
Rahma semakin mempercepat langkahnya. Air mata yang susah payah ditahannya semakin akan membuat jebol bendungannya. Rahma yang awalnya akan kembali ke rombongan teman-temannya kini berbelok ke arah kamar mandi. Dia sudah tidak mampu menahan air matanya.
Brakkkk.....
Toilet yang kebetulan banyak yang kosong membuat Rahma leluasa mengekspresikan keadaan hatinya, dia menutup keras pintu toilet itu. Bersandar di balik pintu, Rahma akhirnya tak kuasa lagi menahan bendungan air matanya.
Dia menangis tersedu dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Sakit, rasanya sakit sekali. Padahal dia tahu jika Anggara memang memiliki kekasih, bahkan Rahma sadar jika dirinya yang menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka.
Sejak awal pernikahan Anggara sudah menjelaskan tentang keadaan dirinya dengan Friska yang sebenarnya. Rahma pun berusaha menerimanya karena dia sadar betul tak ada hati yang bisa dipaksa mengikuti keinginan. Yang ada keinginan hadir karena hati yang menghendaki.
Rahma semakin tersedu menangis saat bayangan kedua orang tuanya terlintas dibenaknya. Selama ini Rahma memilih bertahan untuk menjaga perasaan mereka, apa kata dunia jika pernikahannya yang belum seumur jagung sudah berakhir di pengadilan.
Betapa banyak wanita yang sekarang ini menangis penuh penyesalan ketika mereka menikah dengan laki-laki yang kelihatannya bagus dalam kata, rupa dan karirnya tapi ternyata mereka mendapati suami mereka termasuk orang yang paling buruk dalam menggauli istri mereka.
Ucapan seorang teman membuatnya semakin tersedu, Rahma sungguh sulit menghentikan tangisnya kali ini. Dia sudah berusaha menarik napas panjang dan menghembuskannya mulai perlahan hingga dengan kasar untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.
Rahma kembali terngiang ucapan Anggara saat berada di foodcourt tadi "Sayang, keponakanmu sudah datang?" sakit, ulu hatinya terasa sangat sakit saat orang yang beberapa saat yang lalu membuat hatinya berharap akan kehidupan rumah tangga yang lebih baik menyebut panggilan sayang tapi bukan untuk dirinya.
"Yaa Allah, kenapa bisa sesakit ini rasanya. Ayah, Ibu maafin Rahma" ucapnya lirih di sela-sela isak tangisnya. Rahma memegangi dadanya yang masih terasa sesak.
Derrrrt......derrrt.....derrrrt....
Getaran ponsel milik Rahma yang berada di tas kecil yang disampirkan di bahunya pun bergetar sangat lama. Awalnya Rahma membiarkannya karena saat ini keadaannya sangat kacau, dia tidak mungkin membiarkan dirinya bertemu teman-teman dan murid-muridnya dalam keadaan seperti ini.
"Hallo....." Rahma terpaksa mengangkat panggilan telepon yang di layar tertera nama Lisna,
"Hallo, Naw kamu dimana? kamu baik-baik saja kan? lama banget ke toiletnya. Sebentar lagi kita akan berpindah lokasi nih.'' Lisna langsung menodong sahabatnya itu karena khawatir,
"Aku masih di toilet, bentar lagi ya aku ke sana" Jawab Ratna singkat, dia menahan diri sekuat tenaga agar sisa isakan tangisnya tidak terdengar saat berbicara di ujung telepon,
"Kamu baik-baik aja kan? di toilet sebelah mana? biar aku susulin" Lisna yang mendengar suara sahabatnya itu sedikit berbeda dari biasanya pun mulai dilanda khawatir, dia takut Rahma kenapa-napa,
"Gak usah, aku sebentar lagi ke sana. Tunggu ya" jawab Rahma lalu menutup sambungan teleponnya,
Rahma pun mulai membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata, dia sedikit memulas wajahnya dengan bedak dan mengoleskan lipstik ke bibirnya biar terlihat lebih segar. Walau pun demikian Rahma cukup kesulitan untuk menyembunyikan matanya yang sembab karena habis menangis.
__ADS_1
"Lama banget, kamu enggak apa-apa kan? Lisna menyongsong kedatangan Rahma lebih dulu karena dari kejauhan dia sudah bisa melihat perubahan pada wajah Rahma,
"Kamu habis nangis?" selidik Lisna yang terus memandangi wajah sahabatnya itu,
"Tadi..... tadi aku mual dan muntah-muntah di toilet, mungkin aku masuk angin jadinya matanya juga berair pas muntah-muntah tadi" Rahma berkilah, selama berjalan dari toilet menuju rombongan para guru berada, dia mencari alasan yang masuk akal untuk disampaikan jika ada yang bertanya perihal mata sembabnya,
"Bu Rahma kenapa?" Pak Regi yang melihat Rahma dan Lisna berdiri berdua sambil mengobrol serius datang menghampiri mereka, dia pun melihat mata Rahma sedikit bengkak seperti sudah menangis.
"Bu Rahma sakit?" tanyanya penasaran,
"Enggak apa-apa Pak, kayaknya tadi masuk angin tapi sekarang udah lebih enakan" jawab Rahma cepat, dia tidak mau keadaan dirinya menjadi bahasan lagi.
"Syukurlah kalau begitu" ucap Regi lega mendengar penjelasan Rahma. Mereka pun kembali ke rombongan karena akan berpindah ke tempat wisata lainnya sebelum kembali ke Garut.
Berbeda dengan Regi yang mudah percaya dengan apa yang dikatakan Rahma. Lisna terlihat terus mengamati sahabatnya itu, dia yakin sudah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
"Naw, beneran kamu enggak apa-apa?" Lisna kembali memastikan keadaan Rahma, mereka berjalan beriringan mengikuti Regi yang sudah lebih dulu melangkah menuju lapangan yang cukup luas tempat para siswa berkumpul.
"Beneran, aku enggak apa-apa" tegas Rahma, dia pun menarik lengan sahabatnya itu dan berjalan lebih cepat karena Regi sudah jauh di depan mereka.
Hari yang sangat melelahkan untuk Rahma, tepat pukul sembilan malam dirinya sudah sampai di rumahnya. Rahma memasukan motornya ke dalam garasi khusus motor tepatnya seperti lorong di samping pintu utama rumahnya, sebagai akses masuk dari pintu lain ke dalam rumahnya.
Mandi air hangat dan kasur empuk adalah hal yang ada di benak Rahma saat ini. Dia sudah mau memikirkan hal yang lain selain tidur, perutnya sudah di isi saat di perjalanan yang memang mengagendakan makan malam bersama di salah satu rest area sambil shalat Isya. Walau hatinya kacau, tapi Rahma cukup waras diri untuk tetap mengisi perutnya sebagai sumber energi.
"Alhamdulillah, segernya" Rahma membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk tempatnya menghabiskan malam seorang diri.
Ting...tong...
Baru saja Rahma meraih selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, bel rumah Rahma berbunyi. Dia menatap jam dinding yang menunjukkan hampir jam sepuluh malam.
Rahma mengabaikan saja sura bel itu, berharap dirinya salah dengar. Dia kembali menarik selimutnya dan bersiap untuk menutup mata. Namun lagi-lagi bel rumahnya berbunyi.
Dia meraih ponsel yang disimpannya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, melihat mungkin ada panggilan atau pesan dari keluarganya akan datang ke rumah.
Rahma sedikit takut jika harus membuka pintu di jam yang sudah cukup larut. Sebelumnya dia tidak pernah menerima tamu siapapun di rumah itu selain keluarganya. Namun nihil, tak ada panggilan atau pun pedan dari keluarganya.
__ADS_1
Derrrttt ... Derrrrt.....Derrrrrt....
Rahma yang masih berada dalam kekhawatirannya tersentak saat tiba-tiba ponsel yang digenggamnya bergetar. Dia menatap permukaan layar pipih yang kini menyala itu. Nama suaminya yang tertera melakukan panggilan telepon terhadapnya.
"Assalamu'alaikum" Rahma buru-buru mengangkat teleponnya,
"Wa'alaikumsalam. Aku sudah di depan rumah, tolong buka pintunya" suara Anggara terdengar tegas di telinga Rahma, dia pun segera turun dari atas tempat tidurnya.
"Baik Mas, tunggu sebentar" Rahma meraih cardigan yang menggantung di hanger samping lemari pakaiannya, dia pun mencari hijab terusan yang biasa digunakan jika di rumah.
Ceklek......pintu depan pun terbuka lebar, menampakkan sesosok pria tinggi dan gagah memakai seragam lengkap seperti saat bertugas.
Rahma melongo melihat penampilan Anggara yang terasa lain malam ini. Dia menautkan kedua alisnya menatap sang suami yang kini berdiri di hadapannya. Setelah hampir setengah semester akhirnya suaminya pulang.
"Aku tidak disuruh masuk?" Anggara yang berdiri melihat Rahma hanya melongo pun akhirnya buka suara, dia mengibaskan tangan kirinya di depan wajah Rahma.
"Ouh, maaf Mas aku hanya sedikit kaget. Silahkan masuk Mas" Rahma melebur kekagetannya dan mundur beberapa langkah memberi jalan pada Anggara untuk masuk,
"Terima kasih" ucapnya lembut, membuat Rahma semakin dibuat heran. Dia pun meraba tengkuknya sendiri sambil kembali menutup pintu dan menguncinya.
"Ini, aku bawakan oleh-oleh dari Papua buat kamu" Anggara menyodorkan sebuah paper bag yang sejak tadi ditenteng di tangan kanannya. Dia pun menuju sofa yang berada di ruang tengah dan duduk di sana menatap Rahma yang masih berdiri di dekat pintu dengan wajah bingung.
"Duduklah aku mau bicara" Rahma seolah terhipnotis, dia berjalan tanpa kata saat mendengar suara Anggara ke arah sofa dan duduk di sofa single yang ada di hadapan suaminya itu.
"Aku mau minta maaf" ucap Anggara pelan, dia menundukkan kepalanya saat mengatakannya tidak berani menatap Rahma.
"Aku sadar jika aku sudah sangat keterlaluan sama kamu. Maafkan aku atas peristiwa tadi siang dan atas semua waktu yang sudah membuat aku mengabaikan kamu" lanjut Anggara yang membuat Rahma hanya melongo tidak percaya.
Laki-laki yang beberapa bulan yang lalu sudah menyatakan ikrar ijab qabul untuk menghalalkan dirinya, namun ternyata hanya awal untuk melukainya.
Pertemuan yang tidak disengaja pada awalnya berakhir di hadapan penghulu membuat Rahma tidak punya cukup waktu untuk mengenal lebih jauh siapa laki-laki yang menghalalkannya.
Hingga kenyataan yang diterimanya di awal pernikahan membuat Rahma terluka. Pasrah membiarkan suaminya melakukan apa yang sudah direncanakannya. Menikahi dirinya hanya untuk menutupi hubungan bersama kekasihnya.
Anggara mendongakkan kepalanya, menatap Rahma yang masih tidak terdengar suaranya. Dia menatap wanita halalnya dengan tatapan sendu,
__ADS_1
"Maafkan aku Rahma" ucapnya lirih,