
"Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan penyesalan. Karenanya mari kita bersama saling memaafkan" ucap Rahma, mengusap lembut bahu Friska yang sedang menunduk dengan menahan isak tangis.
Akhir pekan ini Friska mendatangi apartement Rahma membawa kedua putrinya yang kini sedang bermain anteng dengan Athaya di ruangan yang di desain khusus seperti taman bermain khas anak laki-laki. Apartemen yang cukup luas itu membuat sang empunya leluasa mendekorasi setiap ruangannya sesuai dengan keinginan.
Beberapa hari sebelum menikah, Tama sudah menyuruh orang untuk mendesain ulang interior apartemennya. Satu ruangan besar yang biasanya digunakan untuknya berkumpul dengan rekan-rekan, kini digunakan khusus tempat Athaya bermain dan belajar. Desain interiornya pun sangat nyaman dan ramah untuk anak-anak.
Dan pagi di akhir pekan ini, Rahma dikejutkan dengan kedatangan Friska dan anak-anaknya ke apartemen mereka.
"Terima kasih ya, kamu sudah mau memaafkan aku dan menerima kedatangan aku dan anak-anakku" ucap Friska masih dengan sisa isak tangis,
"Sama-sama" jawab Rahma singkat, mereka pun kembali berpelukan. Pemandangan yang hangat tercipta, tidak ada dendam ataupun penyesalan keduanya sepakat untuk saling memaafkan dan menjalin silaturahmi untuk masa depan yang lebih baik.
"Mas Anggara hari ini pulang dari rumah sakit," Friska kembali memulai obrolan. Saat ini mereka sudah berpindah tempat duduk menjadi di ruang makan karena akan menikmati makan siang bersama.
"Alhamdulillah, semoga seterusnya sehat" sahut Rahma, dia menyiapkan semua masakan yang sudah dimasaknya beberapa jam sebelum kedatangan Friska.
Tama memberitahunya tadi pagi, selepas subuh membuka ponsel suaminya itu menerima kabar bahwa Friska mengirim pesan akan datang hari ini ke apartemen mereka. Alhasil Rahma menyiapkan aneka masakan untuk menyambut tamunya.
"Ini semua masakan kamu?" tanya Friska yang terlihat mengamati satu persatu lauk yang tersaji di atas meja sangat menggugah selera.
"Heumm" jawab Rahma dengan mengulas senyum,
"Ini pasti enak" tunjuk Friska pada soto daging yang tersaji di atas meja masih dengan kepulan asap yang semakin menggoda untuk di santap.
__ADS_1
"Mudah-mudahan kamu suka" harap Rahma dengan nada merendah.
"Tentu saja" jawab Friska, dia pun memanggil Athaya dan putri-putrinya untuk makan siang bersama.
Sementara Rahma, setelah memastikan semua masakannya terhidang di atas meja dia menuju ke ruang kerja sang suami. Mengetahui apartemen mereka akan kedatangan tamu Tama lebih memilih memantau pekerjaannya di ruang kerja walau biasanya semenjak menikah Tama tidak pernah bekerja di saat weekend.
Tok...tok...tok...
"Assalamu'alaikum mas, boleh aku masuk?" Rahma walau mereka sudah menikah, salah satu hal yang tidak berubah dari dia adalah tetap menjaga privasi sang suami, salah satunya seperti saat ini Rahma selalu meminta izin jika akan memasuki ruang kerja sang suami.
"Wa'alaikumsalam, masuk sayang" Tama tersenyum saat melihat kepala berbalut hijab itu menyembul di pintu ruang kerjanya.
"Sini!" titah Tama, dia mengulurkan tangan meminta Rahma untuk mendekat.
"Makan siang udah siap Mas, kita makan bareng." ucap Rahma sambil berjalan mendekat ke tempat suaminya duduk yakni di kursi kebesarannya.
"Mereka masih ada?" tanya Tama dengan kedua tangan yang sudah melingkar di pinggang Rahma dengan posisi Rahma membelakangi.
"Masih, makanya ayo kita makan bareng" ajak Rahma sambil memegang lengan yang membelit di pinggangnya.
"Oke dan sebentar lagi kita akan antar Thaya ke rumah ayahnya, barusan Anggara menelepon sudah dalam perjalanan dari rumah sakit." jelas Tama, beberapa saat yang lalu dia menerima telepon dari Anggara yang mengabarkan dirinya sudah dalam perjalanan pulang dan dijawab anggukan oleh Rahma.
Rencana awal Tama dan Rahma akan membersamai Anggara menjemput Anggara saat pulang dari rumah sakit, tetapi karena mereka kedatangan tamu alhasil rencana pun berubah. Mereka sepakat untuk bertemu di rumah kedua orang tua Anggara dan Tama bersedia untuk mengantar putra sambungnya itu untuk menemani ayah kandungnya pasca kepulangannya dari rumah sakit.
__ADS_1
"Kalau gitu ayo kita keluar, Friska sudah menunggu" ajak Rahma perlahan melepaskan tangan yang membelit pinggangnya namun ajakannya diabaikan begitu saja karena sang suami malah semakin mengeratkan pelukannya dengan senyum jailnya.
"Mass ..." tak sempat melanjutkan protesnya, Rahma langsung dibungkam oleh Tama dengan ciuman yang awalnya hanya menempel berubah sesuai keinginan sang suami.
☘️☘️☘️
Acara makan siang bersama keluarga kecil Rahma bersama Friska dan kedua putrinya untuk pertama kali pun berlangsung dengan penuh kehangatan. Sesekali obrolan dengan topik tentang anak-anak menambah keakraban mereka.
Saat semua asyik menikmati makanannya, Rahma belum melanjutkan aktivitas makannya, dia tampak mengulas senyum, matanya mengamati semua orang yang menikmati masakannya itu dengan begitu lahap.
Saat menatap Friska senyumnya semakin melebar, mengingat seperti apa masa lalu mereka rasanya apa yang terjadi saat ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Wanita yang dulu berstatus sebagai kekasih suaminya, hingga berhasil membuat rumah tangganya bubar dan berakhir dengan Rahma yang berstatus janda dalam keadaan mengandung kini tengah duduk di hadapannya dan menikmati makanan yang dia masak langsung oleh dirinya.
Pandangan Rahma pun beralih pada Tama gang duduk tepat di sampingnya. Laki-laki yang dulu sempat mampir di hatinya namun ditepis sekuat tenaga agar tidak larut dalam rasa yang tidak layak karena dirinya yang telah bersuami, namun kini benar-benar sudah menguasai hati, jiwa dan raganya dalan ikatan halal suci pernikahan.
Kehadirannya tidak hanya memberikan cinta yang begitu besar dan tulus untuk Rahma dan Athaya, tapi dirinya seakan menjadi pelipur lara untuk setiap luka dan kesakitan yang dialaminya di masa lalu.
Dalam hati Rahma tak berhenti bersyukur, Allah Maha mengetahui yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Semua hadiah indah yang saat ini Rahma terima dalam hidupnya tidak akan berhenti untuk dia syukuri.
Rahma menganggap kehadiran Athaya juga Tama dalam hidupnya adalah hadiah yang begitu indah dari Allah, walau pada awalnya hadiah itu Allah bungkus dengan kehadiran orang yang tidak tepat untuknya yang berakhir dengan menorehkan luka dan rasa sakit. Namun sungguh semuanya kini indah pada waktunya.
Tama menghentikan sejenak aktivitas makan siangnya, dia melirik pada sang istri yang belum juga melanjutkan makannya.
__ADS_1
Tama seolah bisa membaca apa yang dipikirkan Rahma, dengan tangan kirinya dia menggenggam tangan Rahma yang masih memegang sendok membuat istrinya itu sedikit terkaget.
Rahma mengalihkan tatapannya dari Athaya pada sang suami, seulas senyum Tama tampilkan pada sang istri dengan genggaman tangan dan tatapan hangat seolah mengalirkan kasih sayang dan meyakinkan dirinya jika untuk selanjutkan semuanya akan baik-baik saja dan lebih baik. Rahma pun tak kalah hangat membalas genggaman tangan sang suami dengan senyuman tak kalah manis menghiasi wajahnya.