Belenggu Akad

Belenggu Akad
Usaha Anggara


__ADS_3

"Kita sudah memilih jalan kita masing-masing, kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Aku minta kepadamu berbahagialah dengan pilihanmu, setidaknya ikhlasku di masa lalu tidaklah sia-sia" pungkas Rahma semakin membuat Anggara tidak berkutik.


Rahma berdiri dari duduknya,


"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan Mas, mohon maaf masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku permisi." secara tidak langsung Rahma meminta Anggara untuk pergi.


Kedatangannya ke rumah mantan kakak iparnya jauh-jauh dari Bandung beralasan untuk bertemu Athaya hanya modus belaka, nyatanya misi utamanya adalah ingin menggagalkan pernikahan Rahma dan dia ingin kembali bersama mantan istrinya itu.


"Rahma, tidakkah ada sedikitpun kenangan yang bisa menjadi alasan untuk kita bersama lagi? Aku yakin kamu masih ingat semua kenangan manis kita berdua di masa lalu" masih belum menyerah, kali ini Anggara berbicara lemah dengan tatapan sendu.


"Mas..." seru Rahma geram,


"Tolong berikan aku kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik". Anggara menengadahkan wajahnya menatap Rahma yang berdiri dengan sorot mata memohon.


"Mas, kesempatan itu sudah kamu dapatkan. Allah masih menyayangi kamu dengan sisa umurmu, kamu bisa menjadi manusia yang lebih baik" jelas Rahma yang tidak mengerti maksud pernyataan Anggara,


"Tapi aku bisa lebih baik jika bersama kamu" sela Anggara tanpa ragu.


"Kamu berlebihan Mas. Perlu kamu ingat mas, kita memang punya waktu untuk memperbaiki, tapi kita tidak punya kesempatan untuk menghapus yang sudah terjadi. Maaf aku harus melanjutkan pekerjaanku" tegas Rahma, dia memilih untuk pergi dari ruangan itu dari pada terus mendengar ocehan Anggara yang tidak penting menurutnya.


"Rahma tunggu" Anggara buru-buru berdiri mencegah Rahma untuk pergi.


"Rahma, demi kenangan manis kita di masa lalu. Aku mohon..."


"Mas, masa lalu itu hanya untuk dikenang itupun sesekali dan bukan untuk diulang. Tolong jangan pernah berharap apapun lagi dariku, saat ini kamu cukup mengingatku, entah sebagai orang bodoh yang berhasil kamu permainkan atau sebagai orang baik yang kamu sia-siakan" Rahma yang sudah jengah dengan sikap mantan suaminya itu pun berkata pedas dengan raut wajah datar. Dia benar-benar geram dengan perilaku Anggara yang datang dua hari menjelang pernikahannya dengan Tama hanya untuk menggagalkannya.


"Kamu sudah gila Mas" umpat Rahma dalam hati,


"Astaghfirulloh..." dia berlalu meninggalkan Anggara di ruang tamu itu dengan mengusap dada.

__ADS_1


"Dek"


"Teh"


Kakak ipar dan Maya kompak memanggilnya saat Rahma keluar dari ruang tamu, Mereka berdua sejak tadi memang menguping semua pembicaraan Rahma dan Anggara.


"Kak, Dek, tolong hadapi Mas Angga, teteh lelah" ucap Rahma yang kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya.


Derrt.....Derrrt.....Derrrt....


Suara getar ponsel milik Rahma yang di tinggal di kamarnya mengalihkan perhatian Rahma. Dia menarik nafas dalam untuk menetralkan suasana hatinya setelah melihat siapa yang mengiriminya pesan dan beberapa panggilan tak terjawab.


(Assalamu'alaikum)


(Sayang, lagi apa?)


(Kamu baik-baik saja kan?)


(Aku telpon ya? Ingin mendengar suara kamu, biar hati ini kembali tenang)


Rupanya keresahan hati yang dirasakan Rahma saat ini terhubung pada sang calon imam. Rahma yakin jika keresahan hati Tama memikirkannya bisa jadi karena saat ini dirinya pun sedang tidak nyaman karena kehadiran Anggara.


"Subhanallah..." ucap Rahma lirih, sejenak dia memejamkan mata mendekap erat ponsel yang masih menampilkan layar yang masih menyala di dadanya.


"Wa'alaikumsalam"


"Alhamdulillah aku baik-baik saja Mas, terima kasih atas perhatiannya"


"Maaf ponselku ditinggal di kamar"

__ADS_1


Rahma membalas pesan dari Tama segera, dia tidak ingin membuat calon suaminya itu semakin khawatir.


Sementara di ruang tamu, Anggara masih berada di sana dan duduk termenung merenungi semua perkataan Rahma untuknya.


"Permisi Kak, maaf A Budi dan Yusuf sedang tidak ada di rumah. Jadi...."


"Iya May, aku mengerti. Terima kasih kakak ipar sudah menerima kedatanganku di rumah ini" ucap Anggara sendu, dia beralih pada kakak ipar yang datang bersamaan dengan Maya.


"Sama-sama, terima kasih juga sudah berkenan berkunjung. Kalau Athaya ada pasti dia senang dikunjungi ayahnya. Mungkin lain kali kamu bisa mengajak keluargamu juga ke sini" kakak ipar berbicara ramah, terlepas dari apapun yang baru saja terjadi antara Anggara dan adik iparnya, Anggara tetaplah tamu yang berkunjung ke rumahnya dan harus dihormati dan dimuliakan.


"Insya Allah Kak" jawab Anggara masih dengan suara lesu.


"Maaf jika tadi aku sempat membuat kegaduhan, aku akan pergi. Insya Allah lain kali aku kan berkunjung. Tolong sampaikan pada Athaya jika aku datang, dan sampaikan juga pada Rahma selamat atas pernikahannya" Anggara berbicara lebih bijak kali ini walau raut kecewa masih terlihat jelas di wajahnya.


Penyesalan dan kehilangan benar-benar Anggara rasakan saat ini. Namun, tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain meratapi penyesalan atau keputusan yang diambilnya di masa lalu.


"May, tolong sampaikan juga permintaan maafku pada Rahma" lanjut Anggara beralih pada Maya,


"Insya Allah Kak, akan aku sampaikan. Maaf jika aku lancang Kak, sekarang kakak mungkin sudah sadar, betapa berharganya sesuatu yang sudah hilang dari hidup Kak Angga. Dan ketika Kak Angga berupaya mencarinya, Kak Angga tidak pernah bisa menemukannya lagi." Rahma menghela nafas menjeda ucapannya,


"Dari sana aku harap Kak Angga bisa belajar, untuk tidak lagi menyia-nyiakan apapun yang telah Allah amanahkan pada Kak Angga selama hidup ini. Lakukan peranmu hari ini dengan baik karena esok belum tentu tertakdir untuk kita lagi. Jaga apa yang telah menjadi milikmu, sebelum semuanya dialihkan dari kita" Maya berbicara santun, walaupun kadang hatinya kesal dengan mantan kakak iparnya itu tapi nuraninya pun terkadang menyayangkan dengan pilihan yang telah diputuskan Anggara. Ke depannya Maya berharap Anggara bisa menjalani hidup lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.


"Terima kasih May" tidak ada penolakan dari Anggara, dia berterima kasih dengan tulus atas wejangan yang diberikan mantan adik iparnya itu. Dalam hati dia membenarkan semua yang dikatakan Maya.


Anggara pun pamit dari rumah mantan kakak iparnya itu. Tujuannya datang ke rumah itu sudah dia usahakan, walaupun sejak awal dia tahu jika Rahma tidak mungkin kembali menerimanya namun setidaknya dia sudah mencoba. Anggara menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan halaman rumah itu.


"Selamat tinggal Rahma" batin Anggara,


Anggara melajukan mobilnya menuju ke arah Bandung. Beberapa minggu ini dia memang tidak berada di sana. Setelah pertengkaran hebat antara dirinya dan Friska Anggara memilih pergi dari rumah untuk menenangkan diri dalam waktu yang cukup lama. Dia pergi ke luar kota, tempat yang pas untuknya menenangkan diri sekaligus menghindari istrinya yang terus berusaha menghubunginya.

__ADS_1


Kedatangannya ke Jakarta bukan tanpa alasan, dia nekad menemui Rahma setelah mendengar berita dari beberapa rekan bisnisnya jika pengusaha muda sukses Pratama Ardhan akan melepas masa lajangnya. Anggara semakin yakin setelah dirinya dihubungi sang sekretaris jika dia pun menerima undangan yang sama. Tertera jelas dalam undangan itu jika Pratama Ardhan Hakim akan menikah dengan Naura Rahmania, mantan istri sekaligus ibu dari putranya.


Dengan tidak tahu diri Anggara bermaksud akan meminta rujuk dengan Rahma. Selama ini Anggara bisa bersembunyi dari kesalahannya tapi tidak dari penyesalannya, karena dia lebih memilih batu biasa dan membuang berlian. Wanita yang sudah lama menjadi kekasihnya hingga diputuskan untuk dinikahinya ternyata tidak lebih dari seorang penipu.


__ADS_2