
"Allah tidak pernah gagal dalam menciptakan takdir, dan Allah tidak pernah salah dalam memilih pundak yang akan diberikan beban ujian. Allah faham kapasitas setiap hamba-Nya, hanya saja terkadang kita yang salah dalam mengartikan cintaNya kepada kita". ucap Rahma dengan tatapan mata menerawang ke depan diiringi senyum simpul melirik sahabatnya yang menatapnya tanpa jeda.
Resepsi telah usai, sesuai rundown acara yang sudah ditetapkan oleh tim wedding organizer yang dipercaya Lisna dan Regy untuk mengurus semua acara mereka sejak awal dan berakhir dengan acara resepsi yang selesai tepat pukul 15.00.
Regy dan Lisna sepakat untuk menginap satu malam di Cipanas. Menerima bonus yang diberikan dari wedding organizer yang mereka percaya. Tidak tanggung-tanggung bonus yang mereka terima adalah paket menginap satu malam untuk seluruh anggota keluarga dengan fasilitas VIP.
Villa indah dua lantai dengan desain minimalis modern lengkap dengan kolam renang dan taman bermain menjadi pilihan mereka untuk memanjakan keluarga inti kedua mempelai dan juga sahabat dekatnya.
Rahma menjadi prioritas yang Lisna list untuk dia ajak menginap di sana. Sore ini keduanya tengah duduk di balkon lantai atas menikmati senja yang akan segera menyapa dengan secangkir coklat panas yang menghangatkan tubuh di cuaca Garut yang lumayan dingin.
Tidak lupa sesekali Rahma melihat ke arah kolam renang yang berada di belakang villa itu, memastikan keadaan Athaya yang sedang berenang bersama Yusup dalam keadaan baik-baik saja.
Rahma menyeruput coklat panas di cangkir yang digenggamnya. Tersenyum tertahan melihat Lisna yang terus menatapnya tanpa kata.
"Kenapa?" tanya Rahma akhirnya setelah mengembalikan cangkir ke posisinya semula,
"Aku heran sama kamu, masih saja bisa santai dan tersenyum. Enggak lelah apa menjadi orang yang pura-pura bahagia terus?" Lisna akhirnya mengungkapkan kekesalannya.
Dia tahu tadi siang Anggara hadir dengan keluarga barunya. Friska bahkan tanpa segan memamerkan kemesraan mereka berdua di depan teman-teman Anggara. Acara pernikahan Lisna menjadi ajang reuni untuk teman-teman lamanya, salah satunya Anggara yang datang dengan Friska yang baru diketahui Lisna bahwa ternyata Friska juga adalah teman dari suaminya.
Lisna sempat melihat Anggara yang akan menemui Athaya namun dicegah Friska. Lisna kesal karena Anggara menuruti istrinya itu, entah apa yang dikatakan Friska sampai teman yang dia kenalkan dulu pada Rahma itu langsung menuruti istrinya. Saking kesalnya Lisna bahkan sampai menumpahkan kekesalannya pada Regy yang juga mengetahui kejadian itu. Dia hanya mengangkat bahu dan geleng-geleng kepala.
"Siapa yang pura-pura bahagia? aku bahagia Lis, sangat bahagia. Alhamdulillah kehadiran Athaya semakin melengkapi kebahagiaanku" tukas Rahma dengan senyum mengembang di bibirnya, dia protes setiap kali sahabatnya itu mengatainya sebagai orang yang pura-pura bahagia.
"Aku kesel banget sama si Friska, gak mikir gitu Athaya juga anak kandung suaminya, aku kesel juga sama si Anggara jadi suami kok gak ada tegas-tegasnya. Aku tahu hidup kamu tidak mudah, terutama selama lima tahun terakhir ini. Sekarang mumpung kita bertemu aku ingin mengatakan sesuatu. Sebagai sahabatmu aku hanya ingin kamu bahagia, cobalah buka hatimu untuk pria lain. Aku yakin Athaya juga membutuhkan sosok ayah. Aku dengar dari kakak ipar selama beberapa tahun ini benyak laki-laki yang ingin mengenal kamu bahkan katanya ada yang ingin langsung mengkhitbah kamu. Aku yakin mereka bukan orang-orang biasa" Lisna yang memang sudah jarang bertemu dengan Rahma karena berada di kota yang berbeda merasa punya kesempatan untuk berbicara serius mengenai kehidupan pribadi sahabatnya itu. Walaupun komunikasi via telepon sering mereka lakukan tapi Lisna merasa kurang pas jika membicarakan hal seurgen ini via telepon.
Sejak resmi bercerai dengan Anggara, Rahma memutuskan untuk menetap di Jakarta dan memulai hidup baru. Selama lima tahun ini Rahma hanya dua kali mengunjungi Garut, itu pun tidak lama karena kesibukan sang kakak dan juga Rahma sendiri dengan toko kuenya bersama kakak ipar. Hanya berziarah ke makam kedua orang tuanya dan mengunjungi saudara-saudara almarhum ayah dan ibunya yang masih ada di sana.
__ADS_1
"Kapan kamu mengobrol dengan kakak ipar?" tanya Rahma membulatkan matanya, dia lebih fokus dari kabar tentang kakak iparnya yang menceritakan perihal laki-laki yang mendatanginya dibanding dengan umpatan Lisna untuk Friska dan Anggara. Rahma tidak menyangka banyak hal yang diketahui Lisna tentang dirinya. Hal yang selama ini tidak pernah Rahma ceritakan pada Lisna ketika mereka bertelepon atau berkirim pesan karena merasa itu bukan hal penting untuk saat itu.
"Semalam, semalam kakak ipar menemuiku dan memberiku kado" Rahma membuka kerudung bagian depannya, memperlihatkan sebuah kalung yang dipakainya dengan liontin yang sangat cantik.
"Jadi itu kado dari kakak ipar?" tanya Rahma antusias, dan dijawab anggukan kepala oleh Lisna yang juga kembali meraba liontin kalungnya yang juga sangat dia kagumi.
"Aku jadi malu, ini pasti mahal. Kakak ipar terlalu baik sampai ngasih kado semahal ini sama aku" ucap Lisna, dia kembali merapikan kerudung bagian depannya.
"Kakak ipar memang baik, A Budi beruntung sekali mendapatkan istri sebaik dia. Dan aku pun bersyukur memiliki kakak ipar sebaik itu. Kasih sayang dan perhatiannya buat aku, Maya dan Yusuf bahkan melebihi perhatian A Budi" Rahma berbicara sambil mengenang semua kebaikan kakak iparnya pada dia dan juga adik-adiknya.
Kemarin mereka datang bersama dan menginap di hotel masih di daerah Cipanas Garut, tidak jauh dari gedung tempat berlangsungnya pernikahan Lisna dan Regy. Tapi karena tugas Budi tidak bisa ditinggalkan lama mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta siang tadi setelah acara utama yaitu prosesi akad nikah Lisna dan Regy selesai. Sementara Rahma bersama Athaya memilih tinggal dulu di Garut sesuai permintaan Lisna dengan ditemani Yusuf tentunya.
"Sekarang balik lagi sama kamu, jadi gimana udah siap belum membuka hati lagi?" Lisna kembali mengarahkan obrolan mereka ke topik awal. Rahma terlihat menarik nafas dalam sebelum menanggapi pertanyaan sahabatnya itu
"Terima kasih atas perhatian kamu Lis, dari dulu kamu memang sahabat terbaik aku. Sahabat yang selalu hadir di setiap momen penting dalam hidupku. Tapi.... kamu tahu kan, dulu aku pernah terburu-buru mengiyakan sesuatu, sebelum akhirnya tahu bahwa yang datang hanya sekedar butuh. Tanpa ada cinta dan kasih sayang yang benar-benar utuh" jawab Rahma sambil menundukkan kepalanya, ingatannya mundur ke masa-masa awal pertemuannya dengan Anggara hingga di pertemuan kedua mengatakan untuk siap menikah dengan pria yang baru dikenalnya beberapa hari itu.
"Huhh......aku merasa bersalah banget kalau ingat itu" Lisna membuang nafasnya kasar dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah sendu, dia ingat betul bagaimana dulu dirinya mengenalkan Anggara pada Rahma, berharap mereka bisa saling mengenal dan berjodoh karena Rahma yang harus segera menikah sebelum pernikahan adiknya berlangsung. Lisna tidak tahu jika di balik dayung bersambutnya Anggara ternyata ada misi terselubung.
"Haha...." Rahma tertawa sedikit keras sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanannya melihat ekspresi wajah Lisna yang tiba-tiba berubah sendu.
"Kenapa?" tanya Lisna yang tidak mengerti mengapa Rahma tertawa.
"Kamu lucu" ucapnya dengan masih menyisakan tawa.
"Lucu apanya?" tanya Lisna sambil meraba-raba wajah dan melihat penampilannya,
"Lucu dengan wajah sendunya...hihi..." jelas Rahma kembali terkekeh...
__ADS_1
"Ish....kamu tuh ya, aku serius tahu. Aku merasa bersalah banget dengan semua hal yang menimpa kamu karena si Anggara itu. Dan parahnya aku yang membawa dia ke dalam hidup kamu, maafkan aku Ukhty" umpat Lisna kembali dengan wajah sendunya, dia kemudian memeluk Rahma dari samping.
"Sudahlah Lis, semua sudah berlalu. Bukankan dunia ini hanya sementara? sedihnya sementara, bahagianya sementara, semuanya tidak ada yang abadi. Semuanya akan semakin hilang dan akan tenggelam bersama dengan kenangan. Bye-nye masa lalu dan salam hangat masa depan" pungkas Rahma dengan senyum lebar mengembang di bibir manisnya, tidak lupa lesung pipi semakin menyempurnakan aura kecantikannya membuat Lisna pun turut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan terpancar jelas di wajah sahabatnya.
"Eh by the way, suami kamu kemana? gapapa nih malah ngobrol bareng aku di sini?" Rahma baru menyadari jika mereka bersua sudah terlalu lama mengobrol.
"Gapapa, dia ngerti ko, lagian tadi atasannya manggil dia ke kamarnya. Katanya ada urusan penting" jawab Lisna tanpa melepas pelukannya,
"Atasannya?" Rahma belum faham dengan atasan yang dimaksud Lisna,
"Pak Tama" ucap Lisna santai
"Eh...." Lisna tiba-tiba melepas pelukannya dan berbalik menatap Rahma dengan mata berbinar dan wajah yang menunjukan ekspresi seperti sudah menemukan harta karun.
"Kenapa?" jawab Rahma kaget,
"Pak Tama, kamu sudah tahu belum kalau dia belum menikah?"
☘️☘️☘️
Sementara di ruangan lain, di kamar yang disediakan khusus untuk Tama masih di villa yang sama tetapi berbeda lantai. Regy langsung mundur ketika baru saja memasuki kamar atasan sekaligus sahabatnya itu. Dia merasakan aura horor saat memasuki kamar itu, apalagi saat menatap sahabatnya yang tengah duduk di sopa yang ada di kamar VVIP itu dengan wajah datar dan tangan terkepal.
Bughh ....
Tanpa menunggu lagi, Tama langsung melayangkan tinjunya tepat di wajah Regy.
"Kenapa lo gak bilang kalau Rahma sudah cerai dengan suaminya sejak lima tahun yang lalu brengsek" teriak Tama memenuhi seluruh kamar sambil mencengkram kerah baju sahabatnya.
__ADS_1