Belenggu Akad

Belenggu Akad
Nasehat Sahabat


__ADS_3

"Harusnya waktu itu aku cukup mengagumimu saja, tanpa meletakan perasaan apa-apa..." Tama bergumam pelan dengan menghembuskan napas berat, dirasa tidak ada yang akan mendengar gumamannya.


Namun lagi-lagi telinga Regi, orang kepercayaan sekaligus sahabatnya itu sangat tajam untuk mendengar semua yang diucapkannya. Walau pun sangat pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Regi karena jarak mereka yang cukup dekat.


"Nyesek, Boss? haha....." cibir Regi dengan tawa yang cukup keras hingga beberapa guru yang berada di meja yang berdekatan dengan meja mereka melirik heran dan menatap dengan senyum yang penuh tanya. Ada apa gerangan dengan atasan mereka yang biasanya irit tawa itu.


"Sialan lu..! Tama meninju bahu Regi dan mengumpatnya, berhasil dibuat mati kutu dengan ejekan dari sahabatnya.


"Haha....." tawa Regi kembali terdengar cukup keras, bahkan kali ini Anggara dan Rahma yang akan beranjak kembali ke pelaminan menemani pengantin sempat menoleh ke arah mereka.


"Bisa diam gak lu? lihat tuh tuan rumah sampe keheranan liat lu ketawa" hardik Tama dengan wajah datar karena kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.


"Oke...oke...oke, sorry Boss" Regi menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan senyum yang masih tertahan.


"Ishhh" Tama kembali melanjutkan aktivitasnya menikmati dessert puding coklat toping strawberry kesukaannya yang kebetulan ada di salah satu stand,


"Tapi Bro...." Tama kembali berbicara disela aktivitasnya menikmati puding itu,


"Apa?" Regi pun menoleh,


"Gue berasa gak asing dengan wajah suaminya Naura" ujar Tama membuat Regi tertarik untuk memperhatikan secara lekat wajah Anggara yang berdiri di pelaminan,


"Oya? kamu pernah bertemu dia sebelumnya?" tanya Regi penasaran,


"Entahlah, gue gak ingat dimana pernah bertemu dia. Cuman gue berasa gak asing aja sama wajah itu, kayaknya gue pernah ketemu dia tapi gak inget dimana" Tama sudah memutar ingatannya ke beberapa peristiwa yang sempat dia alami beberapa waktu ke belakang, berbagai pertemuan dengan klien ataupun acara-acara perusahaan pun dia ingat-ingat.


Tapi ingatannya tak cukup kuat untuk menyimpulkan dimana pernah bertemu dengan Anggara yang menurutnya tidak asing itu.


"Sudahlah Boss, sekarang lebih baik move on. Gak baik mencintai istri orang, gak mau jadi pebinor kan? apa kata dunia jika seorang pengusaha muda Pratama Ardhan ternyata seorang pebinor" kali ini Regi berbicara cukup pelan yang hanya didengar oleh Tama.


"Sialan lu!" Tama kembali meninju bahu sahabatnya itu yang mengakhiri ocehannya dengan tergelak tanpa suara.


Sementara di pelaminan, tamu yang mulai lenggang membuat Rahma bisa duduk untuk mengurangi pegal di kakinya karena lama berdiri saat menyalami tamu yang mengantri panjang. Sepertinya jam makan siang menjadi pilihan orang-orang untuk menghadiri undangan di resepsi sang adik.


"Siapa dia?" Anggara turut duduk di samping Rahma setelah sesaat mengobrol dengan rekan kerjanya yang bertugas di Garut yang kebetulan merupakan undangan di pernikahan adik iparnya itu.


"Siapa?" Rahma balik bertanya karena tidak tahu siapa yang dimaksud Anggara,


"Tuh" Anggara menunjuk ke arah Tama dan Regi yang tengah mengobrol santai,

__ADS_1


"Pak Regi dan Pak Tama?" tanya Rahma,


"Ckk....siapapun namanya aku gak peduli" jawab Anggara datar,


"Lah ... kan tadi kamu nanya, siapa mereka. Tadi juga kan udah kenalan waktu mereka salaman" balas Rahma dengan sedikit tergelak merasa lucu dengan apa yang dikatakan suaminya,


"Kamu yang nanya tapi kamu gak mau tahu, aneh" lanjut Rahma dengan senyum tertahan,


"Maksudku dia siapa kenapa sampai ngeliatin kamu terus dari tadi, mantan kamu?" Anggara memperjelas arah pembicaraannya,


"Mantan?" Rahma kembali tergelak bahkan kali ini sedikit keras karena mendengar prasangka suaminya,


"Sepertinya kalau aku pernah punya kekasih aku tidak akan menikah denganmu, Mas" lanjut Rahma membuat Anggara mengernyitkan dahinya,


"Maksud kamu?"


"Kalau aku punya kekasih sebelum bertemu denganmu, mungkin aku sudah menikah dengan kekasihku itu dan tidak akan bersamamu saat ini. Dari dulu aku tidak suka pacaran, karena bagiku hubungan dengan label halal lebih menenangkan" jawab Rahma cukup panjang yang membuat Anggara hanya bisa melongo.


Dia menatap tanpa jeda wanita yang sudah sah menjadi pasangan halalnya itu. Untuk ke sekian kalinya terpesona dengan kesederhanaan yang menyembunyikan kecantikan gadis itu, terhipnotis dengan karakter dan prinsip kuat yang dimilikinya. Seiring waktu Anggara semakin sering menemukan sesuatu yang lain dari Rahma dan berhasil mengusik hati dan pikirannya.


Bahkan sejak mereka didaulat menjadi pasangan yang serasi dan harmonis dalam acara kedinasan yang mereka hadiri, bayangan Rahma selalu menari-nari di pikiran Anggara padahal dirinya sedang bersama Friska.


"Benarkah?" Anggara masih tak melepas pandangannya dari Rahma, dia bertanya untuk memastikan dengan salah satu sudut bibirnya terangkat,


"Tidak perlu dibahas lebih lanjut, tidak penting juga kan? sepertinya tidak akan berdampak apapun untukmu dan rumah tangga kita" telak, Rahma menjawab dengan kalimat yang membuat Anggara speechless, lidahnya mendadak kelu, pikirannya buntu tak tahu harus menjawab apa. Untung saja kedatangan para tamu akhirnya menghentikan perbincangan mereka.


Interaksi antara Rahma dan Anggara yang lebih tepat disebut perdebatan, ternyata terlihat lain di mata seorang laki-laki yang masih menyimpan nama Naura Rahmania. Hati Tama terasa sesak saat melihat interaksi antara suami istri itu.


Dari kejauhan mereka tampak sedang berbincang santai, menandakan keharmonisan begitu indah terjalin dalam rumah tangga mereka. Posisi Rahma dan Anggara yang terlihat sedikit saling berhadapan terlihat begitu romantis.


"Gue mau tahu tentang suaminya Naura, tolong lu siapkan" Tama berkata dengan pandangan yang masih tertuju ke arah pelaminan,


"Masih mau lanjut Boss?" kekeh Regi, dia tahu Tama adalah tipe pria yang tidak mudah jatuh cinta dan sayangnya sekalinya jatuh cinta dia harus terjebak perasaan terhadap orang yang tidak tepat,


"Jangan banyak tanya, lu kerjakan saja tugas yang gue kasih" hardik Tama pelan, dia pun beranjak dari tempat duduknya untuk berpamitan pada Rahma dan kedua mempelai.


"Eh mau kemana?" tanya Regi kaget yang melihat Tama tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah pelaminan, dia pun buru-buru menyusul Tama.


"Pulang, gue masih banyak urusan di Garut, sekarang gue mau ke rumah sakit di daerah Wanaraja. Ada temen yang dirawat di sana" jawab Tama apa adanya, setelah menghadiri undangan Rahma di pernikahan adiknya Tama memang berencana akan menjenguk Shanum. Kabar terbaru yang diterimanya dari Akhtar, Shanum mengalami koma.

__ADS_1


"Oya? ada temanmu lagi di sini selain aku gitu?" ejek Regi bertanya seolah tak percaya, pasalnya selama ini Tama hanya bersama dirinya jika ke Garut.


"Hey, lu pikir temen gue di sini cuman lu?" jawab Tama balik bertanya pada sahabatnya itu,


"Iya" jawab Regi polos,


"Siapa dia?" tanyanya penasaran,


"Lu tahu pengusaha furniture yang sekarang lagi naik daun? waktu itu lu bilang pernah hadir di grand opening meubelnya" ucap Tama mencoba mengingatkan Regi. Dulu Tama pernah mendapat laporan jika ada undangan untuknya untuk menghadiri pembukaan meubel FDF milik Akhtar, sayangnya Tama tidak bisa hadir karena sedang berada di luar negeri dan meminta agar Regi yang datang menggantikannya,


Sebagai sesama pengusaha muda kehadiran sesama pengusaha akan menjadi dukungan moril yang luar biasa.


"Akhtar Farzan Wijaya?" tebak Regi setelah mengingat pengusaha meubel yang sedang viral saat ini. Selain karena kualitas barangnya yang sangat bagus, harga yang sesuai kualitas, pelayanan seluruh karyawannya juga begitu prima membuat meubel milik pengusaha mudah itu berkembang dengan pesat.


"Ya, kami bertemu lagi beberapa hari yang lalu di Malaysia dan kami pun sepakat untuk bekerja sama dalam pengadaan furniture di hotel yang sedang aku bangun, termasuk di kantor yayasan dan sekolah. Nanti kamu langsung datang ke meubelnya dan sampaikan pesanan yang sudah kita siapkan" jelas Tama panjang lebar, mereka pun pamit dan meninggalkan pesta itu.


"Gak usah nengok ke belakang lagi, nanti makin susah lo nyembuhinnya" Ragi merangkul bahu Tama yang masih menengok ke arah Rahma saat mereka hampir saja keluar dari area pesta itu.


"Sialan lu, tahu aja kalau gue masih penasaran" jawab Tama tidak mengelak, membuat tawa Regi kembali pecah.


"Jodoh pasti bertemu......." Regi hanya bersenandung merespon Tama yang masih dengan mode kesalnya karena lagi-lagi diejek Regi,


"Sudahlah Bro, ada saatnya kita tak punya pilihan selain diam dan menerima keadaan" Regi berkata serius, sungguh dia tak ingin melihat sahabatnya itu larut dalam perasaan yang salah,


"Apa yang memang ditakdirkan untukmu, pasti akan menjadi milikmu. Begitupun sebaliknya, jika memang bukan untukmu sampai kapan pun tidak akan menjadi milikmu" Regi kembali meluncurkan nasihat bijaknya.


Sebagai alumni universitas islam negeri, Regi kerap jadi penasehat di antara teman-temannya saat mereka bersama. Penuda yang juga masih betah melajang itu pun sering menjadi tong sampah untuk teman-temannya kala mereka butuh teman bicara.


"Bukan salah gue mencintai dia, rasa ini tiba-tiba saja tumbuh begitu kuat di hati gue" Tama mencoba beralibi, saat ini mereka sudah berada dalam mobil dengan Regi yang duduk di balik kemudi.


"Sama halnya dengan hujan, ia tak memilih tempat mana yang akan dibasahi. Begitu pun dengan kita, tidak dapat mencegah rasa itu tumbuh. Namun kita bisa memilih dimana rasa itu akan berlabuh" ucap Regi,


Sejenak sasana hening, helaan nafas berat terdengar dari Tama. Dia larut dalam pikirannya sendiri, setiap kata yang Regi ucapkan berusaha untuk dia cerna.


"Menyukai bukan berarti harus memiliki kan?" Tama kembali berargumen,


Regi menoleh ke arah sahabatnya yang duduk tepat di sampingnya sambil tersenyum.


"Kalau tidak bisa ambil hatinya, ambil saja hikmahnya" pungkasnya masih dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2