Belenggu Akad

Belenggu Akad
Gagal Faham


__ADS_3

Pintu terbuka lebar, setelah sebelumnya Fajar mengetuk pintu itu dan mendapat jawaban untuk langsung masuk.


Tama memaku, dia menatap beberapa orang yang duduk melingkar di meja yang cukup besar.


"Mas, silahkan" Fajar membuyarkan fokus Tama yang hanya berdiri di ambang pintu tanpa ada pergerakan apapun. Semua orang pun menoleh ke arah pintu terbuka itu.


"Kamu sudah datang, Nak? Duduklah" Pak Hakim lebih dulu membuka suara, ibu masih sibuk melanjutkan obrolannya dengan kakak ipar tentang aneka resep kue andalan tokonya .


"Nah ini dia yang kita tunggu-tunggu dari tadi. Mbak-mbak cantik, mas, perkenalkan ini putra kesayangan mama" Bu Hakim memperkenalkan Tama pada kakak ipar dan Maya dengan penuh kebanggaan, di meja itu hanya tinggal mereka berlima. Kedua orang tua Tama, kakak ipar, maya dan suaminya.


Yusuf pamit keluar membawa keponakan-keponakannya yang ingin mengunjungi rooptop restoran yang disulap menjadi kafe dan sangat terkenal di dunia maya. Makanya mereka sangat antusias ketika diajak ke pertemuan malam ini. Biasanya anak-anak dari kakak sulungnya yang sudah menginjak remaja itu paling susah jika diajak ke pertemuan-pertemuan kedua orang tuanya yang menurut mereka selalu membosankan.


"Tama sayang, ini semuanya anak-anak almarhum sahabat Bapak asli dari Garut. Ini Mbak Maya, ini Mas Adam, dan ini kakak ipar mereka" Bu Hakim menyebutkan satu persatu orang yang ada di sana dan di balas Tama hanya dengan mengulas sedikit senyumnya.


"Anggota keluarga lainnya sedang keluar, sebentar lagi mereka datang" ucap Ibu selanjutnya, dia pun kembali melanjutkan obrolannya dengan Maya dan kakak ipar, sementara Pak Hakim pun melakukan hal yamg sama, kembali mengobrol dengan Adam seputar bisnis.


Tama merasa menjadi orang asing, dia pandangi satu persatu wajah baru yang ada di hadapannya. Tatapannya terhenti pada Maya, Tama merasa tidak asing dengan wajah itu.


"Kenapa Mas, tidak sabar ya ingin segera bertemu dengan calon istri?" Maya terkekeh melihat Tama yang kembali mengedarkan pandangannya dan lagi-lagi terhenti pada dirinya, dia pun sengaja menggoda Tama yang terlihat lucu di matanya.


"Hah....maksudnya?" raut wajah Tama langsung berubah, dia menatap sang mama penuh tanya yang hanya tersenyum mendengar candaan Maya.


"Sepertinya begitu Mbak Maya, putra saya ini sudah kebelet nikah, sudah kelamaan menunggu" balas Bu Hakim sambil terkekeh, dia tak kalah menggoda Tama mengabaikan tatapan putranya yang semakin tajam menatapnya.


Mendengar mamanya yang berbicara demikian Tama semakin menunjukkan wajah datarnya. Dia tidak sadar jika papanya dari tadi memerhatikan setiap gerak geriknya. Dalam hati Pak Hakim tertawa, sejak awal kedatangan Tama dia melihat putranya itu begitu gelisah dan sekarang raut wajahnya kembali berubah, ada kekesalan yang sedang berusaha dia tahan setelah digoda mamanya.


"Alhamdulillah ya Bu, sekarang sudah ketemu jodohnya" kakak ipar menimpali, mereka pun kembali tertawa bersama.

__ADS_1


"Iya, Alhamdulillah Mbak. Saya senang akhirnya punya anak perempuan, kalian juga." ujar mama Tama dengan senyum yang semakin mengembang di wajahnya.


"Terima kasih ibu sudah menganggap kami seperti anak sendiri, saya senang sekali serasa punya orang tua lagi" imbuh Maya tak kalah bahagia,


"Ngomong-ngomong, kapan rencana pernikahannya?" kakak ipar kembali ke topik pembicaraan awal mereka,


"Maunya sih secepatnya, iya kan Pa?" Bu Hakim meminta persetujuan suaminya.


"Iya" jawab Pak Hakim singkat, dia masih anteng mengawasi gerak-gerik putranya yang terlihat semakin gelisah.


"Mama juga yakin kalau Tama susah sangat siap untuk menikah, iya kan Tam?" mama beralih pada putranya yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, sekilas kemudian kembali menghadap dua wanita muda yang sudah dianggap putrinya juga.


Berbeda dengan tiga wanita yang ada dihadapannya yang tertawa dengan obrolan mereka tentang dirinya, Tama semakin tak mampu menahan gejolak di dadanya. Dia semakin yakin jika mamanya telah melakukan rencana konyolnya.


"Mama, maaf sebelumnya mengganggu obrolan. Apa maksudnya ini?" tanya Tama yang tak bisa membendung rasa penasarannya.


"Maksudnya apa Nak? tentu saja rencana pernikahanmu. Alhamdulillah lamaran kita diterima." jawab Bu Hakim dengan antusias,


"Mama, apa-apaan ini? kan aku sudah jelaskan jika aku menolak perjodohan ini" Tama semakin tidak bisa menahan emosinya, dia berbicara tanpa peduli ada orang lain di sana.


"Pratama, jaga sikapmu" Pak Hakim angkat bicara, dengan intonasi meninggi. Dia tidak suka dengan sikap sang putra yang berbicara sambil berdiri pada mamanya, walaupun masih dengan intonasi biasa tapi dari raut wajahnya Tama menunjukan jika dia sedang marah.


"Pa, aku..."


"Sudah Pa, enggak apa-apa. Putra kita hanya syok saja" Bu Hakim melerai, dia berbicara dengan santainya.


"Jelas aku syok Ma, tadi kan aku sudah bilang sama mama. Kalau aku sudah mempunyai pilihanku sendiri" Tama berkata dengan wajah frustasi. Sekilas diliriknya wajah dua wanita yang menyaksikan perdebatan mereka. Ada rasa canggung di hati Tama, dia tahu dia sudah berbicara di tempat yang salah. Tapi demi mempertahankan cintanya untuk Rahma dia tidak peduli itu.

__ADS_1


"Maaf mbak-mbak, saya tidak bisa menerima perjodohan ini. Sebelumnya sudah saya sampaikan pada kedua orang tua saya kalau saya sudah memiliki pilihan sendiri. Siapa wanita yang akan saya jadikan pendamping hidup saya." ucap Tama tegas, dia menatap Maya dan kakak ipar silih berganti semakin menegaskan kesungguhan ucapannya.


Bu Hakim semakin lebar tersenyum, dia berusaha menahan tawa, bahkan sampai membekap mulut dengan tangannya sendiri karena tak ingin rencananya mengerjai sang putra gagal.


"Benarkah mas Tama menolak perjodohan ini? lalu bagaimana dengan nasib kakak saya? tadi dia sudah sangat bahagia dengan perjodohan ini, lagi pula kedua orang tua mas Tama kan sudah juga sudah merestui. Ibu juga sudah memakaikan cincin di jari manis kakak saya mewakili mas Tama" melihat Bu Hakim yang mengerlingkan sebelah matanya Maya mengerti, dia pun mengikuti permainan yang ini. Sekaligus ingin mengetahui seberapa teguh pendirian calon kakak iparnya itu.


"Apa? Mama sudah memakaikannya cincin? Ma?" tama kembali beralih pada sang mama, dengan cepat bu Hakim memasang kembali wajah seriusnya. Dia mengangguk dengan mata berbinar menjawab pertanyaan Tama.


"Arggh...." geram Tama tertahan, dia benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi, tapi tidak mungkin dia meluapkannya pang kedua orang tuanya.


"Pa..." ucap Tama putus asa, dua terduduk dengan lesu, menatap sang papa yang sejak tadi hanya menyaksikan perdebatannya dengan sang mama.


"Terima saja Nak, percayalah... apa yang kami lakukan adalah yang terbaik untukmu" ucap Pak Hakim menenangkan, namun justru membuat Tama semakin terlihat kecewa.


Tama akhirnya menundukkan kepalanya, menekuri lantai tempatnya berpijak. Pikirannya kacau, dia tidak bisa berpikir dengan benar. Di benaknya terus menari-mari bayangan Rahma, wanita yang baru beberapa jam yang lalu menerima cintanya. Wanita yang selama bertahun-tahun selalu menjadi bidadari hatinya.


Tama semakin kalut tatkala ingat jika Rahma juga berada di tempat ini. Sungguh dia tidak ingin bidadari hatinya tahu dengan apa yang dialaminya malam ini. Dia sudah berjanji akan memperjuangkan cintanya di hadapan kedua orang tuanya. Tapi kini apa yang terjadi, Tama kembali terjebak pada rencana konyol kedua orang tuanya.


"Ma, Pa.....aku tidak bisa menerima perjodohan ini" sekali lagi ucap Tama dengan suara lirih bahkan terdengar pilu di telinga siapa saja yang mendengarnya. Putus asa dan tidak berdaya itulah gambaran Tama saat ini.


"Pokoknya mama sangat bahagia malam ini, akhirnya harapan mama untuk melihat kamu menikah akan segera terwujud. Jangan lupa berikan mama banyak cucu ya Nak" Bu Hakim terus berceloteh, dia mengumbar senyum bahagianya tanpa rasa bersalah sedikit pun melihat putranya yang sudah terlihat hancur.


"Mama, aku mencintai wanita lain Ma" Tama mendongak menatap sang mama dengan wajah sendu,


Di saat bersamaan, Rahma yang mengantar Athaya yang terbangun dari tidurnya ke tempat Yusuf dan keponakan-keponakannya bermain datang memasuki ruangan itu dan mendengar semua yang Tama katakan.


"Benarkah Pak?" Rahma langsung menyahut, membuat semua orang menoleh ke arah pintu yang terbuka dimana Rahma sudah berdiri di sana.

__ADS_1


Tana tersentak mendengar suara yang tidak asing di telinganya.


"Naura..." Tama berbalik ke arah sumber suara dan seketika membulatkan matanya.


__ADS_2