
Anggara seketika berdiri dari tempat duduknya, dia bahkan melepas paksa genggaman tangan Friska.
"Rahma, kenapa kamu baru bilang jika kamu sedang mengandung?" ucap Anggara dengan nada meninggi, syok dan bahagia dengan kabar yang baru saja diterimanya membuatnya tidak dapat mengontrol diri.
"Maaf Mas aku juga baru menyadarinya" ucap Rahma bohong,
"Maaf mas aku bohong. Jika kamu mengetahui aku hamil sejak dulu mungkin kamu tidak akan melepaskanku semudah itu, maaf Mas" gumam Rahma dalam hatinya, dia menyadari kesalahan karena telah menyembunyikan kehamilannya. Tapi dia pun merasa alasannya cukup logis untuk menunda mengabari mantan suami dan keluarganya tentang kehamilannya. Toh dia pun tidak akan menghalangi kedekatan antara anaknya dengan keluarga ayahnya kelak.
Anggara kembali terduduk lesu, entah apa yang dipikirkan Anggara saat ini. Sekilas dia melirik Lisna yang berada di samping Rahma mencari informasi mendalam dari berita yang disampaikan oleh mantan istrinya itu. Anggara yakin Lisna pasti mengetahui banyak hal, tapi sayang Lisna hanya memalingkan wajahnya saat mendapati Anggara tengah menatapnya.
"Berapa usia kandunganmu sekarang, Nak?" tanya papa dengan suara sedikit bergetar, dia bahagia mendengar kabar jika wanita yang pernah menjadi menantunya itu akhirnya mengandung cucunya. Papa tahu jika penyebab putranya harus menikah untuk yang kedua kalinya adalah karena istrinya yang selalu menuntut untuk segera mempunyai anak.
"Sekarang maju empat bulan Pa" jawab Rahma dengan senyum mengembang di bibirnya, dia pun mengusap perutnya yang tertutupi jilbab lebar yang dipakainya.
"Rahma, aku mau bicara berdua denganmu" suara Anggara tiba-tiba, dia menatap mantan istrinya itu dengan tatapan memohon.
Rahma melirik Lisna dan Yusuf bergiliran, meminta pendapat tentang permintaan mantan suaminya. Yusuf hanya mengangkat bahunya, sementara Lisna hanya tersenyum kecut tidak bisa memberi keputusan.
"Maaf Mas aku....."
"Sebentar saja" sela Anggara, dia tahu mantan istrinya itu akan menolak.
"Friska, Ma, Pa....aku izin untuk mengobrol berdua dengan Rahma" ucap Anggara, dia berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan ruang tamu tanpa menunggu jawaban ketiga orang yang dimintainya izin.
__ADS_1
Rahma menatap mama dan papa yang menganggukan kepalanya, dia pun menoleh pada Friska yang hanya berwajah datar.
"Mbak Friska, jika Mbak tidak mengizinkan saya tidak akan menemui Mas Angga" ucap Rahma lembut, dia memastikan Friska mengizinkannya walaupun Rahma tahu wanita yang tengah hamil besar itu pasti tidak akan baik-baik saja,
"Silahkan, tapi...saya harap kamu tahu batasan" ucap Friska sedikit ketus,
"Tentu saja Mbak, saya tahu hal itu. Saya menyadari jika antara saya dengan Mas Angga kini sudah bukan mahram lagi. Jangan khawatir" jawab Rahma masih dengan tersenyum, ingatannya mundur ke beberapa tahun yang lalu dimana dia pernah mendapati wanita yang ada di hadapannya itu tengah bercumbu dengan suaminya di rumahnya sendiri. Saat ini dia berbicara tentang batasan, mungkin dia sudah lupa dengan apa yang pernah dilakukannya dulu.
"Astaghfirullah" Rahma beristighfar dalam hatinya, dia pun beranjak dan berjalan menuju teras belakang rumah dimana Anggara berada.
"Kenapa kamu baru mengabari kehamilanmu sekarang?" tanya Anggara menatap tajam Rahma, sekarang mereka sudah duduk berdampingan di kursi yang ada di teras.
"Sudah aku bilang mas, aku pun baru menyadarinya" jawab Rahma santai,
"Rahma......" ucapan Anggara terjeda, dia membalikan tubuhnya menghadap Rahma, menatap perempuan yang tak lagi halal untuknya yang kini tengah mengandung darah dagingnya.
"Tidak Mas...." ucap Rahma pelan, berusaha setenang mungkin berbicara berdua dengan mantan suaminya. Anggara pun mulai terlihat mengendorkan raut wajahnya dan kembali terlihat sendu,
"Apa yang harus aku lakukan?" lanjutnya dengan kesedihan terlihat jelas di wajahnya,
"Do'akan kami bisa melalui semua ini dengan baik Mas, walau bagaimanapun kamu adalah ayah dari anak yang sedang aku kandung. Aku tidak akan membuatmu kehilangan panggilan ayah darinya kelak. Kita memang bukan lagi suami istri, tetapi dia tetap anakmu. Aku akan menjaganya dengan baik, ini adalah amanah berharga yang Allah berikan untukku. Menjadi ibu adalah hal yang sangat berharga dalam hidup seorang wanita, begitu pun aku dan dengan sebisa mungkin aku akan melakukan yang terbaik menjaganya" ucap Rahma panjang lebar,
"Andai mama bisa bersabar lebih lama..." ucap Anggara sendu, dia tertunduk menekuri lantai dengan pikiran yang tidak menentu,
__ADS_1
"Mas, jangan mengungkit apa yang sudah berlalu, tidak ada yang bisa mengira takdir apa yang akan terjadi pada kita. Ini adalah bagian dari rahasia Allah yang harus kita imani. Tidak ada yang salah dengan ketentuan-Nya, yang ada hanya kita yang terkadang tidak mampu menyingkap tabir yang terdapat kebaikan dalam setiap masalah yang kita hadapi. Sekali lagi aku yakinkan, bahwa tidak ada yang akan mengubah statusmu sebagai ayah dari anak yang aku kandung, dan aku pun tidak akan menutup tentang dirimu pada anak kita kelak. Mulai sekarang, mari kita nikmati jalan hidup kita masing-masing. Bahagia itu kita yang ciptakan, bukan datang begitu saja. Jagalah baik-baik rumah tangga Mas, sayangi dan cintai istri mas dengan sepenuh hati. Dia ibarat pakaian untuk Mas, begitupun sebaliknya" Rahma menarik nafasnya dalam, menjeda ucapannya.
"Friska sudah pernah tersakiti karena pernikahan kita dan sekarang Allah memberinya kebahagian dengan menjodohkan kalian, mama akhirnya merestui kalian. Friska pasti sangat bahagia, jadi jangan sakiti dia lagi dengan meratapi perpisahan kita. Hiduplah dengan bahagia bersama keluarga kecil mas, biarkan aku yang menjaga anak kita. Percayalah aku akan menjaganya dengan baik" Rahma berbicara dengan tenang, masih sama setiap kata yang terlontar dari mulut mantan istrinya itu selalu penuh kelembutan dan menenangkan.
"Rahma, aku ..." isak tertahan Anggara terdengar menyayat hati, Rahma tahu seperti apa kegalauan yang saat ini dirasakan suaminya,
"Tenang Mas, istighfar. Yakinlah ini adalah takdir terbaik untuk kita" Rahma kembali menenangkan,
"Rahma, berjanjilah untuk tidak pernah menghalangiku menemui anak kita" ucap Anggara mulai bisa mengendalikan perasaannya,
"Tentu Mas, itu hakmu sebagai ayahnya. Aku tidak akan menghalangi sumber pahalamu untuk melakukan kewajiban sebagai ayah dan mendapatkan dari usahamu"
"Aku akan membiayai semua kebutuhanmu dan dia, jangan pernah menolak" tatapan Anggara beralih ke arah perut Rahma yang sama sekali tidak terlihat sedang mengandung karena pakaian longgar dan jilbab lebar yang dipakainya.
"Tentu mas aku akan menerima amanahmu dengan baik sebagai hak dari anakmu. Tapi sekali lagi aku tekankan, kewajibanmu hanya untuk anakmu, aku sudah bukan lagi tanggung jawabmu." jawab Rahma tegas,
Kesepakatan di antara mereka pun terjalin, Anggara akan memberikan tunjangan setiap bulannya untuk keperluan anaknya. Dia sempat memaksa agar Rahma pun menerima uang yang akan diberikan untuknya setiap bulan, tapi dengan tegas Rahma menolaknya karena memang dirinya bukan lagi tanggung jawab Anggara.
Anggara hanya pasrah, dia pun menerima keputusan Rahma.
"Rahma, bolehkah aku menyentuhnya?" tanya Anggara saat mereka berdua sudah berdiri dan akan kembali ke ruang keluarga,
"Maaf Mas, kita sudah bukan mahram" jawab Rahma,
__ADS_1
"Sebentar saja, aku hanya ingin menyapanya tak apa walau terhalang jilbabmu" pinta Anggara lagi...
"Tapi Mas....."