
Ibu....
Ratu yang tak bermahkota namun bertelapak kaki surga. Setiap pulang dia menjadi orang pertama yang dicari. Sejauh apapun kaki melangkah, Ibu selalu menjadi rumah untuk pulang.
Bagi Rahma dan ketiga saudaranya kebahagiaan ibu adalah segalanya untuk mereka. Ada yang lebih indah dari dunia dan isinya yaitu melihat ibu mereka tersenyum dan tertawa bahagia. Dan merekalah, anak-anaknya yang menjadi alasan keduanya.
Tapi hari ini tubuh wanita yang sangat mereka sayangi itu tengah terbaring tak berdaya dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya. Ibu Rahma pagi itu juga dilarikan ke rumah sakit saat didapati pingsan oleh sepupu mereka. Dengan bantuan Pak Hakim, tamu yang merupakan sahabat almarhum ayah mereka akhirnya ibu bisa dilarikan segera ke rumah sakit dan mendapat penanganan yang cepat.
Diagnosa dokter mengatakan jika ibu terkena serangan jantung, riwayat penyakit jantung yang pernah di deritanya menjadi salah satu alasan kuat yang mendukung diagnosa dokter.
Sudah tiga hari Rahma berada di rumah sakit menemani sang ibu yang sampai saat ini belum juga sadar. Dia tidak beranjak barang sebentar pun. Padahal kakak dan adiknya sudah memintanya untuk pulang dan beristirahat di rumah, namun Rahma menolak.
Kakak sulungnya pun terpaksa harus kembali ke Sumatra karena masa cutinya yang hanya tiga hari sudah habis. Maya pun saat ini tengah hamil besar mengandung anak keduanya, sementara anak pertamanya baru berusia dua tahun. Dia dan suaminya cukup kerepotan, apalagi suaminya pun harus segera kembali ke Yogya karena pekerjaan yang tidak bisa lama-lama ditinggalkan.
Rahma dengan ikhlas melepas kepergian dua saudaranya, dia meyakinkan mereka akan menjaga ibu mereka bersama dengan adik bungsunya.
"Aa jangan khawatir, aku akan menjaga ibu. Lagi pula sekarang aku sudah tidak mengajar jadi aku punya waktu luang lebih banyak. Kamu juga Dek, pulanglah...ikut suamimu. Kasihan juga anakmu kalau di sini, teteh gak bisa ikut menjaga Aira" ucap Rahma sambil merangkul bahu Maya yang duduk di sampingnya, saat ini mereka tengah duduk di kantin rumah sakit untuk sarapan.
__ADS_1
"Tapi teh sebenarnya aku masih mau di sini dan menjaga ibu" ucap Maya dengan air mata yang tiba-tiba lolos mengaliri pipinya,
"Aa juga rencananya akan mengajukan cuti lebih lama Dek, mudah-mudahan di acc dan bisa secepatnya kembali ke sini membawa kakak ipar kalian dan anak-anak" Budi pun berkata dengan intonasi sendu, berat rasanya harus pulang dalam keadaan seperti ini. Sementara Yusuf hanya menjadi penyimak obrolan kakak-kakaknya.
"Iya A, semoga selamat di perjalanan dan dimudahkan segala urusannya" balas Rahma dengan senyum menghiasi wajahnya yang semakin memucat karena beberapa hari ini dia kurang istirahat.
"Tentang rumah tanggamu, apapun keputusan kamu Aa mendukung. Aa akan menuruti kemauan kamu untuk tidak intervensi terlalu dalam dengan urusan rumah tanggamu. Apapun alasanmu Aa hargai itu, hanya Aa minta mulai sekarang apapun yang kamu alami tolong jangan memendamnya sendiri. Buatlah Aa menjadi orang yang berguna sebagai kakakmu" ucap Budi dengan tatapan sendu menatap Rahma dalam. Dia masih tidak menyangka sang adik kebanggaannya mengalami hal menyedihkan dan menyakitkan seperti ini.
"Aku juga teh, tolong berbagilah denganku. Apapun yang teteh rasakan, terutama duka. Selama ini teteh hanya selalu berbagi suka dan bahagia dengan kami sementara luka dan kesakitan teteh pendam sendiri. Aku sudah besar teh, lihatlah anakku sudsh mau dua, percayalah padaku bahwa aku bisa menjadi adik yang diandalkan. Setidaknya aku siap menjadi pendengar yang baik." Maya pun mengungkapkan apa yang ada di hatinya, selama ini kakaknya itu memang hanya selalu berbagi kebahagiaan, kali ini dirinya pun ingin menjadi orang yang selalu ada dan mendukung kakaknya dalam keadaan peliknya.
Walaupun Rahma tahu jika keberhasilan terbesar iblis adalah dengan membuat sepasang suami istri bercerai. Tapi setelah dilakukan istikharah dan bermunajat di setiap penghujung sujudnya Rahma semakin memantapkan niatnya untuk mundur dari ikatan pernikahan yang sudah tidak sehat menurutnya.
Istikharah pada hakikatnya bukan untuk memilih satu di antara dua pilihan, tapi untuk menetapkan hati di satu pilihan.
"Kamu jangan pikirkan perkataan orang lain. Aa tahu apa yang kamu khawatirkan. Tapi kamu harus ingat jika setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda dan kamu harus yakin jika setiap kejadian yang menimpa kita pasti akan syarat hikmah yang terkandung di dalamnya. Aa yakin ibu pun akan mengerti, setelah ibu sadar kita akan bicara baik-baik pada ibu." ucapan Budi mampu memberikan ketenangan di hati Rahma, dia semakin yakin untuk mundur dari pernikahannya.
Selama ini di keluarga besarnya perceraian adalah yang yang paling tidak pernah terjadi. Ibu selalu mewanti-wanti meskipun halal perceraian itu tetap menjadi sesuatu yang dibenci Allah. Selama bisa diperbaiki, bersabarlah dengan ujian rumah tangga. Karena tidak ada rumah tangga yang bebas dari ujian. Rumah tangga yang kuat tidak hadir begitu saja, bukan juga hadir dari pasangan yang sama-sama kuat tapi lahir dari pasangan yang saling menguatkan tatkala salah satu di antara mereka sedang merasa lemah. Jadikanlah kelebihan pasangan sebagai sumber kebahagiaan kita dan kekurangannya jadikan sebagai sumber pahala kita.
__ADS_1
Setiap orang akan diuji dengan apa yang paling kita cintai. Dan Allah juga akan menguji dengan apa yang paling kita takuti. Tapi Allah tidak akan menempatkan kita di situasi yang tidak bisa kita atasi. Bertawakallah pada Allah.
Nasihat sang ibu selalu terngiang di telinganya, sejak masih gadis dirinya dan Maya selalu mendapat nasihat agar menjadi istri yang baik. Tapi kali ini Rahma sudah memantapkan hati. Amanah terakhir almarhum ayahnya yang disampaikan Pak Hakim menjadi kekuatan untuknya mengambil keputusan itu. Selamatkanlah surgamu sendiri, seperti itulah inti amanah Bapak. Rahma faham jika bertahan dalam kemunafikan bukan hanya dirinya yang semakin berdosa tapi pahala pun semakin menjauh.
Sejujurnya Rahma memang tidak siap untuk di poligami, beberapa kali Anggara pulang pasca pengakuannya yang telah menikah lagi Rahma selalu menolak untuk disentuh oleh Anggara. Hal itu jelas-jelas menjadi dosa, karena walau bagaimanapun dirinya masih sah sebagai istri Anggara.
Rahma menyadari keilmuan dan mentalnya belum cukup kuat untuk meraih surga melalui jalur poligami. Rahma yakin masih banyak jalan yang mampu ditempuhnya untuk meraih ridho sang Khaliq. Perihal anak yang sedang dikandungnya Rahma yakin Allah sudah menyiapkan segalanya. Dia pun pasti akan memberitahukannya pada Anggara dan keluarganya, walau bagaimanapun ketika perceraian terjadi tidak ada istilah mantan anak yang ada hanya mantan suami istri.
"Teteh yang sabar ya, aku percaya teteh kuat" Maya memeluk Rahma dari samping dan menyandarkan kepalanya di bahu Rahma.
Keempat kakak beradik itu pun menghabiskan sarapannya dengan beberapa candaan Yusuf yang cukup menghibur. Keempatnya pun kembali ke ruangan sang ibu setelah mendapat notif di ponsel Rahma dari perawat yang dititipi untuk menjaga ibu pagi itu,
"Teh, Ibu sudah sadar"
Suasana haru kembali menyeruak di ruangan tempat ibu di rawat, dengan lancar ibu berkata dan meminta maaf atas apa yang dialami putri pertamanya. Ibu mendengar semua perbincangan mereka dengan tamu yang datang ke rumah mereka pagi itu. Beliau pun merasa bersalah karena dulu meminta Rahma untuk segera menikah. Beliau menyadari jika pernikahan itu bukanlah ajang perlombaan, bukan seberapa cepat namun seberapa tepat.
Semua anggota keluarga lega mendengar jika ibu pun mendukung apapun yang menjadi keputusan Rahma. Dengan air mata yang tak kunjung surut, Ibu memeluk putri sulungnya itu dan di susul oleh anak ketiga, keempat dan putra sulungnya. Mereka saling berpelukan, mengalirkan energi positif melalui pelukan, saling memberi dukungan dan kekuatan.
__ADS_1