Belenggu Akad

Belenggu Akad
Trauma


__ADS_3

Rahma menatap datar laki-laki yang ada di hadapannya. Meresapi setiap kalimat yang diucapkannya penuh dengan rasa percaya diri dan tanpa keraguan sedikit pun. Pikiran Rahma menerawang, mengingat-ingat keberadaan dirinya saat ini. Nyata atau hanya sekedar halusinasi.


Mendapat ungkapan cinta dari seorang laki-laki yang pernah dikaguminya bukan membuat Rahma tersanjung. Perasaan rendah diri justru menerpa, bahkan merasa tidak layak walaupun hanya untuk sekedar menganggukan kepala.


"Mungkin kamu tidak tahu jika dirimu adalah orang yang ketika bertemu hatiku merasa bahagia, dan perginya dirimu menyisakan kehilangan yang mendalam. Tapi cukup aku dan Allah yang tahu itu" Rahma bermonolog, yang hanya mampu dia ucapkan dalam hati.


"Rahma... Naura ... Naura Rahmania!" panggil Tama dengan intonasi sedikit meninggi karena Rahma tak kunjung merespon panggilannya.


"Hah....i..iya Pak, kenapa?" kegugupan Rahma begitu kentara, kaget sekaligus malu karena ketahuan menatap Tama sampai melamun.


"Kamu yang kenapa? malah melamun..." seru Tama balik bertanya membuat Rahma kikuk sendiri, wajahnya seketika merona menahan malu.


"Bagaimana?" Tama kembali bertanya dengan sorot mata penuh harap.


"Bagaimana apanya Pak?" tanya Rahma polos,


"Ckk..." Tama berdecak gemas sendiri.


"Aku melamarmu" jelas Tama singkat,


"Sa..saya...saya bingung harus berkata apa, namun yang pasti saat ini saya ingin bertanya. Mohon maaf sebelumnya, Bapak tidak salah bicara kan?" tanya Rahma kembali dengan wajah polosnya, namun terdengar serius membuat Tama kembali berdecak, kali ini berubah kesal harus dengan cara apa lagi meyakinkan wanita yang ada di hadapannya itu.


"Naura Rahmania, aku serius. Aku memintamu untuk menjadi pendamping hidupku, sehidup sesurga. Aku pun sudah izin terlebih dahulu pada kakakmu dan dia mengizinkan aku untuk mendekatimu.


Sekarang aku tidak mau menahan diri lagi. Naura Rahmania, maukah kau menikah denganku?" ulang Tama, dia berdiri dari duduknya dan berjongkok di hadapan Rahma.


"Pak Tama...." Rahma yang kaget dengan kelakuan mantan atasannya itu pun dengan cepat berdiri. Dia tidak nyaman dengan apa yang Tama lakukan, berjongkok di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat. Bukan apa-apa, hanya hal itu membuat kerja jantung Rahma semakin keras.


"Pak Tama apa-apaan, bangunlah Pak, tidak enak di lihat orang" Rahma mengedarkan pandangannya, toko memang akan segera tutup namun masih ada beberapa pembeli yang masih memilih kue yang akan mereka beli.


"Aku tidak akan bangun sebelum kamu memberi jawaban" tegas Tama, mode pemimpinnya benar-benar terlihat walaupun dalam posisi berjongkok sekalipun.


"Pak, jangan begini. Saya jadi tidak nyaman" ucap Rahma kembali meminta Tama untuk berdiri,

__ADS_1


"Berjanjilah dulu untuk menjawabnya" keukeuh Tama yang juga hampir akan menyentuh tangannya.


"Pak...." Rahma kembali terkesiap, bingung permintaan jawaban seperti apa yang dimaksud Tama,


"Maaf" Tama sadar dia hampir melewati batas,


"Aku serius" ucap Tama kembali dengan sorot mata penuh harap,


Rahma menganggukan kepalanya ragu, dan akhirnya Tama pun berdiri dari posisinya saat ini.


"Duduklah, aku ingin mendengar jawabanmu" pinta Tama yang lebih terdengar sebuah perintah bagi Rahma, dia pun menurut duduk berhadapan dengan Tama yang tak kunjung mengalihkan pandangan darinya.


"Bicaralah" Tama kembali bersuara,


"Saya....."


Allahu Akbar, Allahu Akbar.


Kumandang adzan Maghrib berhasil menjeda Rahma yang akan memulai berbicara, dia terlihat menarik nafas dalam menunjukan kelegaan karena mendengar suara adzan. Namun berbeda dengan Tama yang terlihat kecewa karena kembali harus menunggu jawaban pernyataan cintanya.


"Bunda ....ayo kita shalat. Aku mau jadi imam lagi" Athaya datang dari arah tangga dengan wajah yang terlihat basah karena sudah berwudhu, dia pun sudah berganti pakaian dengan pakaian yang khusus digunakannya untuk shalat.


"Uluuuh....gantengnya anak bunda, sama siapa ganti bajunya?" tanya Rahma penasaran, dia menelisik sang putra yang kerah bajunya terlihat belum rapi kemudian dirapikannya.


"Aku pakai baju sendiri bunda, ganteng gak?" Athaya bergaya bak model, dengan kedua tangan di pinggang dan satu kakinya di depan,


"Haha....ganteng, ganteng. Anak bunda memang selalu ganteng" jawab Rahma tersenyum lebar, mengacungkan tangan kanannya dengan telunjuk dan ibu jari membuat lingkaran.


"Alhamdulillah" ucap Athaya menengadahkan tangan diiringi ucapan Tahmid, sangat menggemaskan. Tama speechless melihat keakraban ibu dan anak itu. Hatinya menghangat, mendamba untuk menjadi bagian dari dua orang itu.


"Kamu ya...selalu bikin Bunda bangga. Terima kasih, sayang" Rahma memeluk tubuh sang putra, mengecup puncak kepalanya berkali-kali dengan hati yang tak lupa bersyukur telah dikaruniai seorang putra yang menjadi Qurrota A'yun untuk dirinya. Sejak kelahiran Athaya kehidupan Rahma lebih terarah dan semakin bermakna. Kehadirannya seolah menjadi obat dari setiap luka yang didapatkannya selama ini.


"Omm juga bangga sama Thaya" Tama kembali berjongkok menyejajari ibu dan anak yang sedang berpelukan itu, Rahma menoleh dan lagi-lagi terkesiap karena jarak mereka yang dirasanya begitu dekat.

__ADS_1


"Makasih omm ganteng" Athaya mengurai pelukannya dengan sang bunda, dia beralih mengangkat tangan membalas Tama yang mengajaknya ber-high five.


"Omm mau shalat bareng Thaya dan Bunda?" entah ide dari mana, tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari mulut mungil Athaya.


Seolah mendapat lampu hijau dari Athaya dengan cepat Tama mengangguk dengan binar bahagia di wajahnya.


"Kalau gitu, let's go Bunda, omm ...kita shalat berjamaah" ajak Athaya yang menarik tangan kedua orang dewasa itu.


Rahma lagi-lagi tersentak, sekilas dia menoleh menatap Tama yaang tersenyum penuh arti sambil mengerlingkan satu matanya.


Deringan telepon toko di atas meja kerja Rahma mengusik ketenangan berdzikir tiga orang yang telah selesai melaksanakan shalat berjama'ah.


"Bunda, teleponnya bunyi terus" Athaya yang berada di depan Rahma menoleh, memberi kode pada sang bunda agar mengangkat telepon.


"Sebentar sayang" Rahma pun berdiri tanpa membuka mukena, dia segera berjalan ke arah meja yang tidak jauh dari tempat mereka shalat berjama'ah.


"Pulang sekarang?" tanya Tama yang sekilas mendengar perbincangan Rahma dengan si penelepon yang diperkirakan kakak iparnya yang menanyakan keberadaannya dan meminta Rahma untuk segera pulang.


"Iya Pak" jawab Rahma tanpa menoleh, dia melipat mukena dan sajadah yang baru digunakannya shalat maghrib.


"Aku akan mengantar tapi tolong berikan aku jawaban" ucap Tama memohon.


Athaya sudah lebih dulu turun, dia meminta izin untuk mengambil kue yang tadi dimintanya pada salah satu karyawan toko. Para karyawan masih membereskan toko, mereka memilih shalat bergantian di Mushola yang ada di bagian belakang toko.


"Sebaiknya kita ke bawah Pak, gak enak sama yang lain kalau di sini" Rahma lebih dulu melangkah menuju tangga,


"Oke" Tama mengikuti dengan hati yang harap-harap cemas. Apapun jawaban Rahma dia tidak akan menyerah. Beberapa kali memberi kode wanita itu bahwa dirinya sangat mencintai dan menyukainya, Rahma selalu saja terlihat menghindar.


"Pak...." Rahma menatap laki-laki yang beberapa menit yang lalu mengungkapkan cinta padanya,


Selama shalat, jujur Rahma tidak tenang. Dia bermunajat dalam hati agar diberi petunjuk untuk dapat berkata yang tepat agar tidak menyinggung atau menyakiti.


Sementara Rahma yang kembali larut dalam kekhawatiran jika kata-katanya akan menyinggung atau menyakiti Tama, laki-laki itu tampak fokus menyiapkan diri untuk mendengar jawaban Rahma.

__ADS_1


"Kadang seseorang masuk ke dalam hidup kita cuma sebagai kembang api. Menyala, indah, redup lalu selesai" ucap Rahma dengan sorot mata yang menunjukkan kekecewaan dan luka, pengalaman hidup benar-benar telah membuatnya trauma untuk kembali memulai.


__ADS_2