Belenggu Akad

Belenggu Akad
Jawaban Rahma


__ADS_3

''Saya ....." Rahma memberanikan diri membalas tatapan Tama, dia menarik nafas panjang mengisi paru-parunya yang serasa menyempit saat akan berbicara.


Rahma kembali teringat percakapannya dengan sang putra.


"Thaya, Thaya sayang Bunda enggak?" tanya Rahma di sela-sela membersamai Athaya belajar beberapa malam yang lalu.


"Sayang Bun, Thaya sayang Bunda" Athaya menghentikan aksinya yang sedang mewarnai kaligrafi hasil karyanya. Dia beranjak dari posisinya dan menghampiri sang bunda, mencium penuh kasih wanita berharga dalam hidupnya itu.


"Thaya sayang Bunda, Bunda is everything, love you" ucapnya setelah mencium kening dan kedua pipi Rahma, terdengar sangat merdu dan tulus di telinga Rahma. Seketika hati Rahma diselimuti kebahagiaan tak terkira.


"Kalau sama uwa Budi dan Uwa Istri, sayang?" tanya Rahma setelah Athaya kembali pada posisinya.


"Sayang dong" jawab Athaya, kali ini tanpa mengalihkan fokusnya,


"Sama Ateu Maya dan Omm Adam, omm Yusuf?" tanya Rahma lagi masih menguji sang putra,


"Sayang Bunda, aku sayang semuanya" Athaya membentangkan kedua tangannya sebagai ekspresi dia menyayangi semuanya.


"Sama Ayah?" tanya Rahma pelan, putranya kadang menunjukkan ekspresi tidak nyaman ketika membahas tentang ayah kandungnya.


"Ayah sayang sama aku enggak?" Athaya malah balik bertanya, setelah sempat terdiam beberapa saat membuat Rahma pun terdiam, bingung.


"Sayang dong, ayah sayang sama Athaya" jawab Rahma akhirnya, berusaha mengembalikan mood sang putra yang tiba-tiba mendung.


"Tapi Ayah jarang menemui Athaya" suasana mendung karena membahas sang ayah semakin menggelayut di wajah Athaya seiring dengan pernyataannya yang cukup menohok.


"Itu karena ayah sibuk. Sebagai anak sholeh, Thaya harus mengerti dan tetap menyayangi juga mendo'akan ayah" Rahma memberi Athaya pengertian, walaupun apa yang dikatakan Athaya benar adanya tapi dia tetap memberi pengertian pada Athaya untuk menghormati dan menghargai ayah kandungnya.


"Thaya anak sholeh kan?" Athaya mengangguk walau masih dengan wajah mendungnya.


"Nah, salah satu ciri anak sholeh adalah selalu menyayangi orang tua dan mendo'akannya. Jadi, Thaya harus sayang daan mendo'akana ayah ya biar jadi anak sholeh?" jelas Rahma yang diangguki kepala oleh Athaya. Rahma pun tersenyum lega.

__ADS_1


Sekarang yang terakhir Bunda mau tanya" Rahma menghentikan ucapannya, berusaha menarik fokus Athaya.


"Tanya apa Bun?" Athaya pun penasaran, dia menghentikan aktivitas mewarnainya dan menatap sang Bunda menunggu jawaban.


"Kalau sama omm ganteng Athaya sayang gak?" Rahma akhirnya mengeluarkan pertanyaan utama yang sebenarnya ingin dia tanyakan pada sang putra sejak lama. Hatinya berdebar, was was dengan respon yang akan ditunjukkan sang putra.


"Sayang" jawabnya singkat,


"Thaya sayang sama omm ganteng, dia baik dan perhatian sama Thaya" lanjut Athaya, matanya bahkan berbinar saat menyebut nama omm ganteng. Wajah mendungnya seketika berubah cerah dan bersemangat.


"Benarkah?" tanya Rahma memastikan,


"Iya Bunda, kalau bisa omm ganteng aja yang jadi papinya Thaya. Kata Salsa, kalau bunda nikah lagi nanti Thaya bakalan punya papi. Jadi bunda nikahnya sama omm ganteng aja biar omm ganteng jadi papi Thaya" jelas Athaya menceritakan obrolannya beberapa hari yang lalu dengan teman-temannya.


Deg....Deg.....Deg.....Hati Rahma tiba-tiba berdebar, jantungnya berdetak lebih cepat mendengar apa yang dikatakan Athaya.


"Salsa siapa?" Rahma mengerutkan dahinya, gugup sekaligus heran dengan apa yang dikatakan Athaya, bagaimana bisa anak kecil membicarakan tentang pernikahan.


"Salsa Bunda, temen aku yang waktu itu ngasih hadiah coklat dodol waktu pulang liburan dari Garut katanya, padahal kita juga kan baru dari Garut." Athaya terkekeh, mengingatkan Rahma dengan teman perempuan yang pernah memberinya hadiah cokelat dodol oleh-oleh khas Garut, padahal saat itu mereka juga sama baru kembali dari Garut. Salsa tidak tahu jika keluarga Athaya juga asli Garut.


"Iya Bunda"


"Jadi kalau omm ganteng jadi papa Athaya......Thaya mau?" Rahma terbata menanyakan pertanyaan final pada sang putra. Respon yang diberikan sang putra akan berpengaruh besar pada keputusan yang akan dibuatnya.


"Mau" jawab Athaya mantap, dia menjawab diiringi anggukan kepala dengan mata berbinar dan senyum merekah di bibirnya membuat Rahma pun bernafas lega.


"Saya apa Naura? Kamu jangan buat saya mati berdiri karena penasaran. Saya tanya sekali lagi, bersediakah kamu menjadi penyempurna setengah agama saya?" suara Tama membuyarkan lamunan Rahma, dia kembali sadar jika dirinya kini tengah berhadapan dengan orang yang menjadi objek pembicaraannya dengan Athaya waktu itu.


Rahma menarik nafas dalam, dia menyiapkan hati agar kata yang akan diucapkannya benar dan jelas serta dapat difahami oleh Tama. Walau bagaimanapun berhadapan langsung dengan Tama selalu berhasil membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


"Bismillah, Insya Allah saya bersedia Pak" jawab Rahma, pelan namun terdengar jelas di telinga Tama membuat laki-laki dengan berjuta pesona saat menaiki panggung dan berpidato itu seketika membeku. Baginya dunia sesaat serasa berhenti berputar.

__ADS_1


Beberapa waktu keheningan tercipta, Rahma menundukkan wajahnya yang semakin memanas, sementara Tama asik dalam lamunan memutar ulang jawaban Rahma yang baru saja didengarnya.


"Bismillah, Insya Allah saya bersedia Pak"


"Bismillah, Insya Allah saya bersedia Pak"


"Bismillah, Insya Allah saya bersedia Pak"


Allahu Akbar...Allahu Akbar... kumandang adzan maghrib mengiringi dua insan yang dalam hatinya masing-masing berucap janji akan saling memperjuangkan.


"Adzan Pak, saya permisi...." karena Tama yang tak kunjung bersuara Rahma akhirnya berinisiatif untuk mengambil jurus seribu langkah agar perasaannya kembali netral.


"Tunggu" Tama menahan bahu Rahma yang akan berlalu dari hadapannya. Rahma pun menatap tangan yang menempel di bahunya. Walaupun terhijabi kerudung lebar dan jaket tebal yang digunakannya tapi berhasil sentuhan Tama membuat hati Rahma semakin berdesir.


"Maaf" Tama buru-buru menurunkan tangan yang ujung telapaknya masih menempel di bahu Rahma.


"Terima kasih, aku akan segera melamarmu" ucap Tama dengan mata berbinar, dia tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya saat ini.


"Harusnya sejak lima tahun yang lalu aku mendengar jawaban itu dari mulutnya" gumam Tama dalam hatinya.


"Memang sudah seharusnya begitu" balas Rahma tegas, membuat Tama seketika mengembangkan senyumnya.


"Kamu tidak merindukanku?" Tama kembali menghadang Rahma yang akan pergi,


"Adzan Pak!" Rahma membulatkan matanya tak percaya dengan pertanyaan Tama di waktu yang tidak tepat menurutnya,


"Aku tahu, tapi jawab dulu" lagi-lagi Tama menggodanya,


"Apa sih...." Rahma memalingkan wajahnya yang seketika memerah karena pertanyaan Tama dengan tatapan yang tak biasa,


"Kamu merindukanku?" Tama mengulangi pertanyaannya,

__ADS_1


Rahma pun menghela nafas, laki-laki di hadapannya itu tidak akan berhenti sebelum dia menjawabnya.


"Tidak bertemu bukan berarti tak rindu. Tidak menyapa bukan berarti lupa. Karena tentangmu telah lebih dulu ku utarakan dalam do'a" Rahma pun segera berlalu meninggalkan Tama yang kembali mematung dengan mulut sedikit terbuka setelah mendengar ucapan Rahma.


__ADS_2