
Flash back on...
"Mas, mari....saya parkir di sana" Fajar datang menghampiri, dia sudah mengubah panggilan formalnya agar tampak lebih akrab atas permintaan Tama. Fajar menunjuk dengan sopan mobil yang terparkir sedikit jauh dari tempat Tama berdiri.
"Kok lama?" tanya Tama dengan wajah sedikit kesal,
"Maaf Mas tadi saya disuruh mengambil dulu pesanan Ibu yang belum diambil katanya. Jadi saya bolak-balik" jawab Fajar sejujurnya,
"Pesanan apa?" tanya Tama penasaran, ada sedikit curiga di hatinya pada sang mama. Tama menyanggupi untuk hadir pada pertemuan ini karena pertemuan ini hanya sekedar silaturahmi belaka. Tidak ada embel-embel apapun.
"Saya kurang tahu Mas, tapi dari kemasannya sepertinya itu perhiasan" Fajar mulai menyalakan mobil dan siap meluncur ke tempat yang sudah ditentukan oleh Pak Hakim.
"Tunggu dulu, aku harus harus menelepon Mama" Tama menghentikan Fajar yang sudah hampir akan melajukan mobilnya, dia meminta Fajar menunggu dan keluar dari mobil mencari tempat yang nyaman untuk menelepon. Kecurigaannya semakin menjurus jika sang mama sudah mempersiapkan sesuatu.
"Assalamu'alaikum, Ma" tidak menunggu waktu lama panggilan Tama langsung terhubung dan jawaban salam pun terdengar dari sang Ibu disusul pertanyaan sang mama yamg menanyakan dimana keberadaan dirinya saat ini.
"Ma, aku hanya mau mengingatkan mama kalau aku bersedia datang ke pertemuan itu karena mama bilang kalau itu hanya silaturahmi biasa, tolong mama konsisten dengan perkataan mama" Tama langsung pada intinya, dia yakin mamanya pasti tahu kemana arah pembicaraannya.
"Iya, ini hanya silaturahmi biasa. Memangnya kamu pikir apa?" jawab mama Tama dengan suara yang sedikit bergetar, sepertinya putranya sudah mengetahui sesuatu.
"Terus untuk apa mama membawa perhiasan ke pertemuan itu? aku yakin itu bukan untuk mama pakai. Fajar bilang mama baru memesannya dan Fajar yang disuruh untuk mengambilnya" ucap Tama telak, dia sepertinya sudah bisa membaca strategi sang mama.
"Eh..i...itu memang perhiasan mama ko, kamu jangan sok tahu ya" mama Tama berusaha menutupi kegugupannya dengan intonasi sedikit membuat Tama semakin yakin dengan kecurigaannya. Mama tidak menduga sang putra sudah menebak apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1
"Mama, aku baru saja melamar seseorang dan dia menerimanya. Aku sudah sangat lama menunggu momen tadi dan sekarang aku sedang sangat bahagia. Jadi tolong jangan menghancurkan kebahagiaanku dengan rencana konyol mama dan papa yang akan menjodohkanku lagi. Sekali lagi aku ingatkan mama, kalau aku bersedia datang ke pertemuan ini karena hanya untuk sebatas bersilaturahmi, tidak lebih." Tama menegaskan kembali apa yang harus diketahui orang tuanya, dia baru saja mendapat kebahagiaan karena Rahma mau menerimanya. Dia tidak ingin rencana terselubung kedua orang tuanya menghancurkan kebahagiaannya.
"Kalau begitu bawa calon istri pilihanmu itu ke hadapan mama dan papa" tantang mama pada putranya, dia sebenarnya sedikit geram dengan sang putra yang mengatakan jika dirinya baru saja melamar seorang wanita tanpa terlebih dahulu meminta persetujuannya.
"Siap, besok aku akan membawanya menemui mama dan papa. Jadi, kalau mama masih menginginkan aku datang ke pertemuan itu sekarang tolong jangan pernah membahas tentang rencana-rencana konyol perjodohan" tegas Tama pada sang ibu, walaupun dia masih dapat mengendalikan diri dengan tetap berbicara lembut pada mamanya tapi setiap kata yang terucap dari lisannya penuh dengan penekanan.
"Baiklah, baiklah ...mama tidak akan membahas itu, yang terpenting sekarang kamu cepat datang ke sini karena mereka semua sudah menunggu kamu. Mama dan papa sudah bilang pada mereka kalau kamu juga akan datang" mama akhirnya kalah, dia menyanggupi persyaratan yang diajukan putranya untuk tidak membahas tentang perjodohan.
"Janji ya ma..." Tama kembali memastikan,
"Iya, iya....sekarang cepatlah datang. Kami sudah terlalu lama menunggumu" pungkas mama menutup telepon setelah mendengar jawab salam dari putranya.
Flashback off
"Huuufft...." Tama membuang nafasnya kasar, untunglah dia mendengar kabar dari Fajar jika mamanya mempersiapkan perhiasan. Pengalaman di masa lalu membuat Tama mengerti jika mamanya akan langsung bertindak untuk mengikat wanita itu padahal Tama belum menyetujuinya.
"Ayo" ajak Tama setelah memasuki kembali mobil.yang dikemudikan Fajar,
"Baik Mas, Bismillah..." jawab Fajar, dia mulai menyalakan mesin dan siap menuju tempat pertemuan keluarga atasannya itu.
"Loh... sudah sampai?" tanya Tama heran, sepanjang menaiki mobil dia hanya fokus pada ponselnya, dia baru menyadari jika mobilnya sudah berhenti di parkiran.
"Iya Mas" Fajar pun mematikan mesin mobil dan keluar di susul Tama masih dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1
Tama semakin terkejut saat dia menyadari jika parkiran itu adalah parkiran restoran yang baru beberapa saat yang lalu dia kunjungi untuk mengantarkan Rahma.
Tama menengok ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan mobil Rahma. Dengan jelas Tama bisa melihat jika mobil Rahma masih terparkir di tempat tadi dia memarkirkannya.
"Kenapa kita ke sini, Jar?" tanya Tama masih dengan wajah kagetnya,
"Iya Mas, memang di sini tempatnya. Tadi juga saya mengantar Ibu dan Bapak ke sini Mas. Mari Mas, saya antar ke ruangannya" jawab Fajar yang berjalan lebih dulu untuk mengantar Tama ke tempat pertemuan itu.
"Tunggu-tunggu, kamu yakin ini tempatnya?" Tama kembali bertanya, memastikan jika asistennya itu tidak salah membawanya.
"Iya Mas, Insya Allah yakin. Saya masih ingat dimana Bapak dan Ibu bertemu dengan keluarga sahabat lamanya yang sudah meninggal itu" Fajar menjawab cukup panjang, selama perjalanan mengantarkan orang tua atasannya itu dia mengobrol cukup banyak tentang cerita persahabatan majikannya itu.
"Benarkah, ini kan tempat pertemuan Naura juga" gumam Tama yang tentunya hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Dia berjalan mengikuti Fajar yang dua langkah berada di depannya.
Jantungnya berdetak lebih cepat, khawatir bertemu Rahma saat dirinya tengah bersama dengan keluarga wanita pilihan orang tuanya itu. Raga Tama memang sedang berjalan memasuki restoran mewah itu, tapi pikirannya hanya seputar Rahma. Dia bahkan mengabaikan sapaan beberapa karyawan yang mengenalinya.
"Ya Allah... semoga Naura tidak akan salah faham" Tama merapalkan do'a dalam hatinya, agar semua ini segera berakhir, dia berharap kedua orang tuanya tidak nekad dengan rencana konyol mereka. Tidak lupa dia mengecek ponselnya menunggu balasan pesan dari Rahma yang sejak tadi tak kunjung membalas bahkan membaca pesannya.
"Bagaimana? sudah bertemu? ingat aku selalu ya!" pesan Tama yang dikirim ke nomor Rahma, sudah lima belas menit yang lalu namun tak juga bercentang biru.
"Aku sudah sampai ditempat pertemuan, dan ternyata kita berada di tempat yang sama. Kamu harus ingat pesanku, apapun yang terjadi aku akan tetap memperjuangkan kamu" pesan kedua yang Tama kirim namun tetap tak kunjung ada balasan. Tama semakin terlihat resah dan khawatir.
"Ini Mas ruangannya" Fajar menunjuk pintu ruang privat VVIP.
__ADS_1
Tama menghentikan langkahnya, dia menarik nafas dalam untuk menenangkan gejolak di dalam dadanya. Tama kembali melirik ponsel dalam genggamannya, berharap ada pesan balasan dari Rahma namun nihil pesan yamg dikirimnya bahkan masih bercentang abu.
"Naura, harusnya kamu kabari aku tanpa aku minta. Agar aku semakin yakin jika bukan hanya aku yang berjuang" Tama membatin.