
Flasback...
Waktu yang mengharuskan Rahma agar berusaha lebih giat untuk kuat dan tegar pun akhirnya tiba. Dia dijemput oleh Anggara untuk menghadiri syukuran empat bulanan madunya....
Jumat sore Anggara sudah berada di Garut, katanya dia sengaja masuk kerja setengah hari agar bisa menjemput Rahma segera dan sampai ke Bandung tidak terlalu malam.
Acara syukuran akan dilaksanakan Sabtu pagi, mama dan tante Anggara sudah mengatur semuanya dengan baik. Rahma hanya perlu datang menghadiri acaranya.
Beberapa kali Rahma menarik dan menghembuskan nafasnya dalam dan pelan, dia berdiri menghadap jendela kamar yang berhadapan langsung dengan pemandangan bentangan sawah yang berada di belakang komplek perumahannya.
"Sudah siap sayang?" saking antengnya Rahma dalam lamunan, dia sampai tidak menyadari kedatangan Anggara ke kamar dan baru tersadar saat tangan kokoh memeluk perutnya dari belakang.
Rahma sedikit terlonjak, kaget saat tangan itu menyentuh perutnya yang masih rata. Dengan segera Rahma berusaha mengurai belitan tangan itu di perutnya. Dia belum siap jika harus menjelaskan keadaannya saat ini yang sedang berbadan dua. Untunglah, di trimester pertama ini Rahma tidak mengalami ngidam, mual dan muntah sepertinya si jabang bayi mendukung apa yang menjadi keputusan Bundanya.
"Kenapa?" Anggara mengernyit saat Rahma menolak pelukannya.
"Maaf Mas" jawab Rahma singkat, hanya kata itu yang terucap dari bibirnya.
"Kamu masih belum bisa menerima pernikahanku dengan Friska?" tanya Anggara, mencekal tangan Rahma yang hendak keluar dari kamarnya.
"Menurut kamu? semudah itu aku bisa menerimanya?" Rahma balik bertanya, dia menatap wajah suaminya yang tiba-tiba berubah sendu.
"Maafkan aku Rahma" jawab Anggara menundukkan kepalanya, dia tidak tahan harus beradu tatap lama dengan istri yang sudah disakitinya itu.
Anggara sadar betul jika tindakannya menikahi Friska akan sangat membuat Rahma terluka, namun maminya tidak menerima penolakan karena sangat mengharapkan keturunan darinya yang hanya seorang anak tunggal.
"Sudahlah Mas, ayo kita berangkat. Biar tidak terlalu malam sampai di Bandung" Rahma pun menarik tangan yang masih dicekal Anggara dengan sedikit bertenaga,
Sementara Anggara menatap punggung wanita yang sudah memasuki hatinya itu semakin menjauh.
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu, kamulah istri terbaikku Rahma" gumam Anggara pelan, dia pun mengikuti langkah Rahma yang sudah lebih dulu keluar dari kamar.
Tidak banyak perbincangan yang terjadi selama perjalanan. Rahma yang biasanya paling antusias menceritakan rutinitas hariannya selama berjauhan dengan sang suami kini tidak ada lagi. Beberapa kali terdengar menghela nafas, Anggara melirik sang istri yang hanya diam seribu bahasa dan menjawab seperlunya jika dirinya bertanya.
Anggara menepikan mobilnya di rest area, suara kumandang adzan maghrib membuatnya memilih tempat itu untuk beristirahat sejenak dan melaksanakan shalat maghrib.
__ADS_1
"Sayang...kita istirahat dulu ya, habis shalat nanti sekalian makan" ucap Anggara setelah mobil diparkirkan sempurna dan mesinnya mati.
"Iya" jawab Rahma singkat, dia pun segera keluar lebih dulu dengan membawa tas yang berisi dompet, ponsel dan mukena.
Anggara menghembuskan nafasnya, dia masih belum mampu melunakkan hati Rahma. Meskipun begitu Anggara tidak akan tinggal diam, dia akan berusaha lebih keras lagi.
Sekitar pukul sembilan malam mobil yang dikendarai Anggara berhenti di depan sebuah rumah dengan gerbang yang cukup tinggi. Petugas keamanan yang berjaga pun dengan cepat membuka pintu gerbang saat mengetahui mobil siapa yang datang.
Beberapa mobil pun terparkir di halaman rumah, garasi yang tersedia sudah penuh dengan mobil lainnya. Hampir semua anggota keluarga dari pihak ibunya Anggara sudah berada di sana sejak tadi siang.
Anggara menggandeng tangan Rahma saat mereka keluar dari mobil dan memasuki pintu utama yang sudah terbuka. Banyak orang yang menyambut kedatangan mereka, semua orang bersikap ramah seperti biasanya kepada Rahma dan dibalas dengan tak kalah ramah oleh Rahma karena sebelumnya mereka sudah pernah bertemu.
Rahma pun menanyakan keberadaan mertuanya kepada salah satu tante Anggara yang mengajaknya mengobrol.
"Mama mertuamu lagi di...." tante Anggara menjeda ucapannya, dia terlihat ragu untuk melanjutkan menjawab pertanyaan Rahma,
"Mama dimana tante?" Rahma pun mengulangi pertanyaannya, dia pun mengedarkan pandangannya mencari sosok suaminya yang tadi pamit untuk ke kamar saat dirinya mengobrol dengan salah satu tante Anggara di ruang tengah,
"Mbak lagi di..."
Rahma tertegun, mendengar jawaban tantenya seakan kembali menyadarkannya bahwa kedatangan dirinya saat ini ke rumah mertuanya adalah untuk menghadiri acara syukuran empat bulanan Friska, istri kedua suaminya.
Perasaan sakit kembali menghampiri, jika dua minggu kemarin dia merasakan sakit setelah mendengar pengakuan suaminya yang menikah lagi, kali ini dia merasakan sakit yang teramat sakit karena harus menyaksikan langsung kebenaran pengakuan suaminya tersebut.
"Oh.." Rahma hanya mengucapkan kata oh, dia pun mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya yang belum kembali padahal sudah cukup lama dia mengobrol di sana.
"Anggara juga ada di kamar Friska, sekarang sebaiknya kamu istirahat. Kamar kamu sudah disiapkan di lantai dua bersebelahan dengan kamar Friska" tante Anggara pun menyarankan Rahma untuk beristirahat, dan diangguki Rahma.
Dia pamit kepada anggota keluarga yang masih berada di sana menuju kamar yang disebutkan tantenya di lantai dua.
Rahma melewati kamar yang ditempati Friska untuk menuju kamarnya, pintu kamar itu pun sedikit terbuka. Sejenak dia berhenti tepat di depan pintu kamar yang terbuka itu, dengan jelas Rahma melihat suaminya sedang memeluk istri keduanya dan mengusap-usap punggung wanita itu.
Anggara yang kebetulan menghadapkan wajahnya ke arah pintu melihat Rahma sedang berdiri menatap ke arahnya, hampir saja Anggara akan memanggil Rahma namun mamanya yang memunggungi pintu dengan cepat menempelkan telunjuknya ke bibirnya, memberi kode agar Anggara diam karena takut membangunkan kembali Friska.
"Sstttt..." melihat kode dari mamanya Anggara pun hanya menghela nafas, dia melihat Rahma berlalu dari sana dan menuju kamarnya.
__ADS_1
Sementara Rahma, sesampainya di kamar yang disediakan untuknya dengan segera memasuki kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama yang dibawanya dalam tas jinjing. Dia tidak mau terus larut dalam kesedihan karena keadaan yang sedang dihadapinya. Biarlah semua berlalu dengan seharusnya, saat ini Rahma hanya perlu meyakinkan dirinya bahwa Allah tidak mungkin memberikan ujian diluar batas kemampuan makhluknya.
☘️☘️☘️
Tubuh Rahma seakan sudah tersetting dengan baik tatkala terdengar sayup-sayup kumandang adzan awal dirinya sudah terbangun dari tidurnya. Rahma membenarkan jilbab yang dipakainya, dia melirik ke samping, tidak ada siapa-siapa. Rahma pun melihat sekeliling, sejak semalam suasana kamar itu tidak berubah artinya suaminya tidak datang ke kamar itu. Rahma menyimpulkan jika Anggara pasti tidur di kamar sebelah dengan istri barunya, kamar yang dahulu suka ditempati Rahma dan Anggara jika berkunjung ke rumah mertuanya.
Untaian do'a terucap tanpa suara dari bibirnya, Rahma turun dari tempat tidur dan memasuki kamar mandi, berwudhu dan menikmati kesunyian sepertiga malam terakhir dengan tenang di atas sajadah.
Tepat pukul delapan pagi, para tamu berdatangan memenuhi undangan keluarga besar Anggara. Tidak hanya keluarga dekat yang datang, keluarga jauh hampir semuanya datang, tetangga bahkan rekan bisnis dan teman-teman sosialita mama Anggara pun hadir di sana.
Semua orang berbahagia, ucapan selamat dan do'a mereka sampaikan dengan suka cita. Bagaimana tidak, cucu yang begitu didambakan keluarga ini akhirnya akan segera hadir di tengah-tengah mereka.
Acara inti pun dimulai, pengajian yang dipimpin oleh seorang ustadz menjadi bagian penting dari rangkaian acara syukuran itu. Hingga tiba saatnya acara do'a bersama akan dipanjatkan untuk keselamatan ibu dan bayi yang sedang dikandungnya
Anggara dan Friska diminta untuk ke depan dan duduk berdampingan dengan sang ustadz yang akan memimpin do'a. Lewat tatapannya, Anggara meminta izin pada Rahma untuk maju dan dibalas dengan senyum oleh Rahma.
Beberapa kali Anggara melirik ke arah Rahma yang tengah khusuk berdo'a mengikuti arahan Ustadz, dia sedikit mengabaikan Friska yang bergelayut manja di lengannya. Rasa bersalah menyergap hatinya sejak awal harus membawa Rahma ke rumah itu dan berada di situasi seperti saat ini.
Tibalah acara pamungkas, Anggara dan Friska diminta menempati kursi yang telah disediakan untuk menerima ucapan selamat secara langsung dari para tamu undangan.
Tanpa diduga, mama Anggara menarik Rahma agar membantu mendampingi Friska. Rahma sempat terkejut karena tidak siap, sejak tadi dia hanya duduk di belakang barisan utama dengan keluarga Anggara yang lainnya.
"Ma...." Rahma menahan tangan mama mertuanya yang akan membawa Rahma,
"Rahma, kamu harus turut berbahagia dengan kehamilan Friska. Semua orang tahu jika Friska adalah istri kedua Anggara. Mama tidak mau membuat Friska stres karena melihat kamu yang selalu menghindarinya. Sejak pagi Friska terus murung karena kamu sepertinya tidak senang dengan kehadiran dan kehamilannya" jelas mama Anggara setengah berbisik. Rahma pun mengangguk dia menurut mengikuti mama mertuanya yang membawanya menuju tempat Anggara dan Friska berada.
Dengan senyum ramah Rahma menerima uluran tangan para tamu. Ada yang menatapnya kagum melihat ketegaran Rahma bersanding dengan suami dan istri keduanya. Namun ada pula yang menatapnya iba karena statusnya sebagai istri pertama yang belum kunjung hamil dan sayangnya tatapan mereka didominasi karena iba terhadap Rahma.
Beberapa kali Friska mengaduh dan bermanja pada suaminya saat para tamu mulai berjarak, hal itu seperti sengaja dilakukannya untuk membuat Rahma cemburu. Sebagai wanita biasa Rahma tidak menampik jika hatinya sakit melihat kemesraan suami dan madunya itu. Peristiwa saat wanita itu pernah datang ke rumahnya sebagai kekasih suaminya kini terbayang kembali.
Rasa sakit Rahma rasakan saat itu tapi dia mampu mengabaikannya karena saat itu dia menyadari pernikahannya dengan Anggara dibatasi perjanjian, namun saat ini rasa sakit itu sangat terasa berlipat-lipat menerjang hati Rahma. Sungguh Rahma hampir tidak kuat berada di situasi ini.
"Bertahanlah, setidaknya sampai para tamu sudah pulang" bisikan dari mama mertua yang berdiri di sampingnya terdengar jelas di telinga Rahma, dia pun melirik sekilas dan tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan papa mertuanya yang menatapnya lembut penuh kasih namun juga merasa bersalah.
"Aku hanya tersenyum, itu caraku menghiasi luka dan sesekali aku juga harus tertawa itu caraku bersembunyi dari rasa sakit ini. Mas, andai kamu tahu jika di rahimku juga ada darah dagingmu, masihkan kamu akan tega berlaku seperti ini padaku?" batin Rahma, dia mengerjapkan matanya menahan sesuatu agar tidak terjatuh saat beberapa tamu yang baru datang menghampiri.
__ADS_1
Dia mengusap perutnya di balik jilbab lebarnya, berharap mendapat kekuatan dari janin yang tengah dikandungnya.