
Pagi yang cerah menyapa penduduk bumi yang mulai kembali pada rutinitasnya. Di dalam kamar president suite dua wajah kehidupan menunjukan suasana hati yang sama namun ekspresi yang berbeda.
Wajah cerah jelas ditunjukan oleh Tama, malam panjang benar-benar dilaluinya. Dia bahkan tidak membiarkan sang istri memejamkan mata sebelum dirinya benar-benar puas. Bahkan selepas subuh dirinya kembali menggunakan jurus andalannya menggoda sang istri agar kembali mau mereguk kenikmatan bersamanya. Pantas saja pagi ini wajahnya berbinar bahagia, sekilas Tama kemarin dan hari ini seolah adalah dua orang yang berbeda. Hari ini dia jauh terlihat lebih tampan dan bersemangat.
Berbeda dengan Tama yang berwajah ceria, wajah lesu namun masih dihiasi senyum jelas ditunjukan Rahma, semalam dia benar-benar dibuat kelelahan. Namun entah mengapa tubuhnya tak mampu menolak, sentuhan yang diberikan suaminya benar-benar membuat dia kehilangan akal. Rahma tidak menampik dirinya begitu menikmati setiap sentuhan dan bisikan cinta yang diberikan suaminya, sebagai perempuan yang pernah merasakan dan tidak lagi dalam jangka waktu yang lama, Rahma pun merindukannya. Hingga saat lelah mendera semuanya seakan terlumat habis oleh kenikmatan yang jauh lebih luar biasa indahnya.
Semalam mereka benar-benar menumpahkan semua rasa yang mereka miliki dalam aksi nyata, menyatukan raga dalam ibadah yang penuh kenikmatan surga dunia. Dengan leluasa, penuh cinta dan kelembutan Tama menikmati keintiman bersama istrinya tanpa gangguan apapun. Rahma pun dengan sukacita menjadikan dirinya milik Tama seutuhnya, laki-laki halal yang telah mengikatnya dalam ikatan suci pernikahan,
"Mas" Rahma menggoyangkan bahunya saat sepasang tangan kokoh kembali memeluknya dari belakang dan kepala Tama bersandar di bahunya. Saat ini dia tengah memoleskan make up pada wajahnya agar terlihat lebih segar.
"Mau lagi...." rajuk Tama dengan suara manjanya, dia menyusupkan wajahnya di leher sang istri. Tama benar-benar sudah candu terhadap istrinya itu.
"Mas, kamu tidak capek?" tanya Rahma menatap jengah pasalnya sejak semalam suaminya itu tidak menunjukkan sedikitpun rasa lelah. Dia bahkan semakin bersemangat saat ba'da subuh kembali merayunya.
"Tidak, mana capek kalau aku sama kamu. Kamu tahu, aku sudah sangat lama menunggu waktu ini tiba. Alhamdulillaah, hasil tidak mengkhianati proses. Semua yang aku dapatkan dari kamu bahkan melebihi ekspektasiku." Tama terus memeluk pinggang ramping itu, dia bahkan kembali menciumi leher jenjang yang sudah penuh oleh tanda merah karena ulahnya.
"Memangnya kamu berekspektasi seperti apa tentang aku?" Rahma penasaran, apa yang dikatakan suaminya barusan cukup menggelitik hati dan menggugah kepenasarannya.
"Ekspektasi aku?" Tama balik bertanya,
"Iya" jawab Rahma, dia mendorong wajah suaminya yang terus menempel di bahunya karena hendak menggunakan jilbab.
"Ada deh, cukup aku yang tahu." jawabnya dengan kembali mengecup leher yang masih terbuka itu.
"Mas..." pekik Rahma kesal,
"Tolong dong mas minggir dulu aku mau pake kerudung. Di bawah semua orang pasti sudah menunggu, jangan sampai kayak semalam kita jadi bahan bulian. Kamu mah biasa-biasa aja, aku mah kan jadi malu, apalagi sama mama dan papa...duuuh malunya." Rahma berkata panjang lebar, dia bahkan sempat menutup wajah dengan jilbab yang akan dipakainya, akhirnya Rahma mengeluarkan unek-unek hatinya pagi ini.
"Kenapa harus malu, biarin aja. Mereka kan juga pernah muda sayang" Tama masih memeluk erat pinggang Rahma, dia mengamati sang istri yang sedang memakai hijab dari pantulan cermin dengan wajah memerah karena panggilan sayang yang sampai ke telinganya memberi sensasi tersendiri untuknya.
"Iya, tapi kan di sana juga ada teman-teman Mas yang belum menikah juga" protes Rahma keukeuh, dia merapihkan jilbabnya yang sudah terpasang sempurna walau dengan sedikit usaha lebih karena sang suami yang terus menempel padanya.
"Aku justru ingin menunjukkannya pada mereka. Mereka harus tahu bahwa menikah itu nikmat, sayang" Tama terkekeh dan kembali mengecup pipi sang istri.
"Sayang, aku benar-benar bersyukur atas semua yang aku alami saat ini. Semua sangat indah, aku bahkan lupa jika pernah mengalami kecewa karena pernah gagal memilikimu." masih dalam posisi memeluk Rahma dari belakang, Tama mulai berbicara serius. Mereka saling beradu tatap melalui pantulan cermin.
__ADS_1
"Alhamdulillah Mas, jika semuanya sudah menjadi takdir kita maka Allah pasti sudah menakar semuanya tepat. Dan apa yang Allah takar pasti tidak akan tertukar" balas Rahma meneduhkan, dia berbicara lembut, satu tangannya mengusap pipi suaminya yang masih tersampir di bahunya.
"Aku harap kekecewaan yang pernah kamu alami pun perlahan semakin sirna. Sungguh aku ingin membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah bersamamu" ucap Tama penuh haru, membuat mata Rahma seketika berkaca-kaca. Dia pun tak kuasa menahan laju air mata yang kemudian menetes membasahi pipinya.
"Jangan menangis sayang, aku tidak mau melihat kamu menangis" Tama membalikan tubuh istrinya, posisi mereka kini saling berhadapan. Tama mengusap air mata di pipi Rahma.
"Aku bahagia Mas, aku sangat bersyukur. Terima kasih sudah membuat aku merasakan menjadi wanita yang sangat berharga." ucapan Rahma tercekat, pengalaman masa lalu kembali melintas di benaknya. Bagaimana dulu dia melewati hari-hari pasca pernikahannya bersama Anggara.
"Kamu pantas mendapatkannya sayang, kamu adalah wanita yang sangat berharga. Aku tidak akan menyia-nyiakanmu sedetik pun. Bodoh jika aku melakukannya." Tama kembali memeluk sang istri erat, dia mencium puncak kepala Rahma lembut dan dalam.
"Aku tidak tahu seberapa sakit yang kamu alami di masa lalu. Namun, sekali lagi aku sampaikan, izinkan aku untuk membawamu ke masa depan yang hanya akan mengukir kenangan indah. Lupakan semua rasa sakitmu, mari bersamaku membuka lembaran baru setiap harinya dan kita pastikan di setiap lembaran buku kehidupan kita hanya catatan kebahagiaan yang akan kita tuliskan." kesungguhan jelas terlihat di mata Tama saat mengatakan itu, dia sungguh sudah berjanji dalam hatinya untuk selalu membahagiakan wanita yang sudah halal untuknya itu. Perjuangannya tidak mudah, dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.
"Terima kasih Mas, terima kasih. Aku percaya kamu suami yang setia, yang akan selalu menjaga hatimu untukku. Aku selalu berdo'a agar Allah mudahkan untuk kita membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah. Menjadi pasangan sejati sehidup sesurga, yang saling mencintai dikala dekat, saling menjaga kehormatan dikala jauh, saling menghibur dikala duka, saling mengingatkan dikala bahagia, saling mengingatkan dikala lupa, saling mendukung dalam kemajuan dan kebaikan, saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan, hingga saling menyempurnakan dalam ibadah."
"Tentu sayang, tentu. Bantu aku untuk menjadi suami seperti yang kamu harapkan. Aku akan berusaha semampuku untuk selalu membahagiakanmu dan anak-anak kita. Tetaplah jujur dalam hubungan kita, beritahu aku jika suatu saat sikapku menyakitimu, jangan ragu ingatkan aku agar kembali ke jalan yang benar." Tama kembali merengkuh tubuh ramping istrinya ke dalam pelukannya.
"Terima kasih sudah bersedia menerima hadirku, dan tetaplah bertahan di sampingku." Tama kembali mengecup kening Rahma dalam.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar menghentikan keharuan yang tercipta di antara sepasang suami istri itu.
"Tidak, aku saja yang buka. Kamu lanjutkan dandannya" ujar Tama sembari melepaskan pelukannya, tidak lupa dia melayangkan satu kecupan di bibir sang istri sebelum beranjak untuk membuka pintu.
"Papi...." Athaya berteriak saat pintu terbuka, dia sudah tampil rapi dan wangi dengan pakaian semi formal membuat Tama mengernyit,
"Assalamu'alaikum, Nak" belum terjawab keheranan Tama dengan penampilan Athaya, Rahma datang dari belakang mengingatkan sang putra agar mengucapkan salam.
"Eh lupa Bun, maaf" Athaya nyengir menatap Rahma sambil mengerjap-ngerjapkan matanya,
"Assalamu'alaikum Papi, Bunda. Semangat pagi" ucap Athaya lengkap, dia bahkan menirukan gaya gurunya yang selalu bersemangat saat menyapa mereka di pagi hari.
"Wa'alaikumsalam" serempak Tama dan Rahma menjawab, Tama langsung membentangkan kedua tangannya menyambut Athaya ke dalam pelukannya.
"Wangi sekali kamu boy, sudah rapi pagi-pagi gini" Tama menggendong Athaya menuju sofa yang ada di kamarnya.
__ADS_1
"Lho, Papi enggak tahu? kan sekarang kita akan pergi ke pesta. Kata Uwa hari ini kita semua akan berpesta" Athaya berbicara dengan antusias membuat Tama semakin mengernyit, dia saling tatap dengan Rahma yang juga menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
"Pesta apa sayang?" tanya Rahma sambil mengusap kepala sang putra gang duduk di pangkuan Tama, Athaya pun hanya menggeleng karena informasi yang diberikan uwanya yang tidak lain kakak ipar Rahma hanya sebatas itu.
Derrt.....Derrrrt.....
Bunyi ponsel milik Tama menghentikan obrolan mereka, Rahma mengambil ponsel Tama dan menyerahkannya pada suaminya itu.
"Angkat saja sayang..." ucap Tama mesra membuat Rahma langsung membulatkan matanya karena bisa-bisanya suaminya memanggil dia seperti itu di hadapan Athaya. Benar saja anak itu kini sedang terkikik menyembunyikan tawanya mendengar panggilan mesra Tama pada sang Bunda.
"Mass ..." lirih Rahma tertahan matanya memberi kode jika sang putra tengah menertawainya,
"Kenapa?" tanya Tama tidak mengerti,
"Angkat saja sayang" Athaya langsung mengulang perkataan Tama dan kembali terkikik, Tama pun mengerti keusilan putranya. Dia ingin menggelitik sang putra namun Rahma menyodorkan ponsel ke hadapannya setelah kembali ada panggilan masuk dari nama kontak yang sama.
"Mas, Pak Akhtar" ujar Rahma mengarahkan layar ponsel kepada suaminya. Tama pun mengambil alih ponsel dan menerima panggilan itu dengan satu tangan tetap menahan Athaya di pangkuannya.
"Wa'alaikumussalam, ya bro?" ucap Tama setelah panggilan itu terhubung,
"..."
"Oke, kita segera turun. Ini sudah siap kok" ucap Tama lagi yang kemudian mengakhiri teleponnya.
"Ayo sayang kita pergi, mereka sudah menunggu" ajak Tama sambil berdiri dan kembali menggendong Athaya.
"Papi, aku sudah besar. Aku mau jalan" Athaya protes enggan digendong.
"Ouh, sudah besar ya" Tama pun menurunkan anak itu dengan senyum menghiasi wajahnya,
"Iya Papi, aku tuh sudah besar. Kalau papi mau gendong, nanti gendong aja adek bayi, minta sama Bunda. Kata Ateu Maya kalau aku mau punya adek bayi harus minta sama Bunda, dia akan keluar dari perut Bunda. Nah Papi juga kalau mau adek bayi minta aja sama bunda" Athaya bicara panjang lebar membuat Rahma memerah mendengar obrolan putranya, sementara Tama tampak senyum-senyum menyimak obrolan sang putra.
"Memangnya Thaya mau punya adik?" tanya Tama kembali memancing,
"Iya, Thaya mau dipanggil kakak kaya temen Thaya di sekolah. Bunda cepetan bikin perutnya ada adek bayinya dong" Thaya beralih memegang tangan sang bunda. Rahma hanya diam, bingung harus menjawab apa. Dia menatap Tama meminta bantuan untuk memberi jawaban yang tepat untuk Athaya dan Tama pun mengerti arti tatapan sang istri.
__ADS_1
"Tentu saja sayang, Papi akan membuat perut bunda jadi ada adek bayinya. Thaya berdo'a ya minta juga sama Allah" Tama berhasil mengambil alih keadaan, dan Athaya pun mengangguk faham atas apa yang disampaikan papinya.
"Siap Papi, Thaya akan berdo'a. Ya Allah, semoga di perut bunda segera ada adek bayi. Aamiin" do'a Athaya polos namun terdengar tulus, membuat Rahma haru sementara Tama tersenyum bahagia atas permintaan putranya, tatapannya beralih pada sang istri, dengan tatapan menggoda.