Belenggu Akad

Belenggu Akad
Assalamu'alaikum Bunda


__ADS_3

Satu minggu tidak datang ke toko membuat Rahma merasa sangat merindukan karyawan-karyawannya dan juga suasana toko. Liburannya mengeksplore Garut sudah usai. Sabtu sore Rahma memutuskan pulang bersama Yusuf yang datang menjemput sesuai janjinya.


Tama menawarkan diri untuk pulang bersama, namun Rahma menolak. Dia tidak mau lebih merepotkan pria yang beberapa hari ini membersamainya liburan. Apalagi selama liburan Athaya terus menempel pada Tama, selalu ingin bersama dengan Tama dan hal itu membuat Rahma merasa tidak enak karena sudah sangat merepotkan mantan atasannya itu.


"Aku senang bersama Athaya" selalu itu yang diucapkan Tama ketika Rahma meminta maaf dan mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia direpotkan oleh putranya.


Hari minggu Rahma gunakan untuk beristirahat. Memulihkan kondisi tubuhnya setelah satu minggu ini berlibur mengunjungi berbagai tempat di Garut yang sudah sejak lama ingin dia kunjungi. Tidak ada yang Rahma lakukan selain tidur, makan, tidur dan makan. Athaya sudah dikondisikan dengan baik oleh kakak iparnya. Dia ikut bersama sepupu-sepupunya bermain ke mall, anak itu tampak selalu ceria. Di wajahnya bahkan tidak tampak kelelahan sama sekali.


Istirahat yang cukup membuat Rahma terbangun dengan wajah yang lebih fresh di Senin pagi, dan di sinilah dia sekarang. Duduk di kursi kebesarannya yang berada di lantai dua. Dia sedang memeriksa laporan penjualannya selama dia meninggalkan tugasnya seminggu ke belakang.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu mengalihkan fokus Rahma yang sedang memandangi deretan angka di laptopnya. Tidak terasa waktu makan siang sudah hampir tiba, biasanya karyawannya akan menawari menu makan siang yang Rahma inginkan.


"Masuk" ucapnya,


"Assalamu'alaikum, Teh" salah satu karyawan Rahma datang menghampiri. Teteh adalah panggilan akrab para karyawan yang mengikuti panggilan Yusuf dan Maya pada Rahma.


"Wa'alaikum salam, ada apa Fit?" tanya Rahma menghentikan aktivitasnya, dia merentangkan kedua tangannya sambil *******-***** jari-jari yang baru terlepas dari keyboard laptop.


"Ada tamu Teh, ini ketiga kalinya beliau datang untuk bertemu teteh. Sebelumnya beliau datang pas teteh baru pergi ke Garut dan yang kedua dua hari yang lalu beliau datang berbelanja dan menanyakan teteh juga padahal sudah aku kasih tahu kalau teteh baru akan masuk hari ini. Dan sekarang dia datang lagi, katanya dia ingin menawarkan kerja sama dengan perusahaannya " jelas karyawan Rahma yang tampak ceria karena tamu yang datang untuk bertemu Rahma seperti moodbooster untuk mereka,


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Rahma santai,

__ADS_1


"Laki-laki, Teh" jawab karyawan Rahma dengan senyum terkulum.


"Baiklah, aku akan menemuinya di bawah. Kamu siapkan saja minuman dan beberapa kue untuk tamu kita" ucap Rahma, dia pun merapikan laptop dan beberapa kertas yang berserakan di atas mejanya. Rahma akan menemui tamunya di bawah. Saat ini di salah satu sudut toko sudah di lengkapi beberapa meja dan kursi untuk para pengunjung yang ingin menikmati kue dan secangkir teh.


"Baik Teh" jawab karyawan yang dipanggil Fit itu sambil tersenyum dan lebih dulu meninggalkan ruangan Rahma.


"Perkenalkan saya Arga Darmawan" laki-laki berperawakan tinggi nan gagah dan tampan berpakaian stelan jas lengkap seketika berdiri ketika Rahma berjalan menuju tempatnya berada. Dia mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya saat mereka sudah berhadapan.


"Saya Rahma" Rahma tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya, dia menangkupkan kedua tangan di depan dada untuk membalas uluran tangan laki-laki yang ada di hadapannya itu, laki-laki itu pun mengerti dan tersenyum.


"Saya sudah beberapa kali datang ke sini atas rekomendasi salah satu klien saya yang sudah terlebih dahulu berlangganan di toko kue pusat dan ternyata saya mengenal pemiliknya" Arga mulai menjelaskan kronologis kedatangannya,


"Jadi bapak ini temannya kakak ipar saya?" tanya Rahma antusias, pasalnya beberapa minggu ke belakang sang kakak ipar bercerita jika ada temannya yang ingin bekerja sama untuk pengadaan dessert di restorannya.


"Iya, dan dia menyarankan saya untuk datang ke sini" Arga menganggukan kepala,


Banyak resep kue baru yang khusus diuji cobakan hanya di toko yang Rahma kelola. Kakak iparnya memotivasi Rahma untuk membuat inovasi sehingga dapat menjadi ciri khas toko itu sendiri.


Saat ini pengembangan toko terus Rahma lakukan, lahan kosong yang masih tersedia di samping toko digunakannya untuk membuat ruang produksi, di beberapa sudut yang tampak luang ditempatkan meja kecil dengan dua kursi. Tidak sedikit pembeli yang menikmati kue langsung di sana. Rahma pun menambah beberapa karyawan untuk membantunya di bagian produksi dan pelayanan konsumen.


"Ngomong-ngomong sudah berapa lama Teh Rahma membuka toko ini?" setelah berhasil membuat kesepakatan yang akan dilanjutkan dengan penandatangan surat-surat pada pertemuan selanjutnya, obrolan mereka pun beralih pada topik yang lebih santai.


"Alhamdulillah sudah jalan dua tahun," Rahma mendekatkan sajian kue yang sudah dihidangkan karyawannya di atas meja untuk dinikmati tamunya,

__ADS_1


"Silahkan dinikmati kue nya Pak" tawar Rahma ramah menghormati tamunya.


"Terima kasih, tapi bisakah tidak memanggil saya dengan sebutan Pak?" ucap Arga meraih cangkir teh miliknya dengan tatapan yang tidak beralih dari pemilik wajah manis berkerudung tosca itu, Rahma hanya tersenyum menanggapinya.


"Cantik" gumam Arga dalam hati.


Kumandang adzan dzuhur bersamaan dengan terparkirnya sebuah mobil di depan toko. Tama membuka seatbelt dan sejenak memastikan kondisi rambut dan wajahnya melalui kaca spion yang tergantung di atas kepalanya.


"Perpect!" ucapnya, dia tersenyum simpul membayangkan pertemuannya dengan wanita yang sudah memenuhi hati dan hari-harinya.


Selepas meeting Tama segera meluncur ke toko kue Rahma untuk bisa melihat langsung bidadari hatinya. Dia punya janji dengan Athaya untuk menjemput bocah menggemaskan itu dari sekolahnya, Tama bermaksud meminta izin terlebih dahulu pada Rahma.


Sebenarnya dia bisa saja langsung menuju sekolah Athaya, tetapi dua hari sudah cukup untuknya menahan rindu, kemarin dia hanya berkomunikasi dengan Athaya melalui ponsel milik Yusuf, berharap wajah yang selalu dirindukannya muncul di layar ponselnya.


Namun sayang, hampir satu jam dirinya mendengarkan Athaya yang berceloteh sepulangnya bermain dari mall dengan sepupu-sepupunya, sang bidadari hati tak kunjung muncul. Tapi, Tama sudah cukup tenang saat mengetahui dari Athaya jika Rahma ternyata sedang beristirahat seharian kemarin.


Saat membuka pintu mobil, senyum Tama seketika memudar. Dari dinding kaca toko baru terlihat olehnya jika dua orang yang sedang duduk di sudut toko adalah Rahma dengan seorang laki-laki, walaupun hanya terlihat punggungnya tapi Tama yakin jika.dia masih muda. Aura cemburu seketika menyergap hatinya. Tama pun mengingat perbincangannya dengan Yusuf, jika di Jakarta ini ada beberapa pria yang tengah mendekati Rahma.


"Ini tidak bisa dibiarkan" gumamnya, dengan cepat Tama keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobilnya dengan cukup bertenaga, dia melangkah gagah menuju pintu masuk toko.


Pandangannya langsur tertuju pada salah satu sudut toko tempat Rahma dan laki-laki itu mengobrol, terlihat Rahma sedang tersenyum ke arah laki-laki itu. Membuat hawa panas seketika menjalar ke seluruh tubuhnya.


Tanpa ragu Tama berjalan mendekati dua orang yang terdengar seperti sedang bersenda gurau.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Bunda..." sapa Tama dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya, senyum yang selalu meluluhkan.


Rahma terkesiap melihat siapa yang datang dengan memanggilnya bunda.


__ADS_2