
Derrrt.....Derrrt....Derrrt....
Getaran ponsel milik Rahma tak kunjung berhenti, saat ini dia tengah melayani konsumen toko kue via telepon kantor yang ingin langsung bernegosiasi dengannya karena pesanannya yang banyak dan akan berlangsung dalam jangka waktu lama.
Semenjak toko kue yang dirintis kakak iparnya berkembang pesat Rahma lebih sering berada di toko. Saat dia langsung menangani toko kue di tempat baru yang merupakan cabang dari toko Faeyza Cake . Selain tempatnya lebih luas di sana juga lebih ramai karena tepat berada di pusat kota dengan keramaian yang tiada henti.
"Baik Bu saya akan coba pertimbangkan dulu semua penawaran ibu. Apakah diterima atau tidak secepatnya saya akan menghubungi ibu kembali dalam dua hari ini" Rahma pun memberi keputusan perihal penawaran harga yang lebih murah dari seharusnya. Sang konsumen meminta keringanan harga dengan kualitas sama karena pesanan akan banyak dan dalam jangka waktu yang lama.
"Terima kasih, Assalamu'alaikum" pungkas Rahma mengakhiri teleponnya, dia melirik ponsel yang sejak tadi bergetar di atas meja kerjanya.
Terdapat lima panggilan tak terjawab dari Lisna sahabatnya. Semenjak kepindahan Rahma ke Jakarta dengan segudang aktivitas barunya mereka semakin jarang bertemu bahkan berkomunikasi via telepon. Terakhir pertemuan mereka adalah ketika Athaya dikhitan. Lisna datang dengan seluruh keluarganya ke Jakarta.
"Assalamu'alaikum" sapa Rahma setelah panggilannya terhubung.
"Wa'alaikumsalam, kemana aja sih, sibuk pisan ya? susah banget dihubungi" cerocos Lisna tanpa jeda,
"Maaf, maaf tadi tanggung lagi menerima telepon kantor jadinya gak keburu diangkat. Gimana-gimana, ada apakah gerangan yang bisa dibantu besti?" tanya Rahma dengan ceria,
"Aku cuman mau ngasih tahu acara pernikahanku dipercepat jadi dua minggu lagi. Orang tua pak Regi mau pergi umroh dan jadwalnya bulan depan, sekitar tingga minggu lagi dari sekarang. Mereka ingin kami sudah menikah sebelum mereka pergi ke tanah suci" Lisna menjelaskan tujuannya menelepon, semalam Regi dan kedua orang tuanya datang ke rumah membicarakan perihal rencana pernikahan mereka yang dipercepat dari rencana sebelumnya,
Lisna, sahabat sekaligus mantan rekan kerjanya dulu di yayasan mengabarkan akan menikah dengan kepala sekolah tempatnya mengajar. Sudah hampir lima tahun mereka menjalin kasih tanpa ada yang tahu, tahu-tahu Pak Regi mengumumkan akan bertunangan saat rapat guru di yayasan sebulan yang lalu.
Semua orang pun kaget, tidak pernah melihat kebersamaan Pak Regi dengan pasangannya tahu-tahu akan mengkhitbah seorang gadis. Tapi rona kebahagiaan pun tampak di wajah mereka karena akhirnya pimpinan mereka yang terkenal bujangan itu akan berganti status.
Spekulasi pun sempat bermunculan di pikiran para guru dan karyawan, mungkin Pak Regy dijodohkan oleh orang tuanya pikir mereka. Tapi semua orang semakin dibuat kaget ketika mengetahui jika gadis yang akan dilamarnya ternyata adalah salah satu guru di sana. Tidak hanya wajah bahagia yang terpancar dari para guru saat mengetahui kabar itu tapi juga wajah sedih dari guru-guru junior yang mengaguminya diam-diam selama ini karena setelah ini mereka tidak bisa lagi menjadikan Pak Regy sebagai topik hangat mood booster mereka di pagi hari.
Rahma pun kaget sekaligus bahagia saat menerima kabar itu, dia senang akhirnya sahabatnya akan menikah dengan orang yang tepat, Rahma tahu pak Regy adalah orang yaang baik begitupun dengan Lisna sahabatnya.
Lisna Gistara Dafhina, orang yang selalu ada untuknya, sahabat terbaik yang Rahma miliki, selalu ada dalam setiap saat suka maupun duka. Dan Rahma berharap, persahabatan mereka tidak hanya terjalin di dunia saja tapi persahabatan itu mampu membawa mereka hingga ke surga. Rahma berharap kebahagiaan bagi Lisna dan Pak Regi dalam rumah tangganya, Insya Allah mereka akan menjadi pasangan sekufu yang serasi sampai Jannah, harapan Rahma.
__ADS_1
"Alhamdulillah, selamat ya....semoga lancar sampai akhir" pekik Rahma setelah mendengar kabar yang disampaikan sahabatnya itu,
"Tapi aku mau kamu sebelum hari H sudah di sini, gimana bisa? bisa ya...." pinta Lisna, dia sangat mengharapkan sahabatnya itu mendampinginya di saat-saat mendebarkan dalam hidupnya,
"Lagian aku kangen sama Athaya, udah lama gak cubit pipi dia" lanjut Lisna,
"Insya Allah nanti aku akan bicara dulu sama kakak ipar, sekarang omset toko lagi banyak. Nanti kita atur-atur dulu ya" Rahma menjelaskan kondisinya saat ini yang semakin sibuk dengan usaha toko kuenya,
Kegiatan mengajar masih dia lakukan di pagi hari, setelah mengantar Athaya ke tempat belajarnya Rahma pun pergi ke tempatnya mengajar dan siang Rahma menjemput kembali Athaya dan langsung menuju toko hingga sore, dan biasanya mereka kembali ke rumah selepas maghrib.
Kegiatan produksi kue masih dilakukan di toko utama, selepas subuh Rahma dan kakak iparnya sudah mulai mengeksekusi bahan-bahan yang sudah tersedia. Para karyawan mulai jam 6 tepat sudah berdatangan dan melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh para atasannya.
Karyawan toko akan mengantarkannya ke toko cabang sekitar pukul delapan bersamaan dengan Rahma yang mengantar Athaya sekolah. Toko cabang tidak terlalu jauh, hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai di sana.
Begitulah aktivitas Rahma setiap hari selama tiga tahun ke belakang ini, setelah menuntaskan ASI eksklusif untuk Athaya Rahma benar-benar memompa semangatnya untuk menjalani hidup. Athaya menjadi motivasinya, tidak ada lagi yang Rahma harapkan selain memberikan kehidupan terbaik untuk Athaya.
Kontribusi Anggara dalam masalah finansial memang ada tapi Rahma tidak terlalu mengandalkannya, semua yang Anggara berikan Rahma simpan di rekening khusus yang tidak pernah dipakainya. Bukan tidak menerimanya tetapi Rahma berpikir mungkin apa yang diberikan Anggara akan dibutuhkan diwaktu yang lebih tepat nanti oleh Athaya.
Rahma turun dari lantai dua tempatnya mengelola manajemen toko, toko itu masih mangadopsi nama yang sama dari nama toko kue milik kakak iparnya, walaupun toko itu sepenuhnya modal Rahma tapi Rahma tidak mau menghilangkan jejak kakak iparnya begitu saja. Apalagi bangunan yang ditempatinya masih milik kakaknya.
Rahma pernah meminta izin untuk pindah rumah dan tinggal berdua dengan Athaya, tapi dengan tegas Kakak dan Kakak iparnya melarang. Mereka sangat menyayangi Athaya dan tidak ingin jauh dengan putranya itu.
"Kalau hanya mau tinggal berdua, kakak tidak izinkan. Nanti rumah ini semakin sepi, apalagi Faiz dan Eza sudah mulai asik dengan dunianya masing-masing. Kakak gak mau jauh dari Athaya, rumah ini semakin sepi kalau kamu pindah. Apalagi Yusuf juga jarang pulang sekarang" ucap kakak iparnya ketika Rahma mencoba meminta izin untuk pindah dari rumah kakaknya,
"Dek, kakak itu pengganti orang tua kita. Kamu jangan sungkan jika ada apa-apa" kata-kata kakak ipar maupun kakaknya begitu membuat Rahma tenang, dia pun memutuskan untuk tetap tinggal bersama mereka.
"Fit, bagaimana keadaan toko hari ini?" Rahma menghampiri salah satu karyawannya yang sedang bertugas di bagian kasir.
"Alhamdulillah dari pagi sudah ramai Mbak, pesanan juga sudah menumpuk untuk besok" jawab karyawan yang bernama Fitri menunjukkan catatan beberapa pesanan hari ini.
__ADS_1
"Alhamdulillah, semoga makin berkah ya" ujar Rahma dengan senyum mengembang di bibirnya,
"Maaf Mbak, ada pembeli yang mau bolu pisang dalam jumlah banyak, tapi stok kita tinggal sedikit" Reni karyawan lain yang bertugas menjaga toko datang menghampiri Rahma dan Fitri yang sedang berbincang.
Karyawan yang dipekerjakan di tokonya memang hanya dua orang. Mereka adalah orang-orang yang direkomendasikan Mbak Yuni, teman sekaligus atasan Rahma di tempatnya mengajar. Mereka berdua hanya bertugas di toko cabang, sementara yaang mengantar kue dari toko utama adalah karyawan laki-laki yang biasa membantu proses produksi dan distribusi di toko utama.
"Oya, butuhnya berapa? yang ada berapa?" tanya Rahma, dia mengambil alih kursi kasir setelah Fitri menyerahkan laporannya,
"Katanya butuh dua puluh pak lagi, yang ada baru delapan sisa yang ada, Mbak" bolu pisang memang menjadi produk andalan di toko itu, meskipun banyak yang memproduksi bolu yang sama di toko lain tapi bolu pisang produksi toko Rahma memiliki kekhasan rasa tersendiri di lidah para konsumen sehingga membuat mereka ketagihan.
"Sebentar saya cek ke toko utama ya" ujar Rahma dengan meraih gagang telepon yang ada di hadapannya.
"Bagaimana Mbak, ada?" seorang wanita paruh baya namun terlihat masih sangat cantik datang menghampiri mereka.
"Sebentar Bu sedang ditanyakan ke toko pusat" jawab Reni yang tadi melayani ibu tersebut, sementara Fitri dia menganggukan kepala pamit untuk melayani pembeli lain setelah mendapat anggukan dari Rahma yang sedang bertelepon.
"Ibu, stoknya Alhamdulillah masih ada baru selesai produksi. Tapi butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di sini. Jika ibu berkenan menunggu pesanan akan diantar ke sini, bagaimana?" Rahma menyampaikan informasi yang disampaikan kakak iparnya melalui telepon, dia baru saja selesai membuat bolu yang baru untuk stok di toko utama yang juga sudah habis karena banyaknya pembeli.
"Oh begitu, baiklah saya akan menunggu. Kebetulan anak saya yang akan menjemput juga belum datang" jawab ibu pembeli itu,
"Kalau begitu silahkan duduk Bu" Rahma menyodorkan kursi yang dekat dengannya untuk pembelinya
"Terima kasih" jawab Ibu itu ramah,
"Mbak ini pemilik tokonya?" tanya ibu itu memulai obrolan ketika pembeli yang hendak membayar terlihat lenggang.
"Toko ini milik kakak saya Bu, kebetulan saya yang di percaya mengelola di toko cabang" jelas Rahma, ibu itu menatap lekat Rahma seperti mengingat-ingat sesuatu. Rahma terlihat salah tingkah karena merasa diperhatikan intens oleh pembelinya,
"Saya kok merasa gak adik ya sama adek, apa sebelumnya kita pernah bertemu? tanya ibu itu, akhirnya mengungkapkan kepenasarannya.
__ADS_1
"Saya...." ucapan Rahma terjeda karena kedatangan Reni yang mengantar seseorang mencari ibu pembeli.
"Mama sudah selesai?" tanya seorang pemuda tanpa melihat ke arah Rahma duduk, dia fokus pada wanita yang dipanggilnya mama itu. Sementara Rahma seketika membisu setelah mengetahui siapa anak yang ditunggu ibu pembeli itu.