
Tama mengayunkan langkahnya perlahan, menyusuri pinggiran kolam renang yang tampak indah dengan memantulkan cahaya rembulan yang baru saja mengakhiri purnamanya.
"Bantu aku menebus penyesalan dan rasa bersalahku dengan menghalalkan Naura" hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Tama setelah mendengar semua cerita tentang wanita yang selama ini selalu menjadi bidadari di hatinya. Dia pun mempersilahkan pengantin baru itu untuk kembali menikmati malam pertama mereka sebagai suami istri. Tama sempat meminta maaf kepada Lisna karena sudah membuat Regy terluka, dan dibalas anggukan kepala oleh Rahma. Dia mengerti keadaan Tama saat itu.
Kini malam semakin merangkak, namun tak mampu membuat Tama memejamkan matanya. Pikirannya melayang membayangkan hari-hati berat yang sudah dilalui Rahma selama bertahun-tahun ini, rasa bersalah semakin menggunung saat mengingat jika dirinya saat itu tidak tahu dan memilih tidak peduli lagi tentang kabar Rahma.
Tama memilih untuk keluar dari kamarnya, dia keluar dari pintu samping kamar yang langsung terhubung dengan taman kecil di dekat kolam renang.
Tama pun perlahan menyusuri bibir kolam itu dengan jaket hoodie yang membungkus tubuhnya, kedua tangannya dia masukan ke dalam saku hoodie hitamnya.
Tama memilih duduk di kursi jemur yang ada di pinggiran kolam renang itu, dia rebahkan tubuhnya dan menatap langit malam yang tampak begitu cerah dan sangat indah memanjakan mata siapapun yang melihatnya.
"Masya Allah..indahnya" gumam Tama dengan senyum terukir di bibirnya, dia mengedarkan pandangannya menikmati langit malam itu.
Tama menggeser tubuhnya, memposisikan diri untuk berbaring lebih nyaman di kursi itu, namun gerakannya terhenti ketika sepasang matanya menangkap bayangan seseorang yang tengah duduk di kursi yang ada di balkon lantai dua villa itu dengan laptop yang tampak menyala di atas meja kecil di hadapannya.
Tama menajamkan penglihatannya, dia berdiri untuk memastikan jika apa yang dilihatnya adalah sesuai dengan pikirannya, jika wanita itu adalah Rahma. Wanita yang sejak tadi pagi terus berada dalam pikirannya.
Tanpa berpikir panjang Tama segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju tangga yang terdapat di samping villa. Balkon di lantai dua itu memang bisa diakses bukan hanya dari bagian dalam lantai dua villa itu saja tapi juga terdapat tangga dari luar untuk menuju ke sana.
Tama mematung saat sudah berada di balkon, dengan jelas dia melihat wanita yang dirindukannya itu tengah berbicara sendiri di depan laptopnya. Tama melangkahkan kakinya pelan agar tidak mengganggu aktivitas yang sedang dilakukan Rahma. Dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh.
Tama semakin mendekat, dan memerhatikan semua gerak-gerik Rahma dengan jelas. Rupanya dia sedang memberikan materi pada kajian yang dilaksanakan secara online. Dia tengah menjadi pembicara pada kajian online yang sepertinya khusus diikuti para akhwat. Waktu yang dipilih pun sengaja agak malam setelah semua rutinitas para akhwat yang kebanyakan sudah berkeluarga itu tuntas. Kajian itu lebih ke me time, merefleksi diri setelah rutinitas yang dilakukan selama seharian ini walaupun hanya dengan durasi sekitar 30 sampai 60 menit.
Tama terpaku di tempatnya berdiri, jarak mereka hanya beberapa meter. Tatapan Tama tidak terlepas dari objek yang menjadi pusat pikirannya beberapa jam ini, memerhatikan Rahma yang sepertinya sedang berbicara untuk mengakhiri kelasnya. Hatinya menghangat, senyuman terus terukir di bibirnya. Tama merasakan kebahagiaan yang dulu pernah dirasakannya, akhirnya dia bisa kembali menikmati keindahan nyata di hadapannya malam ini.
Dulu secara saat berkunjung ke yayasan, secara diam-diam Tama sering mengintip Rahma saat mengajar dan menikmati pemandangan yang sangat indah itu menurutnya. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat Rahma sedang mengajar, ekspresinya begitu lepas dan alami. Hal itu yang semakin membuat Tama tidak bisa move on. Bayangan Rahma yang tertawa dan begitu bersemangat saat bersama murid-muridnya selalu menari-nari di pikiran Tama. Dan malam ini dia kembali menikmati pemandangan itu.
Rahma yang memakai earphone tidak menyadari keberadaan Tama yang berdiri di belakang tidak jauh darinya. Dia mengakhiri pertemuannya dengan memberikan kata-kata motivasi untuk menyemangati diri dan peserta kajian itu. Dan mengembalikan acara yang diisinya kepada moderator untuk mengakhiri kajian online malam ini.
Ungkapan terima kasih dan untaian do'a terucap untuk Rahma atas kebersediaannya sharing malam ini. Satu do'a yang membuat semua peserta mengamininya dengan intonasi meninggi yaitu saat sang moderator mendo'akan semoga saudari kita ini, guru kita yang satu ini Mbak Naura Rahma segera mendapatkan pendamping dunia akhiratnya.
__ADS_1
"Aamiin...." serempak semua menjawabnya. Rahma hanya tersenyum, karena selanjutnya wajahnya berubah kaget saat ucapan aamiin dia dengar dari belakangnya.
"Aamiin"
Rahma sontak menengok ke belakang dengan wajah kagetnya. Dia menatap lama sosok yang berdiri di belakangnya, memastikan pandangannya jika dia tidak salah melihat orang.
"Mbak...Mbak Rahma..." layar laptop yang masih menyala dengan latar room zoom menampilkan moderator acara kajian memanggil-manggil nama Rahma,
"Kamu dipanggil..." Tama membuka suara setelah cukup lama mereka saling tatap, dia menahan tawa mengingat kembali wajah terkejut Rahma saat beradu tatap dengannya.
"Hah...i..ya..iya...bagaimana Mbak?" tanya Rahma gugup,
"Ada yang mau disampaikan lagi Mbak? atau kita akhiri saja?" tanya sang moderator,
"Sudah cukup, kita akhiri saja untuk malam ini" jawab Rahma, sang moderator pun menutup acara dan mengakhiri kajian mereka di room zoom itu.
Rahma menghirup nafas panjang setelah menutup layar laptopnya. Tama sudah beralih menjadi berdiri di hadapannya.
"Silahkan Pak" jawab Rahma tanpa melihat ke arah Tama, dia merapihkan laptop dan memasukannya ke dalam tas.
"Bapak belum tidur?" Rahma kembali berbicara karena Tama tak kunjung bicara setelah beberapa menit mereka duduk berhadapan, kali ini dia menatap Tama yang terus menatapnya sejak tadi.
Tama hanya menggelengkan kepalanya, dia masih enggan berbicara dan asik menikmati pemandangan indah yang ada di depannya. Rasanya seperti bermimpi, dia bisa duduk berdua di malam syahdu dengan wanita yang selama ini hanya ada dalam angannya.
"Kenapa?" Rahma menopang dagu dan bertanya dengan menatap Tama heran,
Hal yang sama dilakukan Tama, dia pun memajukan tubuhnya dan menopang dagu dengan siku bertumpu di atas meja sama seperti yang dilakukan Rahma.
Seketika Rahma mundur, dia terkesiap saat wajah Tama mendekat, dia menurunkan tangannya dan langsung menundukkan pandangannya. Ingatannya langsung tertuju pada pembicaraannya dengan Lisna tadi sore.
"Pak Tama belum menikah lho....pernikahannya dengan gadis bernama Tasya batal karena ternyata gadis itu sudah mempunyai kekasih. Dia bahkan masih menjalin hubungan dengan kekasihnya saat sudah bertunangan dengan Pak Tama. Setelah dua tahun bertunangan keduanya sepakat untuk menikah dan kedua orang tua mereka yang mengaturnya. Namun satu hari menjelang pernikahannya Pak Tama kedatangan tamu yang mengaku sebagai kekasih Tasya. Dia bahkan bilang pernah melakukan hubungan di luar batas dengan kekasihnya itu, kedatangannya justru ingin bertanggung jawab dengan menikahi Tasya. Lucunya pernikahan pun tetap berlangsung dengan mempelai pria yang berbeda. Setelah pernikahannya batal Pak Tama langsung pergi ke luar negeri dan membuka usaha baru di sana"
__ADS_1
Cerita Lisna tentang laki-laki yang ada di hadapannya itu kembali berputar diingatan Rahma, dia tidak menampik jika ada perasaan aneh yang menyergap hatinya. Dia pun menggeleng-gelengkan kepala untuk menghilangkan perasaan yang tiba-tiba membuatnya gugup.
"Kenapa?" Tama balik bertanya dengan mengulum senyum karena melihat tingkah Rahma yang lucu menurutnya.
"Hah ...kenapa? saya kenapa?" Rahma semakin gugup dengan pertanyaan Tama dengan ekspresi wajah begitu.
Tama tergelak, tidak bisa menahan tawanya saat melihat Rahma semakin terlihat gugup. Dia kembali menatap Rahma yang tiba-tiba berubah ekspresi wajahnya lebih serius.
"Maaf, maaf .... aku bukan menertawakan mu, aku hanya bahagia bisa duduk malam ini denganmu" ucap Tama mengusir kesenjangan yang tiba-tiba tercipta.
"Maaf Pak ini sudah malam, saya harus kembali ke kamar" Rahma tiba-tiba berdiri dari duduknya, dia memilih menghindar dari pada semakin memperlihatkan kegugupannya di hadapan Tama.
"Tunggu" cegat Tama yang tiba-tiba menahan tas laptop yang akan dibawa Rahma di atas meja,
Rahma menghentikan gerakannya dan menatap Tama.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Duduklah sebentar" ucap Tama lembut, kata-kata itu seolah menghipnotis Rahma hingga membuatnya menurut dan kembali duduk.
"Seseorang pernah berkata padaku, akan ada waktunya kamu akan merasakan begitu manisnya sebuah pertemuan dengan sosok yang tepat yang kamu idam-idamkan. Saat itu aku hanya tersenyum menanggapinya, tapi hari ini aku mengatakan jika dia benar" ucap Tama dengan tatapan tak lepas dari Rahma yang terus menundukkan pandangannya karena tidak nyaman dengan tatapan Tama,
"Aku sudah mendengar tentangmu dari Regy dan Lisna, maaf...." ucapnya tertahan,
Deg....ucapan Tama membuat Rahma mendongak membalas tatapan Tama yang masih belum melanjutkan ucapannya. Dia menerka-nerka apa saja yang sudah dikatakan sahabatnya itu pada Tama.
"Maaf jika aku datang terlambat, tapi satu hal yang harus kamu tahu. Darimu aku belajar, bahwa cinta adalah rasa sabar yang benar-benar tulus" ucap Tama lagi,
Rahma menautkan jari jemarinya di bawah meja, hatinya semakin bergemuruh tak menentu. Entah perasaan apa yang sedang dirasakannya saat ini.
"Rahma, sendiri itu tenang tapi bersamamu itu senang. Malam ini menjadi malam indah karena aku bisa duduk bersamamu di sini"
Krik....krik....krikkk....krik......😍
__ADS_1