Belenggu Akad

Belenggu Akad
Akhir Kisah


__ADS_3

Jika Ahsan masih memaksimalkan ikhtiyar dalam memperjuangkan cintanya. Tama yang telah melewati masa-masa itu kini tengah meneguk manisnya buah perjuangan dan kesabaran.


Sepasang suami istri itu mendapatkan hadiah dari kedua orang tua Tama untuk berbulan madu. Tidak ada spesifikasi tempat yang diberikan, Mama Tama hanya mentransfer sejumlah uang yang harus digunakan keduanya untuk pergi berdua dan setelah melalui perbincangan dengan berbagai pertimbangan Rahma mantap menjawab jika dia ingin melaksanakan umroh ke tanah suci.


Keinginan mulia Rahma itu sudah pasti disambut gembira oleh Tama dan juga keluarga besar. A Budi, kakak Rahma bahkan awalnya akan melakukan perjalanan yang sama, namun kehamilan ketiga istrinya yang masih muda belum memungkinkan untuk mereka berangkat bersama.


Waktu kepergian Tama dan Rahma pun bertepatan dengan libur semesternya Athaya, hal itu tentu saja dimanfaatkan Anggara untuk meminta sang putra agar diizinkan tinggal bersamanya selama Tama dan Rahma melaksanakan umroh. Dengan senang hati Rahma dan Tama pun mengizinkan setelah sebelumnya menanyai dan memastikan Athaya bersedia dan tidak terpaksa untuk tinggal bersama ayah kandungnya untuk sementara waktu.


Saat ini Anggara sudah mulai kembali beraktifitas. Perusahaan yang beberapa bulan terbengkalai karena keadaan dirinya, kini mulai ditata kembali dan semakin berkembang. Keberadaan Athaya sungguh menjadi support yang luar biasa untuk Anggara. Kini setiap hal dalam hidupnya dia dedikasikan untuk sang putra. Semakin mendekatkan diri kepada sang pemilik kehidupan membuatnya semakin tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, dewasa dan bijaksana.


Hubungan Anggara dengan Friska pun mulai menemukan titik terang. Sering bergaul bersama circle Tama and the gank membuat Anggara semakin terbuka pikirannya. Mengikuti kajian atau sekedar berkumpul untuk berbagi kebaikan yang sudah rutin mereka lakukan di yayasan Tama, membuat Anggara nyaman. Kebersamaan mereka benar-benar memberi energi positif bagi jiwa raganya.


Awalnya Anggara hanya berusaha untuk menerima anak-anak Friska dan mengakuinya sebagai anaknya. Apalagi hasil tes DNA anak kedua mereka membuktikan jika gadis kecil itu adalah darah daging Anggara semakin membuka jalan membaiknya hubungan mereka.


Friska sangat bersyukur saat mengetahui niat baik Anggara yang ingin bertemu dengan putrinya, dia tidak berani berharap lebih, menerima pesan dari Anggara yang ingin bertemu dengan kedua putrinya saja sudah menjadi anugerah besar dalam hidupnya.


Semakin sering intensitas pertemuan Anggara dengan kedua putrinya membuat Anggara mulai kembali membuka hati. Perubahan Friska yang kini berhijab dan memilih membuka usaha di rumah dan hanya keluar jika mengikuti kajian itupun bersama Rahma, membuat Anggara pun mulai meliriknya kembali. Wanita yang lebih dari tujuh tahun menghuni hatinya itu kini benar-benar berubah.


Seperti sore ini, Anggara menghubungi Friska agar membawa anak-anak ke mall. Dengan bersemangat Anggara menuntun Athaya dan mereka bertemu di area permainan anak-anak.


"Terima kasih Mas" suara lirih Friska terdengar sangat tulus.


Anggara pun menoleh, saat ini mereka tengah duduk bersisian di tempat tunggu khusus orang tua, mengawasi anak-anak yang sedang bermain dengan gembira. Sesekali senyum menghiasi wajah keduanya, saat melihat perlakuan Athaya yang melindungi kedua saudaranya ketika hampir saja mereka terjatuh.


"Untuk apa?" tanya Anggara singkat, pandangannya masih mengarah pada anak-anak yang sedang asik bermain.


"Untuk kesediaan Mas kembali menjalin silaturahim dengan kami dan menerima anak-anakku." jelas Friska, dia mengusap ujung matanya yang tampak berkaca saat mengatakan hal itu.


"Mereka juga anak-anakku" ucap Anggara yang tidak disangka-sangka oleh Friska, dadanya menghangat, kebahagian seketika menyeruak membuat senyum kembali tersungging di bibirnya.


Dalam hati tak lupa Friska pun mengucap syukur, do'a- do'anya selama ini dikabulkan Allah. Dia yang Maha membolak balikan hati manusia, karena sifat Rahman dan Rahim-Nyalah semuanya terjadi.


Sejak saat itu, komunikasi antara Anggara dan Friska semakin membaik. Bahkan kedua orang tua Anggara pun mulai kembali membuka pintu hati dan pintu rumahnya. Belajar dari Rahma yang tulus, tanpa beban, tanpa dendam bersilaturahim.dan memperlakukan mereka seperti orang tuanya sendiri, berteman dengan Friska, membuat mantan ibu mertuanya itu pun mulai membuka hati.


Sebulan kemudian, Tama menjadi orang pertama yang dihubungi Anggara.


"Assalamu'alaikum" sapaan salam saat panggilan terhubung menjadi pembuka obrolan antara Tama dan Anggara.


"Wa'alaikumsalam, sorry bro, gue ganggu" keakraban mereka membuat panggilan keduanya pun lebih akrab, walau kadang panggilan aku kamu pun masih kerap terjadi di antara mereka.


"Enggak apa-apa, santai aja. Ada apa nih, tumben sekali pagi-pagi gini sudah nelpon?" tanya Tama yang penasaran.


Hari minggu selepas shalat subuh Anggara meneleponnya, padahal semalam mereka pun baru bertemu saat Anggara mengantarkan Athaya kembali ke rumah Rahma dan Tama yang saat ini sudah tinggal di rumah baru, hadiah pernikahan dari kedua orang tuanya yang dibangun satu komplek dengan yayasan Baitur Rahmah.


"Aku cuman mau ngabarin sesuatu. Ini adalah keputusan besar dalam hidupku, dan orang pertama yang ingin aku beritahu adalah kamu dan Rahma" jawab Anggara membuat Tama yang sedang bersiap untuk berenang bersama Athaya menghentikan sejenak gerakannya, fokus pada pembicaraannya dengan Anggara di telepon.


"Wah ada apa nih, jadi penasaran. Semoga ini adalah kabar bahagia" ujar Tama menerka,


"Insya Allah" jawab Anggara di ujung teleponnya,


"Jadi apa nih good news nya?" Tama semakin dibuat penasaran,

__ADS_1


"Aku dan Friska akan rujuk, Insya Allah kami akan kembali melakukan akad nikah" jelas Anggara akhirnya memberitahukan kabar baik yang menjadi tujuannya menghubungi Tama.


"Alhamdulillah" pekik Tama girang, Athaya yang menghampirinya pun tersentak karena kaget mendengar teriakan sang ayah.


"Papi, Thaya kaget" Athaya menepuk tangan Tama yang tidak memegangi ponsel.


"Haha...maag, maaf sayang. Ini ada berita gembira dari ayah" jelas Tama sejenak menghentikan obrolannya dengan Anggara,


"Kenapa Tam? Ada Athaya di sana?" tanya Anggara yang penasaran, karena mendengar Tama yang berbicara bukan dengan dirinya.


"Iya nih, kita lagi bersiap di pinggir kolam buat berenang" jawab Tama,


"Wah keren, kapan-kapan aku juga mau ikutan ya..." Anggara menanggapi tak kalah exited.


"Baiklah, tolong kamu sampaikan juga berita ini pada Rahma dan Athaya. Rencananya akad nikah akan di laksanakan hari Sabtu, dua minggu dari sekarang. Berbarengan dengan jadwal Thaya menginap di sini. Besok setelah meeting aku izin untuk menjemput Athaya dan akan datang ke kantormu membicarakan rencana ini langsung. Jika tidak keberatan, aku ingin kamu dan Rahma terlibat langsung dalam persiapannya."


Permintaan Anggara tentu disambut baik oleh Tama, dia kun memberi tahu Rahma dan Athaya perihal rencana akad nikah Anggara. Keduanya menyambut dengan baik, mereka turut berbahagia atas hidup baru yang akan ditempuh Anggara.


"Alhamdulillah aku turut berbahagia Mas" Rahma mengungkapkan kegembiraannya setelah mendengar berita dari Tama perihal Anggara, selain itu diapun mendapat telepon dari Friska jika Anggara melamarnya dan mengajaknya untuk segera menikah.


"Tentu sayang, aku juga turut berbahagia. Kita do'akan semoga semuanya lancar dan mereka menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, sehidup sesurga" balas Tama diiringi do'a tulus untuk Anggara dan Friska.


"Aamiin" sahut Rahma dengan senyum manis,


Tama meraih minuman yang dihidangkan oleh istrinya, dia baru selesai mengajari Athaya teknik berenang gaya baru dan saatnya kini mengawasi sang putra yang sedang mempraktikan gaya barunya.


"Mas, aku juga punya sesuatu buat mas" suara Rahma terdengar lirih, dia menundukkan kepalanya namun matanya memicing mencuri pandang ekspresi sang suami.


Tama menghentikan tegukannya, dia langsung menoleh ke arah sang istri. Dalam hati ada kekhawatiran, mendengar nada suara sang istri yang tidak seperti biasanya.


"Lihat Mas sayang, ada apa? Kamu baik-baik saja?" tanya Tama khawatir,


Rahma tersenyum, beberapa bulan menjadi istri seorang Pratama Ardhan Hakim dia masih mendapatkan perlakuan Tama yang selalu manis dan penuh perhatian.


"Aku..."


"Jangan sungkan sayang, katakan semua hal yang kamu rasakan, katakan semua hal yang kamu inginkan. Andalkan aku, aku akan berusaha memenuhinya" belum sempat Rahma melanjutkan ucapannya, Tama dengan menggebu-gebu sudah memotong. Perkataan Tama lagi-lagi membuat haru Rahma.


Syukur pun tak lupa selalu dia panjatkan , diberikan pasangan gang begitu menentramkan hati, jiwa dan raganya.


"Aku ..."


"Katakan sayang..." masih dengan wajah khawatir, intonasi bicara Rahma yang tampak ragu membuat Tama tak bisa bersabar.


"Aku hanya ingin memberikan ini Mas" Fahma mengeluarkan kotak kecil berbentuk persegi panjang dari balik hijabnya.


Tama mengernyit, menatap benda yang masih berada di tangan istrinya itu.


"Apa ini sayang?" Tama tak mampu menerka, dia belum mengambil benda itu dari tangan Rahma.


"Mas buka saja" Rahma mendekatkan benda itu di depan Tama dan langsung diambil oleh Tama dengan wajah yang masih tampak cemas.

__ADS_1


"Buka Mas" titah Rahma yang mulai mengulum senyum melihat ekspresi wajah suaminya.


Perlahan Tama pun membuka tutup kotak itu. Dilihatnya tiga benda dengan berbagai merk ada.di dalamnya. Terdapat dua garis berwarna merah pada ketiga benda itu.


Tama tahu betul benda apa itu, tapi saat melihatnya pikirannya mendadak blank, lidahnya pun kelu, dia hanya terus menatap ketiga benda itu yang kini sudah berpindah tempat di telapak tangannya.


"Mas, tidak ada yang mau kamu katakan?" karena sang suami tak kunjung bersuara, Rahma pun akhirnya bertanya.


"Sa...sayang...ini...ini punya kamu? Ini alat tes kehamilankan? ini artinya positif hamil kan? Sayang, kamu hamil? Beneran kamu hamil?" pertanyaan beruntun akhirnya terucap juga dari bibir Tama, dengan mata yang menatap bergantian antara benda di tangannya dengan wajah sang istri membuat Rahma terkekeh, merasa lucu dengan ekspresi yang ditunjukan suaminya.


Rahma pun mengangguk, namun ternyata fokus Tama masih belum kembali.


"Sayang kamu hamil?" ucapnya mengulang pertanyaan, memastikan jika apa yang dialaminya saat ini bukanlah mimpi.


"Iya Mas, aku sudah telat datang bulan dua minggu, pas aku cek ternyata hasilnya aku positif hamil" Rahma akhirnya memperjelas anggukan kepalanya, sontak hal itu membuat Tama seketika bersujud, mengucapkan syukur dan kemudian memeluk Rahma erat dengan air mata bahagia yang mengalir membasahi pipinya.


"Alhamdulillah, terima kasih sayang, terima kasih ya Allah, terima kasih sudah memberi kami anugerah indah ini, amanah berharga yang akan kami jaga dengan segenap jiwa dan raga kami" ucapnya diiringi isak tangis sebagai ekspresi kebahagiaannya.


Melihat kedua orang tuanya yang berpelukan membuat Athaya pun mengakhiri kegiatan berenangnya.


"Bunda kenapa?" Athaya menghampiri keduanya, Rahma yang turut haru kini sedang mengusap air mata yang juga membasahi pipinya.


Tama melepaskan pelukannya dari sang istri, dia menoleh pada Athaya dengan air mata yang masih bersisa di pipinya.


"Papi kenapa menangis?" tanya Athaya semakin heran melihat kedua orang tuanya menangis.


"Sayang, papi dan bunda menangis karena bahagia" Tama membentangkan satu tangannya agar sang putra memeluknya,


"Sebentar lagi Athaya akan jadi kakak, dalam perut bunda ada adek bayi, adeknya Kakak Thaya" Tama mengarahkan tangan mungil Athaya ke perut Rahma,


"Bunda hamil? Bunda akan melahirkan adek bayi?" seru Athaya riang dan dijawab anggukan kompak oleh kedua orang tuanya,


"Alhamdulillah, horeee....Thaya bakal punya adik, horeee.....Thaya jadi kakak."


Athaya pun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, ketiganya berpelukan, berucap syukur atas kebahagiaan mereka, dalam hitungan kurang dari sembilan bulan akan ada anggota baru dalam keluarga mereka.


Tamat


Alhamdulillah, kisah Rahma berakhir sudah. Terima kasih untuk para pembaca setia, semoga ada hikmah dan kebaikan yang dapat diambil dari karya sederhana ini.


Pesan terakhir dari kisah ini "Menikah itu bukan seberapa cepat tapi seberapa tepat. Menikahlah dengan laki-laki yang orientasinya sehidup sesurga denganmu. Dia yang akan melakukan apapun untuk memenuhi hak-hakmu sebagai pasangannya. Mengutamakan kebahagiaanmu dan mengingatkanmu selalu pada Allah. Agar bersama menggapai Jannah-Nya.


Kisah Ahsan dengan Liani Insya Allah akan dirilis dilanjut dalam novel "di bawah langit jingga". Jika berkeluangan waktu silahkan dibaca juga ya.😍


Terima kasih atas setiap like, vote, bunga dan dukungan lainnya. Kalau mau nambah boleh ya....🤩


Semoga Allah balas dengan kebaikan yang berlipat ganda.


Terima kasih semuanya😍


Salam penuh kasih,

__ADS_1


Lailatus Sakinah


#janganberhentitumbuh


__ADS_2