
Pagi yang cerah menyambut semua insan yang akan memulai kehidupan baru. Berbagai aktivitas menjadi pemula hari semua orang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di hari yang baru ini.
Matahari sudah menampakan dirinya saat Rahma dan Athaya baru keluar dari kamar dan bersiap menuju suatu tempat. Mumpung masih di Garut dia ingin mengajak sang putra untuk mengunjungi beberapa tempat yang dulu sering dia kunjungi di akhir pekan.
Yusuf sudah menunggu di bawah. Saat memutuskan untuk menginap di Garut selama beberapa hari Rahma sudah menyusun rencana dengan apa yang akan dilakukannya di sana. Yusuf menyetujuinya, dia pun memutuskan untuk mengajukan cuti dari tempatnya bekerja. Saat ini dia menjadi penasehat hukum di sebuah perusahaan besar di Jakarta.
"Assalamu'alaikum, pagi...." Yusuf yang sedang anteng dengan ponselnya mendongak saat seseorang menyapanya.
"Wa'alaikumsalam, selamat pagi juga Pak" jawab Yusuf sopan saat mengetahui jika orang yang menyapanya adalah Tama. Pemilik yayasan tempat kakaknya dulu mengajar.
"Bapak menginap di sini juga?" tanya Yusuf yang baru mengetahui keberadaaan Tama di villa yang sama dengannya,
"Iya" jawab Tama singkat, dia pun duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan Yusuf. Jarak mereka hanya terhalang meja kecil yang diletakan di sudut ruangan tengah villa sekedar untuk bersantai.
"Sudah rapi, mau pergi?" Tama mengamati penampilan Yusuf yang tampak rapi dengan celana training panjang dan hoodie dan sepatu cats nya,
"Iya Pak, Teteh ngajak ke kerkof. Hari minggu biasanya lebih rame karena suka ada pasar kaget." jelas Yusuf menyampaikan rencananya,
"Bisa kita lebih santai? maksudku jangan panggil aku dengan panggilan formal begitu." Tama mulai mengakrabkan diri. Sesuai dengan saran yang didengarnya dari Lisna waktu itu, jika Rahma akan selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain dibanding dirinya.
"Pak, saya hanya mau ngasih tau bapak ya cara jitu mendekati Rahma" Lisna berbicara lebih santai saat itu setelah Tama memastikan tidak ada jarak seperti atasan dan bawahan di antara mereka.
"Apa?" Tama mengernyit mendengar perkataan istri sahabatnya itu,
"Kalau Bapak melakukan pendekatannya langsung pada Rahma, saya yakin entah berapa windu waktu yang dibutuhkan untuk dia berpikir menerima Bapak, atau mungkin tidak sama sekali. Kalau bapak mau jalan pintas, selain jalur langit tempuh juga jalur orang-orang terdekatnya. Pertama Athaya, kedua Yusuf, ketiga A Budi. Jika ketiganya sudah ada di pihak Bapak saya yakin Rahma tidak akan lagi bisa menolak. Sejak dulu sahabat saya yang satu itu memang terlalu istimewa, dia paling mampu menyimpan semua perasaannya dan selalu terlihat baik-baik saja. Baginya kebahagiaan orang-orang terdekat sudah cukup memberinya kebahagiaan juga" Lisna menjelaskan panjang lebar, memberi masukan pada Tama. Dia menjadi barisan di garda terdepan yang akan mendukung Tama meraih hati Rahma. Kawal Tama dan Rahma sampai halal. Itulah jargon yang diteriakkan Lisna mengakhiri obrolan mereka semalam.
__ADS_1
"Saya harus panggil Bapak apa?" ucap Yusuf bingung, dia menatap penuh selidik mengapa tiba-tiba Tama memintanya seperti itu.
"Terserah, senyamannya kamu aja asal jangan formal seperti itu jika kita bertemu seperti ini" jawab Tama santai, dia menatap ke arah tangga menanti kedatangan seseorang yang semalam sudah membuatnya tidur nyenyak.
Senyum cerah pun kembali terukir di wajah tampan Tama yang pagi ini tingkat ketampanannya meningkat beberapa kali lipat.
Ingatan Tama kembali berputar ke waktu semalam, di bawah pendar cahaya lampu di balkon villa dengan jelas dia melihat wajah Rahma yang bersemu merah saat dirinya mengungkapkan isi hatinya.
"Rahma, sendiri itu tenang tapi bersamamu itu senang. Malam ini menjadi malam indah karena aku bisa duduk bersamamu di sini"
"Bapak jangan berlebihan...." ucap Rahma setelah cukup lama terdiam hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibirnya.
"Naura Rahmania, waktu tidak akan memberi kesempatan untuk mengulang apa yang pernah dilewati, tapi waktu memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan. Dari sekian banyak hal yang berubah selama lima tahun ini dalam hidupku....ada satu yang ternyata tidak mampu aku rubah" Tama menjeda ucapannya menunggu reaksi apa yang akan ditunjukan Rahma, benar saja....Rahma mendongak menatap Tama dengan wajah penasaran menanti kelanjutan kata apa yang akan diucapkan Tama.
"Perasaanku.....aku tidak bisa merubah perasaanku padamu. Masih sama, seperti terakhir aku mengungkapkannya padamu. Bahkan saat ada yang lebih darimu pun, perasaan untukmu tetap sama. Tidak berkurang sedikitpun. Semesta seolah menjaga hatiku hanya untukmu" ucap Tama tenang, berbeda dengan Rahma yang terlihat salah tingkah mendengar penuturan Tama.
"Wa'alaikumsalam, selamat malam...sayang...eh" ucap Tama kaget dengan ucapannya sendiri, ucapan yang sama sekali tidak akan didengar Rahma karena dia sudah menjauh.
Seulas senyum menghiasi bibir Tama malam ini, hatinya menghangat. Rasa bahagia menyeruak seketika dalam dadanya, sepertinya dia akan tidur nyenyak malam ini.
Tama mendongak menatap langit malam yang berhias bintang, seolah menjadi saksi ikhtiyarnya untuk mendapatkan cintanya. Do'a pun terlafal dalam hati semoga Allah meridhoi langkahnya. Obrolan malam itu adalah obrolan terlama yang pernah terjadi di antara mereka berdua.
"Saya bingung Pak harus memanggil Bapak apa?" suara Yusuf mengembalikan kesadaran Tama dari lamunannya.
"Terserah kamu" ujar Tama masih dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau saya panggil saja Kak Tama" Yusuf mengeluarkan ide yang diangguki Tama dengan senyum yang semakin lebar.
"Omm..." teriak anak kecil yang tak lain adalah Athaya dari arah tangga menyita perhatian dua pria yang sedang terlibat obrolan panggilan untuk mengakrabkan diri. Keduanya menoleh ke arah sumber suara, Athaya dituntun Rahma menuruni tangga sudah siap untuk pergi dengan pakaian santai sederhana namun terlihat elegan.
"Hai Boy....." Tama melambaikan tangannya menyambut kehadiran Athaya yang berlari melepas genggaman tangan sang bunda. Sementara Rahma kembali menundukkan pandangannya setelah melihat siapa yang bersama Yusuf. Dia kembali teringat kata-kata yang semalam diucapkan Tama untuknya, hatinya kembali tak menentu. Jantungnya bahkan berdetak lebih kencang saat sempat beradu tatap dengan Tama walaupun hanya beberapa detik.
"Omm mau ikut juga kan?" Athaya tiba-tiba bertanya setengah mengajak, hal yang ditunggu-tunggu oleh Tama sebenarnya.
"Boleh dong, boleh kan Bunda?" Athaya melirik sang bunda yang masih berada di belakangnya.
"Hah...apa sayang?" Rahma berpura-pura tidak mendengar pertanyaan putranya.
"Omm ganteng mau ikut sama kita jalan-jalan ke kerkof, boleh kan?" Athaya mengulang pertanyaannya dengan jelas membuat Rahma bingung menjawab,
"Tapi omm nya lagi sibuk mungkin sayang" kilah Rahma,
"Enggak, omm lagi santai kok. Omm juga mau jalan-jalan mumpung Athaya ngajakin" sahut Tama membuat Rahma seketika menarik nafas dalam dengan wajah yang kembali bersemu merah.
"Kalau begitu ayo kita berangkat, lets go...." Ajak Athaya meraih tangan Tama dan mengajaknya keluar dari area villa lebih dulu.
"Dek...."
"Sudah Teh enggak apa-apa, biar lebih rame" tukas Yusuf yang juga segera berjalan mengikuti Athaya dan Tama yang sudah lebih dulu keluar.
Rahma kembali hanya bisa menarik nafas panjang. Tidak ada pilihan selain mengikuti mereka, dia pun merogoh ponselnya dan mengetik pesan. Mengabari Lisna jika dirinya pergi untuk jalan-jalan ke kerkof. Tidak lupa Rahma pun mengirim pesan pada Shanum, kenalannya yang juga sedang berada di Garut. Sejak masih di Jakarta mereka sudah membuat janji temu hari ini di tempat itu.
__ADS_1
Pagi yang cukup cerah untuk membuat jantungnya berolah raga ekstra.