Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kasih Tak Sampai


__ADS_3

Waktu berlalu tanpa ada yang mampu menghentikannya. Rahma semakin menikmati perannya sebagai seorang istri. Rumah tangga yang dijalaninya perlahan mulai sesuai dengan ekspektasinya.


Anggara benar-benar bertindak sebagai imam dalam rumah tangganya. Semenjak perbincangannya waktu itu dimana Anggara mengungkap semua kebenaran tentang hubungannya dengan kekasihnya hingga sebenarnya dirinya pun ingin terlepas dan menjalani rumah tangga dengan baik bersama Rahma, sejak itu pula Rahma mulai membuka hati dan memberi kesempatan kepada Anggara untuk hidup bersamanya.


Anggara dengan senang hati menyambutnya, dia berjanji akan mempertahankan pernikahannya dengan Rahma apapun yang akan terjadi. Sejujurnya Anggara pun sudah lama jatuh hati pada Rahma namun keadaan memaksanya untuk tidak menunjukkan itu semua dan berperan menjadi pria tidak tahu diri dengan menikahi Rahma lantas menyakitinya.


Semenjak hubungannya dengan Rahma membaik, Anggara jadi lebih sering pulang. Sabtu malam adalah waktunya untuk kembali bersama sang istri, dia bahkan sering menolak untuk bertugas ke luar kota dan meminta orang lain teman sejawatnya untuk menggantikannya.


Kehidupan rumah tangga yang mereka jalani sudah hampir satu tahun itu mulai terasa indahnya. Sering terbersit dalam pikiran Anggara, mengapa dulu dia begitu bodoh memilih menuai dosa padahal sumber pahala begitu berlimpah dalam genggamannya. Untunglah Rahma memberinya kesempatan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik. Dia bahkan menerima semua kehidupan masa lalu Anggara tanpa pernah mengungkitnya.


Bagi Rahma masa lalu adalah sesuatu yang sudah berlalu, tidak mungkin akan bisa dirubah atau dapat diputar kembali. Setiap orang pun pernah berbuat salah, dan alangkah egoisnya dia jika tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk berubah menjadi lebih baik. Setiap orang berhak punya kesempatan selama ada kesungguhan dalam dirinya untuk berubah dan menjadi lebih baik.


Walaupun sempat terbersit di pikirannya untuk mengakhiri rumah tangganya, tapi itu terjadi saat dirinya merasa hanya sendiri berjuang. Melihat kesungguhan Anggara dalam membuktikan ucapannya tidak ada salahnya menurut Rahma jika dia memberikan kesempatan pada suaminya itu.


Rahma pun berpikir bagaimana respon keluarganya jika dia berpisah dengan Anggara, dia tidak bisa membayangkan keadaan sang ibu jika mengetahui anaknya akan menjadi janda dalam usia pernikahan yang terbilang singkat. Apalagi mengingat jika vonis masyarakat kadang jauh lebih ekstrim dibanding vonis pengadilan. Mereka memvonis sesuai dengan apa yang dilihatnya, seenaknya dan tanpa proses pengadilan terlebih dahulu. Walau bagaimanapun perceraian tetap lebih banyak memiliki sisi negatifnya.


Allah Maha Bijaksana, di saat dirinya hampir menyerah di saat itu tepat dirinya dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan perjuangan. Rahma hanya berharap semoga kali ini pilihannya tepat. Semoga apa yang ditakdirkan untuknya sama seperti yang diinginkan.


"Mas, baju yang ini mau dibawa enggak?" Rahma sedang memasukan beberapa stel pakaian dinas Anggara ke dalam koper kecil dalam kamar mereka.


Sejak Rahma memutuskan untuk menerima Anggara dengan segala masa lalunya, sejak itu pula dia menyerahkan jiwa raga serta mempercayakan hidupnya kepada Anggara.


"Eummh, yang itu gak usah sayang. Aku cuma seminggu di sana" jawab Anggara, dia menoleh sebentar ke arah istrinya yang bersimpuh di depan lemari di kamar yang mereka tempati. Sementara Anggara berada di atas tempat tidur dengan laptop di pangkuannya.


Untuk pertama kalinya Anggara kembali bersedia menerima tugas dinas luar semenjak memutuskan untuk memperbaiki rumah tangganya dengan Rahma, Rahma meyakinkannya jika dirinya tidak apa-apa kalau harus ditinggalkan jauh. Toh selama ini juga mereka hanya bersama di akhir pekan.

__ADS_1


"Sayang, kamu baik-baik di sini ya" Anggara turun dari tempat tidur setelah mematikan laptopnya, dia berjalan ke arah sang istri yang fokus menyiapkan semua yang akan dibutuhkan suaminya selama dinas luar.


"Mas...diem dulu" Rahma mencoba menepis tangan Anggara yang membelit tubuhnya, berawal dari belitan tangan di pinggang ramping sang istri yang sedang berdiri di depan lemari memeriksa kembali perlengkapan yang akan dibawa, kini kedua tangannya malah merambah ke area lain membuat Rahma sangat terganggu.


"Aku enggak mau jauh dari kamu" ucap Anggara manja membuat Rahma menautkan kedua alisnya,


"Kenapa? bukankah kita memang sudah biasa jauh?" tanya Rahma penasaran dengan ucapan suaminya,


"Enggak tahu, aku males aja pergi. Kalau lancar, menurut jadwal aku akan pulang minggu pagi sampai ke sini paling sore, dan hari Seninnya harus balik lagi ke Bandung" jawab Anggara dengan suara lesu, dia semakin mengeratkan pelukannya, mencium aroma rambut Rahma yang saat ini tidak memakai hijab. Posisinya saat ini adalah memeluk Rahma dari belakang.


"Sayang, ini sudah isi?" Anggara mengusap lembut perut Rahma, sebuah senyum penuh harap terbit di bibirnya walau tidak terlihat oleh Rahma.


Beberapa bulan berlalu setelah obrolan mereka berdua tentang keinginan mama mertua Rahma untuk segera memiliki cucu, sejak saat itu Rahma dan Anggara mulai tidur sekamar selayaknya suami istri pada umumnya. Sebagai sama-sama orang dewasa itu bukan lagi hal yang tabu untuk keduanya.


Bagaimana pun juga sebagai seorang wanita Rahma menyadari hamil dan melahirkan adalah bagian dari fitrah yang telah Allah tentukan khusus untuk wanita. Salah satu yang menandakan jika wanita itu sangatlah berharga dan istimewa adalah karena ada tugas mulia yang Allah embankan hanya pada wanita yaitu hamil, melahirkan adan menyusui. Bahkan tiga hal tadi yang menjadi alasan kenapa kedudukan seorang ibu lebih tinggi tiga tingkat dibanding ayah, dan Rahma tentu saja mendambakan semua itu.


"Hey....kenapa jadi murung begitu? Jangan diambil hati aku hanya bertanya sayang. Tidak apa-apa, jangan jadi pikiran" Anggara membalikkan tubuh Rahma dan kini mereka saling berhadapan. Anggara menangkup pipi Rahma dengan kedua tangannya, dikecupnya kening Rahma dengan dalam.


"Jangan jadi pikiran, aku sudah sangat bahagia dengan kehidupan kita saat ini. Mungkin memang alangkah baiknya kalau kita lebih banyak menghabiskan waktu berdua supaya lebih saling mengenal dan memahami karakter masing-masing" Anggara berkata lembut dengan usapan tangannya di pipi Rahma seolah mengalirkan cinta yang saat ini tengah dirasakannya untuk Rahma.


"Iya Mas. Tapi aku juga berharap bisa segera hamil. Maya sudah hamil sekarang, aku juga mau" jawab Rahma dengan suara merajuk membuat Anggara tergelak karena merasa lucu dengan tingkah manja sang istri yang baru diketahuinya akhir-akhir ini. Rahma menenggelamkan wajahnya di dada bidang Anggara setelah suaminya setelah Anggara menarik Rahma ke dalam pelukannya, dia pun semakin mengeratkan pelukannya pada suaminya.


Anggara tersenyum tipis, sungguh Anggara sangat menyukai Rahma seperti itu, membuat dirinya semakin merasa berharga dan bisa diandalkan.


"Jangan khawatir ya, aku tidak mau kamu kepikiran masalah itu. Biarkan semuanya mengalir seperti air, anggap kita masih pacaran, aku menyayangimu, I love you sayang" pungkas Anggara, mengecup puncak kepala Rahma lama, kini dia lebih lega setelah mendengar kata-kata menenangkan yang diucapkan suaminya.

__ADS_1


☘️


☘️


☘️


Jika Rahma sudah menemukan kebahagiaannya. Berbeda dengan seseorang yang masih terjebak dalam kasih tak sampainya. Andai dirinya lebih cepat bertindak, mungkin semuanya akan berbeda cerita.


Semenjak terakhir kalinya dia melihat Rahma melalui kaca jendela kantornya, sejak itu pula Tama tidak pernah menginjakkan lagi kakinya ke yayasan miliknya. Dia benar-benar menyerahkan segala urusan yayasannya yang berada di Garut pada Regy sahabatnya.


Sempat mendapat protes dari sang ayah karena mengabaikan yayasan tidak lantas membuat Tama menyerah. Dia benar-benar memantapkan hati untuk tidak lagi datang ke yayasan karena semua yang ada di sana seolah mengingatkan dirinya pada sosok gadis yang masih sangat dia rindukan tapi sudah menjadi milik orang lain.


"Ada apa?" empat orang pemuda tengah duduk melingkari meja di sebuah restoran terkenal di Bandung. Tama yang datang paling akhir ke tempat itu memulai pembicaraan.


Mereka kini sedang melakukan pertemuan darurat, sebelumnya Tama mendapat informasi dari Arga jika Ghifar menghubunginya dan memintanya untuk mengatur pertemuan para sahabat lama itu.


Ghifar mengatakan jika salah satu dari mereka sedang berada dalam keadaan tidak baik-baik saja. Hal itu menjadi alasan kenapa pertemuan ini bisa terjadi. Biasanya sangat sulit untuk mereka bisa bertemu karena kesibukan masing-masing. Untunglah Arga yang mendapat tugas dari atasannya untuk meninjau perkembangan salah satu cabang restoran yang ada di Bandung memanfaatkan momen ini untuk bertemu.


"Ahsan dalam keadaan kacau" jawab Ghifar langsung pada intinya membuat dua orang yang sedang menikmati kopinya hampir tersedak. Arga seketika menyimpan kembali cangkir kopinya sementara Tama memilih melanjutkan menikmati kopinya walau beberapa detik sempat berhenti karena terkejut. Sementara Akhtar masih dengan mode santai senyum-senyum menatap layar ponselnya.


Lima pemuda dengan latar belakang berbeda namun sering di pertemukan dalam berbagai even di masa kuliah dulu kini menjadi kembali menjalin persahabatan, Tama, Ghifar, Arga, Akhtar dan Ahsan. Jika dulu mereka dibersamakan dalam kegiatan keorganisasian kampus ataupun kepemudaan lainnya, hari ini mereka kembali disatukan dalam urusan bisnis.


"Maksud lu apa?" Arga menjadi orang yang paling antusias bertanya, tidak mengerti dengan kata kacau yang dimaksud Ghifar yang disematkan pada Ahsan.


"Dia lagi terpuruk, karena wanita yang dicintainya pergi meninggalkannya" jawab Ghifar lebih jelas, sontak hal itu membuat Tama membelalakan mata karena merasa jika dirinya pun berada di posisi yang sama saat ini.

__ADS_1


__ADS_2