
Tepat pukul 8 pagi, hari Senin. Sesuai rencana Rahma benar-benar akan menghabiskan waktu satu minggu liburannya untuk keliling Garut. Setelah seharian kemarin berwisata kuliner di Kerkof dan alun-alun Garut juga sempat mampir ke Sukaregang untuk berbelanja tas dan sendal yang berbahan baku kulit itu, hari ini Rahma sudah janjian sama Shanum untuk mengunjungi objek wisata Gunung Papandayan.
Bangun sebelum subuh sudah menjadi rutinitasnya, Rahma menyiapkan semua kebutuhan dirinya dan Athaya selama di Papandayan. Dia pun berencana untuk sekalian check out pagi ini juga dari tempatnya sekarang menginap. Saat semua persiapannya selesai, tepat bersamaan dengan terdengarnya kumandang adzan Shubuh. Dia pun bergegas membangunkan Athaya yang masih bergelut dengan selimutnya. Sudah menjadi kebiasaan, jika Rahma akan membangunkan sang putra saat Adzan agar bisa melaksanakan shalat subuh berjamaah.
"Sayang..bangun...Thaya sayang...bangun yukk...sudah adzan subuh, kita shalat bareng. Bunda sudah siap nih" dengan penuh kelembutan Rahma membangunkan Athaya yang tidur sangat pulas, mungkin karena kelelahan setelah aktifitas di luaran seharian kemarin.
Seolah sudah menjadi alarm, sentuhan dan kata-kata sang bunda langsung membuat Athaya terbangun, di usianya yang menginjak lima tahun ini dia termasuk anak yang mandiri. Rahma mendidiknya dengan sangat baik.
"Bunda...tunggu dulu, aku mau wudhu dulu" rengek Athaya dengan suara serak dan mata yang masih terpejam membuat Rahma gemas sendiri melihat tingkah sang putra.
"Siap, Bunda tunggu...sampai hitungan 10 sudah siap" gertak Rahma dengan suara bariton, membuat sang putra seketika membulatkan matanya dan segera turun dari tempat tidur, berlari ke kamar mandi.
"Ha..ha..." pecah juga tawa Rahma melihat tingkah sang putra, dalam hati tak henti-hentinya dia bersyukur mempunyai putra yang menurut dan bisa diajak kerja sama dengan baik. Walaupun dia berstatus sebagai single parent tetapi Athaya tidak sepenuhnya kehilangan kehadiran sosok seorang ayah dalam hidupnya. Yusuf dan Budi hadir untuk melengkapi kebutuhan putranya, mereka tampil sebagai figur seorang ayah.
Hingga usia Athaya yang dua bulan lagi genap berusia lima tahun, sejujurnya Rahma kadang menyesalkan jika Anggara sebagai ayah kandungnya masih belum mampu memberikan perhatian yang layak untuk putra kandungnya. Rahma tidak mau menuntut, selama ini dia sudah cukup memberi Anggara peluang dan kesempatan untuk bisa memberi perhatian pada Athaya, tetapi mantan suaminya itu hanya sebatas mentransfer uang dan menanyakan kabar putranya melalui pesan yang dapat dihitung dengan jari berapa kali dia mengirimi Rahma pesan untuk menanyakan kabar Athaya. Entahlah, Rahma tidak habis pikir dengan perilaku mantan suaminya. Namun dia tidak mau terlalu peduli. Prioritasnya saat ini adalah memastikan Athaya hidup dan tumbuh dengan baik, dan selama ini Athaya sudah tumbuh dengan baik.
Tok...tok...tok....
Suara ketukan pintu menghentikan suara Athaya yang sedang membaca surat-surat pendek yang didengarkan oleh Rahma. Sesekali Rahma membenarkan bacaan Athaya yang kurang tepat dan mengingatkan sang putra ketika ada yang lupa. Rutinitas ba'da subuh yang selalu dilaksanakan mereka berdu'a. Saat ini hafalan Qur'an Athaya sudah menginjak juz 28. Sekolah tahfidz yang diikutinya sejak setahun yang lalu serta bimbingan sang bunda di rumah membuatnya selalu bersemangat menambah hafalannya.
Rahma memberi kode pada Athaya untuk melanjutkan hafalannya, dia beranjak dari atas sajadah dan berjalan menuju pintu. Rahma yakin Yusuf yang mengetuk pintu.
"Gimana dek?" tanya Rahma setelah membuka pintu kamarnya lebar, dia memberi akses pada Yusuf untuk memasuki kamarnya.
"Aku akan berangkat pagi ini Teh, rapat di perusahaan todak bisa diwakilkan pada yang lain. Aku harus hadir" Yusuf mengikuti sang kakak yang melangkah menuju sofa yang ada di kamar itu.
"Iya, enggak apa-apa. Insya Allah teteh dan Athaya akan baik-baik saja di sini. Setelah dari papandayan nanti kita akan ke rumah bi Asih. Sudah lama teteh tidak mengunjungi beliau" ucap Rahma menenangkan Yusuf yang terlihat khawatir. Bi Asih adalah saudara jauh almarhumah bapaknya Rahma, dia juga yang diamanahi untuk menjaga rumah peninggalan almarhum kedua orang tuanya semenjak Rahma dan Yusuf memutuskan untuk mengikuti sang kakak yang berpindah tugas di Jakarta.
"Baiklah kalau begitu, kabari aku sesering mungkin. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya, Teh" Yusuf menggendong Athaya yang sudah menyelesaikan hafalannya dan berjalan ke arahnya,
__ADS_1
"Hey Boy ....jagain bundamu ya. Jagoan omm harus berani" Yusuf membawa Athaya ke dalam pangkuannya.
"Siap delapan anam...." jawab Athaya dengan tangan kanan yang ditempelkan di pelipis kanannya, dia tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya menatap sang paman.
"Sipp...keponakan omm memang the best. Nanti omm jemput lagi, oke?!" Yusup mengacungkan jempolnya, dan dibalas dengan dua jempol oleh Athaya.
Sementara Yusuf sedang berbincang dengan Athaya, Rahma segera bersiap untuk mengantar Yusuf ke stasiun. Pagi ini rencananya dia akan kembali ke Jakarta menggunakan kereta.
Lisna yang sudah mengetahui jika sahabatnya itu akan mengantar adiknya ke stasiun, segera mendatangi kamar Rahma. Dia akan mengajak Athaya untuk bermain dengannya sementara Rahma mengantar Yusuf ke stasiun.
Udara subuh yang dingin di kota Garut masih terasa menusuk hingga ke tulang. Alam pun masih terlihat temaram ketika Tama memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Bermaksud untuk menghirup udara segar, semalam dia tidak dapat memejamkan matanya. Bayangan wajah Rahma yang terlihat syok saat menyadari keberadaannya mendapati semua tingkahnya saat ketiduran dalam mobil terus menari-nari di pikirannya. Senyum seketika menghiasi wajahnya saat mengingat kejadian unik itu.
Tama menghentikan aktivitas olah raga ringannya saat mendengar suara mobil menderu. Dia menengok ke sumber suara, mengernyitkan dahi karena mobil yang dia kenali milik siapa tengah melaju keluar dari pintu gerbang villa.
Sekilas Tama melihat sosok berhijab yang mengendarai mobil itu, itu adalah mobil yang dikendarai Yusuf. Mungkinkah itu Rahma, tapi mau kemana mereka di pagi buta seperti ini, Tama membatin.
Waktu yang direncanakan pun akhirnya tiba. Rahma sudah bersiap dengan barang bawaannya. Seorang petugas villa sedang membantunya memasukan barang-barang ke dalam mobil. Begitupun dengan Lisna, terlihat Regy tengah memasukan barang-barang mereka.
Rahma membeku, dia serasa enggan untuk membalikan tubuhnya. Kejadian semalam kembali melintas di pikirannya, rasa malu kembali menyergap hatinya. Bagaimana semalam dia bisa seceroboh itu, karena Yusuf yang menyetir dia benar-benar tidak ingat jika dirinya menumpang pada mobil Tama. Hampir saja Tama akan menggendongnya semalam.
"Sudah siap?" karena merasa tidak ada jawaban Tama pun kembali bersuara dengan bertanya.
"Su...sudah Pak, alhamdulillah" jawab Rahma gugup, dia belum berani membalikan badannya dan masih membelakangi Tama,
"Omm....aku sudah siap, omm mau ikut juga kan?" Athaya keluar lagi dari mobil saat melihat keberadaan Tama di belakang mobil dari kaca spion yang tergantung di atas kemudi,
"Hay Boy....sudah siap? omm sebenarnya ingin sekali ikut, tapi omm ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda" jawab Tama dengan wajah sedihnya,
"Yaaah gak seru dong" ujar Athaya dengan wajah tak kalah sedih, mendengar itu ada kelegaan di hati Rahma. Sejak semalam dia memang berharap Tama tidak lagi mengikuti kemana dirinya pergi, sejujurnya seharian kemarin bersama pria itu membuat hati Rahma tidak karuan. Jantungnya bahkan berdetak lebih kencang saat berdekatan dengan Tama. Apalagi pria itu selalu punya alasan untuk dekat dengannya karena Athaya yang sudah sangat akrab dengannya.
__ADS_1
"Maaf....." Tama semakin berwajah suram saat mendengar tanggapan Athaya, dia semakin merasa khawatir melepas dua orang yang sangat berharga untuk dirinya itu apalagi setelah dia tahu jika Yusuf sudah pulang karena pekerjaannya di Jakarta tidak bisa ditinggalkan. Tadi pagi Yusuf mengiriminya pesan untuk berpamitan pulang duluan.
"Pokoknya kalau urusan omm selesai, secepatnya omm akan susul kalian. Oke?" Tama mengacungkan lingkaran ibu jari dan telunjuknya ke hadapan Athaya dan di balas dengan acungan jempol oleh anak menggemaskan itu.
Berbeda dengan Athaya yang tampak bahagia, Rahma kembali menjadi resah ketika Tama mengatakan akan menyusulnya jika pekerjaan selesai. Jika itu terjadi maka dirinya kembali akan merasakan perasaan yang tidak menentu, apalagi peristiwa semalam sudah membuatnya cukup malu. Rasanya untuk berhadapan dengan Tama saja Rahma belum berani.
"Kenapa kamu terus membelakangiku?" Tama yang sudah menurunkan Athaya dan memintanya kembali masuk ke dalam mobil kembali menghampiri Rahma yang masih merapikan barang-barang di bagasi mobilnya.
Rahma menoleh sekilas namun kemudian kembali membelakangi Tama dan menutup pintu bagasi mobilnya.
"Maaf Pak" Rahma akhirnya membalikkan tubuhnya hingga akhirnya mereka saling berhadapan namun Rahma masih menundukkan pandangannya.
"Pak Tama mau berangkat sekarang?" Rahma berusaha menetralkan kembali perasaannya, dia pun berbicara panjang untuk menutupi kegugupannya,
"Tidak" jawab Tama singkat dia tahu jika Rahma gugup, dan dia yakin jika ini karena peristiwa semalam.
Melihat kegugupan Rahma, Tama merasa punya peluang untuk menggoda Rahma. Dia sangat menyukai wajah Rahma yang merona karena malu dan juga bingung karena tidak tahu apa-apa. Kesempatan ini tidak akan Tama sia-siakan tentunya.
"Kenapa? kamu mau aku ikut?" goda Tama dengan senyum menyeringai dan langsung dijawab gelengan kepala cepat oleh Rahma,
"Atau kamu mau aku gendong?" goda Tama lagi membuat Rahma seketika membulatkan matanya dan menatap tajam Tama.
Tama tergelak, tingkah Rahma kembali membuatnya gemas. Dia benar-benar baru mengetahui sisi lain dari Rahma yang selama ini selalu tampil dewasa, jaga imej dan serius.
"Beneran kamu mau melanjutkan rencana Semalam?" ucap Tama setengah berbisik dia sedikit memajukan wajahnya mendekati telinga Rahma yang jantungnya semakin berdetak kencang karena sikap Tama tersebut.
"Pak!" pekik Rahma karena kesal,
Bukannya marah atau kaget melihat Rahma yang semakin merona setelah digoda olehnya. Hal itu justru membuat Tama semakin tergelak merasa lucu dengan kegugupan Rahma, Tama pun tak segan melangkahkan kakinya satu langkah lebih dekat dengan Rahma. Dia kembali memajukan wajahnya mendekati telinga Rahma.
__ADS_1
"Tenanglah, kejadian semalam aman. Hanya akan menjadi rahasia kita. Kita berdua" bisik Tama di telinga Rahma, setelahnya dia pun berlalu berjalan ke arah Regi dan Lisna yang sudah siap.