
Suasana duka kembali menyelimuti kediaman orang tua Rahma. Baru seminggu yang lalu ayahnya meninggal, kini dia kembali menerima takjiyah dari saudara, tetangga dan kerabatnya atas kepergian sang ibu. Duduk di samping jenazah dengan merangkul Yusuf adik bungsunya yang begitu sangat kehilangan.
Setelah jenazah ibu selesai di dimandikan, dikafani dan dishalatkan Yusuf tak sedikit pun beranjak dari samping jenazah. Kepalanya menunduk, menyembunyikan tangis yang seolah tak ingin orang ketahui namun dirinya pun tak kuasa menahannya. Sesekali bahunya berguncang namun masih tanpa suara. Yusuf, anak bungsu bertanggungjawab kini terlihat rapuh dan tak berdaya.
Saat kepergian bapak, Yusuf masih mampu menahan air mata bahkan menjadi sandaran untuk Rahma. Tapi kali ini kepergian ibu benar-benar membuat jiwanya terguncang. Bukan karena tak menerima takdir, tapi rasa kehilangan sangat mendalam dirasakannya karena kepergian ibu yang tidak lama setelah bapak dan dengan cara yang tidak terkira. Sungguh... kematian hanya Allah yang tahu, kapan, dimana dan dengan cara seperti apa akan menghampiri setiap makhluk yang bernyawa.
Segala sesuatu memang ada dan akan terjadi sesuai dengan ketentuan qadha dan qadar-Nya. Ini merupakan keyakinan orang-orang Islam dan para pengikut setia Rasulullah s.a.w. Yakni, keyakinan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak akan pernah ada dan terjadi tanpa sepengetahuan, izin dan ketentuan Allah.
"Sabar Dek, ini semua sudah yang terbaik" ucap Rahma di dekat telinga Yusuf yang tak kunjung mendongakkan kepalanya. Saat ini mereka hanya berdua karena Budi dan Maya masih dalam perjalanan setelah dikabari jika ibu sudah tiada.
Karena ada permintaan dari Maya, Rahma dan keluarga besar sepakat untuk menunggu kedatangan Maya dan suaminya sebelum memakamkan ibu. Saat ini dia sudah sampai di Bandung, sekitar dua jam lagi kemungkinan akan sampai di Garut. Kemungkinan jenazah akan dimakamkan ba'da Ashar.
Sementara Budi, dengan berat hati dia harus mengikhlaskan kepergian sang tanpa berkesempatan untuk melihat wajahnya untuk yang terakhir kali karena penerbangannya dijadwalkan pukul tujuh malam ini. Hanya melalui video call yang tersambung melalui ponsel Rahma, Budi dan keluarga kecilnya bisa menyaksikan proses pemulasaraan jenazah almarhumah ibu mereka.
Kumandang adzan maghrib terdengar serasa menyayat hati. Suasana rumah sudah tampak sepi dari para pelayat, hanya keluarga dekat yang masih berada di sana. Mereka tengah sibuk mempersiapkan acara pengajian yang akan digelar malam ini.
Sebuah mobil terparkir di halaman rumah orang tua Rahma. Yusuf yang sedang berada di teras rumah menatap mobil itu karena merasa tidak kenal siapa pemiliknya. Saat ini dia sudah kembali bisa menguasai dirinya setelah Rahma memberinya nasihat.
Deg... wajah Yusuf tiba-tiba berubah saat melihat siapa yang turun dari mobil itu.
"Assalamu'alaikum, Suf" Anggara berdiri di hadapan Yusuf yang terus menatap tajam kepadanya.
"Wa'alaikumsalam. Ada perlu apa Kak Angga kemari" tanya Yusuf ketus, rasa kesal dan marah kembali menyergap hatinya saat bertemu Anggara.
"Maafkan Kakak Suf, kakak benar-benar baru tahu jika bapak meninggal. Kakak baru menerima informasinya tadi sore dan langsung kemari" Anggara memang terlihat sangat lelah, sepertinya dia mengendarai mobil sendiri dengan kecepatan cukup tinggi, terlihat dari dadanya yang naik turun dengan cepat dan masih memakai pakaian kantor lengkap.
__ADS_1
"Telat...." balas Yusuf,
"Maafkan kakak, kakak benar-benar baru mengetahuinya. Sekarang dimana kakakmu?" Anggara masih terlihat sangat cemas, tak ada kebohongan dalam ucapannya. Sepertinya diapun syok saat mengetahui tentang meninggalnya ayah.
"Dek, siapa?" belum sempat Yusuf menjawab, suara Rahma dari dalam rumah terdengar memanggil dan menanyakan perihal tamu yang datang. Dia baru selesai dengan persiapan acara pengajian yang akan digelar selepas shalat Isya.
"Sayang, Rahma....maafkan aku" tidak menunggu lama, saat melihat Rahma keluar dari rumah Anggara dengan cepat menghampiri Rahma itu dan segera memeluknya.
Tidak ada penolakan ataupun balasan dari Rahma saat laki-laki yang masih berstatus suaminya itu memeluknya. Air mata pun bahkan tidak ada, Rahma sepertinya sudah menyiapkan diri untuk tegar menghadapi apapun ke depannya.
Tetangga dan keluarga pun mulai berdatangan ke rumah kedua orang tua Rahma mereka sengaja diundang untuk mengikuti pengajian sepeninggalnya ibu Rahma.
"Silahkan masuk mas" Rahma mengurai pelukan Anggara dan mempersilahkannya masuk ke dalam karena tamu yang datang semakin banyak. Dia bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa, Anggara semakin merasa bersalah melihat sikap dingin istri pertamanya itu.
Tepat pukul 11 malam acara pengajian pun selesai, di saat bersamaan Budi dan istri serta kedua anaknya tiba di kediaman orang tuanya. Suasana haru kembali menyelimuti, tangis keempat kakak beradik itu pun kembali pecah. Mereka bersama saling memeluk menumpahkan rasa kehilangan yang teramat dalam karena kepergian orang-orang terkasih dalam waktu yang hampir bersamaan.
Malam semakin larut. Semua yang terjadi hari ini sungguh tidak mudah dilalui oleh semuanya. Mereka sudah berada di kamarnya masing-masing untuk mengistirahatkan raga yang lelah.
Anggara berdiri mematung saat melihat Rahma sudah tertidur pulas. Kini mereka berada di dalam kamar yang biasa Rahma tempati sebelum menikah dengannya. Tidak ada yang berubah, kamar itu tetap sama seperti pertama kali Anggara memasukinya dulu awal mereka menikah.
"Maafkan aku Rahma, Rahma istriku. Kamu pasti melewati hari-hari yang tidak mudah selama aku tidak ada. Maaf jika akhirnya aku terjebak dalam situasi rumah tangga kita. Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu...."
Cup....Anggara mengecup kening istrinya yang telah lelap, wajah lelahnya begitu kentara. Matanya bahkan masih sembab karena tangisannya sepanjang hari ini.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Pagi menyapa, hari baru telah tiba, menanti orang-orang untuk memulai kehidupan barunya. Waktu terus melaju tanpa bisa dicegah, hari kemarin telah berlalu dan esok belumlah tentu. Maka hari kita adalah hari ini. Melakukan tugas kita hari ini dengan baik adalah pilihan yang tepat, karena esok belum tentu tertakdir untuk kita lagi. Tersenyum kepada orang-orang yang kita temui hari ini karena esok belum tentu kita bertemu lagi.
Anggara sudah duduk dengan tegap, kegagahan dan kewibawaannya tak lekang walau kini sudah beralih profesi. Dia duduk bersila dengan tegak berhadapan dengan Budi, kakak iparnya.
Sengaja pagi ini Budi memintanya untuk berbicara serius, dia tidak ingin menunda-nunda lagi masalah yang menimpa adiknya. Saat ini perannya bertambah, tidak hanya sebagai kakak yang harus menjaga dan melindungi adiknya tetapi juga orang tua pengganti untuk Rahma.
"Maaf sebelumnya jika saya lancang. Tetapi dengan kapasitas sebagai kakak sekaligus orang tua Rahma saya rasa apa yang saya lakukan ini sudah tepat" Budi mengawali obrolan pagi ini dengan serius, Anggara bahkan terlihat tegang sesaat setelah mendengar apa yang dikatakan kakak iparnya,
Budi pun sekilas menceritakan apa yang diketahuinya tentang rumah tangga adiknya sebelum selanjutnya dia meminta Anggara mengonfirmasi kebenaran berita itu. Dia ingin mendengar semua yang diketahuinya itu versi Anggara.
Dengan jujur Anggara pun membenarkan semua yang dikatakan Budi. Dia meminta maaf karena tidak bisa memperjuangkan Rahma untuk menjadi satu-satunya pasangan hidupnya. Keadaan membuatnya tak berdaya, walau hatinya sudah ada cinta yang besar untuk Rahma ternyata belum cukup untuk menolak apa yang menjadi permintaan kedua orang tua terutama ibunya untuk segera memiliki keturunan.
Budi menarik nafasnya panjang, setelah mendengar penjelasan Anggara yang tidak berbeda dengan apa yang disampaikan adiknya dia pun mengangguk-anggukan kepalanya. Hati kecilnya marah, ingin sekali dia meninju wajah lelaki yang menjadi adik iparnya itu, tetapi sebagai orang yang bijak dia tidak mau hehabah, dia hanya ingin yang terbaik untuk semuanya terutama untuk adiknya tanpa harus mengedepankan amarah dan kekerasan. Apalagi saat ini keluarganya masih dalam keadaan berduka, dia tidak ingin membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Setelah mengetahui kebenaran versi Anggara, dia pun mantap menentukan apa yang harus dilakukannya. Budi akan menyerahkan semua keputusan akhirnya kepada adik tersayangnya.
"Terima kasih atas kejujuranmu, saya hanya ingin mengetahui kebenaran dari dua-duanya, yaitu versi Rahma dan versi kamu. Sejujurnya sebagai seorang kakak, saya sangat kecewa dan ingin sekali marah padamu, tega sekali kamu memperlakukan adikku seperti ini" Budi menghela nafas menjeda ucapannya, membayangkan luka batin yang dialami adiknya, Budi merasa dadanya begitu sesak.
"Tahukah kamu, mungkin perempuan yang kamu cintai dan kamu nikahi itu tidak sempurna, tapi dia adalah harta berharga untuk ayahnya dan untuk kami semua saudara-saudaranya. Kamu sudah menyakiti anak perempuan yang sudah mati-matian dibahagiakan oleh ayahnya dan begitu disayangi oleh saudara-saudaranya" ucap Budi dengan suara yang semakin terdengar parau,
"Maafkan saya, Kak" ucap Anggara dengan posisi yang tidak berubah, dia menunduk tak kuasa beradu tatap dengan kakak iparnya.
"Huhhh......" Budi membuang nafasnya kasar,
"Setelah ini, saya akan menyerahkan semuanya pada Rahma dan kamu. Tolong berdewasalah untuk menentukan keputusan yang akan kalian ambil, jadikan keputusan itu sebagai solusi terbaik dari masalah yang sedang kalian hadapi" pungkas Budi mengakhiri obrolannya dengan adik iparnya itu, dia pun berdiri dari duduk silanya.
__ADS_1
"Dek, kemariah" panggil Budi, dia sengaja meminta Rahma atau siapapun tidak hadir dalam obrolannya dengan Anggara, tapi dia meminta Rahma agar mendengarkannya apa yang dikatakan Anggara, alhasil sejak Anggara berhadapan dengan kakaknya Rahma sudah berdiri di balik pintu yang menghubungkan ruang tengah dan ruang tamu tempat Anggara dan Budi mengobrol.