
Mulut memang ikhlas tapi hati yak bisa lepas...mungkin itulah yang dirasakan Anggara saat ini. Dia sadar sekarang dia sudah bertindak terlalu jauh, tidak mampu mengontrol diri ketika mengetahui jika sang mantan istri ternyata sudah ada yang mendekati dan yang tak kalah menyesakan dada adalah ketika melihat sang putra yang begitu akrab dengan laki-laki itu.
Selama ini Anggara tahu apa saja aktivitas yang dilakukan Rahma dengan putranya, tanpa sepengetahuan siapapun dia meminta orang kepercayaannya untuk menjaga mereka berdua dan melaporkan semua hal yang terjadi dengan mereka.
Kabar jika selama seminggu Rahma dan Athaya berlibur bersama teman-temannya awalnya terdengar biasa di telinga Anggara. Namun ketika foto-foto liburan mantan istri dan putranya itu memperlihatkan ada sosok yang tak asing membuatnya terusik dan penasaran untuk mengetahui lebih jauh hubungan mereka.
Benar saja dugaan Anggara, berdasarkan informasi yang didapatkannya Tama memang sedang gencar mendekati mantan istri dan putranya. Anggara yakin jika Tama adalah laki-laki yang sama yang pernah bertemu dengannya saat pernikahan adik iparnya dulu.
"Maafkan aku...." Anggara kembali mengulang permintaan maafnya. Rahma pun berbalik, niatnya untuk meninggalkan mantan suaminya itu dia urungkan. Dia harus memperjelas keadaan untuk mengingatkan mantan suaminya agar sadar status hubungan mereka saat ini.
"Mas, terkadang Allah mempertemukan kita dengan seseorang bukan untuk menjadi pendamping hidup, melainkan hanya untuk menjadi bagian dari cerita hidup. Begitupun aku dan kamu. Syukurlah kalau kamu sadar jika kita hanya sebatas masa lalu." ucap Rahma tenang, dia pun kembali bisa menguasai dirinya setelah sebelumnya dibuat emosi dengan tekanan-tekanan Anggara.
"Iya, maafkan aku" ulang Anggara, hanya kalimat itu yang dia katakan berulang kali.
"Sekarang lebih baik mas pulang, aku yakin istri mas tidak tahu jika mas datang ke sini. Jangan membuat masalah dengan kedatanganmu menemuiku. Nikmati dan syukuri hidupmu saat ini dan jaga, karena mempertahankan jauh lebih sulit daripada memulai" Rahma kembali mengingatkan, dia pun mundur satu langkah menjauh dari meja tempat Anggara saat melihat mantan suaminya itu berdiri.
"Terima kasih..." Anggara mengangguk-anggukan kepalanya mendengar semua perkataan Rahma yang lebih tepat sebagai petuah untuknya. Sejujurnya hatinya menghangat mendengarnya dari dulu wanita yang ada di hadapannya ini paling mampu memberinya ketenangan, namun sayang dirinya terlambat menyadari.
Anggara menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Rahma, namun tidak kunjung mendapat sambutan. Beberapa pengunjung toko yang melewati etalase yang bersisian dengan meja tempat mereka berada tampak memerhatikan.
"Maaf Mas" Rahma menangkupkan kedua tangannya, membuat Anggara kembali tersentak menyadari jika dirinya sudah tak layak bersentuhan dengan Rahma.
"Maaf" kembali kata itu yang terucap sembari Anggara menundukkan kepala.
"Assalamu'alaikum, Bunda...." suara Athaya yang setengah berteriak saat memasuki pintu kaca membuat dua orang yang masih berdiri saling berhadapan itu menoleh. Senyum bahagia menghiasi wajah Anggara tatkala melihat sang putra berlari ke arahnya.
"Wa'alaikumsalam, Thaya sudah pulang? omm Yusufnya mana? Rahma memusatkan perhatian pada sang putra.
"Omm Yusuf pulang ke rumah uwa, katanya uwa nyuruh omm Yusuf cepet pulang" jelas Athaya menjawab pertanyaan sang Bunda.
"Oya? terus Thaya pulang sama siapa?" tanya Rahma penasaran,
"Assalamu'alaikum" Tama muncul dari balik etalase tinggi, dia memasuki toko bersamaan dengan beberapa pengunjung yang baru datang sehingga Rahma maupun Anggara tidak mengetahui jelas saat kedatangannya.
"Wa'alaikumsalam" kembali hanya Rahma yang menjawab, sementara Anggara hanya memalingkan muka saat mengetahui siapa yang datang.
"Pak Tama!" sapa Rahma,
"Athaya, apa kabar?" Anggara berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Athaya yang sedang bergelayut manja memeluk pinggang sang bunda, dia mengabaikan kehadiran Tama dan memilih fokus kepada Athaya. Sontak perilaku Anggara tersebut membuat Rahma mundur beberapa langkah setelah terlebih dahulu melepas lilitan tangan Athaya di tubuhnya.
__ADS_1
"Thaya, ada ayah. Salam dulu Nak?" kepulangan Athaya seorang diri saat memasuki toko dan kehadiran Tama yang tiba-tiba membuat Rahma sejenak melupakan keberadaan Anggara di antara mereka.
"Baik ayah" jawab Athaya singkat sembari mengulurkan tangan untuk menyalami Anggara. Meskipun selama ini Anggara jarang menemuinya, tapi Rahma tidak menutup akses pengetahuan putranya perihal sang ayah. Dia memberi tahukan jika Anggara adalah ayahnya yang dulu sebagai seorang polisi dan mereka tidak bisa bersama karena sanga ayah juga mempunyai keluarga.
"Tadi aku udah ketemu ayah Bunda di mall" terang Athaya pada sang bunda.
"Oya, Alhamdulillah" sambut Rahma dengan mengulas senyum pada sang putra.
"Kamu senang hari ini Nak? Anggara kembali bersuara setelah sejenak melihat interaksi ibu dan anak itu,
"Alhamdulillah ayah, aku bermain banyak sekali. Ada omm Yusuf dan omm Tama yang menemaniku. Bunda, kapan-kapan kita pergi bertiga ya, aku mau pergi sama bunda, sama omm Yusuf, sama omm Tama juga" Athaya mengacungkan empat jarinya yang dia gunakan untuk menghitung saat menyebutkan nama-nama yang ingin diajaknya pergi.
Deg.....seperti ada batu yang tiba-tiba menghantam dada Anggara, dia merasa sakit saat sang putra memilih untuk meminta pergi dengan orang lain. Namanya bahkan tidak termasuk dalam daftaran yang ada dalam ingatannya putranya.
Rasa bersalah kembali menyelimuti Anggara, selama ini dia benar-benar sudah mengabaikan putranya. Dia bahkan sudah melewatkan banyak hal, tidak menyangka sang putra sudah tumbuh besar dan cerdas. Sungguh menggemaskan.
"Kemana saja aku selama ini?" Anggara bermonolog dalam hatinya,
Suara dering ponsel milik Anggara mengalihkan perhatian mereka. Rahma mempersilahkan Tama untuk duduk dan dijawab anggukan oleh Tama.
"Sebentar ya sayang" Anggara berdiri dan mengambil ponsel yang dia letakan di atas meja, nama yang tak asing terpampang jelas di layar ponselnya,
"Maaf, aku permisi harus pergi" ucap Anggara berpamitan, dia pun kembali berjongkok untuk berpamitan pada Athaya yang sedang duduk di kursi yang berhadapan dengan Tama, sementara Rahma dalam posisi masih berdiri.
"Athaya, ayah pamit pergi dulu ya. Kapan-kapan ayah kembali dan mengajak Athaya bermain" Anggara mengusap rambut hitam tebal putranya, dia merasa sang putra adalah replika dirinya sewaktu kecil.
"Iya ayah" jawab Athaya singkat diiringi anggukan kepala.
"Thanks bro ..." Anggara mengulurkan tangan ke hadapan Tama dan disambut dengan senang hati oleh Tama.
Anggara pun pergi, keluar dari toko dan sejenak melambaikan tangan ke arah Athaya sebelum memasuki mobilnya dan berlalu meninggalkan pelataran toko kue Rahma.
"Seneng ya masih bisa bersilaturahmi" Tama memulai pembicaraan setelah Rahma membawakan secangkir teh kemudian duduk berhadapan dengannya.
"Alhamdulillah, Pak" jawab Rahma polos,
"Kamu tidak marah dengan semua yang pernah dia lakukan padamu?" Tama yang mendapati respon Rahma biasa saja saat dirinya berbicara setengah menyindir hubungan Rahma dengan mantan suaminya mengernyit,
"Maksud Pak Tama?" Rahma kurang mengerti,
__ADS_1
"Kamu dengan mantan suamimu" ucap Tama pelan karena tidak ingin terdengar oleh siapapun, untunglah Athaya memilih pergi ke lantai atas untuk mengambil mainan.
"Ouh....memangnya kenapa? menjalin silaturahmi itu baik kan?" ujar Rahma dengan senyum terkulum, sebenarnya dia sudah tahu kemana arah perkataan Tama.
"Tapi dia kan begitu menyakitimu dan Athaya" Tama kesal sendiri, mengetahui dari Lisna bagaimana Rahma diperlakukan oleh suaminya dahulu membuat hatinya memanas.
"Pak, dipatahkan bukan berarti harus membalas dengan mematahkan, dilukai tidak perlu kembali melukai, cukup bicara dengan diri sendiri, apa yang salah dan apa yang bisa diperbaiki. Bukan kah pembalasan yang paling jitu adalah dengan memaafkan?" jelas Rahma dengan tersenyum lebar membuat lesung pipinya terbentuk dengan sempurna.
Tama menangkup dagunya dengan sebelah tangan, menahan dengan sikut yang bertumpu di atas meja. Fokusnya kini bukan lagi pada jawaban Rahma tapi pada senyum manis yang menghasilkan lesung pipi yang memesona.
"Pak....Pak Tama" Rahma melambaikan tangannya di depan wajah Tama, membuat Tama seketika mengerjap.
"Ya...kenapa?" tanya Tama dengan wajah memerah karena ketahuan tengah menatap Rahma begitu larut,
"Bapak baik-baik saja kan?" tanya Rahma khawatir,
"Sepertinya saya sedang tidak baik-baik saja" jawab Tama asal, entah itu kondisi sebenarnya,
"Bapak sakit? apa yang bisa dibantu Pak? mau saya belikan obat? atau mau saya antar ke dokter? Bapak pasti kecapean ya karena sudah menemani Athaya seharian ini, maaf ya Pak" Rahma panik, dia membombardir Tama dengan banyak pertanyaan membuat Tama melepas tawanya,
"Hahaha....kamu lucu sekali kalau panik. Tenang, saya tidak apa-apa, saya baik-baik saja"
"Ishh......saya kira Bapak lagi kesakitan beneran" Rahma mengerucutkan bibirnya karena merasa berhasil dibuat panik dan khawatir oleh Tama.
"Maaf, maaf, habis kamu lucu sih. Kan tahu tadi saya baik-baik saja, kenapa sepanik itu?" tanya Tama penasaran, dia berkata dengan masih menyisakan gelak tawa. Hatinya menghangat, senang bukan kepalang mendapat perhatian dari Rahma.
"Saya baik-baik saja, yang bermasalah adalah hati saya" jujur Tama berkata, dia meraih cangkir dan menyesap teh yang disuguhkan untuknya dengan perlahan karena masih agak panas.
"Maksud Bapa?" Rahma masih berusaha mengelak, dia sebenarnya ingin pergi dari situasi ini tetapi tidak enak jika memotong pembicaraan.
"Rahma aku mau bicara serius" Tama menegakkan tubuhnya,
"Naura Rahmania, dengarkan ini baik-baik" Tama memberi attensi, membuat Rahma pun berubah lebih serius mendengarkannya.
"Semenjak aku bertemu kembali denganmu, sujudku menjadi lebih sering, do'aku menjadi lebih panjang dan harapanku juga menjadi lebih banyak. Aku yakin pertemuan kita bukanlah suatu kebetulan, aku bertemu kembali denganmu adalah bagian dari rencana Allah. Termasuk aku mengagumimu, adalah juga bagian dari takdir-Nya. Allah yang sudah menitipkan rasa cinta di hatiku tertuju padamu. Jadi jangan pernah tanyakan mengapa aku mencintaimu"
"Rahma, izinkan aku melamarmu dan Athaya serta menjadikanmu halal atas diriku"
Semburat jingga yang sudah tampak mewarnai langit Jakarta menjadi saksi ungkapan cinta seorang Pratama Ardhan.
__ADS_1