Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kebesaran Hati Rahma


__ADS_3

"Aku....." Rahma terlihat ragu melanjutkan ucapannya,


"Kalau kamu belum siap, Mas mengerti ko. Mas bisa menunggu" Anggara kembali mendekap tubuh istrinya semakin dalam. Dia hirup aroma shampo yang menguar dari kepala Rahma walaupun tertutup hijab. Aroma yang menenangkan, membuat Anggara betah memeluk istrinya.


"Maafkan aku mas, aku hanya merasa di hatiku masih ada keraguan. Sesuatu yang terasa mengganjal di hatiku selama ini" Rahma akhirnya mengungkapkan isi hatinya, tanpa beralih dari posisinya yang berada dalam dekapan Anggara,


"Kenapa? katakanlah" Anggara memberi ruang pada Rahma untuk mengungkapkan semua isi hatinya,


"Aku ingin tahu bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu" ucap Rahma akhirnya, melihat perubahan sikap Anggara beberapa bulan ini membuatnya mulai berani bersikap apa adanya, sejujurnya sebagai seorang istri yang sah di mata agama dan hukum Rahma tetap menginginkan kepastian. Rahma berharap suaminya menjalani rumah tangga ini dengan tulus dari hati dengan niat sama-sama untuk mencari ridho Allah, bukan hanya pura-pura.


Anggara menghembuskan nafasnya kasar, sudah lama dia pun ingin berkata jujur pada istrinya. Namun Anggara merasa tak kunjung menemukan waktu yang tepat. Mungkin malam ini adalah kesempatan yang tepat untuknya mengatakan semuanya pada Rahma.


"Aku dan Friska sudah berakhir" ucap Anggara mantap,


"Sejak aku memutuskan untuk menikahimu sebenarnya aku sudah memintanya untuk melupakanku. Aku tidak ingin kedua orang tuaku kecewa jika mereka mengetahui aku masih berhubungan dengannya setelah menikah denganmu. Tetapi dia tidak terima dengan keputusanku. Dia mengancam akan mendatangi orang tuaku dan mengacaukan pernikahan kita dengan caranya"


"Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya, sejak dulu dia selalu berusaha untuk membuat keinginannya tercapai bahkan dengan melakukan cara apapun. Aku tidak ingin mama dan papa syok dengan apa yang akan terjadi. Hingga akhirnya aku menuruti keinginannya untuk tetap menjalani hubungan kami tanpa terganggu dengan pernikahan kita. Dan maaf jika aku memilih untuk lebih mengecewakanmu" ucapan Anggara terdengar pilu,

__ADS_1


"Aku sudah mengikuti keinginannya. Saat kita bertemu di tempat wisata itu aku sungguh tidak tahu akan bertemu denganmu. Saat itu aku sedang banyak pekerjaan, aku harus lembur di kantor. Namun lagi-lagi dia tidak ingin ada penolakan dariku. Aku terpaksa mengikuti keinginannya untuk pergi ke tempat itu. Dan akhir-akhir aku tahu jika dia sengaja mengajakku bertemu dengan keponakannya agar kamu bisa melihat kebersamaan kami"


"Dua bulan setelah pernikahan kita, aku mengatakan jika aku akan melepaskanmu dan menikahinya secara resmi walau tanpa restu kedua orang tuaku. Aku tidak mau terus menyakitimu dalam ikatan suci ini. Aku tahu kamu gadis yang baik, dan kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini oleh pria sepertiku. Maafkan aku, Rahma" ada isak tertahan di sela-sela Anggara bercerita. Dia lega akhirnya bisa mengatakan apa yang selama ini ditanggungnya sendiri pada orang yang tepat. Dia percaya Rahma dapat dengan bijak menghadapi ini semua,


"Tapi dia menolak, dia bilang kontrak kerja yang sedang dijalaninya melarangnya untuk terikat dalam pernikahan. Dia bilang tidak ingin kehilangan pekerjaannya hanya karena harus menikah denganku. Kamu tahu, aku kecewa, aku marah. Bisa-bisanya dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada hubungan kami"


"Dia memintaku untuk menunggu, katanya kontrak kerjanya akan berakhir satu bulan lagi dan aku percaya itu. Setahun terakhir hubungan kami dia bekerja di perusahaan asing dengan gaji dan fasilitas yang cukup besar. Sebelumnya aku pernah memintanya berhenti bekerja, selain jam kerja yang lebih lama, pekerjaannya juga mengharuskan dia untuk sering bepergian ke luar kota atau luar negeri dan kebanyakan dengan lawan jenis. Aku tidak suka itu"


"Dalam kurun waktu tiga bulan aku tidak mengunjungimu itu karena aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Dia sendiri sibuk dengan pekerjaannya. Karirnya semakin melejit membuat dia tak menghiraukan jika aku tidak mengabarinya dan aku pun mengabaikannya. Aku memegang kata-katanya yang meminta waktu satu bulan untuk menyelesaikan kontraknya"


"Aku marah besar, aku kecewa. Hingga perdebatan antara kami pun tidak terelakkan. Aku memintanya untuk membatalkan kontrak kerja itu dan mengingatkan bahwa aku akan segera menikahinya. Aku bahkan menjamin bahwa dia tidak akan pernah kekurangan materi setelah menikah denganku. Tapi dia tidak mau, dia bersikukuh dengan pilihannya"


"Dia bilang jika sore itu dia harua pergi ke bandara. Ternyata dia sudah merencanakannya, kebersamaan kami ke tempat wisata adalah caranya mengalihkan perhatianku. Dia sangat pandai sekali, aku bahkan sampai tertawa dibuatnya. Menertawakan kebodohanku selama ini"


"Malam itu, saat dia mengatakan akan pergi, saat itu pula aku menyatakan bahwa hubungan kami berakhir dan aku akan kembali padamu" pungkas Anggara dengan mengusap ujung mata yang kembali berembun.


Rahma tertegun mendengar semua cerita suaminya, sungguh dia tidak percaya akan dihadapkan pada permasalahan seperti ini. Rahma percaya dengan apa yang dikatakan suaminya, ada perasaan iba menyelusup dalam hatinya. Hidup ini tidak terlepas dari ketentuan takdir Sang Pencipta dan Pemilik hidup.

__ADS_1


Rahma tidak mau egois, dia pun menyadari jika manusia kerap membuat kesalahan. Jika dia menyadari akan kesalahan yang dilakukannya dan berusaha ingin memperbaiki diri sudah selayaknya kesempatan itu dia dapatkan.


"Mas, aku turut prihatin atas sikap kekasihmu yang sudah menyia-nyiakan semua pengorbanan kamu. Dalam hidup ini, memang adakalanya apa yang kita inginkan tidak kita dapatkan, sebaliknya adakalanya apa yang kita dapatkan bukan apa yang kita inginkan" Rahma menghela napas menjeda ucapannya,


"Setiap kali kita menentukan pilihan yang terbaik menurut kita, kita harus siap menerima akibatnya menurut perhitungan kita. Apabila ternyata perhitungan itu meleset, kita harus menerima akibat buruk, hidup dalam kesulitan dan penderitaan. Itu menunjukkan kenyataan yang perlu dipahami, bahwa masih banyak ilmu Allah yang belum kita kuasai"


"Sebagai seorang muslim sudah selayaknya kita berserah diri, memohon petunjuk Allah, berupaya berdo'a, dan siap mengembangkan sikap pasrah dan berserah diri pada kepada-Nya" ucap Rahma berupaya memberi ketenangan pada suaminya.


"Maafkan aku, maafkan aku Rahma. Sungguh aku menyesal" Anggara kembali terisak kali ini dia menangis dalam pelukan Rahma. Badannya berguncang tanda dia begitu terluka dengan apa yang tengah dialaminya.


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Semoga kamu istiqamah dan bisa menjadi pribadi yang bisa lebih baik" Rahma menerima pelukan Rahma dan mengusap- usap punggung suaminya.


"Aku ingin memulai semuanya bersamamu, terima kasih karena sudah bertahan di sampingku hingga detik ini. Sekarang izinkan aku menebus semuanya, aku sangat mengharapkan kebesaran hatimu untuk memberiku kesempatan menjadi suami yang layak untukmu dan ayah yang baik untuk anak-anak Kita" ucap Anggara setelah mengurai pelukannya.


Anggara menatap Rahma dalam, pandangan mereka saling beradu. Rahma berusaha mencari keraguan dari mata suaminya dan tidak menemukannya. Sementara Anggara terus menatap dan menunggu jawaban apa yang akan diberikan Rahma.


"Baiklah Mas" jawab Rahma dengan anggukan kepala, membuat mata Anggara berbinar tanda bahagia.

__ADS_1


__ADS_2