
Semenjak Rahma secara resmi menerima pinangannya, Tama memutuskan untuk menetap dan berkantor di kantor pusat yakni Jakarta. Hotel dan butik yang merupakan usaha keluarga kini sepenuhnya di kelola oleh Tama. Sesuai janjinya pada sang papa, dia akan fokus mengambil alih usaha itu setelah menikah. Sementara untuk usaha-usaha yang didirikannya bersama para sahabatnya Tama memutuskan untuk menyerahkannya pengelolaannya secara langsung pada sahabat dan orang-orang kepercayaannya.
Hari pertama Tama kembali bekerja setelah seminggu cuti menikah, dia disambut dengan selebrasi kecil-kecilan seluruh stafnya. Ucapan selamat, karangan bunga dan hadiah-hadiah lainnya memenuhi ruang kerja sang CEO. Sekretarisnya bilang mereka insecure kalau menyerahkan kadonya di saat resepsi.
"Semuanya sudah saya rapihkan Pak, nanti siang kurir akan mengantarkannya ke kediaman bapak" Indah, sekretaris Tama menyampaikan hasil kerjanya setelah membereskan semua hadiah di ruang kerja sang bos. Tama masih berada di ruang rapat internal.
"Terima kasih Indah, kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu" Tama pun berdiri dari duduknya, berjalan menuju ruangan kerjanya sambil membuka ponsel untuk menghubungi istri tercinta.
"Pak..." Tama yang sedang duduk di kursi kebesarannya tampak sibuk dengan ponselnya mendongak saat mendengar suara yang tak asing di telinganya,
"Indah, ada apa?'' tanya Tama menghentikan aktivitasnya yang sedang menghubungi Rahma namun sampai panggilan ketiga masih belum terhubung juga. Dia terlihat sedikit kaget karena tiba-tiba sekretarisnya sudah ada di hadapannya.
"Maaf saya lancang masuk, beberapa kali mengetuk pintu tidak kunjung ada jawaban jadi saya masuk saja" ujar sekretaris Tama yang bernama Indah itu,
"Maaf, saya sedang menghubungi istri saya. Ada apa?" Tama pun mengulangi pertanyaannya dengan menggenggam ponsel yang masih berusaha menghubungi Rahma.
"Saya mau memberikan ini sebagai hadiah sederhana untuk bapak, selamat atas pernikahannya Pak, semoga bapak berkenan menerimanya. Sekali lagi selamat ya Pak, saya senang berkesempatan bertemu dan bersama dengan bapak hingga saat ini" Indah menyimpan paper bag di atas meja kerja Tama, dari nada bicaranya Tama merasa ada maksud lain dari perkataan sekretarisnya itu.
"Oh, saya kira apa. Terima kasih Indah" jawab Tama singkat, dia tidak mau larut dalam prasangkanya, berharap apa yang terlintas di pikirannya saat melihat gestur sekretarisnya itu salah.
"Sama-sama, Pak" balas Indah,
"Masih ada lagi yang mau kamu sampaikan?," Tama yang fokusnya sudah kembali ke ponselnya mendongak saat merasa tidak ada pergerakan dari sekretarisnya itu.
"Saya...."
"Saya apa, Indah? Katakan dengan jelas" Tama mengernyit, merasa aneh dengan tingkah sekretarisnya yaang berbeda dari biasanya.
"Tidak pak, tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi pak" pungkas Indah akhirnya,
Indah pun membalikan badan dan berjalan ke arah pintu keluar,
"Satu lagi Pak" Indah yang sudah memegang handle pintu kembali berbalik, sementara Tama menatapnya tanpa kata, dia fokus pada ponsel yang menempel di telinganya berharap panggilannya pada Rahma segera terhubung.
"Sebentar lagi waktunya makan siang, bapak mau dipesankan apa?" salah satu kebiasaan Tama semenjak berkantor di kantor pusat adalah makan di ruangannya, dia sering meminta Indah atau asisten pribadinya untuk memesankan makanan.
"Assalamu'alaikum sayang" Tama langsung menyapa saat panggilan teleponnya terhubung, dia mengabaikan pertanyaan Indah dan hanya melambaikan tangan tanda jika dirinya tidak perlu dipesankan makan siang.
"Maaf, saya kira istri saya. Memangnya Rahma kemana? Kenapa kamu yang mengangkat teleponnya?" entah apa yang dikatakan orang yang menerima teleponnya, Tama bertanya kenapa bukan istrinya.
__ADS_1
Bukannya pergi, Indah justru tetap berdiri di balik pintu yang sudah akan terbuka. Dia terlihat tertarik pada apa yang didengarnya barusan.
Sejak kedatangan Tama ke kantor pusat dan dinobatkan sebagai CEO menggantikan ayahnya Pak Hakim, Indah sudah terlihat tertarik dengan putra sang pemilik hotel itu, namun sebagai seorang sekretaris dia berusaha berperilaku profesional. Apalagi Pak Hakim sudah sangat baik padanya dan keluarganya, Indah cukup tahu diri dengan kedudukannya apalagi saat dia tahu jika Tama sudah punya tunangan yaitu Tasya. Tapi yang namanya rasa tak ada yang bisa mencegah, semakin sering dia bertemu dan bersama Tama ketertarikannya semakin tak mampu dia sembunyikan.
Harapan untuk meraih cinta putra atasannya itu semakin terbuka lebar tatkala berita batalnya pernikahan Tama dan Tasya tersebar hampir di semua kantor, pusat dan cabang. Hal itu membuat Indah memulai kembali merajut mimpinya untuk bisa dekat dengan Tama. Namun, lagi-lagi takdir tidak berpihak kepadanya. Tama memilih meninggalkan tanah air dan fokus dengan usaha baru yang dibangunnya sendiri bersama teman-temannya. Tama bahkan lebih sering berada di Malaysia dan hanya sesekali pulang itu pun ke Bandung.
"Apa? Kamu yakin?" seketika Tama berdiri, kepanikan terpampang jelas di wajahnya, dia meraih kunci mobilnya dan segera keluar dari ruangannya tanpa memutuskan sambungan teleponnya, dia bahkan tidak peduli pada tumpukan berkas yang sudah menunggu persetujuannya sejak beberapa hari yang lalu.
"Lho..Pak, ada apa?" Indah yang juga kaget mendengar Tama yang berteriak saat menelepon tampak menunjukan empatinya.
Tama hanya meliriknya sekilas, dia melewati Indah begitu saja dan setengah berlari menuju lift khusus.
"Ada apa dengan Pak Tama?" gumam Indah, dia kembali ke tempatnya untuk menghubungi seseorang.
Sementara setelah sampai di basement, Tama segera berlari menuju mobilnya. Beberapa petugas keamanan yang menyapanya terlihat heran karena melihat Tama yang tampak panik.
Tama melajukan mobilnya keluar dari basement dan dengan kecepatan yang cukup tinggi membelah jalanan yang terlihat agak lenggang karena belum waktunya jam istirahat.
"Kamu kemana sayang? kenapa tidak menghubungi aku?" Tama terus bergumam, dia bahkan memukul stir saat lampu merah terpaksa menghentikan laju mobilnya.
Dari informasi yang didapatkan Tama, saat ini Rahma tidak ada di tokonya. Salah satu karyawan yang mendengar ponsel Rahma terus berdering memberanikan diri memasuki ruangan atasannya itu dan menerima teleponnya.
Kurang dari tiga puluh menit Tama sudah sampai di parkiran depan toko, dia memasuki toko dengan terburu-buru dan mencari keberadaan karyawan yang tadi memberinya kabar tentang Rahma.
"Coba kamu ceritakan detailnya apa yang terjadi?" di hadapan Tama kini berdiri dua orang karyawan yang mengetahui kepergian Rahma karena mereka bertugas di depan dan berinteraksi langsung dengan pembeli secara otomatis mereka melihat Rahma yang pergi dengan wajah sembab dan buru-buru.
"Tadi Mbak Rahma keluar dari ruangannya buru-buru Pak, wajahnya sembab, sepertinya Mbak Rahma sudah menangis cukup lama. Saat saya tanya mau kemana, Mbak Rahma hanya menoleh sekilas dan keluar tanpa menjawab pertanyaan saya." jelas salah satu karyawan yang sempat bersua dengan Rahma.
"Sebelumnya Mbak Rahma kedatangan tamu Pak, ibu-ibu, mereka cukup lama mengobrol di dalam ruangan Mbak Rahma. Tapi..." Fitri yang mengetahui perihal tamu Rahma memberi informasi, namun dia menjeda penjelasannya karena takut jika apa yang kan dikatakannya membuat dia dinilai tidak sopan karena menguping obrolan atasannya.
"Tapi apa? siapa tamunya?" tanya Tama penasaran, dia bertanya penuh penekanan membuat Fitri pun semakin gelisah.
"Sebelumnya maaf Pak, bukan maksud saya menguping pembicaraan Mbak Rahma dengan tamunya. Tadi saya ke dalam untuk menyajikan minum dan camilan untuk tamu" ucap Fitri terlihat ragu,
"Katakan apa yang kamu dengar" titah Tama faham keraguan karyawan tokonya itu.
"Saya dengar ibu itu akan ke pengadilan untuk mengajukan hak asuh Athaya" jelas Fitri akhirnya membuat Tama seketika membulatkan matanya.
"Kamu yakin mendengar tamu itu mengatakannya?" tanya Tama memastikan,
__ADS_1
"Iya Pak, saya mendengarnya sendiri" jawab Fitri yakin,
"Baiklah kalau begitu, terima kasih ya. Silahkan kalian lanjutkan kembali pekerjaan kalian. Saya akan mencari Rahma." Tama pun pamit segera keluar dari toko dan kembali masuk ke dalam mobilnya,
"Assalamu'alaikum Kak, maaf mengganggu waktunya. Apa Rahma ada datang ke tempat Kakak?" Tama menghubungi kakak iparnya Rahma, berharap istrinya ada di sana.
"..."
"Ponsel Rahma ada bersamaku, sepertinya dia pergi sangat buru-buru. Sekarang aku akan mencarinya"
"...."
"Baik kak, kabari aku jika kakak mendapat kabar" setelah menjelaskan kronologis kepergian Rahma Tama pun menutup teleponnya dan kembali menghubungi yang lain.
"Sayang, kamu dimana? kenapa tidak menghubungi aku?" keluh Tama merasa sangat bersalah, dia merasa tidak berdaya.
"Sekolah Athaya...." tanpa menunggu lagi, Tama segera meluncur ke sekolah Athaya, sambil terus menghubungi Fajar berharap mendapat kabar baik darinya,
"Wa'alaikumsalam"
"..."
"Iya Jar, aku butuh bantuanmu. Tolong periksa Athaya apakah masih berada di kelasnya atau tidak? dan apakah istriku datang kesana atau tidak, cepat ya" titah Tama tegas, dia membagi fokusnya antara mengendarai mobil dan menelepon Fajar.
Tidak lama ponselnya berdering, nama Fajar menjadi kontak yang menghubunginya saat ini.
"Assalamu'alaikum, bagaimana?"
"..."
"Apa?" tuutt...panggilan pun terputus, Tama memutuskannya sepihak.
Tama menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia menatap satu persatu kontak yang ada di ponsel Rahma, berpikir siapa teman Rahma yang bisa dihubungi untuk menanyakan keberadaan istrinya itu.
Tama pun memutuskan untuk menghubungi beberapa kontak yang dia tahu keberadaan mereka di Jakarta.
"Huuhhffff.." Tama menghembuskan nafasnya kasar, setelah lebih dari lima kontak yang dihubunginya melalui ponsel Rahma tak satupun dari mereka yang bersama Rahma atau mengetahui keberadaan Rahma.
Tama semakin frustasi ketika menerima kabar dari Fajar jika tadi Rahma ke sekolah menjemput Athaya lebih awal dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Kamu kemana sayang? Aku khawatir." Tama menyugar rambutnya frustasi, pikirannya kacau memikirkan keberadaan istri dan anaknya yang pergi tiba-tiba.