tama namun baru kali ini berkesempatan bertemu dan begitu dekat. Sebelumnya Fajar juga sudah menyampaikan hal yang sama pada kedua orang Tama.
"Almarhum bapak saya pasti bahagia melihat saya sekarang, bisa menyelesaikan kuliah sesuai dengan harapan beliau dulu. Dan semuanya adalah berkat bantuan Mas Tama dan keluarga" lagi-lagi Fajar menyebut kebaikan Tama dan keluarga yang sangat berjasa dalam hidupnya.
"Santai Bro, aku hanya perantara rezeki yang memang sudah hak kamu, kamu yang sudah berikhtiyar dengan baik. Dan sekarang perjuanganmu belum selesai, aku titipkan yayasan ini padamu untuk lebih berkembang dan banyak menebar kebaikan dan manfaat untuk umat" ucap Tama merendah, tidak terlihat sama sekali jika dirinya menjadi bagian penting dalam hidup Fajar atau siapa pun.
"Pasti Mas, saya tidak akan menyia-nyiakannya. Terima kasih atas kepercayaannya, ibu saya menitipkan salam untuk mas. Siapa tahu suatu saat berkesempatan bertemu" jawab Fajar mantap,
"Tidak mas, ibu sudah sepuh. Dia kesulitan jika harus menempuh perjalanan jauh. Sekarang ibu di Garut" jawab Fajar,
"Oh, baiklah. Semoga kapan-kapan saya bisa bertemu beliau" pungkas Tama, dia melanjutkan langkahnya menuju tempat kedua orang tuanya berada.
☘️☘️☘️
"Papa hanya minta waktu kamu untuk bertemu mereka. Kalaupun kamu tidak bersedia, papa tidak akan memaksa. Walau pun sebenarnya papa sangat berharap kamu mau mencoba" Papa Tama menghela nafas mengakhiri bicaranya, ada raut kecewa saat mengetahui sang putra menolak dengan tegas permintaannya untuk bertemu dengan keluarga wanita yang akan dikenalkannya.
__ADS_1
"Tam, mama tahu kamu pernah trauma karena perjodohan yang kami lakukan. Tapi percayalah, semua ini adalah untuk kebaikan kamu. Kami sangat khawatir sampai saat ini kamu masih sendiri sementara teman-temanmu sudah berkeluarga" mama Tama turut melerai sang putra yang yang tiba-tiba emosi saat mengetahui jika papanya akan menjodohkan dia dengan wanita pilihannya.
Tama dengan tegas menolak, dia bahkan sempat meninggikan intonasi suaranya ketika papanya keukeuh meminta agar dirinya meluangkan waktu setidaknya untuk saling bertemu.
Tama tidak habis pikir, bagaimana bisa kedua orang tuanya melakukan hal yang sama. Kenapa mereka tidak belajar dari kejadian sebelumnya yang merupakan dampak dari perjodohan itu.
"Pa, kenapa ini harus terulang lagi?" Tama masih berusaha mengelak, dia tidak habis pikir bagaimana bisa kedua orang tuanya melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, perjodohan.
"Mama harap kamu mau menerima ajakan papa. Toh kita hanya saling bertemu dan menyapa, kalau cocok ya lanjutkan, kalau tidak ya cukup tahu aja'' kali ini mama yang bicara kembali meminta pengertian sang putra, sementara papa hanya menatap Tama intens dengan tatapan menyelidik, entah apa yang dipikirkan papa.
"Tapi Tama sudah punya calon mah. Aku akan datang membawa dia ke hadapan mama dan papa secepatnya" ucap Tama pelan,
Dia menundukkan kepala, merasa bersalah sudah berbicara keras saat tadi mendengar jika papanya akan mempertemukannya dengan wanita pilihan papa. Tama syok dan tidak mampu mengontrol emosi karena kaget.
Jika urusan bisnis dia bisa tenang memahami berbagai karakter klien tapi tidak dengan urusan perjodohan. Dulu Tama bersedia mencoba dekat dengan Tasya, tapi itu karena dirinya tidak punya tujuan. Tapi sekarang dia sudah punya tujuan, tahu kemana hatinya harus pulang.
"Kalau begitu bawalah dia pada kami, biarkan kami juga mengenalnya" mama berkata lembut, dia mengusap punggung sang putra satu-satunya itu memberi ketenangan. Papa hanya membuang nafas kasar melihat sang putra.
"Naura, aku akan memperjuangkanmu. Aku akan buktikan" bathin Tama, dia resah jika ketakutan Rahma yang pernah diungkapkannya pada Tama menjadi kenyataan. Takut jika keluarganya tidak menerima statusnya.
__ADS_1
Tama pun resah jika rencana kedua orang tuanya diketahui Rahma.