Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kisah di Sekolah


__ADS_3

"Harusnya kamu tidak berbuat seekstrim itu hanya untuk bisa bersama dia dalam satu ruangan, kamu tidak lihat tadi dia begitu syok mendengar ancaman kamu" Regi yang mengerti alur yang dibuat atasan sekaligus sahabatnya itu pun sedikit kesal dengan apa yang dilakukan Tama,


"Kalau tidak seperti ini, aku takut tidak bisa menahan diri" Tama berkilah,


Saat ini mereka sudah berada di kantor yayasan, upacara bendera sekaligus upacara penyambutan peserta didik baru telah usai. Tama dan Regi yang merupakan pengurus harian yayasan sekaligus kepala sekolah SMA Insan Mulia itu sengaja mengikuti atasannya untuk menyampaikan apa yang menjadi unek-uneknya.


Pada saat Tama menghadang Rahma di depan ruang bimbingan konseling Regi berada di dalam ruangan. Dengan jelas dia melihat wajah Rahma yang memucat setelah mendengar apa yang Tama katakan.


"Kasihan dia, di sini Bu Rahma itu termasuk guru berprestasi dan jadi favorit anak-anak. Aku takut karena apa yang kamu lakukan mencoreng nama baiknya di sekolah" Regi pun menjelaskan kekhawatirannya,


"Kamu tenang saja, aku yang akan membuat dia semakin bersinar" jawab Tama, jawaban yang terdengar asal di telinga Regi.


"Maksud kamu apa?" tanya Regi penasaran dengan jawaban Tama,


"Kamu lihat saja aku tidak akan melepaskannya" Tama kembali menjawab dengan kalimat yang semakin membuat Regi bingung, dia bergidik sendiri merasa ngeri mendengar jawaban sahabatnya itu,


"Jaga batasan bro, ingat dia istri orang" Regi kembali mengingatkan agar Tama tidak melebihi batas, dia takut sahabatnya itu nekad dan berbuat sesuatu yang tidak hanya akan merugikan dirinya tapi juga Rahma dan keluarganya juga nama baik yayasan.


"Gue tahu batasan, tenang saja. Sekarang lebih baik lu keluar dari ruangan ini dan panggil dia" usir Tama yang tampak sudah tidak sabar untuk segera bersama Rahma,


"Ckk.....dasar lu, gue....." ucapan Regi terjeda saat mendengar suara ketukan pintu,


Tok...tok...tok...


"Masuk!" titah Tama dengan suara bassnya dia kembali ke mode serius saat mengetahui ada yang datang, Tama yakin itu pasti Rahma,


"Assalamu'alaikum" Rahma mengucap salam sembari membuka pintu setelah dipersilahkan masuk oleh pemilik ruangan itu, dari suaranya Rahma tahu jika Tama yang menjawab dari dalam,


"Wa'alaikumsalam" kedua pria yang berada di dalam ruangan itu kompak menjawab, Regi berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Rahma untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu dengan ramah.


Selama ini Regi selalu membina hubungan baik dan penuh kehangatan dengan semua guru. Tak heran jika dia bersikap ramah pada Rahma, namun sepertinya hal itu dipandang beda oleh Tama.


Tama yang duduk di kursi kebesarannya pun beranjak, dia berjalan menuju sofa untuk duduk bersama Rahma dan Regi yang tampak enggan meninggalkan ruangan itu karena khawatir dengan apa yang akan dilakukan sahabatnya. Dia tidak akan meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Rahma dan Tama berduaan.


"Kamu membawa hadiah itu?" tanya Tama dingin,


"Iya Pak, saya membawanya" Rahma pun mengeluarkan paper bag yang dia terima tadi pagi dari salah satu muridnya, Rahma sengaja membungkus lagi paper bag itu dengan kantong kresek agar tidak terlihat mencolok sebagai hadiah.


Tama mengernyitkan dahinya saat melihat Rahma mengeluarkan isi kantong kresek itu, dia mengulum senyum dengan tingkah Rahma,

__ADS_1


"Rupanya kamu benar-benar ketakutan" batin Tama. Regi mendelik saat melihat ekspresi Tama yang menahan senyum, dia tahu jika sahabatnya itu pasti menahan tawa karena berhasil mengerjai Rahma.


"Buka!" titah Tama yang membuat Rahma melongo,


"Hah? buka Pak?" tanya Rahma ragu,


"Iya, saya ingin tahu hadiah apa yang diberikan anak itu pada kamu" jawabnya tegas,


"Pak" Rahma menoleh ke arah Regi yang sejak kedatangannya hanya menjadi pemerhati interaksinya dengan Tama. Rahma meminta persetujuan atasannya itu untuk melakukan apa yang disuruh Tama. Regi pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Bukan tanpa alasan Rahma melakukannya, dia hanya ingin mendapatkan dukungan atasannya jika yang dilakukan dirinya tidaklah menyalahi.


"Ckk..." Tama berdecak melihat interaksi Rahma dan Regi yang terlihat sangat menyebalkan di matanya, hal itu tentu saja sengaja dilakukan Regi berharap Tama dapat menghentikan perasaannya terhadap Rahma.


"Harus saya buka Pak?" tanya Rahma kembali memastikan, dia menatap Tama dengan wajah paniknya,


"Heumm" jawab Tama singkat,


Rahma pun akhirnya memberanikan diri membukanya. Kado yang biasanya dibuka penuh suka cita, kini lain cerita terasa sangat menegangkan. Sungguh Rahma tidak mau atasannya salah faham menyangka dirinya sebagai guru yang menerima gratifikasi.


Setelah semua kertas pembungkusnya terbuka dengan utuh Rahma pun mendapati kotak yang persegi panjang di dalamnya. Dia pun melirik ke arah Tama dan Regi saat akan membukanya.


Pandangan Tama fokus pada apa yang dilakukan Rahma tak sedetikpun dia beralih seolah tidak ingin kehilangan momen menatap wanita yang masih menjadi pemilik hatinya itu.


Rahma mengangkat jam tangan itu kemudian mengambil kertas yang berada di bawahnya. Ternyata benar dugaan Rahma, kertas itu adalah sebuah surat yang khusus ditulis untuknya.


Rahma pun membuka kertas itu dan membacanya dalam hati. Matanya seketika membulat dan menggeleng-gelengkan kepala saat membaca isi surat itu, tidak menyangka jika sang murid mengaguminya sampai segitunya.


"Kenapa?" melihat reaksi Rahma, Tama penasaran dengan isi surat itu,


"Tidak apa-apa Pak, ini ...ini hanya surat biasa" jawab Rahma gugup, dia tidak ingin atasannya itu mengetahui isi surat yang baru saja dibacanya. Takut jika akan menimbulkan masalah baru.


"Sini, aku mau baca" Tama mengulurkan tangannya meminta surat yang masih berada di tangan Rahma.


"Eumh...sepertinya gak usah Pak, Bapak gak usah baca surat ini ya" Rahma berkata dengan wajah memelas, dia menyembunyikan kertas itu di balik jilbabnya yang terulur menutupi dadanya,


"Kenapa?" tanya Tama semakin penasaran, dia menyipitkan matanya karena curiga Rahma menyembunyikan sesuatu tentang surat itu,


"Enggak Pak, jangan ya" pinta Rahma masih dengan wajah memelas, Regi pun heran kenapa Rahma menyembunyikan surat itu.

__ADS_1


"Saya mohon Pak, saya akan segera mengembalikan jam tangan dan surat ini pada anak itu" ucap Rahma dengan nada memohon. Dia pun segera membereskan kado itu dan mengemasnya seperti semula.


"Memangnya siapa yang memberi Bu Rahma kado mahal ini?" Regi akhirnya bersuara menyampaikan kepenasarannya akan siapa yang memberi kado itu,


"Ini dari ...."


Tok...tok...tok...."Assalamu'alaikum" ucapan Rahma terhenti saat mendengan ketukan pintu dan ucapan salam, mereka bertiga pun serempak menjawabnya sambil menoleh ke sumber suara, tiga orang siswa laki-laki dan satu perempuan sudah berdiri di ambang pintu.


"Ibu Rahma ada di sini juga, kebetulan" Seorang siswa laki-laki diantara mereka tampak berbinar saat melihat Rahma berada di sana.


"Andrean..." gumam Rahma pelan,


"Silahkan duduk" Regi menunjuk dua sofa yang masih kosong, cukup untuk mereka berempat duduk.


"Ada apa?" sebagai kepala sekolah Regi menjadi orang pertama yang bertanya tentang keperluan murid-muridnya datang ke kantor yayasan,


"Maaf Pak, kami mau menyampaikan jadwal pemateri pada kegiatan MPLS, dan kebetulan hari ini jadwal Bapak menjadi pemateri di aula" siswa yang di dadanya tertulis bernama Fathurrahman pun menjelaskan maksud kedatangannya, dia adalah ketua OSIS di SMA Insan Mulia.


"Ini surat dan jadwalnya Pak" seorang siswa perempuan yang merupakan sekretaris OSIS pun menyodorkan sebuah map ke hadapan Regi,


"Baiklah Bapak akan segera ke sana lima belas menit lagi" jelas Regi setelah menerima dan membaca map yang diberikan muridnya,


"Terima kasih Pak kami tunggu, dan untuk Ibu Rahma ini surat dan jadwal ibu" siswa yang akrab dipanggil Fathur itu pun menyerahkan map yang serupa kepada Rahma,


"Terima kasih" ucap Rahma dengan tersenyum ramah pada murid-muridnya.


"Kalau begitu kami permisi Pak" mereka pun pamit untuk kembali ke tempat kegiatan, setelah mengucapkan salam dan dijawab serempak oleh Rahma, Regi dan Tama.


Namun salah seorang siswa yang bernama Andrean tiba-tiba menghentikan langkahnya, dia kemudian berbalik dan mendekat ke arah Rahma yang masih duduk di sofa berhadapan dengan Tama.


"Ibu, ibu sudah membuka kado dari saya artinya ibu sudah menerima surat dari saya. Terima kasih bu sudah mau membacanya, tetaplah seperti itu" siswa yang bernama Andrean itu berkata dengan lantang kepada Rahma di hadapan Regi dan Tama yang hanya melongo melihat aksi berani muridnya itu,


Regi bahkan tidak percaya di mata anak itu terlihat jelas kekagumannya kepada Rahma, dia menggeleng-gelengkan kepala merasa dipukul telak dengan keberanian anak itu. Sementara dirinya sampai saat ini masih betah dengan cinta dalam diamnya.


"Andrean, maaf ibu tidak bisa....."


"Saya permisi Bu" Andrean pun berlalu menuju pintu dan keluar dari ruangan itu dengan membiarkan Rahma menggantungkan ucapannya. Rahma hanya bisa berdiri mematung saat melihat punggung Andrean yang semakin menjauh,


"Jadi dia yang memberimu kado dan surat itu?" tanya Regi dengan mata masih terbelalak,

__ADS_1


"Iya Pak" jawab Rahma sambil menganggukan kepalanya,


Sementara Tama, dia mengepalkan tangannya merasa kecolongan dengan remaja tampan dan menawan itu karena sudah berani terang-terangan menunjukkan kekagumannya pada Rahma.


__ADS_2