
Untuk pertama kalinya, setelah sekian purnama dilewatinya semenjak memutuskan untuk memercayakan pengelolaan yayasan pada orang kepercayaannya karena hati yang tak ingin semakin terluka akibat kasihnya yang tak sampai. Tama berdiri dengan gagahnya di balkon lantai tiga gedung perkantoran yayasan yang kini sudah dibangun semakin megah.
Acara peresmian gedung baru itu mengharuskannya hadir di yayasan tempat dirinya menemukan seseorang yang membuat hatinya jatuh sejatuh-jatuhnya. Namun kenyataan menamparnya, hingga dia sadar jika cintanya tak akan pernah tersampaikan karena sang pujaan telah menjadi milik orang lain.
Dari tempatnya berdiri Tama bisa melihat keseluruhan giat yayasan. Baik para siswa maupun para guru dan karyawan lainnya yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Melihat gedung perpustakaan yang tepat berada di depan gedung tempatnya berdiri membuat ingatannya kembali melayang ke beberapa tahun silam. Bayangan seorang gadis yang suka berlama-lama ditempat itu menghiasi pikirannya sore ini.
Suasana sore yang cerah tidak lantas membuat hatinya cerah, semakin dia berusaha melupakan semakin kuat rasa yang ada di hatinya.
Entah apa rencana Tuhan hingga rasa cinta yang Tama rasakan untuk seseorang di masa lalunya begitu sulit menghilang bahkan hanya untuk sekedar memudar pun tak ada peluang. Justru semakin terpatri rapi di relung hati yang paling dalam.
"Bro, semuanya sudah siap. Kamu pasti lelah, beristirahatlah setelah makan" suara yang tak asing di telinganya membuat Tama menolehkan wajahnya ke sumber suara, bayangan gadis yang selalu betah di perpustakaan pun teralihkan karena kehadiran sahabatnya.
"Oke, aku sudah sangat lapar" ujar Tama dengan wajah datarnya, tanpa menunggu lagi dia berbalik dan berjalan melewati Regi menuju tempat beradanya makanan yang akan disantapnya.
Kedatangan Tama kali ini hanya seorang diri. Dia diminta sang ayah untuk datang meresmikan gedung yang baru dibangun di yayasannya.
"Semua undangan sudah tersebar, orang tua dan pejabat setempat sudah mengonfirmasi kehadirannya malam ini, hampir 90 % akan hadir. Seluruh guru dan karyawan juga sudah dipastikan kecuali Bu Lisna dia izin tidak bisa menghadiri acara malam ini karena ada keperluan keluarga katanya" Regi melaporkan persiapan acara akbar yayasan malam ini yang akan dihadiri oleh orang nomor satu di Garut di sela makan siang mereka yang kesorean.
"Heumm..." jawab Tama, dia tetap fokus pada makanan yang disantapnya.
"Kamu tidak tanya apa keperluannya?" Regi kembali bersuara, setelah beberapa saat suasana hening.
"Itu urusanmu" jawab Tama ketus, dia tidak peduli dengan apapun tentang guru-guru di yayasannya sekarang, karena semuanya sudah dia serahkan pada orang kepercayaannya.
"Eumh...baiklah-baiklah" jawab Regi tidak melanjutkan pmbicaraannya. Getaran ponsel miliknya di atas meja berhasil mengalihkan perhatiannya.
Deerrrttt.......Deerrrttt.....
"Assalamu'alaikum sayang" ucap Regi menyapa penelepon yang sejak ponselnya bergetar sudah membuatnya menyunggingkan senyum.
Sontak, sapaan Regi pada peneleponnya membuat Tama menghentikan aktivitas makannya, dia mendongak menatap tajam pada sahabatnya itu dengan wajah heran. Sejak kapan pria yang selalu fokus dengan pekerjaan dan orang tuanya itu memiliki kekasih.
"Iya, aku lagi sama si boss. Hehe..." sekilas Regi melirik Tama yang semakin tajam menatapnya, namun dia abaikan.
"Heumm..." Regi tampak mengangguk-anggukan kepalanya mendengar apa yang dikatakan penelepon,
"Oke, hati-hati di jalan ya. Fii Amanillah, salam buat Rahma. Assalamu'alaikum" pungkas Regi mengakhiri percakapannya di telepon dengan wajah tersenyum bahagia dengan pikiran masih tertuju pada si penelepon.
Ting...suara sendok yang terjatuh di atas piring membuat Regi kembali berada di dunia nyata. Dia menatap Tama yang tiba-tiba berubah raut wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Regi polos, dia kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
"Siapa yang nelpon lu?" tanya Tama masih dengan wajah datarnya,
"Assalamu'alaikum" ucapan seseorang yang memasuki ruangan tempat Tama dan Regi makan mengalihkan fokus mereka. Keduanya menoleh ke arah sumber suara.
"Wa'alaikumsalam" kompak keduanya menjawab,
Seorang gadis cantik dengan jilbab berwarna mocca senada dengan baju dan yang dipakainya memasuki ruangan itu, berjalan mendekati meja dimana Tama dan Regi duduk dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Siapa?" tanya Regi pelan, namun tak mendapat jawaban apapun dari Tama.
"Mas..." sapa gadis cantik itu,
"Tasya, ngapain kamu ke sini?" tanya Tama heran,
"Sama papa dan mama dong, mereka mengajakku untuk menghadiri peresmian gedung baru di yayasan ini. Mama bilang Mas langsung dari Jakarta ke sini" jawab gadis itu masih dengan senyum ramahnya,
"Euheum" Regi yang merasa diacuhkan akhirnya memberi bersuara dengan berdehem, dia berharap dua orang di hadapannya itu menyadari kehadirannya,
"Mas...." Tasya yang pertama kali menyadari keberadaannya, dia bertanya lewat sorot matanya pada Tama,
"Dia Regi pengelola yayasan, orang kepercayaan Papa dan aku" ucap Tama dengan wajah datarnya, ekspresi yang ya g sulit diartikan oleh Regi.sebenarnya apa hubungan gadis yang datang tiba-tiba itu dengan atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Hey...." sentak Tama, meninju pelan lengan Regi yang hanya berdiri mematung, larut dalam lamunannya.
"Hah....eh, maaf, maaf, saya Regi Mbak bawahannya Pak Tama" ucap Regi sedikit terbata karena tersentak dengan sentuhan Tama.
"Tunangannya Pak Tama?" Regi mengulang pernyataan yang dilontarkan Tasya dengan intonasi bertanya.
"Ckkk...." terdengar Tama berdecak,
"Dimana Papa dan Mama?" Tama mengalihkan bahasan, menimpah pertanyaan Regi dengan pertanyaan barunya. Sementara Regi hanya tersenyum simpul melihat kelakuan atasannya itu.
"Mereka ada di bawah, tadi beberapa orang menahan mereka dan mengobrol. Aku izin untuk lebih dulu menemui Mas, aku kangen" ucap Tasya dengan manja, dia menyentuh lengan kiri Tama yang berada di atas meja.
"Eheumm" Regi kembali bersuara, tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya setelah melihat apa yang terjadi di hadapannya barusan.
Mendengar deheman Regi, Tama segera menarik tangan yang disentuh Tasya, dia menatap tajam gadis itu meminta lewat sorot matanya agar Tasya bisa menjaga sikap, namun tampaknya dia tidak sepeka itu.
__ADS_1
Acara yang dinantikan semua orang pun akhirnya tiba waktunya. Semua orang tampak antusias menyambut acara ini. Beberapa tamu penting sudah tampak berdatangan dan menempati tempat duduk sesuai label yang tertera di setiap kursi tamu undangan.
Tama duduk di barisan paling depan, kreasi para siswa dari berbagai tingkatan menjadi hiburan di kegiatan pra acara kali ini. Di samping kanan Tama duduk sang papa yang sengaja datang untuk memberi kejutan pada putranya satu-satunya dengan kehadirannya di dampingi mamanya yang duduk berdampingan dengan Tasya.
Tasya awalnya hendak duduk di samping Tama namun sorot mata putranya yang memohon agar mama menghentikan aksi gadis itupun difahami oleh sang mama dan seperti inilah formasi duduk mereka sekarang. Di sebelah kiri Tama duduk dengan gagah pula si tampan yang menjadi kepercayaannya dalam mengelola yayasan yang semakin maju dan berkembang di tangannya, Regi.
"Papa ngerjain aku ya?"tanya Tama dengan suara pelan, dia mendekatkan wajahnya ke telinga sang papa sambil dagunya menunjuk ke arah label yang ada di atas meja bertuliskan nama sang papa.
"Enggak, siapa bilang? Awalnya papa memang gak bisa datang tapi karena tamu yang akan datang ke rumah membatalkan janji temunya dan mama kamu meminta agar kembali ke rencana awal untuk ke Garut, ya papa sih bisa apa?" ucap Papa santai, dia bertepuk tangan turut berbangga melihat kreasi seni anak-anak di atas panggung.
Mendengar jawaban papanya Tama sedikit mendengus, dia pun beralih menoleh ke samping kirinya untuk mengklarifikasi urusan yang belum tuntas dengan Regi.
"Kamu punya hutang penjelasan padaku" ucapnya tegas, yang dibalas hanya dengan senyum menyeringai oleh Regi,
"Apa?" tanyanya berpura-pura polos,
"Siapa yang kamu telepon?" tanya Tama to the point,
"Dia Lisna guru di sini yang meminta izin tidak hadir karena urusan keluarga. Beberapa bulan ini kami sering terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah. Aku menyukainya dan kami sepakat untuk menjalin hubungan" jelasnya singkat, padat dan jelas namun belum menghapus rasa penasaran di benak Tama.
"Lalu?" tanya Tama yang belum merasa puas dengan jawaban Regi.
"Lalu apa?" Regi masih bersikap sok polos padahal dia tahu inti pertanyaan Tama namun lagi-lagi sorot mata Tama membuatnya urung bersikap polos.
"Dia sedang bersama Rahma, makanya aku menitip salam padanya" ungkap Regi, dia masih melihat tatapan mengerikan dari sahabatnya,
" Sudahlah... aku rasa itu tidak penting. Bukankah kau juga sudah punya tunangan sekarang? cepatlah menikah agar aku segera menyusul" pungkas Regi disertai kekehan,
Obrolan singkat merekapun berakhir seiring hadirnya tamu kehormatan malam ini yang akan meresmikan gedung baru di yayasan itu.
☘️☘️☘️
Sementara di tempat lain....
Rahma dibersamai Lisna dan Yusuf tengah berada di rumah mertuanya, lebih tepatnya di rumah mantan mertuanya.
Sebulan berlalu, sejak kebersamaan terakhirnya dengan Anggara keesokkan harinya secara lisan Anggara mengucapkan talak untuk Rahma di hadapan kakak dan adik-adiknya. Walaupun perpisahan selalu menjadi hal yang menakutkan karena akan selalu menghadirkan rasa kehilangan, tapi entah kenapa ada kelegaan di hati Rahma setelah kata itu terucap dari bibir Anggara.
Keesokan harinya setelah malam itu Rahma langsung menuju pengadilan agama untuk mengajukan perceraian. Akhir dari ketidakstabilan rumah tangga yang dialami Rahma ternyata harus di pengadilan agama, air mata tak terelakkan saat Rahma harus memilih keputusan itu. Walau bagaimanapun perceraian adalah perkara halal yang dibenci Allah. Namun nyatanya dirinya harus berada di posisi itu, padahal Rahma tahu betul jika dinamika rumah tangga akan selalu ada dan kompleks, pernikahan adalah ibadah terlama maka harusnya berakhir di Surga bukan pengadilan agama.
__ADS_1
"Ya Allah, semoga kemantapan hati untuk memilih jalan ini Engkau ridhai, Bismillah" gumamnya sebelum memasuki gedung itu. Setelah istikharah dan munajat di setiap akhir sujudnya hatinya mantap untuk mundur dari pernikahannya.
Dan sebulan berlalu, semua proses sudah Rahma lalui dengan lancar. Keputusan hakim berupa akta cerai diterimanya setelah menjalankan prosedur. Proses alur persidangan yang berawal dari tahapan Majelis Hakim pembacaan gugatan, Jawaban tergugat, pembuktian dari penggugat dan tergugat hingga putusan hakim sampai Mahkamah Syar'iy (MS) memberikan dokumen keputusan perceraian sudah dilalui dengan baik, Anggara pun cukup kooperatif dalam hal ini. Dan hari ini Rahma bermaksud pamit kepada kedua mantan mertuanya.