
Semua persiapan sudah hampir rampung. Kali ini keluarga Rahma tengah disibukan dengan persiapan pengajian sebelum pernikahan yang akan di gelar besok, H-1 pernikahan Rahma dan Tama.
Keluarga besar dari Garut sudah berkumpul, begitu juga dengan keluarga Adam, mertua dan ipar Maya dari Yogya sudah datang ke Jakarta sejak dua hari kemarin. Semua turut andil mempersiapkan acara pengajian yang akan digelar besok pagi.
Rahma sedang berada di kamarnya yang sudah dihias layaknya kamar untuk pengantin baru. Awalnya Rahma menolak tapi dengan segala upaya Maya membujuknya, merapikan beberapa yang harus dirapikan juga menambah ornamen khas kamar pengantin. Rahma luluh saat sang adik bilang jika ini memang bukan yang pertama untuknya tapi tidak bagi Tama.
Saat ini Rahma tengah merapikan beberapa barang dalam lemarinya. Tangan boleh bergerak tapi pikiran melayang, memikirkan lebih dalam perkataan sang adik yang memang benar adanya.
Jika Rahma menginginkan pernikahan ini sederhana karena dirinya memang menikah untuk yang kedua kalinya, tapi mungkin tidak bagi Tama, dia pasti menginginkan yang terbaik dan tidak terlupakan. Apalagi Tama dan keluarganya bukan orang biasa seperti dirinya. Mereka adalah orang terpandang dengan relasi dimana-mana, tentu menginginkan yang terbaik untuk pernikahan putranya.
Rasa bersalah hinggap di hati Rahma, egoiskah dia dengan keinginannya. Rasa percaya dirinya pun seketika menurun, merasa tidak pantas bersanding dengannya. Ragu pun melanda, tepatkah dia dengan keputusannya.
Tanpa sengaja sebuah foto jatuh dari tumpukan buku catatan miliknya. Foto pernikahan dirinya dengan Anggara. Pernikahan pertamanya terlihat sangat sederhana, hanya dihadiri oleh dua keluarga inti dan sahabat dekat.
Ada sesuatu yang merasuki dada Rahma, bayangan hari-hari pernikahannya dengan Anggara kembali melintas. Hari pertama menjadi istri seorang Anggara dia dihadiahi kesepakatan yang membuat hatinya terluka dan harga dirinya tergadaikan. Tanpa terasa air matanya menetes mengingat bagaimana dulu dia menjalani rumah tangganya dengan Anggara.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rahma, dia buru-buru mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Sebentar" teriak Rahma, dia bercermin terlebih dahulu memastikan tidak ada yang berbekas di wajahnya.
"Teteh lagi apa?" Maya sudah berdiri di depan pintu dengan wajah menelisik, pasalnya tadi dia niatnya akan langsung masuk tetapi urung karena pintu kamar Rahma terkunci.
"Lagi beres-beres" jawab Rahma sejujurnya,
"Ada apa dek?" lanjutnya bertanya perihal keperluan Maya mencarinya,
"Di depan ada Kak Angga, awas ya teh kalau dia macam-macam, cepat bilang. Kita harus segera ambil tindakan" seru Maya menggebu-gebu, adiknya memang sangat sensitif jika berhubungan dengan Anggara. Dia menjadi orang yang tidak mampu menahan emosinya ketika mengetahui bagaimana Rahma diperlakukan selama berumah tangga dengan laki-laki itu.
"Apaan sih kamu, serem banget dengernya" Rahma tergelak mendengar perkataan adiknya dengan ekspresi seperti itu.
"Ya siapa tahu aja dia datang buat ngegagalin pernikahan teteh" ketus Maya semakin menjadi, namun Rahma semakin tergelak karena merasa lucu dengan tingkah sang adik.
"Sudah, jaga hati. Jangan su'udzon. Kita terima niat baiknya untuk bersilaturahim" ujar Rahma sambil berlalu merangkul tangan sang adik mengajaknya keluar dari kamar bersama.
Di ruang tamu yang sudah penuh dengan hiasan pernak-pernik pernikahan seorang pria dengan gagahnya tengah berdiri menghadap jendela samping yang menghadap taman kecil dengan deretan bunga dalam pot yang tampak sedang kompak berbunga.
"Assalamu'alaikum" sapa Rahma saat sampai di ruangan tempat Anggara menunggu,
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam" jawabnya sembari membalikkan badan dengan senyum manis karena di hadapannya sudah berdiri wanita yang dia rindukan.
"Mas Angga sama siapa ke sini? Silahkan duduk mas, Athaya sebentar lagi pulang " tanya Rahma ramah,
"Sendiri" jawab Anggara, dia duduk di sofa yang ditunjuk Rahma. Mereka pun duduk berhadapan.
"Kenapa Mbak Friska enggak diajak?" Rahma mengambil cangkir yang di bawa salah satu pegawai di rumah kakak iparnya itu dan menaruhnya di atas meja tepat di hadapan Anggara,
"Terima kasih bu" ucap Rahma tulus,
"Silahkan diminum mas" lanjutnya beralih pada Anggara.
"Aku datang langsung dari Malaysia" Anggara menjawab pertanyaan Rahma yang sempat terjeda,
"Aku kaget mendapat kabar kamu akan menikah, makanya aku langsung ke sini" jelas Anggara mengatakan alasannya datang menemui Rahma,
"Undangannya sudah aku kirim, Yusuf yang mengantarnya. Dia bilang undangannya diterima langsung oleh Mbak Friska" Rahma berbicara dengan tenang,
"Kamu sungguh-sungguh dengan keputusanmu?" Anggara bertanya dengan wajah datar, pertanyaan yang dipikir ambigu oleh Rahma.
"Keputusan yang mana, Mas?" tanya Rahma memperjelas, dia tidak ingin salah persepsi dan salah dalam menjawab pertanyaan Anggara,
"Insya Allah tidak, semua sudah dipikir dan dipertimbangkan" jawab Rahma masih tenang,
"Coba pikirkan lagi Rahma" Anggara kembali berbicara dengan intonasi sedikit meninggi, membuat Rahma menatapnya tajam. Bingung dengan sikap mantan suaminya itu.
"Menurut mas apa yang harus aku pikirkan lagi?"
"Tentang pernikahanmu dengan laki-laki itu, kamu tidak memikirkan Athaya?" Anggara bertanya dengan nada yang tidak nyaman didengar oleh Rahma, membuat akhirnya dia pun terpancing.
"Menurut mas, kapan aku tidak memikirkan Athaya? memangnya kenapa dengan Athaya jika aku menikah lagi?" Rahma pun mulai jengah dengan pertanyaan mantan suaminya itu,
"Rahma, aku yakin setelah kamu menikah dengan dia kamu tidak akan memperlakukan Athaya seperti dulu lagi. Walau bagaimana pun dia hanya ayah sambung, apalagi dia seorang bujangan yang sebelumnya belum pernah menikah dan punya anak. Setelah kalian menikah dia pasti akan mendominasi kamu dan kalian berdua kan mengabaikan Athaya. Aku tidak mau itu terjadi, aku sadar selama ini aku bukan ayah yang baik untuk Athaya, tetapi aku merasa tenang karena dia memiliki ibu yang hebat seperti kamu. Tapi kalau kamu menikah lagi bagaimana dengan Athaya ke depannya" Anggara berbicara panjang lebar, dia seolah merasa benar dengan kekhawatirannya.
"Kamu berlebihan mas, dan kamu salah"
"Tapi Rahma kamu belum mengenal dia seutuhnya. Bisa saja di awal, sebelum kalian menikah dia bersikap sangat baik sekali pada kamu dan Athaya. Tapi setelah kalian menikah aku yakin sifat aslinya pasti akan kelihatan. Setelah itu aku yakin kamu akan menyesal, makanya dari pada terlanjur sebaiknya kamu..."
"Cukup Mas" Rahma sudah faham kemana arah pembicaraan Anggara, dia pun tak segan menjedanya.
__ADS_1
"Tidak Rahma aku ingin kamu dengarkan aku dulu" Anggara tak kalah kekeh, dia menatap Rahma dan kembali berbicara. Tak ingin sama-sama keras kepala Rahma pun mengalah, dia diam sambil menundukkan kepalanya.
"Rahma, kamu masih ada waktu untuk merubah keputusanmu. Aku tidak ingin kamu menyesal. Kamu jangan hanya memikirkan diri kamu sendiri, Athaya juga harus kamu pikirkan. Aku yakin Athaya sangat membutuhkan kita Rahma"
Deg...kalimat terakhir Anggara membuat Rahma tersentak, dia pun mendongak menatap tajam Anggara yang sejak tadi terus bicara sambil menatapnya.
"Apa maksud Mas? aku pikir semua perkataan yang sejak tadi mas ucapkan sangat cocok untuk diri Mas sendiri" tanya Rahma mulai tak bisa mengendalikan emosi, dia pun membalikkan keadaan membuat Anggara beberapa detik kehilangan kata untuk menjawab.
"Rahma, Athaya membutuhkan kita" Anggara masih belum menyerah kalimat andalannya itu kembali dia ucapkan membuat Rahma semakin geram mendengarnya. Tanpa Rahma maupun Anggara ketahui, di balik pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang lainnya di rumah itu berdiri dua perempuan yang juga sangat geram mendengar semua perkataan Anggara pada Rahma
"Kak, sepertinya Kak Angga memang sudah kehilangan urat malu dan tahu dirinya" bisik Maya pada kakak ipar. Sejak Rahma menemui Anggara mereka sudah stand bye dibalik pintu itu.
"Shuuutt...kita dengarkan dulu apa yang akan dikatakan Rahma." Kakak ipar memberi kode agar Maya diam, bisikan adik iparnya itu cukup keras, kalau tidak dihentikan bisa-bisa mereka ketahuan jika sedang menguping.
"Apalagi maksudnya itu?" sorot mata Rahma tak lagi bersahabat, dia benar-benar geram dengan semua perkataan mantan suaminya itu namun dia masih ingin tahu sampai dimana maksud pembicaraan Anggara.
"Begini Rahma, aku...." Anggara tampak ragu saat akan mengatakan inti dari pembicaraannya, sementara Rahma memilik diam dan mendengarkan apa yang akan dikatakan Anggara.
"Aku dan Friska akan bercerai"
Jedeer.....Rahma mulai dapat mengambil kesimpulan dari perkataan Anggara, dia pun memalingkan wajahnya jengah dengan perkataan mantan suaminya itu.
"Setelah aku dan Friska bercerai, aku ingin kita bersama lagi dan memulai semuanya dari awal. Aku yakin Athaya akan sangat bahagia"dengan tidak tahu malunya Anggara mengucapkan kata-kata itu, Rahma benar-benar dibuat geleng-geleng kepala.
"Gila tuh orang" Maya hampir tak mampu mengontrol dirinya, untunglah kakak ipar segera membekap mulutnya dan memberi kode agar adik iparnya itu diam dan mendengarkan.
"Huhff..." Rahma membuang nafasnya kasar, kali ini dia harus tegas mengakhiri omong kosong Anggara.
"Cukup Mas, aku sudah tahu kemana arah pembicaraan kamu. Jika maksud kedatangan kamu ke sini untuk menggagalkan pernikahanku dengan Mas Tama, aku katakan sekarang, mohon maaf kamu tidak akan berakhir. Perihal Athaya membutuhkan kita, sejak dulu itulah yang Athaya butuhkan tapi sayang kamu tidak memenuhi hak putramu sendiri, dan kamu pun merasakan bagaimana saat ini Athaya memperlakukan kamu, dia justru lebih nyaman dengan Yusuf, dengan A Budi karena sejak dirinya lahir merekalah laki-laki yang menggantikan sosok ayahnya. Kamu? entah dimana kamu saat itu."
"Dan sekarang Athaya bahkan lebih nyaman dengan laki-laki yang baru hadir dalam hidupnya. Perlu kamu tahu, keputusanku menerima lamaran dan menikah dengan Mas Tama adalah karena Athaya yang memintanya. Dia ingin memiliki Ayah seperti Mas Tama. Semua itu karena perbuatan kamu sendiri yang tidak pernah memenuhi kebutuhannya akan sosok ayah. Dan sekarang jangan karena alasan kepentingan Athaya kamu datang untuk menggagalkan pernikahan kami dan berpikir aku akan terpengaruh. Kamu salah mas, dan cara kamu ini sungguh kekanak-kanakan." intonasi bicara Rahma semakin meninggi, untunglah mereka saat ini berada di ruangan yang memang tidak akan digunakan untuk acara keluarga menjelang pernikahan. Jadi tidak ada orang yang datang atau berlalu lalang di area itu.
"Perihal kamu mau bercerai dengan Friska, itu bukan urusanku. Jadi mulai sekarang jangan pernah berbicara tentang kepentingan Athaya sementara kamu sendiri sejak dulu tak pernah menjadikannya prioritas" Rahma berbicara tanpa jeda, emosi tertahannya dia tumpahkan seketika,
"Perlu kamu tahu Mas, saat ini aku sangat bersyukur, akhirnya aku berada di fase dicintai oleh seseorang dengan begitu hebatnya. Laki-laki yang sangat menyayangiku, sangat handal dalam menjaga perasaanku, laki-laki pekerja keras dan tetap menyempatkan waktunya untukku di sela-sela kesibukannya, laki-laki yang selalu ada meskipun terhalang jarak. Bersamanya aku merasa aman dan nyaman."
"Aku tidak tahu akhir dari kisah kami bagaimana, yang jelas aku bahagia bisa mengenal dan dipertemukan dengannya. Perihal jodoh atau tidak itu sudah menjadi bagian dari takdir dan skenario Allah. Inti dari semua ini adalah kami akan terus sama-sama berjuang jika memang tetap ingin bersama selamanya" Rahma menghentikan bicaranya dengan nafas yang masih memburu, dia sangat jengah dengan kelakuan mantan suaminya yang datang H-2 menjelang pernikahannya hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting dan sia-sia menurutnya.
"Kita sudah memilih jalan kita masing-masing, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Aku minta kepadamu berbahagialah dengan pilihanmu, setidaknya ikhlasku di masa lalu tidaklah sia-sia" pungkas Rahma semakin membuat Anggara tidak berkutik.
__ADS_1