Belenggu Akad

Belenggu Akad
Pemanasan


__ADS_3

"Selamat malam Pak" dua orang pelayan hotel yang baru selesai menyiapkan segala hal untuk keperluan pasangan pengantin baru itu terlihat salah tingkah. Pasalnya saat pintu lift terbuka mereka disuguhi adegan yang setiap orang yang melihatnya pun akan tahu apa yang akan mereka lakukan dengan posisi seperti itu.


Rahma memalingkan wajahnya, dia sungguh malu karena kedua pelayan itu pasti sudah berpikiran yang aneh-aneh tentang mereka berdua. Berbeda dengan Tama yang terlihat santai dan malah semakin mendekap erat pinggang Rahma saat akan keluar dari dalam lift.


"Malam, kalian sudah selesai?" tanya Tama berbasa basi, dia mencoba mengalihkan fokus kedua pelayan itu.


"Sudah Pak, selamat menikmati" ucap salah satu pelayan dengan senyum ramahnya.


"Terima kasih sudah bekerja keras" Tama merogoh saku belakang celananya, dia mengeluarkan dompet dan mengeluarkan dua lembar uang ratusan yang kemudian diserahkan pada salah satu pelayan itu.


"Ini untuk kalian, nikmatilah. Sekali lagi, terima kasih atas kerja keras kalian dalam bekerja" ucap Tama tulus, namun kedua pelayan itu hanya melongo, tampak ragu untuk mengambil uang yang disodorkan Tama ke hadapan mereka.


"Ambillah, ini rezeki kalian" ujar Tama dan disambut uluran tangan salah satu dari keduanya.


"Terima kasih Pak, terima kasih banyak. Semoga rezeki Bapak semakin berlimpah dan berkah" pelayan yang menerima uang itu menaruhnya di atas kepala dengan ucapan syukur terucap lirih dari lisannya.


"Kami ucapkan selamat juga atas pernikahan Bapak, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah dan segera diberi keturunan yang shaleh, shalehah" pelayan kedua tak kalah berterima kasih diiringi untaian do'a yang langsung diaminkan oleh Tama dan Rahma bersamaan.


"Sekali lagi terima kasih Pak, kami permisi untuk melanjutkan tugas kami."


"Silahkan, selamat bekerja"ucap Tama yang gerakan satu tangan mempersilahkan mereka untuk pergi, sementara tangan yang satunya masih betah membelit pinggang Rahma.


"Baik Pak, assalamu'alaikum" pamit kedua pelayan itu sopan dan dijawab Tama dan Rahma dengan salam yang sama.


Tama meraih tangan Rahma dan menggenggamnya erat dia menuntun istrinya menuju arah kamar mereka.


Rahma mengedarkan pandangan, lantai lima belas. Di lantai itu dia hanya melihat dua pintu, artinya hanya ada dua kamar di lantai itu. Dia ingin bertanya untuk mengurai rasa penasarannya. Tetapi Rahma urungkan karena saat ini mereka sudah sampai di depan pintu kamar yang akan mereka tempati.


Tama membuka pintu dengan menekan angka-angka. Seketika pintu terbuka dan mereka berdua langsung disuguhi ruangan yang sangat luas dan mewah. Hiasan khas kamar pengantin sangat indah terlihat.


Namun, bukan itu saja yang membuat Rahma dibuat takjub. Ruangan yang baru dimasukinya itu sangat luas seperti di rumah pada umumnya. Satu set sofa lengkap dengan televisi dan sebuah rak terlihat nyaman seperti di ruang keluarga.

__ADS_1


Semakin melangkah sebelah kanan Rahma pun melihat ada mini kitchen yang lengkap dengan peralatan memasak, kulkas, mini bar dan meja makan dengan kursi untuk empat orang. Di samping mini kitchen Rahma pun melihat ada pintu yang sepertinya adalah pintu kamar mandi.


Pandangan Rahma kemudian beralih pada pintu di sebelah kiri tempatnya berdiri, sepertinya itu adalah pintu kamar tidur.


"Bagaimana sayang, kamu suka?" Tama menghentikan langkahnya. Dia menghadapkan tubuhnya pada sang istri yang masih tampak tertegun dengan suasana kamar hotel yang tak biasa menurutnya.


"Hah?" Rahma masih belum fokus dengan Tama, dia bahkan tidak mendengar apa yang ditanyakan suaminya itu karena masih terpesona dengan keindahan kamar hotel itu.


"Kamu suka?" Tama tergelak sambil mengulang pertanyaannya, senyum terkulum menatap sang istri yang terlihat lucu di mata Tama.


"Hah, suka apa Mas?" Rahma masih belum fokus, dia semakin terlihat menggemaskan di mata Tama.


Cup


"ini"


Deg


Sontak Rahma membelalakan matanya, walau pun Tama buka laki-laki pertama dalam hidupnya namun entah mengapa dia baru merasakan perasaan yang aneh menurutnya.


Cup


Kembali Tama melayangkan kecupan di bibir yang hendak protes itu.


"Lagi kan?" goda Tama membuat wajah Rahma semakin memerah.


"Maass..." Rahma mendorong pelan dada Tama, dia memalingkan wajahnya karena malu. Namun Tama tidak membiarkan wanita yang sudah halal untuknya itu menjauh darinya, dia kembali menarik pinggang Rahma agar kembali menempel padanya.


"Kenapa sayang? kita kan sudah halal" Tama kembali meraih pinggang Rahma yang akan menjauh, dia semakin merapatkan tubuh istrinya yang masih berbalut gaun pengantin dengan tubuhnya.


"Iya Mas, aku memang sudah halal untukmu. Tapi gak gitu juga kali, main nyosor aja kan jadi kaget" protes Rahma dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


Hal itu justru membuat Tama semakin terpancing gairah, bibir ranum yang sejak di lift sudah sangat menggodanya itu benar-benar membuat Tama tidak tahan.


"Kalau begitu sekarang boleh ya..." tanpa menunggu jawaban Rahma, Tama langsung menerjang bibir ranum itu, melakukan apa yang sudah ingin dia lakukan sejak tadi. Menyalurkan rasa cinta yang besar dengan hasrat yang menggebu dalam ciuman yang dalam dan lembut.


"Massss" Rahma mulai melenguh saat tangan Tama mulai tidak terkendali.


"Aku menginginkanmu sayang" suara Tama terdengar serak, dia menjeda sejenak apa yang sedang dinikmatinya dan tanpa ragu kembali memburu apa yang sudah menjadi candunya.


"Mas, sebentar lagi Maghrib" Rahma kembali bersuara saat dirinya terlepas dan sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Tama yang sudah bersiap untuk kembali melahapnya,


"Pemanasan, sayang" Tama kembali menerjang, melahap habis bibir yang sudah menjadi candunya itu. Rahma pun hanya bisa pasrah, dia membiarkan apa yamg ingin dilakukan suaminya itu.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar" gema adzan yang berasal dari ponsel Rahma menjeda apa yang sedang mereka lakukan. Tama dengan rasa enggan menghentikan aktivitasnya.


"Adzan Yang" ucap Tama dengan wajah memberenggut membuat Rahma tergelak, melihat Tama seperti itu seperti melihat Athaya yang sedang merajuk.


"Iya Mas, aku duluan ya bersih-bersih" Rahma segera menjauh dari suaminya, setengah berlari menuju pintu yang sudah dipastikan jika ruangan itu adalah kamar mandi.


"Hey..." Tama bermaksud meraih tangan Rahma agar tak menjauh darinya, namun gerakan istrinya itu lebih cepat dari gapaian tangannya.


"Hihi...." dari balik pintu yang hampir tertutup terdengar gelak tawa Rahma yang menertawakan suaminya,


"Ish....awas ya" balas Tama dengan senyum lebar di bibirnya.


Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk yang ada di kamar itu. Kepalanya mendongak, tatapan matanya mengarah ke langit-langit kamar. Tidak henti-hentinya senyum terus menghiasi wajah Tama.


"Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah" gumam Tama pelan, rasa syukur tak henti-hentinya terus dipanjatkan memenuhi hati Tama. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah menyia-nyiakan apa yang telah Allah titipkan saat ini padanya.


Lima belas menit berlalu sejak Rahma memasuki kamar mandi, dia keluar memakai baju handuk yang tersedia di dalam kamar mandi itu. Handuk membelit rambutnya yang basah setelah berkeramas.


"Mas" ucap Rahma pelan, dia mencari keberadaan suaminya yang tidak terlihat saat dirinya keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Heumm..." Rahma menghela nafas panjang, dia hanya geleng-geleng kepala melihat Tama yang sudah terkulai di atas sofa, sangat terlihat lelah.


"Padahal bilangnya tadi baru pemanasan" ucap Rahma sambil terkikik menutup mulutnya menahan tawa, mengingat ulah dan perkataan suaminya beberapa menit yang lalu.


__ADS_2