Belenggu Akad

Belenggu Akad
Kehadiran Sang Adik


__ADS_3

Sebuah takdir mampu mengubah yang tidak cinta menjadi cinta. Namun cinta, tidak bisa mengubah yang bukan takdir menjadi takdir.


Itulah mengapa kita memerlukan do'a, agar ketika jatuh cinta pada yang tidak ditakdirkan, ikhlas akan selalu hadir di akhirnya.


Tama menghela nafasnya dalam, sambungan telepon dengan Regi sudah terputus beberapa menit yang lalu. Tapi tanpa sadar tangannya masih menggenggam ponsel yang menempel di telinganya.


Pikirannya kini dipenuhi banyak hal tentang Rahma, bahkan terselip diantara sekian hal yang dipikirkannya kekhawatiran apakah dirinya akan benar-benar kehilangan jejak setelah Rahma memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah yang berada di bawah naungan miliknya.


Namun saat tersadar, Tama kembali mendapati kewarasannya. Bukankah lebih baik jika dia memang tidak pernah lagi mengetahui tentang kabar wanita itu. Mungkin sudah saatnya untuk Tama benar-benar melepas gadis itu dan membuka hati untuk wanita lain.


"Dimanapun kamu berada, semoga kamu bahagia. Apapun alasan kepergianmu, aku menghargainya, berbahagialah" batin Tama.


☘️☘️☘️


Waktu terus berlalu tanpa ada yang bisa menghentikannya. Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan.


Seorang wanita tengah duduk seorang diri dengan memegangi perutnya yang mulai membesar namun masih belum terlihat karena pakaian longgar dan jilbab lebar dipakainya. Dia tengah duduk seorang diri di bangku sebuah taman kota yang saat ini tidak terlalu dipenuhi pengunjung karena masih hari kerja.


"Assalamu'alaikum Teh" orang yang tengah ditunggunya pun datang seorang pemuda nan tampan, berperawakan tinggi dan gagah menghampiri dan menyalaminya. Setelahnya, dia pun duduk di samping wanita yang tidak lain adalah Rahma.


"Teteh, bawa motor?" tanya pria itu, dia adalah Yusuf adik bungsu Rahma yang baru saja selesai dengan perkuliahannya. Saat ini Yusuf sudah kuliah tingkat dua di salah satu sekolah tinggi hukum yang ada di Garut. Dia memutuskan untuk berkuliah di Garut karena kondisi ayah mereka yang sakit-sakitan.


Yusuf dan Rahma sudah janjian untuk bertemu di taman itu. Jarak dari Rahma ke taman di pusat kota itu pun hanya beberapa menit, dan Yusuf yang pulang kuliah pun langsung menuju tempat itu.

__ADS_1


Yusuf menjadi satu-satunya anak yang tinggal dengan orang tua mereka, kakak sulung mereka masih bertugas di Kalimantan sehingga cukup sulit untuk mereka sering bertemu. Rahma pun memilih tinggal di rumah yang dibelikan suaminya, walaupun jarak rumahnya dengan rumah orang tuanya hanya membutuhkan wakti tiga puluh menit tapi Rahma pun tidak bisa maksimal memerhatikan dan menjaga kedua orang tuanya.


Sementara Maya, adik Rahma juga harus mengikuti suaminya yang saat ini bekerja di di luar Garut, tepatnya di Yogyakarta meneruskan bisnis keluarganya yang memang berasal dari sana.


Alhasil jadilah sang adik bungsu yang harus rela mengubur impiannya untuk kuliah di Jakarta karena tidak ada lagi yang bisa menjaga ayahnya yang beberapa bulan terakhir terserang struk setelah terjatuh saat mengambil air wudhu di kamar mandi.


"Iya, tuh..." Rahma menunjuk motor yang terparkir di parkiran taman itu dengan dagunya.


"Hati-hati teh, teteh kan lagi hamil" ujar Yusuf mengingatkan.


Yusuf adalah satu-satunya keluarga yang sudah mengetahui perihal kehamilan Rahma. Yusuf bahkan mengetahui keadaan rumah tangga Rahma yang sebenarnya, setelah dia melihat sendiri kebersamaan Anggara dengan istri mudanya saat ada kegiatan di Bandung.


Yusuf tidak tinggal diam, namun dia pun tidak mau bertindak ceroboh. Sebagai anak laki-laki dia cukup dewasa untuk untuk menjadi seorang pemimpin. Walaupun terlahir sebagai anak bungsu, tapi dia sudah mampu menjadi pelindung kedua orang tua dan kakak-kakaknya terutama yang perempuan.


Berkat kepiawaiannya dalam mencari informasi Yusuf akhirnya menemukan fakta yang mengejutkan. Dia akhirnya mengetahui jika sang kakak ternyata selama ini dimadu.


Tanpa banyak berpikir Yusuf langsung mengklarifikasi fakta yang baru diketahuinya itu langsung kepada sang kakak dan tanpa bisa mengelak lagi Rahma pun akhirnya menceritakan semua yang terjadi terhadap dirinya dan rumah tangganya selama ini pada sang adik.


Yusuf seketika meradang, mendengar langsung kisah hidup sang kakak yang begitu disayangi dan dibanggakannya membuat Yusuf marah. Dia benar-benar tidak terima kakaknya diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri.


Tanpa pikir panjang hampir saja Yusuf akan membuat perhitungan dengan Anggara dengan caranya, dia benar-benar marah. Namun untunglah Rahma bisa meredam kemarahannya. Yusuf pun menurut dan berjanji akan membersamai kakaknya dalam melewati ujian hidupnya dan akan mendukung apapun yang menjadi keputusan sang kakak.


"Insya Alloh dia kuat, Allah akan menjaga kami" balas Rahma dengan senyum, dia mengusap bahu kokoh sang adik yang tampak lelah setelah seharian penuh mengikuti kuliahnya. Ada rasa haru dihatinya, adik kecil yang dulu paling rewel dan selalu ingin digendong olehnya itu kini sudah tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah.

__ADS_1


"Gimana kuliah kamu hari ini Dek, lancar?" Rahma bertanya dengan pertanyaan rutin yang selalu dia ajukan saat bertemu sang adik.


"Alhamdulillah, teh. Minggu depan aku ada study banding ke universitas negeri di Jakarta sebagai salah satu syarat untuk menuntaskan perkuliahan semester ini" terang Yusuf, dia memang selalu menceritakan semua hal yang dialaminya pada kakaknya yang satu itu. Kedekatan Rahma dan Yusuf terhitung lebih erat dibanding dengan saudara-saudaranya yang lain.


"Syukurlah, yang semangat ya" Rahma menepuk nepuk bahu sang adik, mengalirkan energi positif untuk menyemangatinya.


"Iya teh, bagaimana dengan teteh? sampai kapan teteh akan bertahan dan menyembunyikan kehamilan teteh? Aku tahu A Angga sudah satu bulan ini tidak pernah pulang kan? saat dia sedang berada di Bali dengan istri keduanya. Teteh harus segera mengambil keputusan tegas!" Yusuf berkata dengan wajah yang memerah. Setiap kali membicarakan masalah yang berhubungan dengan kakak iparnya itu selalu membuat emosinya tidak terkendali.


"Dek, darimana kamu tahu mereka sedang ada di Bali?" Rahma kaget mendengar penuturan adiknya, dia sendiri tidak mengetahui kebenaran itu. Kabar yang Rahma terima dari Anggara saat ini suaminya memang sedang berada di luar kota karena urusan bisnis. Sekarang Anggara sudah resmi meninggalkan jabatannya dan memilih melanjutkan bisnis keluarga sesuai permintaan keluarga terutama mamanya.


Alasan lain Anggara meninggalkan pekerjaan yang merupakan impiannya itu karena desakan dari istri keduanya yang menginginkan legalitas pernikahan mereka sah dimata hukum. Sebagai aparat Anggara tidak bisa melakukan itu, Rahma pernah memberinya solusi agar Anggara menalak dirinya, tapi sesuai ucapannya sejak awal bahwa Anggara tidak akan pernah melepaskan Rahma. Akhirnya dia pun memilih menanggalkan pekerjaan impiannya dan beralih menjadi seorang pengusaha.


"Tidak penting teteh tahu dari mana aku mengetahui informasi itu, yang jelas aku ingin teteh tegas dalam mengambil keputusan. Aku yakin, tanpa dia pun teteh dan anak yang ada dalam kandungan teteh akan baik-baik saja. Aku akan berusaha keras untuk menjamin itu. Aa juga kalau tahu tidak akan membiarkan kalian, dia akan sangat marah jika mengetahui teteh diperlakukan seperti ini oleh A Angga" Yusuf berbicara menggebu-gebu, dia seolah sedang mengeluarkan beban berat yang ada di hatinya.


Sementara Rahma, dia tidak bisa berkata-kata. Dirinya menatap adik bungsunya itu daei samping dengan mata berkaca-kaca. Rasa haru dan bangga memenuhi hatinya, betapa dia merasa sangat dicintai dan disayangi oleh adiknya itu.


"Terima kasih Dek, selalu ada untuk teteh di saat-saat pelik seperti ini. Maafkan teteh selalu membuatmu khawatir" Rahma tidak lagi bisa menahan air matanya, dia merangkul lengan sang adik dan menyandarkan kepalanya di bahu yang kokoh itu. Kehadiran Yusuf menjadi penguat untuk Rahma dalam menjalani hari-harinya.


Sejak kejadian dua bulan yang lalu di rumah mertuanya, Rahma memang selalu mendapat pengawasan yang intens dari Yusuf. Yusuf yang sedang berada di Bandung saat itu dengan beraninya membawa Rahma pulang dari rumah mertuanya.


Flasback...


Waktu yang mengharuskan Rahma untuk kuat dan tegar pun akhirnya tiba. Dia dijemput oleh Anggara untuk menghadiri syukuran empat bulanan madunya....

__ADS_1


__ADS_2