Belenggu Akad

Belenggu Akad
Curahan Hati


__ADS_3

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Sejak kepergian kedua orang tuanya Rahma memutuskan untuk tinggal dengan Yusuf adik bungsunya di rumah peninggalan kedua orang tua mereka. Rumah yang dibelikan Anggara untuknya dia kosongkan karena tidak ingin larut dalam kegalauan yang mendalam. Walau bagaimanapun rumah itu memiliki kenangan kebersamaannya dengan Anggara. Di rumah itu dia mendapat kesakitan dan kebahagiaan rumah tangga sekaligus, sesingkat apapun ceritanya tetapi kenangan tetaplah menjadi sesuatu yang lekat di ingatan.


Tidak lama setelah akta perceraiannya dengan Anggara keluar, Rahma yang sudah tidak lagi mengajar dan hanya memiliki aktivitas menulis dan menjadi mentor pada kegiatan pembelajaran jarak jauh atau dalam jaringan memutuskan untuk mengikuti saran kakaknya.


Budi yang sudah lama bertugas di luar pulau Jawa kini mendapat giliran untuk dimutasi tugas. Dia di mutasi ke Jakarta dan bekerja sebagai staf ahli di Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta. Semua anggota keluarganya turut pindah dan Budi sepakat dengan istrinya untuk mengajak Rahma dan Yusuf tinggal bersamanya di Jakarta.


Tanpa berpikir lama Rahma dan Yusuf menuruti ajakan kakaknya, mereka pun sepakat untuk memulai hidup baru di Jakarta. Rahma dengan status barunya mantap akan memulai kehidupan baru di tempat baru. Berharap semua luka yang pernah ada sembuh seiring waktu. Walau bagaimana pun tidak ada wanita yang benar-benar siap untuk hidup sendiri apalagi dalam keadaan berbadan dua.


Siang hari Rahma terlihat biasa saja dalam menjalani hari-harinya, tapi malam hari air matanya menjadi saksi betapa kepedihan hati karena perpisahan dengan cara yang menyakitkan sangat mendalam dirasakannya. Tidak ada orang yang benar-benar kuat, terkadang mereka bersedih dengan cara tersenyum.


Malam ini adalah malam terakhir dia berada di Garut, tidur di kamar yang biasa ditempatinya di rumah orang tuanya, kamar yang ditempati olehnya bersama Anggara beberapa saat sebelum kata talak Anggara lisankan. Di atas sajadah, di penghujung malam, Rahma kembali menumpahkan semua rasa hatinya. Mengadukan semua yang dialaminya pada yang berhak dan mengetahui segalanya.

__ADS_1


Kehilangan orang-orang yang dicintainya, orang-orang yaang dijadikannya tempat bersandar dalam waktu yang hampir bersamaan adalah bukan hal yang mudah. Kehilangan cinta pertama yang didapatkan dari seorang ayah, disusul kepergian ibu yang selalu menjadi sumber kekuatannya membuat Rahma begitu rapuh. Dan lengkaplah sudah kepelikkan dalam hidupnya ketika harus merelakan suaminya untuk wanita lain.


"Ya Rabb, aku tahu perpisahan adalah hal yang mutlak akan terjadi, mau tidak mau, siap tidak siap kita akan sampai pada titik paling menyakitkan dalam hidup yaitu kehilangan orang-orang yang kita cintai dan kehilangan orang-orang yang mencintai. Entah sebagai yang ditinggalkan atau yang meninggalkan. Semua akan dipaksa untuk bersabar, bersyukur dan ikhlas menerima"


"Aku ikhlas ya Rabb, aku ikhlas...lapangkanlah alam kubur kedua orang tuaku, berikanlah mereka balasan terindah darimu. Aku bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang yang layak mendapatkan tempat terindah di sisimu. Allahummaghfirlahum....." do'a tak pernah lekang Rahma panjatkan untuk kedua orang tuanya,


"Yaa Rabb, melupakan hanya soal waktu, cepat atau lambat, suka atau tidak suka, aku yakin pada akhirnya semua akan lupa pada saatnya. Tolong yaa Rabb, lapangkan hati hamba untuk menerima konsekuensi dari pilihan hamba ini. Buatlah hati hamba benar-benar ikhlas ya Rabb, hilangkanlah rasa sakit ini" Rahma memukul dadanya sendiri rasa sesak tiba-tiba muncul setiap kali teringat bagaimana dia begitu berharap Anggara adalah imamnya di dunia dan akhirat sebelum kenyataan menamparnya. Walau bagaimanapun Anggara adalah laki-laki pertama yang memasuki kehidupannya, selama ini Rahma berhasil menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada lelaki yang tidak halal untuknya. Saat Anggara hadir dan menyatakan siap menghalalkannya,saat ijab kabul terucap di depan saksi, saat itulah Rahma berusaha menumpahkan rasa cintanya untuk pria halalnya, walau tidak lama setelahnya dirinya seolah terbelenggu dalam akad yang sudah terjalin itu.


"Mas...."Rahma menatap sebuah foto berukuran tiga kali empat yang sampai saat ini masih berada di dompetnya,


"Apakah kamu sudah benar-benar bahagia sekarang?" Rahma kembali berbicara sendiri, kali ini objeknya adalah sebuah foto dalam genggaman yang sengaja dia keluarkan dari dompetnya,

__ADS_1


"Saat ini pernahkan kamu mengingatku Mas? seseorang yang pernah rela melepas tanganmu hanya untuk membiarkanmu menggenggam tangan orang lain. Seseorang yang pernah berkata tidak apa-apa padahal hatiku sangat terluka dan seseorang yang pada akhirnya mematahkan hatinya sendiri hanya agar kamu tidak bersedih"


"Sepertinya cintaku ibarat awan yang mencintai hujan, yang tak pernah berhenti memahami, sekuat apapun menahan pergi, hujan tetap akan jatuh ke peluk bumi. Sekecewa apapun aku, aku tetap melihatmu dari sisi baikmu"


"Astaghfirullah...Ya Rabb, pintaku sederhana, semoga aku menjadi orang yang selalu bahagia bukan hanya terlihat bahagia" ucap Rahma mengakhiri rintihannya malam ini. Bertaubat dan memohon ampunan adalah solusi mujarab untuk setiap masalah yang sedang menimpa.


Tanpa Rahma sadari setiap kali dirinya mengadukan semua tentang perasaan dan keadaanya kepada Sang Pemilik Hidup, Yusuf selalu berada di balik pintu kamar kakaknya dengan berlinang air mata.


"Teteh, teteh adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal, aku yakin teteh akan mampu melewati ini semua, Allah tidak akan membebani hamba di luar batas kemampuannya. Tenanglah Teh aku akan menjaga teteh dan akan selalu ada untuk teteh" gumam Yusuf dalam hatinya sesaat sebelum dirinya kembali ke kamarnya.


Sementara di lain tempat dalam waktu bersamaan, seseorang pun tengah melakukan hal yang sama. Duduk bersila di atas sajadah dengan yang menengadah. Sebuah foto pernikahan dia dekap setelah munajatnya usai.

__ADS_1


"Rindu mengajarkan kita bagaimana seharusnya menghargai temu, sedangkan kehilangan mengajarkan kita bagaimana pentingnya sebuah keberadaan. Maafkan aku Rahma...aku terlambat menyadarinya" Kebiasaan baik yang didapatnya semenjak berumah tangga dengan Rahma adalah bermunajat di sepertiga malam terakhir. Dulu, selalu ada Rahma yang menjadi makmumnya. Namun kini semua itu tinggallah kenangan.


__ADS_2