Belenggu Akad

Belenggu Akad
Percakapan Dua Sahabat


__ADS_3

Malam memang lebih tenang, tapi tidak dengan pikiran.


Waktu sudah menunjukan lewat dari pukul dua belas malam tetapi Rahma belum juga mampu memejamkan matanya. Sesuatu masih mengganggu pikirannya. Dia masih tidak habis pikir dengan kenyataan yang baru saja dialaminya. Tama rela datang malam-malam hanya untuk menyusulnya.


Setelah pertemuannya dengan klien penting di Bandung selesai tepat pukul tiga sore, Tama langsung meluncur menuju Garut. Dia bahkan meminta sekretarisnya untuk menyiapkan beberapa baju ganti karena terhitung esok hari dirinya akan cuti selama seminggu dan menyerahkan semua urusan kantor pada asistennya. Tama hanya akan memantau secara berkala dari jarak jauh.


Pertemuan dengan klien pentingnya berhasil menghasilkan kerja sama yang akan saling menguntungkan, Tama membawa perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan resto miliknya semakin berkembang pesat. Setelah projek pembangunan Supermarket barunya berhasil, kerja sama akan berlanjut dengan projek -projek besar lainnya di berbagai kota.


Kata-kata Tama pun kembali terngiang di telinga Rahma.


"Kali ini kamu bersama orang yang tepat. Asal kamu tahu, sampai saat ini kamu adalah bagian terbaik dalam hidupku yang tidak bisa aku lupakan"


"Naura Rahmania, begitu sulit untukku melupakanmu, hingga selama ini aku tersakiti oleh harapan yang terlalu menginginkanmu"


"Terkadang kita terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah Allah atur, padahal hanya cukup diyakini dan jalani bahwa rencana Allah pasti yang terbaik. Dan aku merasa saat ini adalah waktu terbaik untuk aku kembali memperjuangkan apa yang pernah aku lepas sebelum kumiliki dulu. Logika memang pernah menyuruhku untuk berhenti namun hati memaksa untuk terus berjuang. Dan kali ini aku akan memperjuangkan cintaku"


Rahma menarik nafas panjang, tak ada kata yang keluar dari mulutnya setelah mendengar Tama berbicara panjang lebar saat itu. Lidahnya mendadak kelu, tidak menyangka akan mendapatkan pengakuan cinta setulus itu dari seseorang yang sejujurnya dulu pernah Rahma kagumi. Rahma memilih berlalu, setelah mengucapkan kata-kata yang membuat Tama menghembuskan nafasnya kasar. Dia tidak ingin Tama mengetahui keadaan dirinya yang tiba-tiba gugup setelah mendengarkan pernyataannya.


"Pak Tama sepertinya kecapean, istirahatlah Pak. Saya permisi ke kamar duluan"


"Subhanallah....mohon petunjuk-Mu Yaa Rabb" ucap Rahma pelan, hati kecilnya tidak bisa dibohongi. Selalu bergetar saat mengingat Tama, hatinya terasa menghangat saat mendapat perlakuan istimewa dari laki-laki itu dan jantungnya berdetak lebih kencang saat berdekatan. Namun Rahma masih menggunakan logika untuk menghadapi semua kemungkinan akan cinta yang kembali dirasakannya untuk lelaki itu, dia merasa dinding pembeda antara dia dan Tama terlalu tinggi.

__ADS_1


Jika Tama bisa menerima dirinya apa adanya, Rahma ragu dengan keluarganya. Apalagi ibunya Tama adalah pelanggan toko kuenya, beliau pernah mengatakan jika kue yang dipesannya spesial untuk calon menantunya. Itu artinya calon pasangan Tama sudah dipersiapkan oleh sang ibu. Apalagi sekilas pernah mendengar dari ibunya Tama saat memilih kue dan meminta Rahma menemaninya, jika gadis itu baru menyelesaikan studinya di luar negeri, itu artinya status mereka masih sama-sama single, sementara dirinya adalah seorang single parent.


Rahma beranjak dari tempat tidurnya memutuskan untuk mengambil wudhu dan menumpahkan keresahan hatinya di atas sajadah, berharap setelahnya dapat memejamkan mata, beristirahat sejenak dari berisiknya pikiran-pikiran sendiri.


☘️☘️☘️


Pagi yang cerah menyambut hari baru keberadaan Rahma di Taman Wisata Alam Papandayan. Hangatnya mentari pagi sungguh menjadi kenikmatan tersendiri di pegunungan itu setelah sebelumnya cahayanya jauh sudah menyapa tatkala jarum jam masih menunjukkan pukul lima pagi.


Sesuai rencana, setelah sarapan pagi ini mereka kembali akan memulai petualangan menuju Pondok Saladah. Shanum sudah meminta penjaga villa yang mereka sewa untuk menyiapkan beberapa peralatan masak yang biasa digunakan saat berkemah untuk di bawa ke sana, rencananya mereka akan membuat tenda sambil bakar-bakaran di sana. Aneka menu sudah disiapkan, dari mulai jagung, ikan, sosis dan beberapa daging juga kentang sudah lengkap semuanya. Tidak lupa alat pemanggang yang diminta Shanum dari penjaga villa juga sudah ready.


"Sepertinya kali ini perjuangannya tidak bisa dianggap kaleng-kaleng" Lisna berbisik di dekat telinga Rahma, semalam dia mendapat kabar dari sang suami jika Tama datang menyusul mereka.


"Apaan?" tanya Rahma acuh, dia anteng menikmati sarapannya setelah menyuapi Athaya sebelumnya.


"Apaan sih, jangan suka bawa-bawa orang lain deh, dia sudah aman, nyaman, damai dan sentosa hidupnya jangan suka mengusik" jelas Rahma masih dengan mode santainya,


"Wishh...kalau baginda ratu sudah bertitah, hamba bisa apa" ujar Rahma kembali mundur dan mengambil telur dadar yang menjadi salah satu menu sarapan mereka saat ini.


"Emang beneran kamu belum bisa melupakan mantan suamimu itu?" setelah hening dan larut dalam aktifitas sarapan Lisna kembali berbisik, dia mengelap mulutnya dengan tissue dan meraih gelas yang berisi air putih, meneguknya, pertanda sarapannya sudah selesai. Saat ini mereka sedang berdua, yang lain sudah selesai dengan sarapannya dan sedang menikmati pemandangan pagi gunung Papandayan di pelataran villa.


"Melupakan sebagai apa? kalau sudah kenal ya pas ketemu lagi insya Allah masih ingat" jawab Rahma enteng,

__ADS_1


"Maksud aku, masih ada cinta untuk dia sampai kamu gak bisa membuka hati untuk yang lain? sudah lima tahun lho Naw kamu sendiri" Lisna kembali mengingatkan, walau bagaimanapun dia menginginkan sahabatnya membuka hati dan bahagia dengan pasangannya.


"Cinta itu bukan kehendak kita, tapi sang Pemilik Hati penentunya. Targetku saat ini adalah menjalani hidup dengan benar dan memastikan Athaya bahagia. Perihal mas Anggara aku sudah tidak punya perasaan apa-apa, kami sudah punya kehidupan masing-masing, semesta pasti punya tujuan mengapa dulu menyatukan kami dan akhirnya memisahkan kami, ya walaupun tidak menyenangkan setidaknya bisa mendewasakan" seperti biasa Rahma selalu punya alasan untuk tetap berhati bersih terhadap siapapun termasuk Anggara yang sudah banyak memberinya luka. Dia tidak ingin menyalahkan siapapun untuk takdir yang sudah menyapanya. Baginya semua yang terjadi adalah proses penempaan dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik.


"Aahh....kamu, selalu aja bikin speechless. Dari dulu kamu memang sahabat panutanku, pantas saja dulu kamu kuat bertahan dengan Anggara tanpa membenci" puji Lisna,


"Seseorang pernah berkata padaku, lelah tapi bertahan, itulah kesetiaan wanita. Marah tapi memaafkan, itulah kesabaran wanita. Tersiksa tapi diam itulah ketulusan wanita, dan aku mendapatkan semuanya dalam diri kamu Naw, Naw-naw, naw-naw kamu memang the best" Lisna memeluk Rahma dari samping dengan gemas,


"Pada akhirnya yang kita pelajari dari hidup adalah tentang bagaimana menerima keadaan tanpa menyalahkan kenyataan. Setiap orang memiliki proses masing-masing untuk menuju akhir yang bahagia. Sama seperti halnya bunga, tidak semua bunga mekar dalam bentuk dan waktu yang sama. Semuanya punya bentuk dan pesonanya masing-masing. Kamu pun merasakan sendiri seperti apa proses kebahagiaan menyapamu, dan aku turut bahagia akhirnya hatimu berlabuh pada orang yang tepat" ucap Rahma dengan mata berbinar, dia pun menatap sahabatnya Lisna yang tiba-tiba matanya berair karena haru.


"Aaa.....aku mau nangis rasanya, makasih ya bestie kamu selalu ada dalam setiap momen hidupku" Lisna kembali memeluk Rahma erat,


"Dan sekarang giliran kamu menjemput kebahagiaanmu, aku yakin Pak Tama akan menjadi imam yang baik untukmu dan menjadi Ayah yang baik juga buat Athaya" ucap Lisna.


"Kamu lupa dulu kamu juga yang memperkenalkan Mas Anggara padaku, rupanya kamu belum kapok ya" canda Rahma, dia menggelitik pinggang Lisna yang masih anteng memeluknya dari samping.


"Maaf...." mengingat itu raut wajah Lisna seketika berubah sendu, membuat Rahma ingin sekali tertawa namun dia menahannya,


"Terkadang ada yang terlihat luar biasa pada awalnya, tapi ternyata dibuat kecewa setelah bersama. Dan aku sudah mengalami itu. Kamu tahu? berjuang untuk bertahan dan berjuang untuk melepaskan keduanya adalah hal yang sulit untuk dilakukan" Rahma menghela nafas menjeda ucapannya,


"Pengalaman mengajarkanku harus selektif dalam memilih, karena dia tidak hanya akan menjadi teman hidup tapi juga partner ibadah. Rumah tangga itu ibadah terlama, dibutuhkan orang yang mau terus belajar dan membenahi diri. Aku tidak ingin gagal untuk kedua kalinya, karena sejatinya pernikahan itu ibadah maka harus berakhir di Surga, bukan di pengadilan agama" pungkas Rahma, dia menatap sahabatnya yang lagi-lagi berkaca-kaca, mereka pun saling berpelukan.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari sepasang telinga dan sepasang mata sejak tadi berada di balik pintu yang menghubungkan ruang depan dengan ruangan tempat mereka berdua berada. Dia tengah menyimak percakapan dua sahabat pagi ini yang membuat hatinya bergemuruh seketika.


__ADS_2