
Makan malam menjadi momen semua orang-orang dekat Lisna dan Regy berkumpul dalam satu tempat, orang tua, saudara dan sahabat-sahabat mereka membersamai kedua pengantin baru itu dan menjadi bagian dari kebahagiaan mereka.
Sejak resepsi selesai masing-masing tampak asik dengan dunianya dan urusannya sendiri-sendiri di tempat yang berbeda walau masih berada di satu lokasi. Setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk melepas penat setelah acara seharian yang lumayan menguras energi namun menyisakan kebahagiaan di hati setiap orang atas kebahagiaan dua insan dengan status baru yang mereka sandang.
Senyum mengembang di bibir semua orang yang sudah berkumpul di meja makan besar yang sengaja di request agar dapat menampung semua anggota keluarga, namun perlahan senyuman di setiap wajah memudar saat kedua mempelai yang mereka nantikan sejak tadi muncul dengan wajah pengantin pria terlihat lebam. Regy tetap menampilkan wajah dengan senyuman mengembang di bibirnya saat semua mata tertuju padanya, berbeda dengan Lisna yang tampak sedikit murung.
Obrolan sore antara Rahma dan Lisna berakhir dengan lantunan adzan yang berkumandang di akhir senja. Mereka pun berpisah dan kembali ke kamar masing-masing dan berjanji akan kembali berkumpul untuk makan malam bersama selepas shalat Isya.
Sebelum berpisah tadi sore, Rahma yakin jika Lisna baik-baik saja, tapi malam ini entah kenapa kekhawatiran menerpa dirinya melihat Lisna yang murung dan Regy yang datang dengan wajah sedikit lebam.
"Assalamu'alaikum, maaf menunggu lama ya?" Regy memecah keheningan yang tiba-tiba menyergap ruangan itu sejak kedatangannya,
"Wa'alaikumsalam" serempak semua pun menjawab walau terlambat, karena semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing setelah melihat wajah Regy.
"Maaf ya...hehe.." ujar Regy diakhiri dengan kekehan,
"Nak kamu ke...."
"Assalamu'alaikum, selamat malam semuanya. Maaf saya terlambat" mama Regy yang akan bertanya perihal keadaan putranya terjeda karena kedatangan seseorang yang tak lain adalah Tama dengan wajah yang tak jauh neda dengan Regy membuat semua orang kembali terkejut dan suasana kembali mendadak hening.
"Assalamu'alaikum" Tama kembali mengulangi ucapan salamnya saat menyadari tidak ada satu pun orang yang merespon ucapan salam pertamanya.
"Wa'alaikumsalam" jawab semuanya kompak mereka kembali tersadar saat mendengar ucapan salam Tama untuk kedua kalinya, Rahma bahkan tidak mengira jika laki-laki yang tadi dibicarakan oleh Lisna kini berdiri di hadapannya dan mereka akan makan bersama di meja yang sama.
"Omm ganteng kenapa wajahnya? Omm Regy juga?" tanya Athaya sambil menunjuk ke arah wajah Tama dan Regy. Pertanyaan Athaya sontak menyita perhatian semua orang, mereka semua penasaran dengan apa yang terjadi pada dua pria itu,
__ADS_1
"Sayang...." Rahma merangkul Athaya, menutup mulut Athaya agar tidak lagi bertanya karena merasa tidak sopan, dia takut Tama tersinggung dengan pertanyaan anaknya itu karena terlalu ingin tahu.
"Omm tadi jatuh karena lantainya licin dan omm ditolong sama Omm Regy, tapi Omm Regy nya kurang kuat jadinya kita sama-sama jatuh" jawab Tama bohong, dia tidak peduli dengan tatapan keraguan dari orang-orang dewasa yang menatapnya, fokusnya hanya pada Athaya yang duduk tepat di samping kirinya. Regy berdecak kesal mendengar jawaban Tama untuk pertanyaan Athaya, dia kesal karena dikatakan tidak kuat.
"Iya kan Omm..." Tama menyikut lengan Regy yang juga duduk bersebelahan dengannya untuk membenarkan ucapannya,
"Hah...i..iya Boy, tadi omm berdua jatuh, ...uuh ..." Regy mengaduh karena tertawa terlalu lebar sementara sudut bibirnya sedikit terluka.
"Kasian....."ucap Athaya dengan gaya yang lucu dan ekspresi wajah menggemaskan membuat suasana yang sedikit tegang berubah menjadi riuh tawa karena aksi anak itu.
"Lain kali hati-hati ya Omm-omm" ucapnya lagi dengan mengacungkan sendok dan garpu yang sudah dipegangnya.
"Bunda Thaya lapar...." pungkasnya merajuk pada sang Bunda, membuat Tama tersenyum gemas dan mengacak-ngacak rambut anak lucu itu. Rahma sempat menatap sekilas dengan apa yang dilakukan Tama pada putranya, hatinya menghangat merasa bahagia karena ternyata ada pria lain yang menyayangi putranya selain kakak dan adiknya.
Tama melirik ke arah Rahma, pandangan mereka bertemu. Rahma pun langsung mengalihkan pandangannya dan kembali fokus pada makanannya dengan sesekali menyuapi Athaya.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, kebersamaan dua keluarga di ruang tengah yang berada di lantai satu selepas makan malam tadi rupanya akan berakhir. Athaya yang sedang bermain dengan keponakan-keponakan Lisna pun mulai menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Rahma memang sudah merutinkan jika jadwal tidur Athaya maksimal pukul sembilan.
Selama kebersamaan mereka Rahma sama sekali tidak melihat Tama mau pun kedua mempelai, setelah makan malam Tama pamit karena ada urusan penting. Dan tidak lama kemudian pengantin baru pun berpamitan.
Kedua orang tua Regy dan Lisna sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Kakak Lisna dan istrinya pun pamit karena anak mereka pun tampak sudah kelelahan. Yusuf meminta izin untuk bertemu dengan teman-temannya yang ada di Garut, mereka janjian untuk bertemu di sebuah kafe yang masih berada di wilayah Cipanas. Dia pergi setelah terlebih dahulu menggendong Athaya ke kamar Rahma di lantai atas. Rahma pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena suasana mulai sepi
Sementara di ruangan lain, tepatnya sebuah villa kecil yang masih bagian dari villa yang ditempati keluarga besar, tiga orang tengah terduduk melingkari meja berbentuk bundar berukuran sedang. Tama dengan tatapan dinginnya menatap pengantin baru yang sengaja diminta untuk menghadapnya.
"Gue udah bawa istri gue ke hadapan lu, sekarang lu mau tahu apalagi tentang Rahma. Tanya sendiri sama istri gue, semua yang yang gue tahu sudah gue katakan pada lu" Regy berbicara dengan sedikit menunjukan rasa kesalnya, sesekali dia meraba sudut bibirnya yang masih terasa perih.
__ADS_1
"Sakit...?" tanya Tama, dia mengabaikan perkataan Regy sebelumnya dan malah menanyakan pertanyaan yang tidak perlu untuk dijawab,
"Sialan Lu, gara-gara lu gue pasti susah buat nyium istri gue. Sakit tau ...." jawab Regy dengan mengacungkan kepalan tangannya ke udara, Lisna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan dua laki-laki yang selama ini selalu tampil formal dan berwibawa jika di yayasan. Dia tidak menyangka sisi kekanak-kanakan keduanya sungguh membuatnya gemas.
Tadi Lisna sangat syok ketika memasuki kamarnya untuk melaksanakan shalat magrib dia mendapati suaminya yang sedang meraung kesakitan di depan meja rias dengan kapas ditangannya dan cairan alkohol dia atas meja rias.
Regy menceritakan jika dirinya tengah adu jotos dengan Tama. Berawal dari Tama yang melayangkan tinju pada wajahnya karena kesal tidak mengabari perihal perceraian Rahma dengan suaminya. Regy pun tidak kalah, dia balik membalas Tama sambil menjelaskan jika dulu beberapa kali dia pernah akan memberi tahukan perihal Rahma, bahkan saat wanita itu baru saja bercerai dan memilih pindah dan tinggal di Jakarta. Tapi Tama terlihat enggan dan malah memperkenalkan Tasya sebagai tunangannya.
Tama terduduk seketika setelah mendapat tinju balasan dari Regy, dia tidak melawan. Sakitnya tinjuan Regy tidak seberapa dibanding dengan rasa sakit di hatinya karena terlambat mengetahui berita tentang Rahma.
Tama meminta Regy menceritakan semua tentang Rahma yang diketahuinya dan Regy pun menurut dengan sesekali meringis karena menahan sakit di pipi dan sudut bibirnya dia menceritakan semua yang diketahuinya tentang Rahma dari Lisna.
Semua yang dikatakan Regy tidak membuatnya puas, Tama pun meminta Regy agar membawa istrinya ke hadapannya.
Dan di sinilah mereka sekarang berada, Tama siap mendengarkan semua tentang Rahma dari sumber tang menurutnya terpercaya.
Lisna menarik nafasnya dalam sebelum memulai bercerita, dia pun berpikir cukup lama setelah mendengar penuturan suaminya tentang Tama yang masih sangat mencintai Rahma. Lisna memutuskan untuk menceritakan semuanya pada pria yang menjadi atasannya itu.
"Anggara adalah teman lama saya, kami bertemu pada acara reuni kecil dan saya membawa Rahma saat itu...."
Lisna menceritakan awal pertemuan Rahma dan Anggara, tidak lupa dia pun menjelaskan alasan Rahma bersedia diajak olehnya padahal sebelumnya Rahma selalu membatasi diri terhadap makhluk yang bernama kaum adam itu.
Semua yang Lisna ketahui tentang kehidupan rumah tangga Rahma dia ceritakan, saat-saat berat Rahma yang harus menjalani rumah tangganya dalam kepura-puraan, menahan sakit karena pengkhianatan laki-laki yang sudah dipilih untuk menjadi imamnya, tentang Friska, perlakuan mertuanya, kematian kedua orang tua dan kehamilan Rahma hingga melahirkan, sampai kejadian tadi siang antara Anggara dan Friska yang dilihatnya Lisna ceritakan semuanya pada Tama tidak ada satu pun yang terlewat.
Tidak ada satupun kata yang terucap dari bibir Tama selama lebih dari satu jam mendengar cerita Lisna tentang Rahma, dia semakin menundukkan kepala berusaha menahan air yang menggenang di matanya. Kemarahan, rasa sakit dan penyesalan berpadu menjadi satu di hati Tama. Sungguh selama ini dia sudah menyia-nyiakan waktu, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Entah bagaimana lagi dia harus memikirkan bagaimana keadaan wanita yang dicintainya itu selama lima tahun ini hidup dalam kesendirian dan kesakitan yang mendalam.
__ADS_1
Bukan hanya Tama yang tak sanggup menahan air matanya, Lisna pun tak kuasa untuk tidak menangis saat menceritakan takdir yang menerpa sahabatnya itu. Dia sungguh tak sanggup membayangkan berada di posisi Rahma. Perasaan bersalah kembali menyelimuti hatinya, jika dirinya punya andil besar dalam kehidupan yang dijalani Rahma saat itu.
Regy meraih tubuh istrinya dan mendekapnya, dia pun terlihat beberapa kali mengusap ujung matanya.