Belenggu Akad

Belenggu Akad
Menerka


__ADS_3

Kepulangan Rahma dari Bandung tepatnya dari rumah mertuanya kali ini dibubuhi oleh-oleh luka batin yang cukup menganga. Bagaimana tidak, selama pertemuan rutin keluarga besar suaminya, dirinya bertubi-tubi mendapat serangan dari tante Anggara. Dan muara dari semua sindiran yang ditujukan padanya adalah saat sang tante akhirnya membandingkan dirinya dengan mantan kekasih Anggara yang jauh lebih baik dan lebih layak menjadi pendamping Anggara menurutnya.


Tidak ada yang tahu bagaimana sang tante melancarkan aksinya yang apik itu. Semua orang tampak biasa saja, bahagia dan bergembira berkumpul bersama keluarga besar, hal yang biasa Rahma pun rasakan. Tapi itu dulu pada pertemuan-pertemuan keluarga sebelumnya. Hari ini Rahma benar-benar merasa menjadi orang asing di tengah-tengah kehangatan keluarga itu.


"Kamu kenapa diam saja?" Anggara akhirnya mulai bersuara, ketika mobil yang dikendarainya untuk mengantarkan Rahma ke Garut sudah melaju sejak lima belas menit yang lalu meninggalkan kediaman orang tuanya.


"Mas, apa yang akan kamu lakukan jika ternyata aku tidak bisa memberimu anak?" Rahma merasa punya jalan untuk mengungkapkan isi hati yang dipendamnya selama ini, saat Anggara bertanya padanya alasan dia diam tidak berkata sepatah pun.


"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Anggara, sekilas dia melirik ke samping kirinya, dengan jelas dia bisa melihat ada rasa khawatir dan penasaran di wajah wanita yang sah dinikahinya itu,


"Aku hanya ingin tahu, selama ini Mas begitu mengharapkan kehadiran seorang anak begitupun dengan Mama dan Papa. Bahkan sepertinya karena itu Mas sekarang berubah, dan aku penasaran ingin tahu apa yang akan mas lakukan jika memang aku tidak bisa memenuhi keinginanmu sesuai harapan kedua orang tuamu" jelas Rahma yang entah keberanian dari mana dia akhirnya mengungkapkan apa yang dipendamnya sejak beberapa waktu lalu.


"Menurutmu?" Anggara bertanya balik pada Rahma, dia bahkan tidak menoleh. Tatapannya lurus memandangi jalanan yang mereka lalui.


"Aku tidak tahu dan aku tidak mau berspekulasi"jawab Rahma apa adanya, dirinya terlalu naif jika harus membayangkan akan diceraikan hanya karena alasan itu, pikirnya.


"Aku tidak perlu menjawabnya" jawab Anggara tegas yang akhirnya membuat Rahma menyimpulkannya secara ambigu, diapun memilih diam dan menikmati perjalanannya dengan pikirannya sendiri.


Perbincangannya tentang anak di dalam mobil saat perjalanan pulang ke Garut sepertinya menjadi perbincangan terakhir yang mereka lakukan secara tatap muka.

__ADS_1


Seiring bergantinya hari, beralihnya minggu Rahma dan Anggara lebih sering terlibat percakapan via chat dalam aplikasi whattappsnya. Momen penting menjadi pemicu percakapan yang terjadi di antara mereka, jika tidak ada yang penting riwayat chat mereka pun dapat terjeda hingga beberapa hari.


"Bagaimana kabar Nak Anggara Teh?" Bapak berbicara tanpa mengalihkan fokusnya yang sedang mancabuti rumput-rumput kecil yang memenuhi pot besar tanaman hiasnya, sejak mengalami sakit yang cukup lama beberapa bulan yang lalu Bapak sudah mengurangi aktivitasnya berkebun dan bersawah di masa pensiunnya. Semua anak-anaknya melarang dan meminta Bapak untuk tetap berada di rumah dan hanya melakukan aktifitas-aktifitas ringan yang tidak terlalu menguras tenaga dan waktunya.


Dan di sinilah Bapak pagi ini, beliau sedang menata tanaman yang menjadi teman dalam mengisi hari-harinya di halaman belakang rumah di temani oleh anak perempuan pertamanya, Rahma.


"Baik Pak" jawab Rahma singkat, tangannya pun tidak berhenti mencabuti rumput-rumput kecil di area pot tanaman hias yang menjadi peliharaan sang ayah saat ini.


Saat ini Rahma sedang berada di rumah orang tuanya, setelah mendapat kabar dari sang adik yang tinggal jauh mengikuti suaminya pasca menikah, jika adiknya itu akan datang dan menginap Rahma pun memutuskan untuk menginap juga di rumah orang tuanya. Kehadiran keponakannya merupakan sesuatu yang selalu dia nantikan, Rahma sangat menyukai anak kecil.


"Syukurlah, sudah lama dia tidak kemari" sambung Bapak dengan fokus yang sama,


"Iya, pasti...mudah-mudah Allah sehatkan dan Allah lindungi dimanapun suamimu bertugas" do'a bapaknya Rahma tulus, dan diaminkan oleh Rahma.


"Teh, mau?" disela-sela obrolan antara ayah dan anak itu, maya yang merupakan anak perempuan kedua di keluarga datang membawa piring berisi potongan buah mangga muda di tangan kanannya dan mangkuk kecil berisi bumbu rujak di tangan kirinya.


Rahma pun berdiri dan berjalan menuju sang adik yang duduk lesehan di atas karpet plastik yang digelar di bawah pohon mangga yang cukup rindang di halaman belakang rumah mereka.


"Kamu ngarujak wayah kieu?" Rahma duduk di hadapan sang adik yang mulai mencocol bumbu rujak dengan mangga muda mengkal yang di petik dari pohon mangga di halaman rumah mereka.

__ADS_1


"Iya teh, hamil yang sekarang mah aku jadi suka banget rujak. Pagi-pagi kalau gak diawali makan rujak sampe siangnya suka males makan bawaannya mual terus" jawab Maya sambil terus mencocolkan potongan buah mangga muda ke bumbu rujak yang sudah disiapkan ibu mereka kemarin saat tahu anak keduanya akan datang.


Saat ini maya sedang mengandung anak kedua, anak pertamanya baru saja berusia satu tahun. Maya yang kini tinggal di Bandung mengikuti suaminya menjadi jarang bertemu dengan Rahma dan keluarga lainnya. Dan minggu ini menjadi momen berharga karena mereka semua tengah berkumpul di rumah orang tua mereka, kecuali kakak pertama mereka yang memang tinggal jauh di luar pulau.


"Teteh mau dong, kelihatannya enak" Rahma menelan air liurnya sendiri saat melihat Maya terus mencocol bumbu rujak dengan potongan demi potongan buah mangga cengkir yang masih mengkal itu.


"Ini...." Maya pun mendekatkan bumbu rujak dan piring berisi potongan buah mangga muda itu ke hadapan kakaknya,


Rahma mulai mencocolkan potongan mangga muda itu ke bumbu rujak. Satu, dua, tiga, empat...dan tidak terasa piring yang berisi potongan buah mangga itu pun kini sudah kosong.


"Teteh makan rujak?" Ibu yang tiba-tiba datang menegur putri pertamanya yang begitu lahap memakan rujak, padahal sebelumnya ibu tahu Rahma tidak terlalu suka rujak.


"Iya Bu, enak ternyata" jawab Rahma dengan menampilkan cengir di wajahnya, Ibu hanya geleng-geleng kepala dan kembali ke dalam setelah menghidangkan sepiring singkong goreng bertabur keju dan menyodorkan secangkir besar teh hangat pada suaminya.


"Teteh, jangan-jangan teteh juga ngidam. Udah telat datang bulan belum?"


Deg....pernyataan sekaligus pertanyaan Maya sontak menghentikan gerakan tangan Rahma yang akan mengambil singkong goreng.


Rahma menatap lekat sang adik yang berada tepat di hadapannya. Pikirannya berkelana, mengingat-ingat waktu, kapan terakhir kali dirinya mengalami mensturasi.

__ADS_1


__ADS_2