
"Tam, kenalkan dia suami aku" Friska memutus tatapan tajam antara Tama dan Anggara, dia mengenalkan suaminya pada teman lamanya itu.
"Mas ini Tama temen lama aku" Friska pun beralih menatap suaminya yang juga hanya diam setelah dirinya mengenalkan Tama sebagai teman lamanya,
"Kamu?" Anggara menatap Tama penuh telisik, dia mulai ingat pernah bertemu dengan laki-laki yang dikenalkan Friska sebagai teman lamanya itu jauh-jauh hari sebelum saay ini.
"Rupanya benar perkiraanku, sebelumnya kita pernah bertemu kan Bung?" ucap Tama dengan senyum menyeringai dan nada sedikit sinis, Tama sekarang sudah ingat siapa laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya itu.
"Bukankah kamu suaminya Naura?" ucap Tama telak membuat Friska mengerutkan keningnya heran dengan perkataan Tama,
"Apa maksud kamu Tama?" tanya Friska sewot, wajahnya memerah karena Tama mengetahui tentang masa lalu suaminya,
"Rahma, Naura Rahmania" ulang Tama tanpa mengalihkan pandangan,
"Maksud kamu dia?" Friska menengok ke arah Rahma yang kini berada di sudut gedung agak jauh dari tempat mereka berada,
"Iya" jawab Tama dengan wajah masih terlihat begitu penasaran dengan fakta mengejutkan yang baru saja diketahuinya jika suami Rahma ternyata diakui Friska sebagai suaminya,
"Itu dulu....lagian pernikahan itu hanya bagian dari cara agar kita bersatu, iya kan sayang?" Friska bergelayut manja di lengan Anggara, ucapan Friska sontak membuat Tama kebingungan. Dia menatap dalam pasangan suami istri yang ada dihadapannya, bukan tertarik karena mereka terlihat begitu romantis namun pikirannya langsung tertuju pada Rahma.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu selama ini, Naura" tanya Tama dalam batinnya, pikiran dan perasaanya sudah tidak kondusif dan hanya fokus pada bagaimana Rahma menjalani kehidupannya selama ini.
"Apa maksud kamu, Fris?" Tama kembali bertanya menunjukan kepenasarannya, dua berhasil menguasai hati dan pikirannya dan kembali, sementara Anggara seketika menjadi pendiam menyadari jika ternyata laki-laki yang dulu terlihat menyukai mantan istrinya itu ternyata tidak mengetahui jika dirinya dan Rahma sudah lama berpisah.
"Mereka sudah lama berpisah, tepatnya lima tahun yang lalu" jelas Friska singkat, padat dan jelas.
Duarrrrt.....serasa tersambar petir, fakta baru yang lebih mengejutkan tentang wanita yang selama ini selalu bertahta di hatinya. Hati Tama seketika memanas, marah, sedih dan merasa tidak berdaya bercampur padu menyelimuti hatinya. Bagaimana bisa selama ini dia kehilangan informasi sepenting itu, setiap malam selama beberapa tahun ini bayangan Rahma selalu menari-nari di kepalanya. Bahkan secara tidak sadar dari lisannya selalu terucap nama indah itu.
Tanpa kata Tama segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju sudut ruangan tempat Rahma dan teman-temannya berada. Sementara Anggara bergeming di tempatnya berdiri, menatap nanar kepergian Tama dengan keadaan hati yang hanya dia sendiri yang tahu.
__ADS_1
"Mas, duduk!" ucapan Friska yang menyuruhnya duduk sambil menarik tangannya membuat Anggara tersadar dari lamunannya,
"Athaya..." gumam Anggara yang saat duduk melihat Athaya tengah berjalan bergandengan tangan dengan Yusuf pamannya.
"Kamu selangkah menemui anak itu di sini, aku pastikan..."
"Cukup, aku mengerti!" ucap Anggara dengan kepala tertunduk pura-pura tidak melihat Athaya dan fokus pada ponselnya, sementara sudut matanya masih mencoba melirik ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan putranya itu. Kalimat ancaman Friska sepertinya sudah tertanam di benak Anggara, hanya dengan kalimat yang belum tuntas diucapkan Friska pikiran dan tubuh seolah mewajibkannya untuk menerima semua perkataan istrinya.
Sementara di sudut gedung tempat berlangsungnya resepsi yang semakin meriah seiring waktu yang semakin siang dan tamu yang semakin banyak, Rahma yang sedang bercengkrama dengan sahabat-sahabat lamanya ketika di Garut, sebagian ada juga teman guru di yayasan tempatnya dulu mengajar.
Banyak hal yang menjadi topik pembicaraan mereka, sepertinya tidak pernah tuntas bahkan dalam hitungan hari. Banyak hal yang telah Rahma lewati, dia senang akhirnya bisa kembali bertemu mereka. Keriuhan perbincangan mereka dikejutkan dengan kehadiran Tama yang secara tiba-tiba.
"Pak Tama" salah satu teman Rahma yang merupakan guru senior di yayasan milik keluarga Tama segera berdiri dari duduknya, dia paling awal menyadari kehadiran Tama yang berdiri tepat di belakang Rahma.
"Assalamu'alaikum Pak Tama, apa kabarnya?" baru saja Tama hendak memanggil nama Naura, seorang guru laki-laki di yayasan nya yang juga datang ke pernikahan Regy dan Lisna datang menghampiri. Alhasil dia hanya tersenyum merespon sapaan ramah Rahma lewat senyum dan anggukan kepala setelah membalikkan tubuhnya saat seorang teman mengetahui kedatangan Tama.
"Wa'alaikumsalam, Pak. Alhamdulillah kabar saya baik" mereka pun terlibat obrolan lumayan cukup panjang karena beberapa guru dan karyawan yayasan pun berdatangan menghampirinya.
Tama kembali mengedarkan pandangannya setelah beberapa saat mengobrol, dia tidak mendapati orang yang sejak tadi ingin ditemuinya.
Deg, kembali Tama tersentak ketika melihat Rahma tengah bersama Athaya di area photo booth dan sedang bersiap untuk berphoto bersama dengan alumni-alumni sekolah tempat Rahma dulu mengajar yang tampak hadir pada pernikahan Regy dan Lisna, salah satunya Adrian.
"Saya permisi sebentar" Tama berpamitan pada guru dan karyawan yang sedang mengobrol dengannya. Dia berjalan ke arah Rahma berada dengan tatapan yang tidak beralih dari area photo booth yang berada dekat di pintu masuk gedung,
Beberapa orang tampak menyapanya, hanya direspon dengan anggukan kepala dan senyum tipis tanpa mengalihkan pandangan.
"Omm ..." sesampainya di area photo booth tanpa Tama duga Athaya memanggilnya, rupanya anak kecil itu masih mengingatnya.
Pertama kali mereka bertemu di toko kue milik Rahma ketika Tama menjemput mamanya. Hari itu pula adalah pertama kalinya Tama kembali bertemu dengan Rahma setelah beberapa tahun terlewati.
__ADS_1
"Hallo Boy..." Tama berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Athaya, sementara Rahma masih asik berfoto dengan murid-muridnya dulu belum menyadari kehadiran Tama di dekatnya.
"Serasa reuni ya" celetuk seorang gadis yang merupakan salah satu alumni.
"Iya" sahut yang lainnya, mereka pun bersuka cita berfoto-foto sambil saling bercerita ke sana kemari tentang masa-masa di sekolah dulu dengan segala kenangannya.
"Thaya...." Rahma baru menyadari ketidakberadaan Athaya di sekitarnya. Tadi saat berfoto dia sudah memastikan jika Athaya tengah anteng bermain tidak jauh darinya.
"Kalian melihat anak Ibu?" Rahma bertanya pada murid- muridnya dan serempak semua menggelengkan kepala karena tadi mereka semua fokus pada kegiatan berfoto bersama.
Rahma mengedarkan pandangannya, mencari sosok anak Athaya di tengah kerumunan tamu yang semakin siang semakin banyak yang datang. Antrian bersalaman dengan pengantin pun terlihat mengular.
Rahma meraih ponselnya, banyak pesan masuk dari beberapa nomor baru yang disinyalir merupakan nomor murid-muridnya. Orang pertama yang akan dihubunginya adalah Yusuf, Rahma berharap Athaya sedang bersama Yusuf saat ini.
"Assalamu'alaikum, Dek. Athaya sama kamu?"tanpa menunggu jawaban salam dari seberang telepon Rahma langsung menanyakan tentang Athaya pada Yusuf.
"Wa'alaikumsalam, enggak Teh. Aku lagi sama teman-temanku di villa belakang" jawab Yusuf menjelaskan keberadaannya yang sedang berada di villa tempat mereka menginap semalam yang ada di belakang gedung termasuk fasilitas hotel yang Lisna booking untuk acara pernikahannya dengan Regy.
Rahma pun semakin panik setelah mengetahui jika Athaya tidak bersama Yusuf. Dia berjalan ke sana kemari mencari keberadaan putranya. Adrian dan beberapa temannya pun turut membantu.
"Rahma ..." seseorang menyapanya saat dirinya tengah berdiri di area tempat duduk vip mengedarkan pandangan mencari keberadaan Athaya.
"Kamu sedang apa?"Rahma baru menyadari jika dirinya berdiri tidak jauh dari meja yang ditempati Anggara dengan istri dan anak-anaknya, hanya saat ini tersisa Anggara yang duduk sendiri di meja itu.
"Aku sedang mencari Athaya" jawab Rahma ragu saat mengetahui siapa yang bertanya.
Sejak awal kedatangan Friska, Rahma sudah berusaha untuk menghindar. Dia hanya akan menyapa jika mereka tanpa sengaja bertemu. Rahma yakin jika Friska hadie dengan Anggara yang tak lain adalah mantan suaminya. Hal yang membuat Rahma semakin terkejut pun adalah ketika mengetahui jika Friska ternyata juga mengenali Tama. Tepat sudah pilihan Rahma untuk menjauh dari orang-orang itu.Tapi saat ini dia baru menyadari jika dirinya sedang berdiri dengan posisi yang cukup dekat dengan meja Anggara.
Mendengar jawaban Rahma sontak Anggara pun berdiri dan mengedarkan pandangan mencari keberadaan putranya.
__ADS_1
"Kenapa dia bisa enggak ada sama kamu?" tanya Anggara dengan wajah tak kalah panik.
"Aku akan mencarinya lagi" jawab Rahma sedikit ketus mendengar pertanyaan Anggara, dia pun berjalan menjauh dari meja tempat mantan suaminya itu.