Belenggu Akad

Belenggu Akad
Penyesalan (2)


__ADS_3

"Maksud dokter, dia bukan putri kandung saya?"


"Benar Pak" jawab dokter itu.


Tak ada lagi kata yang terucap dari bibir Anggara, tubuhnya membeku seketika. Matanya terpejam, pikirannya masih berusaha memahami setiap kata yang dikatakan oleh dokter tersebut.


Sementara itu, tidak jauh beda dari Anggara sang mama yang berada beberapa langkah di belakangnya pun terlihat syok, dia memegang dadanya dan seketika tak sadarkan diri. Untunglah di saat bersamaan papa Anggara datang dan merangkul istrinya itu hingga tidak sampai terjatuh ke lantai.


"Ma, mama..." teriak papa Anggara yang panik dengan keadaan istrinya yang tiba-tiba pingsan.


Tidak jauh berbeda dengan keduanya yang syok dengan fakta yang baru saja mereka dengar. Friska yang menjadi kunci dari semua masalah yang timbul saat ini pun seketika memaku di tempatnya. Dia hanya memerhatikan ibu mertuanya yang dieksekusi oleh para perawat agar segera mendapatkan tindakan. Setelahnya pandangannya kembali mengarah pada Anggara yang masih berada di tempatnya.


"Bagaimana Pak? Kita tidak punya banyak waktu. Putri anda sedang kritis. Kita akan melakukan operasi, tetapi perlu pasokan darah yang banyak untuk persiapan." suara dokter berhasil mengembalikan kesadaran Anggara, dia menoleh pada Friska yang masih membisu namun air mata terus mengalir di pipinya.


"Mas..."


"Cepat beritahu ayah kandungnya kalau putrinya sedang membutuhkan dia" titah Anggara tegas, saat ini kewarasannya masih ada, mengingat anak yang begitu disayanginya selama ini sedang terbaring tidak berdaya.


"Tapi Mas... aku..."


"Aku sudah di sini, aku akan memberikan darahku untuk putriku." suara seseorang yang sama sekali tidak dikenal Anggara tiba-tiba hadir di tengah percakapan mereka.


Anggara pun menoleh ke arah suara itu, dia melihat seorang pria berkemeja hitam dan celana jean berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Aku ayah kandungnya, silahkan ambil darahku dokter" tanpa melihat ke arah Anggara yang menatapnya dengan sorot mata tajam, laki-laki itu berkata dengan santainya tanpa ada rasa bersalah maupun malu sedikit pun.


Melihat hal itu Anggara hanya tersenyum kecut, dia menatap Friska yang masih mematung di tempatnya dan tidak bersuara sedikit pun setelah laki-laki itu berlalu mengikuti perawat sesuai arahan dokter.


Tanpa kata, Anggara pun berlalu dari tempat itu membuat Friska seketika mendongak dan memanggil namanya.


"Mas..." panggil Friska namun diabaikan oleh Anggara, dia terus berjalan menjauh.


"Mas, tolong dengarkan aku dulu" Friska berusaha mengejar suaminya, dia sontak memegangi lengan Anggara yang akan memasuki lift.


"Lepaskan!" sentak Anggara saat melihat tangan Friska memegangi lengannya.


"Mas, tolong dengarkan aku dulu. Aku bisa jelaskan semuanya" Friska memohon dengan air mata terus berderai membasahi pipinya.


"Mas...." ucap Friska lirih, melihat sorot mata yang penuh kemarahan di wajah Anggara membuat Friska perlahan melepaskan genggaman tangannya.


"Mas, aku mohon dengarkan aku dulu" pintanya dengan suara yang lirih namun sama sekali tidak membuat Anggara mengurungkan niatnya. Dia memasuki lift dan menekan tombol menuju lobby dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.


Malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah terlupakan oleh Anggara maupun Friska. Setelah putrinya berhasil diselamatkan dengan bantuan transfusi darah dari ayah biologisnya, Friska langsung mencari keberadaan Anggara yang ternyata ada di apartemen tempat tinggal mereka dulu.


Dengan berurai air mata Friska mengakui semuanya, peristiwa dimana dirinya dulu pernah bekerja di luar negeri dan melakukan hubungan terlarang dengan laki-laki yang merupakan ayah biologis putrinya. Friska memilih pulang dan kembali mengejar Anggara yang saat itu sudah hidup tentram dengan Rahma. Dia melakukannya karena laki-laki itu tidak akan bisa menjamin masa depan dia dan anak yang dikandungnya, bahkan dia tidak lebih baik dari Anggara pikirnya.


Dengan bodohnya, Anggara percaya saat Friska mengaku hamil anaknya dan memilih menceraikan Rahma dengan alasan jika Rahma tak kunjung hamil.

__ADS_1


"Arrgghh" mengingat saat itu membuat kepala Anggara terasa ingin pecah, dia melempar semua benda yang ada dihadapannya. Pecahan kaca karena gelas yang sudah dia lempar sebelumnya bahkan terlihat berserakan.


"Mas, maafkan aku. Aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilangan kamu" isak tangis masih mengiringi Friska saat memohon pengampunan dari suaminya.


"Brengsek!" amarah Anggara tak kunjung mereda, semakin Friska banyak bicara kemarahannya semakin menggebu.


"Aku akan memaafkanmu, tapi aku tidak bisa mentolerir apa yang telah kamu lakukan selama ini. Aku akan melakukan tes DNA dengan Kanaya, dan malam ini juga aku akan menjatuhkan talaq padamu. Friska Handayani, aku jatuhkan talaq atas dirimu. Mulai detik ini kamu bukan lagi istriku." tegas dan jelas Anggara mengucapkan setiap kata-katanya. Tanpa mampu memprotes apapun, Friska menerima semua yang diputuskan Anggara.


"Sekarang pergilah dari sini. Rumah dan semua isinya adalah milikmu dan anak-anak. Aku sudah membuatnya atas namamu. Biar aku yang akan pergi dari rumah itu" pungkas Anggara, diapun berlalu meninggalkan Friska yang hanya mampu menangis tersedu di ruang tamu apartemen yang berserakan. Dia memasuki kamarnya dan menutup pintu dengan keras membuat Friska kembali tersentak. Friska pun meninggalkan apartemen itu dengan hati yang penuh dengan penyesalan.


Flashback off


Friska mengusap air mata yang tiba-tiba lolos saat dirinya mengingat betapa bodohnya dia di masa lalu. Dengan mudahnya menyerahkan diri pada laki-laki asing yang baru dikenalnya beberapa bulan. Dan dengan tidak tahu malunya dia bahkan kembali merebut laki-laki baik yang sudah tenang dengan istrinya agar kembali bersamanya.


"Aduuh..." tiba-tiba Friska mengaduh sambil memegangi perutnya, sudah beberapa kali hal itu terjadi. Sejak Anggara keluar dari rumah dia sering merasakan sakit di area perutnya. Mungkin karena stres memikirkan masalah yang tengah dihadapi, membuat Friska enggan untuk memeriksakan diri. Tetapi semakin ke sini rasa sakit yang dideritanya itu semakin menjadi.


"Mami...." Kanaya, putri keduanya yamg masih berusia empat tahun itu datang menghampirinya dengan wajah bantalnya,


"Sayang, sudah bangun?" Friska berusaha menormalkan wajahnya, menahan sakait agar tidak terlihat oleh sang putri. Dia pun membawa putrinya itu ke atas pangkuannya.


"Mami, papi dimana? kenapa belum pulang?" lagi-lagi gadis kecil itu menanyakan keberadaan sang ayah, selama ini Kanaya yang merupakan putri kedua Friska memang sangat dekat dengan Anggara. Dia pun tak luput dari sasaran pemeriksaan DNA yang dilakukan Anggara, dari hasilnya Kanaya adalah putri kandungnya. Namun karena kekecewaan yang sangat besar karena ulah istrinya itu Anggara tetap pergi tanpa membawa Kanaya.


"Papi, lagi kerja sayang. Nanti pasti pulang menemui Naya. Kamu yang sabar ya" tiba-tiba hatinya terasa perih, Friska memeluk gadis kecil itu erat, di balik punggung mungil itu air matanya kembali mengalir. Bukan hanya karena meratapi keadaan rumah tangganya saat ini, tetapi juga menahan rasa sakit di area perutnya yang semakin menjadi.

__ADS_1


"Rahma, inikah karma yang harus aku terima karena perbuatanku dulu padamu? ... hiks" isak tangis tertahan semakin terdengar pilu ketika bayangan masa lalu itu kembali melintas di pikirannya. Undangan pernikahan Rahma yang diterimanya mengingatkan dia, betapa dulu dirinya menjadi perempuan yang begitu tidak tahu diri.


__ADS_2