Belenggu Akad

Belenggu Akad
Menyerah


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah, seorang pemuda tengah menikmati secangkir kopi di teras belakang sebuah rumah mewah berlantai dua. Kursi yang menghadap taman yang terlihat asri itu dia balik kanankan agar punggungnya tersorot sinar mentari pagi yang menghangatkan tubuh.


Dia kembali menyeruput kopinya santai, tampak tidak peduli dengan seseorang yang saat ini sedang memakinya habis-habisan.


"Lu denger gue gak? gue marah besar ni!" sentak lelaki yang berdiri dengan berkacak pinggang,


"Iya denger" ucap Regi kalem, dia berlanjut menyesap kopinya yang seakan memberinya banyak kenikmatan,


"Brengsek lu ya, bisa-bisanya lu ngebiarin gue kehilangan kesempatan berharga itu. Enggak ada baik-baiknya lu jadi temen" pemuda yang tidak lain adalah Tama masih terus mengumpat, dia menumpahkan kekesalannya pada sahabatnya Regi.


Semalam Tama baru saja kembali dari luar kota untuk urusan bisnisnya. Dia heran mendapati sahabatnya itu berada di rumahnya Sabtu malam dengan masih memakai kaos yang bertuliskan studi tour SMA Insan Mulia. Tama pun baru ingat jika sekolah yang berada di bawah naungan yayasannya akan mengadakan karya wisata.


Kegiatan studi tour yang diadakan di sekolah yang dipimpin Regi merupakan program rutin yang diadakan setiap tengah semester. Waktu jeda semester setelah melaksanakan Penilaian Tengah Semester (PTS) digunakan untuk melaksanakan kegiatan yang dapat menjadi sumber belajar bagi para siswa, di antaranya studi tour.


Regi sudah mengirim proposal pelaksanaan kegiatan itu pada ketua yayasan yang menaungi sekolahnya itu sejak sebulan yang lalu. Tidak ada balasan yang signifikan dari email yang dikirimnya selain pesan bahwa kegiatan itu di acc dan diminta agar membuat laporan kegiatannya setelah selasai dilaksanakan.


Regi dan tim yang terdiri dari panitia yang diketuai oleh Rahma pun bergerak sesuai prosedur yang berlaku untuk pelaksanaan setiap kegiatan. Tidak ada yang salah, semua kegiatan sudah terlaksana dengan baik dan sukses.


Regi yang sejak awal memang berencana akan menghabiskan hari liburnya di Bandung sudah memberikan pemberitahuan pada semua guru dan siswa bahwa dirinya tidak akan ikut pulang kembali ke Garut sore itu. Dia berpamitan untuk pergi ke rumah saudaranya di Bandung dan baru akan kembali minggu sore.


Rumah saudara yang dimaksud Regi tidak lain adalah rumah Tama. Bukan tanpa alasan Regi menjadi orang kepercayaan yang mengelola lembaga pendidikan yang berada di Garut. Tama dan Regi masih memiliki hubungan keluarga jauh namun nyatanya mereka sangat dekat.

__ADS_1


Regi dan Tama berkuliah di kampus yang sama. Meskipun kuliah di jurusan yang berbeda, Tama jurusan bisnis sementara Regi jurusan pendidikan tetapi mereka memiliki hobi yang sama, sehingga berbagai event di kampus sering mempertemukan mereka.


Sang ibu asli mojang Garut yang merupakan sepupu jauh ayah Tama, seiring masa purna tugas sang ayah yang bekerja pada salah satu BUMN mereka sekeluarga pun memutuskan untuk pulang kampung dan menikmati masa purna di tanah kelahiran sang ibu, Garut.


Regi merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara akhirnya harus turut ikut bersama kedua orang tuanya ke Garut. Kedua kakak perempuannya sudah memiliki kehidupan masing-masing bersama keluarga kecil mereka dan tinggal di luar kota.


Tama yang dipercaya menggantikan sang ayah untuk memimpin perusahaan dan juga ketua yayasan sempat bingung untuk mengelola yayasannya yamg berada di Garut, untunglah dirinya dipertemukan kembali dengan Regi. Hingga akhirnya Tama mempercayakan yayasan yang berada di Garut untuk dikelolanya.


"Huuhhh...." Tama membuang kasar nafasnya, dia menjatuhkan tubuhnya pada ayunan yang ada di area taman tidak jauh dari tempat Regi duduk, dia pun merebahkan tubuhnya sambil sedikit menggoyangkan ayunan itu. Sepertinya banyak bicara membuatnya lelah,


"Cepek boss" ledek Regi yang tidak sedikit pun merasa tersinggung dengan kemarahan Tama saat itu.


Tama marah karena dirinya tidak diingatkan lagi jika karya wisata itu dilaksanakan hari ini. Seandainya tahu, Tama mungkin tidak akan pergi ke luar kota.


Tama berencana jika dia akan mengikuti kegiatan karya wisata itu agar punya kesempatan untuk bisa bersama Rahma sebagai pengobat kerinduannya. Sayangnya rencananya tinggallah rencana dan dia.melampiaskan kekesalannya pada Regi pagi ini.


"Sialan lu, ini juga gara-ga lu" teriak Tama sambil meninjukan tangannya ke udara,


"Ha..ha..ha...." Regi tertawa lepas melihat tingkah atasan sekaligus sahabatnya itu, sungguh lucu menurutnya.


"Sorry bro, gue kira lu sudah move on dari Rahma" ujar Regi kini dengan wajah serius,

__ADS_1


Tak ada respon dari Tama, dia larut dalam pikirannya sendiri. Bersandar di ayunan besar yang ditempatinya sambil menatap langit yang membiru,


"Mulut adalah penipu paling baik, sedangkan hati adalah pembohong paling buruk. Dengan mudah mulutku bisa berkata jika aku mengikhlaskannya bersama orang lain, toh untuk mengaku jika diriku kehilangan pun aku rasanya tidak berhak karena sebelumnya belum pernah memilikinya. Tapi hatiku adalah pembohong yang buruk, sungguh dia tidak bisa diajak kompromi untuk sepakat dengan apa yang mulutku katakan"


"Semuanya masih sama Bro, di hatiku masih tentang dirinya. Aku hanya berusaha berhenti menunjukkannya" Tama berkata dengan nada yang lesu, sungguh dia sepertinya sedang berada di titik terendah pada urusan percintaannya.


Hatinya sudah dikuasai penuh oleh seorang Naura Rahmania yang sudah mantap akan menjadi pelabuhan hatinya. Namun sayang dia kalah start hanya karena terlalu percaya diri jika gadis itu tak ada yang memiliki saat itu.


☘️☘️☘️


Sementara di sebuah rumah yang lebih sering dihuni seorang diri oleh Rahma, pagi ini dia sedang sibuk berkutat dengan berbagai peralatan dapur. Semalam suaminya datang dan memutuskan menginap.


Rahma sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sampai waktu menunjukkan pukul enam lebih dia belum melihat pergerakan dari kamar yang ditempati Anggara semalam.


Rahma menata makanan yang sudah selesai dibuatnya di atas meja makan yang hanya berkursi dua buah. Dia sengaja hanya membeli meja makan ukuran minimalis untuk mengisi rumahnya.


Rahma memilih menunggu Anggara dengan duduk sendiri di kursi meja makan. Dia mengingat percakapannya semalam setelah kedatangan suaminya yang tiba-tiba.


"Maafkan aku, Rahma" ucapan permintaan maaf yang Anggara ucapkan terdengar tulus di telinga Rahma, dia menarik nafas panjang.


"Aku terima permintaan maafmu Mas, dan sudah seharusnya aku memaafkan kamu" Rahma menjeda ucapannya, menatap Anggara yang menatapnya dengan senyum bahagia mendengar jawaban Rahma.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf, karena sepertinya aku akan memilih menyerah dengan pernikahan kita" ucap Rahma mantap, dia sudah memikirkan segalanya.


Bertahan bukan lagi pilihan yang tepat. Semua yang dimilikinya saat ini tidak layak untuk dipertahankan. Yang pantas dipertahankan adalah dia juga yang ingin bertahan, yang pantas diperjuangkan adalah dia yang memang juga ingin berjuang.


__ADS_2